[Review Buku] I AM MALALA – Pemenang Hadiah Nobel Perdamaian Termuda

Aku mencintai Tuhanku.  Aku bersyukur kepada Allah-ku.  Aku bicara kepada-Nya sepanjang hari .  Dia Mahabesar.  Dengan memberiku ketinggian untuk menjangkau orang, dia juga memberiku tanggung jawab besar.  Kedamaian di setiap rumah, setiap jalanan, setiap desa, setiap negeri—inilah mimpiku.  Pendidikan untuk semua anak laki-laki dan perempuan di dunia.  Duduk di kursi dan membaca buku bersama teman-temanku di sekolah adalah hakku.  Melihat semua manusia tersenyum bahagia adalah keinginanku.  Aku Malala.  Duniaku telah berubah, tapi aku belum berubah.  (halaman 455)

Ayah benar.  Aku ingin belajar dan berlatih menggunakan senjata ilmu pengetahuan dengan baik.  Lalu, aku akan bisa berjuang secara lebih efektif untuk mencapai tujuanku.  Saat ini kita semua tahu bahwa pendidikan adalah hak dasar kita.  Tidak hanya di Barat; tapi Islam juga telah memberikan kita hak ini. Islam mengatakan semua anak laki-laki dan perempuan harus bersekolah.  Di dalam Al-Quran tertulis, Allah ingin agar kita memiliki pengetahuan.  Dia menginginkan kita untuk tahu mengapa langit itu biru dan tahu mengenai   lautan dan bintang-bintang.  Aku tahu ini perjuangan besar—di seluruh dunia ada lima puluh tujuh juta anak yang tidak mendapatkan pendidikan dasar, tiga puluh dua juta diantara mereka adalah anak perempuan. (halaman 452-453)

Nama Malala sudah dikenal oleh dunia internasional.  Apa yang kamu tahu ketika mendengar nama Malala?  Mungkin sebagian besar orang akan mengingat bahwa ia adalah gadis yang ditembak oleh orang Taliban.  Ia gadis pemberani yang membela hak anak-anak perempuan dan sangat peduli dengan pendidikan.  Dan ia menorehkan tinta emas dengan peraihan yang didapatnya, penghargaan tertinggi bagi para pembela perdamaian dunia.  Sejarah mencatat pada Oktober 2014, namanya terukir sebagai penerima  nobel termuda di usia 17 tahun dan wanita Pakistan pertama yang memenangkan hadiah Nobel Perdamaian, Malala menerima penghargaan tersebut bersama Kailash Satyarthi dari India.

Baca: review buku Krisis Dunia dan Jalan Menuju Perdamaian

Ini salah satu buku yang ketika membacanya ada banyak perasaan yang berkecamuk.  Buku ini tidak membuat saya menangis, tapi seolah menjadi pembaca yang tegar, terbius oleh pengalaman yang dijalani sang penulisnya.  Salah satu buku genre biography terbaik yang pernah saya baca.  Belum puas bacanya, selesai baca buku saya searching sosok Malala, saya menemukan video di YouTube berjudul Malala Yousafzai Nobel Peace Prize  Speech, disinilah rasanya tak bisa menahan sesak di dada, speech-nya bagus banget dan powerful.  Padahal saat menerima hadiah Nobel, ia masih sangat muda (tepuk tangan meriah dan standing applause untuk Malala, salut), namun Malala tampil berbicara dengan elegan dan dewasa serta terlihat matang melebihi usianya yang baru remaja.

Baca: book lovers

Kenapa buku ini berjudul “I Am Malala”

“Bukankah keajaiban bahwa kalian semua kebetulan sedang berada di sini ketika Malala ditembak?” kata ayah.  “Aku yakin Allah mengirimkan jawabannya terlebih dahulu, baru kemudian masalahnya,” jawab Dr. Javid (halaman 392)

Saat pulang sekolah, ada dua orang pria yang menghentikan bus, dan bertanya pada sopir bus, “Who is Malala?”  semua orang tidak ada yang menjawab, namun semua mata terarah pada wajah Malala.  Pria tersebut tidak memberi kesempatan untuk menjawab pertanyaan, kemudian peluru telah menembus Malala.  Sebetulnya Malala ingin menjawab “I am Malala.”  Maka buku ini diberi judul I Am Malala, sang penulis ingin menjawab pernyataan penembak yang menanyakan siapa Malala, dan ia ini menjawab I Am Malala, hanya saja belum sempat bilang tapi sudah ditembak.  Tepatnya pada tanggal 9 Oktober 2012, Malala Yousafzai ditembak di kepala dan lehernya dalam upaya pembunuhuan oleh kelompok bersenjata Taliban.  Ia sempat dirawat di Pakistan, sebelum akhirnya diterbangkan ke Inggris untuk dirawat di rumah sakit di Birmingham.

Baca: review buku Riwayat Rasulullah SAW

SUBSCRIBE AISAIDLUV

Biasanya kalau baca buku Biografi itu kadang-kadang membuat saya merasa bosan,  ngantuk, banyak berhenti, atau cukup lama membacanya.  Namun berbeda dengan buku ini, ceritanya runut dan tersaji dengan menyenangkan, enak dibacanya, pengen cepat selesai.

