Jalan-Jalan ke Lombok, Nusa Tenggara Barat

Senin, tanggal 25 Desember 2017, saya diajak berlibur ke salah satu destinasi impian saya, Lombok.  Sudah sejak lama saya ingin datang ke tempat tersebut, dan alhamdulillah kesampaian juga berlibur disana dengan keluarga.  Kami berangkat dengan pesawat Garuda Indonesia pukul 05.55 wib. Meskipun tidak menikmati sunrise dari atas ketinggian pagi itu, namun cuaca cukup cerah untuk menikmati penerbangan 1,5 jam dari Bandara International Soekarno Hatta menuju Bandara International Lombok, berlokasi di Tanah Awu, Kabupaten Lombok Tengah, pulau Lombok.  Bandara ini terletak sebelah tenggara Kota Mataram, ibukota provinsi Nusa Tenggara Barat dan sekitar 8 kilometer selatan dari kota Praya, ibu kota Kabupaten Lombok Tengah, mulai beroperasi sejak tanggal 20 Oktober 2011.

Perbedaan waktu-nya satu jam lebih cepat dengan di Jakarta, kalau di Jakarta pukul 09.30 wib, maka di Lombok pukul 10.30 wit.  Alhamdulillah kami medarat dengan selamat, hujan tipis menyambut kedatangan kami.  Dari bandara kami sudah di jemput oleh tour guide lokal dengan sebuah mobil toyota yang luas, sehingga masih ada beberapa kursi yang kosong, kami sekeluarga berenam, ditambah 1 tour guide dan 1 driver,  total ada 8 orang dalam kendaraan tersebut.  Sebelum memasuki mobil, Pak Hari memperkenalkan nama beliau kemudian mengalungkan sehelai kain khas lombok kepada kami, sebagai tanda selamat datang.  Pak Hari ini sudah menjadi tour guide sejak tahun 1983, beliau asli orang Lombok.  Meskipun sudah tidak muda lagi, namun semangat beliau dalam menjelaskan tentang Lombok sungguh patut diacungi jempol, selama beberapa hari ke depan, tour guide yang lebih dikenal dan populer dengan panggilan Uncle ini akan menemani perjalanan kami untuk meng-explore Lombok.

Baca: jalan – jalan ke Yogyakarta

DAY 1, 25 Desember 2017

Sekitar jam 10.30 wit, kami memulai perjalanan menuju destinasi pertama tempat kain tenun, industri kerajinan Patuh, jarak dari bandara ke tempat tersebut sekitar 25 menit.  Disana, selain bisa membeli kain tenun khas Lombok, kami juga dipinjamkan baju khas Lombok, kemudian untuk perempuan bisa belajar menenun.  Ada beberapa wanita yang masih muda bahkan sudah sepuh mereka tetap giat menenun, sambil kami memperhatikannya, saya pun berkesempatan untuk belajar menenun, salut sama mereka yang begitu teliti dan tekunnya dalam menenun kain, sehingga menghasilkan kain tenun yang sangat indah.  Ternyata menenun itu merupakan proses belajar yang membutuhkan sabar kalau buat saya yang baru mencobanya, tapi bagi para wanita disana menenun mungkin sudah hal biasa yang merupakan bagian dari kemampuan yang mereka miliki.

