Traveling ke Inggris (part 2): Negara Impian Masa Kecilku

Baca cerita sebelumnya di traveling ke Inggris part 1

A Beautiful View From London Eye

Kemudian kami mengunjungi salah satu tempat wisata yang perlu dikunjungi untuk memandang dan menikmati kota London dari ketinggian, yaitu Official The London Eye.  Bila memiliki waktu, bisa mengikuti antrian panjang, namun bila ingin menghemat waktu, alternatif lain bisa membeli tiket ekspress, meski harus merogoh kocek lebih dalam tentunya.  Kalau ke London, silahkan bisa menyempatkan waktu untuk ke The London Eye, menikmati kota London dari ketinggian dengan  roda Ferris raksasa di South Bank Sungai Thames.

Lambeth-20140815-01731 big ben from London eye

Lambeth-20140815-01672 good morning from hotel
Alhamdulillah, dari kamar di hotel juga bisa kelihatan London Eye:)
perfect view, perfect day 🙂

Saya senang sekali, sebab bisa puas menikmati keindahan London dari atas ketinggian. Menyaksikan Aahhh makin betah rasanya… Apalgi naiknya menjelang sunset, pemandangannya bakalan terlihat magis! Dari kincir angina raksasa setinggi 135 meter kita  bisa melihat pemandangan  kota London secara keseluruhan. London Eye merupakan salah satu tempat wisata popular di Inggris, dengan pengunjung mencapai 3,5 juta orang per tahun. Usahakan kalau mau naik kincir angin raksasa ini menjelang sunset.

pengalaman ke The Wizarding World of Harry Potter di USJ, Osaka-Jepang

Bagaimana, apakah kamu mau merasakan sensasi berada di atas ketinggian kincir angin raksasa? Yang pasti seru, walaupun awalnya sempet deg-degan, lama-lama saya jadi ketagihan pengen naik lagi, tapi kan kasian antrian masih super panjang, baiklah yang penting sudah nyoba dan nggak kapok 😛

beautiful sunset from London
beautiful sunset

Visit The First Mosque in London : FAZL MOSQUE

Sabtu, 16 Agustu 2014. Kami sekeluarga ada pertemuan, dan sekaligus mengunjungi masjid cantik yang sangat indah ini.

I love this  place for the first time i’ve been there. I love the moment when i was there.

The Fazl mosque atau Masjid Fazal merupakan masjid pertama di London yang dibangun tahun 1924, ada sesuatu yang menarik dan memikat hati saya untuk bermimpi pergi ke masjid tersebut, alhamdulillah terwujud, dan nyatanya tempat tersebut telah memberikan sesuatu yang berkesan dalam hati.

source: Google Maps

Terkadang kesederhanaan mampu menciptkan sesuatu yang berbeda dan tak akan bisa dilupakan.  Bangunannya sederhana sekali,  di dalamnya juga sangat sederhana banget, jauh dari kata mewah. Namun suasananya mendamaikan dan menggembirakan hati saya, entah kenapa saya cinta dengan suasana masjid tersebut.  Di tempat tersebut saya menemukan hal berharga yang tak bisa dibeli oleh materi. Kenyamanan dan suasana yang tersaji, bagi saya pribadi kesannya sangat istimewa. Terima kasih The Fazl Mosque, sudah menghadirkan kesan mendalam untuk terus merindukanmu dan bisa kembali lagi.  Aamiin YRA.   Sensasi berada di masjid tersebut bagi saya pribadi serasa berada di Masjid Nabawi, dari segi pengamanannya pun super ketat, sebelum memasuki masjid untuk melaksanakan solat, siap-siap untuk diperiksa dengan detail.  Tapi itu hanya bagian dari proses administrasi saja untuk memastikan tujuan kita ke tempat tersebut, selebihnya sih menyenangkan sekali.