Lewat buku ini, saya diajak mengenal Negara Pakistan oleh Malala, remaja yang lahir dan tumbuh di sana.  Saya baru tahu dari Malala, bahwa tempat tinggalnya di Lembah Swat (Swat Valley) sangat indah sekali.  Sampai-sampai saking penasarannya dengan deskripsi yang digambarkan oleh Malala, saya berhenti sejanak membacanya, dan langsung cari video di YouTube, dan wow memang sangat indah sekali (langsung masuk bucket list tempat yang pengen dikunjungi, hmmm emang dasar otak traveler, lagi baca buku serius yang sedikit bahas tempat wisata, saya langsung cari tahu), habis itu lanjut baca dong sampai lembar terakhir.

sumber foto: https://www.karavanleaders.com/tour/swat-valley/ It’s so beautiful.

“Kami tinggal di tempat terindah di seluruh dunia.  Lembahku, Lembah Swat, adalah kerajaan surgawi berupa pegunungan, air terjun yang mengalir deras, dan danau-danau sejernih Kristal.  SELAMAT DATANG DI SURGA. (halaman 26)

“Orang sering menjuluki Swat sebagai Swiss Timur—kami bahkan punya resort ski pertama di Pakistan.  orang-orang kaya Pakistan datang berlibur untuk menikmati udara bersih dan pemandangan….” (halaman 27)

Ada banyak pengetahuan baru seperti tentang teroris yang masuk dan pernah menguasai daerah Swat, kemudian kita akan diajak mengenal sejarah Pakistan dari pandangan remaja Pakistan bernama Malala, juga banyak kata-kata inspiratif dalam buku ini yang mengharukan, Malala sosok anak remaja dengan pemikiran yang luar biasa dewasa,  tapi kali ini saya tidak ingin merangkumnya.  Buku ini sangat bergizi dan kaya vitamin, jadi saya tidak ingin me-review terlalu banyak, agar kamu bisa menikmati langsung pada saat membacanya.  Ada kalimat dari Malala yang super inspiratif, saat sedang speech dan mengimbau para pemimpin dunia untuk memberikan pendidikan gratis kepada semua anak-anak di dunia, begini katanya:

“MARILAH KITA MENGAMBIL BUKU DAN PENA KITA.  KEDUANYA ADALAH SENJATA KITA YANG PALING PERKASA. SATU ANAK, SATU GURU, SATU BUKU, DAN SATU PENA DAPAT MENGUBAH MANUSIA.”

Buku ini terdiri dari 5 Bab pokok.  Bagian satu, kisah tentang “Sebelum Taliban.”  Bagian Dua tentang “Kisah Kematian.” Bagian tiga “Tiga Anak Perempuan Tiga Peluru.  Bagian Empat tentang “Antara Hidup dan Mati.”  Dan bagian kelima “Kehidupan Kedua.”  Diceritakan dengan sangat menarik.   Ditulis oleh Malala Yousafzai bersama Christina Lamb jurnalis yang sering menulis tentang Pakistan dan Afganistan.  Lulusan Oxford dan Harvard ini bekerja di Sunday Times dan tinggal di London dan Portugal dengan suami dan putranya.  Terbit tahun 2013, dan sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, diterbitkan oleh Mizan dengan penerjemah oleh Ingrid Dwijani Nimpoeno pada Mei 2014.

Note: Buku aslinya padahal sudah ada di perputakaan om dan tante saya, begitu lihat baru uplaod di iPusnas eh saya langsung kepengen baca, jadi saya pinjam dan baca buku ini melalui aplikasi iPusnas, kedepannya saya ingin mengoleksi buku ini.

Sumber video: YouTube. Sumber foto dokumen pribadi pinjam dari library dan  https://www.karavanleaders.com/tour/swat-valley/

Happy Reading! 🙂

-With Love-

SUBSCRIBE AISAIDLUV

6 thoughts on “[Review Buku] I AM MALALA – Pemenang Hadiah Nobel Perdamaian Termuda

    1. Sama-sama, Kak Shinta. Jangan lupa membaca buku ini 😀
      Aamiin Aamiin Aamiin Kak!
      Kalau gak sabar bisa langsung pinjem di iPusnas, atau kalau mau beli juga silahkan, karena buku ini rekomen untuk dikoleksi juga. Sebelum bisa, bisa lihat video-video Malala yang sedang speech, biar makin semangat bacanya hehehe. Saya lihat video habis baca buku, saking terkesannya dengan buku ini 🙂

      Happy reading, Kak 🙂

      Liked by 1 person

  1. Siap! Wah makasih banyak info yang super lenhkap ini, Mbak Ai 😍😍😍😍

    Aku udah nonton videonya. Merinding betul liat Malala speech :’) padahal masih belasan tahun ya, tapi sudah matang betul cara ngomongnya 🥺

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s