Puas belajar menenun, lihat-lihat hasil tenunan, dan bisa belanja juga, maka setelah 1 jam berada disana, kami melanjutkan perjalanan berikutnya menuju Desa Wisata Sasak Ende yang berlokasi di Kabupaten Lombok Tengah. Menurut info dari Uncle, Lombok terdiri dari 1 kota dan 4 kabupaten, yaitu: Kota Mataram, Kabupaten Lombok Barat, Kabupaten Lombok Tengah, Kabupaten Lombok Timur dan Kabupaten Lombok Utara. Sekitar 80% penduduk pulau ini adalah suku Sasak, sebuah suku bangsa yang masih sangat dekat dengan suka bangsa Bali, tapi sebagian besar memeluk agama Islam.  Sisa penduduk adalah orang Bali, Jawa, Tionghoa dan Arab  Menurut penjelasan Uncle banyak tempat diadopsi dari Jawa karena dulu banyak orag Jawa yang datang kesini.  Penduduknya 3,7 juta jiwa, 85% muslim (sehingga Lombok dikenal pula dengan sebutan pulau 1.000 masjid, karena disana banyak terdapat masjid), selebihnya beragama Hindu, Budha, dan Kristen.  Mayoritas 65% penduduknya bermata pencaharian sebagai petani, mereka panen 3 kali dalam setahun.  Di Lombok juga terkenal dengan budidaya mutiara, dan tentu saja gunung Rinjani sebagai masterpiece-nya.  Banyak para pecinta gunung atau para pendaki yang datang ke Lombok salah satu tujuannya untuk mendaki gunung Rinjani, salah satu gunung berapi  terindah di Indonesia dengan ketinggian 3.726 mdpl.  Gunung ini banyak dibanjiri oleh para bule juga, kalau kata adik saya yang sudah pernah ke Rinjani, disana kebanyakan bule-nya.  Uncle juga menjelaskan tentang Rinjani, walaupun selama beberapa hari di Lombok, Rinjani bukan bagian dari destinasi wisata kami (karena saya bukan pendaki  :D), tapi tetap saja bila mendengar cerita mengenai Rinjani, rasanya ingin sekali datang kesana.  Oh iya, pada saat kami kesana, gunung tersebut masih buka, mulai ditutup sejak tanggal 1 Januari sampai Maret, untuk pemulihan.  Kalau kata Uncle, waktu terbaik mau ke Rinjani sekitar bulan Mei – Juni.  Uncle begitu bersemangat menjelaskan Rinjani kepada kami, karena beliau juga mantan trekker dan suka membawa tamu-nya ke Rinjani.

Baca: pengalaman naik Paragliding di Bali

anak-anak Suku Sasak, lucu-lucu banget anak -anak ini 🙂

Tentang Desa Wisata Suku Sasak Ende ini sangat menarik, masyarakatnya masih tradisional sekali. Orang Sasak terkenal pintar membuat kain dengan cara menenun, dahulu setiap perempuan akan dikatakan dewasa dan siap berumah tangga jika sudah menenun. Guide lokal pun membawa kami melihat-lihat rumah suku Sasak dan menjelaskannya, seperti tata cara mereka menyimpan kebutuhan pokoknya, ternyata anak laki-laki dan bapak dalam sebuah rumah tangga, mereka ketika malam tidur diluar, sementara ibu dan anak perempuan tidur di dalam rumah, supaya bapak dan anak laki-lakinya bisa menjaga rumah agar aman, disana kami juga disajikan tarian Perisai, jika tari Perisai dibawakan oleh para lelaki dewasa cukup tegang, karena mereka juga memainkan senjata yang jika tidak hati-hati bisa melukai tubuh, beda hal-nya saat menonton pertunjukkan Tarian Perisai yang dibawakan oleh anak-anak laki berusia di bawah 10 tahun, mereka tampak sangat lucu.  Menonton pertunjukkan tersebut tidak dipungut biaya, tapi kalau mau kita bisa memberikannya sebagai tips kepada mereka.  Puas menikmati lokasi tersbut, kami melanjutkan perjalanan, namun sebelumnya kami makan siang terlebih dahulu.  Selesai makan siang lanjut menuju Pantai Kuta Mandalika Lombok.  Pantai Kuta di Lombok berbeda dengan Pantai Kuta di Bali, kalau Kuta di Lombok artinya tunggu aku).  Saat tiba disana, hujan cukup deras, sehingga saya tidak keluar mobil, pantai tersebut terlihat cantik meskipun masih dalam tahap pembangunan, menurut Uncle “pak Presiden Jokowi kini serius menggarap pantai tersebut, dan baru presiden sekarang yang betul-betul serius dalam membangun tempat tersebut, ke depannya tempat tersebut akan menjadi salah satu destinasi wisata yang akan mendatangkan  banyak wisatawan.  Kalau menurut schedule, selesai dari Pantai Kuta Mandalika, kami seharusnya melanjutkan perjalanan ke Tanjung Aan beach dan mengunjungi Desa Banyumulek yang terkenal dengan kerajinan gerabah khas Lombok, namun karena hujan semakin deras dan sudah mulai capek, maka kami memutuskan untuk men-skip dua destinasi tersebut dan melanjutkan perjalanan menuju  Sheraton Senggigi Beach Resort, tempat kami akan menginap selama dua malam disana.  Perjalanan sekitar 1,5 jam.  Jam 16.00 kami baru bisa check in di hotel tersebut, kami menempati Vila dengan nomor 7001, tempatnya alhamdulillah bagus, terdiri dari dua kamar, dapur, ruang tamu, hingga private pool, kemudian kalau membuka pintu di vila tersebut bisa langsung keluar menikmati pantai senggigi.  Saat kami kesana, di Sheraton selain hotel, ada tiga viila (dua villa sudah jadi, dan 1 villa masih dalam tahap pembangunan, info dari orang hotelnya).   Malam harinya kami makan malam di Salsa Resto Sengigi.