Baca juga:

traveling ke Australia

travelling ke New Zealand

traveling ke Jepang

traveling ke Spanyol

traveling ke Italia

traveling ke Swiss

HARRODS – London

Kemudian kami melanjutkan perjalanan menuju Harrods, merupakan salah satu pusat belanja di kota London. Dengan mottonya “ The Harrods motto is Omnia Omnibus UbiqueAll Things for All People, Everywhere. Dulu milik ayahnya Dodi Al fayed, namun sekarang menurut cerita pak Wahyu, sudah dibeli oleh yang punya Qatar Airways.

source: google

Tempatnya asik, kalau hobby belanja, bersiap menggesek kartu karena banyak barang branded bertebaran, dan harganya gak akan semahal di Jakarta.  Kalau mau nongkrong atau bersantai tersedia cafe juga yang tempatnya sangat nyaman. Saya lupa nama cafenya, tapi saya masih ingat pesan hot chocolate pakai tiramisu rasanya enak banget, kopinya juga enak,  kalau suk mainan lego juga tersedia. Kalau mau makan kayak semacam food court juga ada.  Namun, dari ke semua itu, ada hal yang menarik dan berbeda dari tempat tersebut.  Tepat di lantai bawah, ternyata bisa melihat cincin berlian-nya Lady D, cincin tunangan dari Dodi Al fayed, wow!  Dan ada foto kedua pasangan tersebut.   Saya pun pensaran mau lihat, diantar oleh Tante, maka akhirnya saya bisa melihatnya bersama nenek dan adik sepupu. Tak disangka, ketika SD saat kematian Putri Diana disiarkan oleh televise, saya ikut menonton dan seakan ikut menjadi bagian dari masyarakat dunia yang sangat kehilangan sosok Putri cantik yang sangat dicintai oleh masyarakat di dunia, tidak saja di Inggris. Saat itu, saya malah bisa melihat cincin tunangan sang Putri.

Minggu 17 Agustus 2014, Dari London ke Paris

Ok sejujurnya saya masih betaaaaaaaah banget berada di London, tapi apalah daya, Paris menunggu untuk saya exlpore.  Kalau disuruh tinggal di London, mau banget, masalahnya siapa yang mau nampung saya #that’smyproblem

Alhamdulillah, impian masa kecilku terwujud 🙂

Baiklah, London sudah membuat saya nyaman, betah karena keramahan orang-orangnya, suasananya.  Setelah Jepang, kini London mampu memikat hati saya untuk terus bermimpi come back again, again, and again then you never regret Ai! Malahan habis menginjakkan kaki di kota London, ingin sekali merantau ke sini bersama keluarga.

Pengalaman yang menakjubkan bagi saya ketika berada di kota London, keramahan orang-orangnya.  Kami bertujuh, adik sepupu saya masih berusia 10 bulan, saya bergantian dengan Tante dan Om menggendong adik ganteng yang menggemaskan, ramah dan menyenangkan. Ketika sarapan, saat saya sedang gendong seringkali para pelayan menawarkan saya untuk membantu membawakan makanan ke meja, kalau saya dengan halus menolak mereka tetap memperhatikan, memastikan saya membawa makanan dengan selamat ke meja. Wow ini jarang terjadi, bahkan di negara saya, saya belum pernah mengalami hal seperti itu, kebanyakan cenderung cuek. Oh iya, menurut saya:  perhatian, ketulusan, dan care itu hal yang berharga dan tak bisa dibeli, di hotel  Park Plaza Westminister mereka menyajikan itu.  Seneng juga gendong adik sepupu, tidak menyangka banyak yang menyapa adik sepupu, baik  sapaan dengan nada gemas, tulus, macam-macam ekspresinya.

Sebelum check out, setelah sarapan terakhir di hotel yang sama, kami sempat menyusuri jalanan hingga menyebrang sungai ke arah Big Ben dan Westminister. Duuh makin malas pulang.  Hari itu, bertepatan dengan perayaan hari kemerdekaan bangsa Indonesia. Dan untuk pertama kalinya, saya menyambut ulang tahun Republik Indonesia yang ke 69, saat berada di London. Meski tanpa perayaan, sebab saya tidak datang ke KBRI di kota London. Namun masih mengingat hari kemerdekataan saat berada belasan ribu kilometer dari Negara, rasanya jadi semakin rindu tanah airku.

Sempat terlintas dalam pikiran, “Oh, jadi begini ya rasanya para perantau dari Indonesia ketika di luar negeri saat hari kemerdekaan tentu akan merindukan suasana upacara juga lomba-lomba khas 17 Agustus—kalau tidak melihat langsung, minimal bisa nonton siaran langsung upacara bendera di Istana Negara melalui tv.”  Ok, pagi itu mendadak mellow. Sebab mau meninggalkan kota London, ditambah rindu tanah air di momen 17 Agustus.

Tower Bridge  menjadi agenda penutup kunjungan liburan kami di sana.  Kami berjalan santai menghirup udara pagi sampai ke tiba di salah satu spot yang sangat iconic juga di kota London. Pertama kali tahu tempat ini, saat say abaca Majalah Bobo ketika SD. Salah satu artikelnya pernah membahas tentang ini, saking sukanya, saya gunting gambar yang ada di majalah tersebut, kemudian menempelnya di buku impian saya, buku diary yang kala itu sangat spesial, pemberian dari Mamah.

@Tower Bridge

Jangan sampai ketukar antara London Bridge dan Tower Bridge ya, sebab seringkali para turis sering tertukar namanya. Kalau kamu melihat jembatan dengan dua menara antic, itulah Tower Bridge. Tempat ini menjadi destinasi favorit para wisatawan dan salah satu landmark-nya Inggris juga. Di bangun pada tahun 1886-1894 untuk menyeberangi Sungai Thames. Jembatan ini diresmikan 30 Juni 1894, umurnya sudah ratusan tahun lebih. Ciri yang sangat khasnya adalah menara dua kembar yang ada di tengah jembatannya. Jembatan dengan panjang 244 meter ini merupakan gabungan jembatan biasa dari tepi sungai sampai ke masing-masing menara. Sementara diantara kedua menara setinggi 65 meter ini ada jembatan yang bisa diangkat agar kapal besar di Sungai Thames bisa lewat. Sayangnya, saat itu saya belumb bisa melihat jembatan yang terangkat saat kapal lewat, mungkin saya datang terlalu pagi, atau memang kebetulan pagi itu belum ada kapal besar yang lewat hehehe. Desain bangunannya sangat unik.

Tidak lama kemudian, Pak Wahyu ikut mengantarkan kami menuju statiun  sampai ke tempat dimana sudah tidak diperbolehkan lagi masuk bagi yang tidak berkepentingan.  Pak Wahyu menemani kami selama perjalanan menjemput di Hatrow International Airport, sampai keberangkatan dengan kereta ke Paris.  Hanya absen setengah hari saja, pada saat dari Harrods ke Fazl Mosque karena harus menemani tamunya nonton bola Arsenal di Emirates Stadium, saat itu yang mengantarkan kami seorang bapak yang berasal dari Sri Langka dan sudah  puluhan tahun tinggal dan menetap di Inggris bersama istri dan keempat anaknya, bapak tersebut bernama pak Noordin.  Selebihnya pak Wahyu-lah yang mengantarkan kami ke berbagai lokasi di London.

Kemudian, pukul 14.30 kami harus berangkat dengan Eurostars menuju Paris. Sebelum keberangkatan di station St. Pancras International Station, kami melalui serangkain pengecekan yang super ketat, sudah  seperti mau naik pesawat saja ckckckck.  Ngecek passport, seperti biasa jaket tebal kami pun harus dicopot, super ribet karena belum terbiasa hehe,  dan detail sekali mereka melakukan pengecekan sampai memperhatikan foto di passport dengan wajah asli kita.  Wuih mantap deh hehe, keren banget.  Saya kira kalau naik kereta biasa saja pada umumnya naik kereta atau naik MRT di negara-negara seperti Singapore dan Hongkong. Ternyata berbeda, tapi seru juga, berarti memang harus selalu siap, disiplin dan tentunya taat pada peraturan yang berlaku di negara mereka agar memudahkan segala proses administrasi. Selesai dicek kami hanya sempat duduk beberapa menit. SAAT Di London kami bahkan punya rencana ke Studio Harry Potter. Namun belum terlaksana, sebab menurut keterangan dari pak Wahyu belum dapet tiketnya, ckckckck kayaknya mesti booking dari jauh-jauh hari, gak bisa dadakan.

Dengan berat hati, pelan-pelan Eurostars bergerak meninggalkan London.  Beruntung, pemandangan yang tersaji indaaaaaaaaah sekali, mengobati rasa sedih dan kembali ceria lagi.  Pernah dengar salah satu produk Prancis bernama L’ocitane? Yaaa, hamparan luas tanaman yang tersaji tersebut. Ternyata naik kereta dari station Perjalanan di tempuh dengan waktu 2,5 jam.  Selama perjalanan, saya menahan kantuk, sebab tak ingin melewatkan perjalanan dengan kereta yang disuguhi pemandangan indah.  Alhamdulillah kami duduk di bangku yang bisa hadap-hadapan, jadi ketika makan pun serasa makan berjamaah, nikmat sekali.  Mengenai makanan, yah perut harus menyesuaikan dengan makanan Prancis.  Menu yang tersaji walau tidak tau namanya, alhamdulillah saya santap habis, mau belajar jadi bule. Bukan itu sih sebenernya,  sudah sejak lama Om selalu memberikan wejangan kepada anak-anaknya, dan saya keponakannya “Kalau mau jadi traveler, belajar makan apa aja yang ada (dengan catatan halal)” jangan dibiasakan manja.  Kayaknya, wejangan Om masuk dalam alam bawah sadar saya, alhamdulillah kalau kebetulan ke luar negeri saya gak ribet dengan urusan makanan, selama halal ayo aja makan, jangan sampai sakit di negeri orang. Urusannya berabe, begitu pikir saya, dari pada sakit gara-gara gak makan, ya sudah makan saja yang penting halal.