DAY 2, 26 Desember 2017

Setelah sarapan, sekitar pukul 10.30 wit kami melanjutkan perjalanan untuk meng-explore  Senaru Highland yaitu berlokasi di desa Senaru, kecamatan Bayan, kabupaten Lombok Utara.  Terletak pada ketinggian 600 meter di tas permukaan laut, rencananya kami akan ke tempat wisata air terjun Sendang Gile dan Tiu Kelep.  Perjalanan dari hotel menuju lokasi di tempuh sekitar dua jam.  Pagi ini cuacanya cukup bersahabat dan tidak hujan.  Sekitar pukul 12,.30 kami sampai disana, setelah solat Dzuhur, kami memilih makan siang dulu di Senaru Restoran, dari restoran ini bisa melihat posisi air terjun Sendang Gile dari kejauhan .  Selesai makan kami pun akan menuruni lokasi air terjun Sendang Gile berada, baru beberapa ratus meter kami berjalan, gerimis mulai turun, lama-lama besar, akhirnya kami meneduh dulu di sebuah pondok yang tersedia disamping anak tangga.  Ketika hujan sudah reda, kami melanjutkan lagi menuruni 415 anak tangga menuju lokasi, hujan mulai deras lagi, tapi karena sudah tanggung, kami tetap menuju ke bawah.  Sesampainya di lokasi, kita bisa menikmati keindahan alam air terjun Sendang Gile yang mempesona.

Baca: Staycation di Samabe Villa, Bali

Senang sekali bisa kesana, rasa lelah terbayar oleh rasa bahagia melihat air terjun tersebut, kurang lebih setengah jam kami berada disana. Seharusnya kami melanjutkan perjalanan menuju air terjun Tiu Kelep yang memiliki ketinggian 30 meter, lokasinya tidak jauh dari sana, sayangnya hujan semakin deras, tertutup kabut dan tampak gelap, akhirnya kami memutuskan untuk men-skip Tiu Kelep dan memutuskan kembali ke atas.  Bukan perjalanan mudah ternyata, menapaki anak tangga, berbelok dan menanjak di tengah hujan yang sangat deras, bahkan di tengah perjalanan pun saya harus berpegangan pada besi di setiap anak tangga, takut terpeleset karena debit air hujan  yang melalui anak tangga sangat deras, alhamdulillh sampai juga ke atas, meskipun memakai jas hujan, namun baju tetap basah, plus tidak bawa baju ganti, hasilnya di mobil pun kedinginan hehe.  Dari lokasi tersebut seharusnya kami menuju Pusuk Monkey Forest, tapi karena tidak nyaman dengan kondisi baju basah dan tidak tega juga adik-adik sudah mulai kedinginan, maka kami lebih memilih untuk kembali ke Sheraton Senggigi Beach Resort yang berlokasi di Jalan Raya Km 8, Sengigigi, Lombok – Nusa Tenggara Barat  .  Setibanya di hotel, kami ganti pakaian, istirahat sebentar dan malamnya kami pergi makan malam di restoran Taliwang di kota Mataram.  Nah, ayam taliwang masuk dalam salah satu rekomendasi kuliner di Lombok.  Selebihnya saya tidak tahu, beberapa restoran yang kami kunjungi untuk cita rasa makanan menurut saya cukup, tapi kalau Anda pecinta makanan pedas, mungkin masakan Lombok akan cocok dengan lidah Anda, karena arti kata Lombok itu sendiri kalau dalam bahasa Jawa artinya pedas, kalau saya bukan pecinta masakan dan makanan pedas, jadi apapun menu yang tersaji asalkan halal dan tidak pedas, saya akan memakannya hehe.  Selama beberapa hari disana, salah satu masakan enak yang saya ingat adalah ikan bakar yang fresh dan penyajiannya juga tidak pedas, jadi tentunya ini enak menurut saya hehe.