Saat itu, beruntung penumpangnya tidak padat, jadi terasa lebih leluasa.  Petugas yang melayani kami ada yang mengucapkan salam, pria ramah tersebut ternyata berasal dari Al Jazair.  Bahkan saat kereta kami tiba di Paris Gare Du Nord Trains Stations, ia ikut bantu menurunkan koper kami.  Jangan heran, jasa angkut barang ada tapi jarang sekali, beda kayak di Indonesia begitu kita keluar dari alat transfortasi tanpa dicari juga sudah banyak yang menawarkan jasanya. Di sana tidak berlaku, kebalikannya malahan, sehingga seberat apapun koper yang kita bawa, maka kita bertanggung jawab atas barang yang kita bawa.

Lumayan dari station menuju mobil jemputan, harus dorong beberapa koper besar itu tidak mudah, lumayan mandi keringat hihi. Setengah perjalanan, mas Rama membantu membawa koper kami menuju mobil Fiat, ia yang akan mengantar jemput kami selama di Perancis.  Sepertinya ia lebih paham tentang Paris, secara ia sudah lama tinggal di Paris. Selama 30 tahun, mulai dari sekolah, kuliah, kerja, fasih berbahasa Perancis, tapi tetap lancar berbahasa Indonesia. Seru juga selama di Perancis, saya pun belajar sejarah Perancis, karena sepertinya mas Rama lebih paham sejarah Prancis ketimbang sejarah Indonesia (haha, ampuuun mas Rama, tapi bener sih :P). Saat itu belajar sedikit-sedikit pelapalan dalam bahasa Perancis, tapi sekarang sudah tidak ingat.  Kayaknya harus tinggal di negara asalnya untuk bisa menguasai serta memahami bahasanya dengan baik dan benar..

Perjalanan kali ini sangat menyenangkan, bisa mendengarkan aksen English British di negara asalnya yang terdengar halus itu ternyata bikin saya gak nyesel pernah bermimpi pengen ke Ingris dan alhamdulillah kesampaian.  Plus mendengarkan aksen Perancis asli di sana juga menyenangkan, dua bahasa ini aksen di telinganya terdengar halus.

London – Paris. Dua kota di dua negara di benua Eropa  yang diimpikan banyak orang.  Saya tidak pernah bermimpi mengunjunginya dalam satu perjalanan. Tidak menyangka, tapi nyata.  Alhamdulillaah, terima kasih ya Allah, atas karunia-Mu, membawaku ke benua Eropa.  Inggris sebagai negara Eropa pertama yang sangat ingin saya kunjungi, alhamdulillah doa dan impian saya jadi kenyataan.

It’s not the destination, it’s a journey.  Finding joy in the journey.  Finding enjoy in the journey.  Finding you in the journey and at the end finding our in the journey. Finding experiences  in every journey.   This is one of my best journey that I ever had in my life. I’m very thank you full to Allah, Om & Tante for this unforgettable journey. I really  enjoy this  journey.

With Love,

With Love,

5 thoughts on “Traveling ke Inggris (part 2): Negara Impian Masa Kecilku

  1. Johnf552

    There is numerous separate years Los angeles Weight reduction eating plan with each a person can be a necessity. The pioneer part can be your original obtaining rid of belonging towards the extra pounds. la weight loss afeekkddefed

    Like

  2. whoah this blog is excellent i really like reading your articles. Stay up the good work! You already know, many persons are looking around for this info, you could help them greatly. ebdeekaddddebcae

    Like

  3. aisaidluv

    Eka sayang, terima kasih banyak sudah berkunjung ke blogku dan membaca tulisanku serta me-like dan meng-coment, huwaaa senang sekali blogku dikunjungi kamu.
    Aku tunggu cerita-cerita perjalanan kamu Eka 🙂

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s