DAY 3, 27 Desember 2017

Kami check out dari hotel pukul 12.00 wit, sebelum melanjutkan ke destinasi berikutnya kami terlebih dahulu makan siang di salah satu restoran.  Selanjutnya kami berhenti di bukit Malimbu Indah, kemudian berhenti di Bukit Malaka.  Dari kedua bukit tersebut kita bisa melihat 3 pulau Gili.  Selain Gunung Rinjani, Lombok juga tersohor dengan Gili Islands-nya yang terdiri dari Gili Trawangan, Gili Meno dan Gili Air.  Dari ketiga Gili tersebut, yang paling ramai adalah Gili Trawangan.  Di Gili Trawangan ada spot kece, apalagi kalau bukan sunset spot yang ada ayunannya itu loh.  Perjalanan dari Senggigi tidak terlalu jauh, setelah melewati dua bukit tadi ada yang namanya spot vila hantu, tapi kami tidak berhenti disana, unik juga namanya, villa tersebut bangunannya belum jadi namun cukup ramai didatangi orang-orang yag mungkin penasaran dengan tempat tersebut.

Tiba di Teluk Nare, maka kami sekeluarga bersiap untuk menyebrang dengan kapal yang sudah di booking, Uncle pun ikut mengantarkan kami sampai hotel, selama beberapa hari ke depan di Gili Trawangan, Uncle tidak menemani kami. Kurang lebih 15 menit perjalanan menyebrang kami dengan speed boat, saat itu ombaknya sedang tinggi jadi sensasinya seru banget terombang ambing di laut dengan ombak besar, 15 menit yang terasa cukup lama saat mengalami pengalaman pertama menyebrang ke Gili Trawangan. Sesampainya disana, kami langsung check in di Hotel Vila Ombak, kami akan menginap selama 3 malam disana. Selesai mengantar kami, Uncle pun berpamitan, dan akan menjemput kami kembali pada hari sabtu. Proses check in nya tidak lama, kami pun menginap di vila yang terdiri dari 2 kamar tidur, ruang tempat makan, dan private pool. Sesampainya di Vila, sudah disediakan welcome drink 6 kelapa muda yang enak dan segar 👍😄
Sorenya kami berencana mau keluar vila untuk mengejar sunset, sayangnya hujan deras sampai malam, sehingga kami menikmati malam itu di kamar dan makan malam lewat.  Mengejar sunset tak dapat, maka kami berencana untuk mengejar sunrise keesokan harinya.

DAY 4, 28 Desember 2017
Setelah solat subuh saya sudah bersiap-siap untuk keluar, sayangnya gerimis masih membasahi pagi itu, terpaksa mengejar sunrise pun kandas hehe. Sampai jam 9 masih juga hujan, tapi kami akhirnya keluar juga karena harus sarapan. Suasana sarapan pagi itu sangat ramai sekali dengan para tamu hotel yang mayoritas bule. Selesai sarapan kami kembali ke Vila, akhirnya ketika menjelang sore hujan pun reda. Kami pun berniat untuk mengelilingi Gili Trawangan, berdoa semoga dapat sunset. Di Gili Trawangan tidak ada alat transfortasi berupa mobil, hanya ada sepeda, motor (tapi sepertinya lebih ke motor pribadi bukan untuk kendaraan umum), alat transfortasi yang terkenal disana adalah Cidomo, semacam andong, ditarik oleh kuda. Kami dari depan hotel Vila Ombak menuju Ombak sunset, biayanya sekali jalan Rp 150.000. Penumpangnya maksimal 3 orang dalam satu cidomo. Sesampainya di Ombak sunset sudah banyak dipenuhi para turis, mereka sepertinya sedang menantikan sunset juga, sebetulnya kalau cuacanya bagus, disana kita bisa menyaksikan sunset yang indah. Kami pun mencari tempat duduk yang masih kosong, kemudian memesan minuman, saya memilih avocado juice, tapi ternyata habis, diganti dengan manggo juice. Sambil menikmati sajian live music yang menyanyikan lagu-lagu yang familiar di telinga saya, seperti perfect-nya Ed Sheeran, everybody’s changing-nya Keane. Hingga magrib berlalu, sunset yang ditunggu tak kunjung tiba, akhirnya kami kembali ke vila Ombak hotel dengan naik Cidomo lagi. Ketika suasana malam sudah tiba, sepanjang perjalanan yang saya lalui, saya perhatikan mulai ramai oleh para turis asing yang sekedar berjalan, naik sepeda, nongkrong di tepi pantai yang saat itu tidak hujan. Tiba di vila ombak bayar lagi Cidomo, terus kami melanjutkan dengan makan malam di tepi pantai dengan deburan ombak cukup tenang (seperti sedang makan malam di Jimbaran, Bali). Sambil makan sea food, lagi-lagi kami pun disuguhi live music, senang karena yang nyanyi enak di dengar, plus lagu-lagu favorit saya. What a wonderful night, makan malam bersama keluarga, di tepi pantai , sambil mendengarkan lagu When you say nothing at all (milik Ronan Keating), The Man Who Can’t Be Moved (milik The Script), She Will Be Loved (milik Maroon 5), dan Yellow (milik Coldplay), sudah kenyang kami pun kembali ke vila untuk istirahat. Setelah selesai solat, saya pun tidur sambil berdoa esok pagi tidak hujan agar bisa melihat sunrise.

DAY 5, 29 Desember 2017
Selesai solat subuh, saya tidak tidur lagi, sekitar jam setengah enam saya keluar menuju tepi pantai, sambil berjalan saya lihat beberapa orang sedang menyapu pantai, beberapa orang sedang merapikan tenda, bahkan ada yang mulai mendirikan panggung, mungkin karena sebentar lagi akan ada acara pergantian tahun dan akan diselenggarakan festival, sehingga depan vila tempat kami menginap telah disibukan dengan berbagai aktivitas mereka. Alhamdulillah pagi itu cuaca cerah sehingga saya bisa jalan-jalan menikmati udara segar di pagi hari, enaknya kalau pagi tidak seramai malam. Setelah setengah jam menunggu, sunrise pun tidak muncul 😅 sehingga pagi itu saya habiskan dengan berjalan kaki, bahkan saya bertemu dengan penduduk lokal dua orang Ibu-Ibu yang berjualan gorengan (bakwan dan goreng pisang) serta nasi. Hebatnya, Ibu-Ibu tersebut membawa barang dagangannya di atas kepala 😁😁. Di sepanjang Gili Trawangan, selain bertebaran hotel, banyak juga restoran, kalau mau ke semacam mini market juga ada, dari hotel tempat saya menginap tidak jauh, bisa di tempuh 10 menit dengan berjalan kaki, kalau harganya cukup mahal, mungkin karena alat transfortasi yang digunakan berupa kapal untuk bisa mendatangkan kebutuhan pangan, sehingga berbagai harga disana tentu berbeda dengan di Lombok. Sekitar jam 7 pagi, saya kembali ke hotel, pagi itu kami lebih memilih sarapan di Vila kami, meskipun pilihannya tidak banyak, tapi saya lebih senang sarapan dengan keluarga ketimbang harus di restoran yang penuh dengan para wisatawan lokal dan mancanegara. Siangnya pukul 13.30 kami sekeluarga menyewa speed boat untuk mengunjungi Gili Meno dan Gili Air, pulangnya tidak akan menyerah untuk mengejar sunset 😎

Speead boat dibawakan oleh dua Mas-Mas yang baik dan sudah berkeluarga pula, (lupa nanya namanya, pokoknya si Mas nya yang satu berasal dari Jawa dan satunya lagi asli Lombok). Di Gili Meno, saya dan kedua adik saya akan mencoba snorkeling! Yeay, akhirnya saya akan mencoba pengalaman ber-snorkeling untuk yang pertama kalinya, wohoo! 😄 Berhubung saya hanya bisa renang gaya batu 😁 maka hanya modal mau nyoba saya pun memberanikan diri untuk nyemplung merasakan snorkeling. Tenang saja, kita diajarin kok. Pertama kita snorkeling belajar dulu, membiasakan diri dengan alat snorkeling dan belajar bernafas menggunakan mulut.

Setelah belajar, maka saya dan kedua adik saya dibawa ke spot keren di Gili Meno, yaitu melihat penampakan 48 patung manusia di dasar laut Gili Meno yang jadi perbincangan hangat dunia, 48 patung ini ternyata bukan untuk foto-foto bawah laut, tapi diciptakan untuk mengembangbiakkan terumbu karang. Diciptakan oleh seorang pemahat bawah air yang handal, Jason deCaires Taylor dipastikan tempat ini bakalan jadi spot bawah air yang cantik.
Info selengkapnya tentang spot keren di Gili Meno ini silahkan baca ini, menurut info dari mas-mas yang membawa kami, patung-patung tersebut dibuat oleh investor asing yang juga sedang membangun hotel dekat dari lokasi tersebut (saat saya disana, hotelnya masih dalam tahap pembangunan).  Dikarenakan gopro yang kami sewa sudah penuh dengan video (pas sewa ternyata kondisi GoPro nya tidak kosong, jadi hanya 5 kali ambil terus penuh deh, jadinya tidak bisa mengabadikan moment patung tersebut secara langsung), berikut penampakannya: Inilah spot diving terbaru di Gili Meno.

SUMBER Foto oleh Jason Decaires Taylor.

Puas menikmati spot tersebut, kami lanjutkan lagi ke Gili Air dan snorkeling disana sampai puas dan lelah, kemudian kami menepi ke Gili Air dan merapat di salah satu tempat makan yang saat itu sedang penuh oleh para wisatawan yang juga sedang beristirahat dan makan disana, kami pun mengisi perut yang sudah lapar. Sudah kenyang, kami lanjutkan dengan naik kapal lagi, melanjutkan perjalanan mengejar sunset. Suasana sore itu sangat menyenangkan, hingga waktunya sunset tiba, ia pun tak muncul-muncul saudara! 😑😑😑 Malam telah tiba, kami pun merapat lagi di Gili Trawangan. Judulnya mengejar sunrise dan sunset selama enam hari di Lombok usai sudah tanpa hasil yang diinginkan , tapi ya sudahlah, saya tetap menikmati liburan yang sangat menyenangkan tersebut,
ya begitulah resiko traveling, terkadang apabila schedule traveling ataupun keinginan tak sesuai, tidak berjalan lancar, ya tetap dinikmati saja 🙂🙂😊😊. Buat saya, liburan di Lombok ini sangat menyenangkan, dan mata saya dimanjakan dengan suguhan alamnya yang indah, pantai-pantainya keren, dan suasana nyaman ketika berada disana. Malam itu kami makan malam dengan room service saja karena sudah lelah mengelilingi 3 gili (Gili Trawangan, Gili Meno dan Gili Air).

DAY 6, 30 Desember 2017
Paginya kami tetap memilih sarapan diantar ke Vila kami, kami pun sudah siap packing. Jam 09.00 kami sudah check out, Uncle pun menjemput kami. Dari hotel kami pun menyebrang lagi, dengan speed boat dan orang yang sama yang sudah di booking Uncle, alhamdulillah ombaknya tenang mungkin karena masih pagi, sehingga kami tidak merasakan lagi guncangan-guncangan yang menyeramkan 😅. Sesampainya di Teluk Nare, kami sudah dijemput dengan mobil yang sama dan driver yang sama, namanya Mas Bimbo. Perjalanan menuju Bandara International Lombok sekitar 2 jam. Kami tidak mampir kemana-mana lagi, langsung menuju bandara. Dua jam terasa begitu cepat, saya seperti biasa duduk dekat kaca sambil memandang pemandangan yang tersaji selama di perjalanan.  Setelah berpamitan pada Uncle dan mas Bimbo, kami pun memasuki bandara International Lombok, pukul 14.00 wit kami pulang menuju Jakarta.  Liburan akhir tahun yang sangat menyenangkan, enam hari 5 malam yang sangat mengesankan.  Bersyukur akhirnya impian untuk datang ke Lombok bisa terwujud, alhamdulillah 🙂

With Love,

 

5 thoughts on “Jalan-Jalan ke Lombok, Nusa Tenggara Barat

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s