[Review Buku] KEMBARA RINDU Karya Habiburrahman El Shirazy

Ikutan Pre-Order edisi bertanda tangan penulisnya di http://www.bukurepublika.com

“Anak panah kalau tidak dilepas dari busurnya, tidak akan pernah sampai pada sasarannya. Demikian juga manusia, jika tidak berani merantau  untuk mencari ilmu maka dia tidak akan meraih kegemilangannya. Kamu harus belajar, jauh, merantau, agar banyak pengalaman. (halaman 66)

Judul Buku KEMBARA RINDU
Penulis Habiburrahman El Shirazy
Penerbit Republika Penerbit
Tahun Terbit Cetakan I, September 2019
 Jumlah Halaman 266 halaman; 13.5 x 20.5 cm
Editor Triana Rahmawati

Sinopsis:

Setelah Diana pulas, keharuan Ridho meledak. Mata pemuda itu berkaca-kaca, ia menyadari dirinya sedang ada di dalam kereta, duduk di samping putri bungsu Kyainya.  Ia baru saja meninggalkan pesantren. Ia dalam perjalanan pulang, inilah hidup, tidak ada yang tetap selamanya. Ia tidak mungkin terus tinggal di pesantren jadi santri sepanjang hayatnya. Matahari terus berputar pada garis edarnya. Bumi berputar pada porosnya. Siang dan malam datang pergi bergantian. Ia teringat nasehat Simbah Kyai Nawir dalam salah satu pengajiannya.

“Santri-santriku, dalam pengembaraan mengarungi kehidupan dunia ini jadilah kalian orang-orang yang penuh rindu. Orang-orang yang rindu pulang. Jadilah seperti orang yang mengembara dan sangat rindu untuk segera pulang bertemu keluarganya. Orang yang didera rindu untuk segera pulang, itu berbeda dengan orang yang tidak merasa rindu, meskipun sama-sama bepergian. Orang yang didera rasa rindu, tidak akan membuang-buang waktunya di jalan, ia ingin cepat-cepat sampai rumahnya. Sebab, ia ingin bertemu dengan orang-orang yang dicintainya. Sebaliknya, orang yang tidak merasa rindu, mungkin dia mampir di satu tempat berlama-lama di situ, jadinya banyak waktu terbuang dan sia-sia.

Di dunia ini kita seperti orang bepergian, orang yang mengembara. Dunia ini bukan tjuan kita. Tujuan kita adalah Allah. Kita harus memiliki rasa rindu yang mendalam kepada Allah. Dan Allah akan membalas dengan kehangatan rindu dan ridha-Nya yang tiada bandingannya.

Habiburrahman El Shirazy atau dikenal pula dengan panggilan Kang Abik, kembali mengeluarkan novel terbarunya, berjudul Kembara Rindu, merupakan novel Dwilogi Pembangun Jiwa, untuk buku Kembara Rindu 1, sudah rilis bulan September 2019.

Nurus Syifa, tingggal di Way Meranti, seorang yatim piatu yang memiliki adik bernama Lukman. Ia gadis yang tegar, bertanggung jawab, dewasa, terpaksa putus sekolah demi membiayai keluarga, adik, Nenek Zumroh, Nenek Halimah, dan Kakek. Meskipun keinginan sekolahnya sangat menggebu, namun saat itu ia rela, dan pada akhirnya Shifa bisa melanjutkan sekolah lagi di sebuah pesantren, serta menghafalkan Al-Quran.

Baca:

Ainur Ridho, Kakak sepupunya Syifa, yatim piatu juga, masih memiliki nenek dan kakeknya yang saat itu mengalami koma. Ridho pulang dari pesantren disuruh oleh Kiyainya. Ia kini menjadi tulung punggung keluarga, mengambil alih posisi yang disandang Syifa sebelumnya. Kakeknya, memaksanya untuk belajar di pesantren. Ridho masih mengingat kata-kata sang Kakek yang membujuknya agar mau diantar ke pesantren.

"Anak panah kalau tidak dilepas dari busurnya, tidak akan pernah sampai pada sasarannya. Demikian juga manusia, jika tidak berani merantau  untuk mencari ilmu maka dia tidak akan meraih kegemilangannya. Kamu harus belajar, jauh, merantau, agar banyak pengalaman. (halaman 66)

Kyai Nawir dari Sidawangi, sangat menyayangi Ridho, dan menggapnya sudah seperti anaknya.

Yang jelas, Ridho tidak pernah tidak antusias kalau disuruh atau ditugasi oleh Abah. Anak itu sangat patuh dan ta'dhim. Ia lebih mementingkan Abah dalam segala hal daripada dirinya sendiri. Bahkan nyawanya sekalipun," tukas Gus Najib (halaman 137)

Namun Kyai, menyuruh Ridho untuk pulang. Sudah beberapa tahun Ridho tidak pulang ke kampung halamannya. Dan, di saat pulang, ia harus menghadapi kenyataan sulit yang menghimpit keluarganya. Sanggupkah Ridho mengatasi permasalahannya? Usaha apa yang dilakukan Ridho? Bagaimana ia bisa mencari jalan keluar untuk permasalahan hak waris yang dihadapi kedua sepupunya?  Usaha apa yang dilakukan Ridho untuk mengobati kakeknya yang sudah berbulan-bulan koma? Akankah Syifa diterima oleh Ibu Rosma, Sita dan Diana? Temukan selengkapnya dalam bukunya 😀

Baca: Yusuf dan Zulayka karya Abidah El Khalieqy

Nah, pertanyaan kemudian, siapakah yang akan menjadi pendamping Ridho?  Apakah Diana? Lina? temannya Syifa yang naksir berat sama Ridho, ataukah Syifa? Atau jangan-jangan ada karakter baru lainnya? Yaaa, sepertinya kita harus bersabar menantikan buku keduanya.

Ceritanya sederhana, namun banyak kejutan menarik. Setting novel ini lebih banyak di provinsi Lampung dan ada juga di Cirebon. Terus terang, saya jadi seolah mengenal Lampung lewat buku ini. Buku ini, menyuguhkan cerita di pesantren Sidwangi-inilah yang menarik dan menjadi ciri khas Kang Abik yang tak jauh-jauh dari pesantren. Saya seolah diajak menyelami kehidupan di pesantren, kehidupan para santri. Seolah ingin mengakrabkan kehidupan para santri  kepada masyarakat dan juga penikmat bukunya.  Walaupun ini fiksi, selalu menyenangkan membaca kisah-kisah para orang shalih yang bisa diteladani.  Banyak pesan moral yang bisa diambil, misalnya jangan pernah berhenti berusaha dan selalu yakin, bahwa pertolongan Allah selalu dekat. Tetap berbuat kebaikan meskipun orang menjahati. Selalu jujur seperti Syifa yang meskipun kemiskinan menghampirinya, namun ia tidak tergoda dengan barang yang bukan miliknya. Dan merantaulah!

Baca: Bait-Bait Multazam karya Abidah El Khalieqy

Bagi penikmat karya-karya Kang Abik, selamat membaca buku ini. Habiburrahman El Shirazy adalah sastrawan dan cendikiawan Indonesia yang memiliki reputasi internasional. Ia adalah sastrawan Asia Tenggara pertama yang mendapatkan penghargaan dari The Istanbul Foundation for Science and Culture, Turki. Selain itu, budayawan jebolan Al Azhar University Cairo ini, telah diganjar berbagai penghargaan dari dalam dan luar negeri. Di antaranya: penghargaan Sastra Nusantara Tingkat Asia Tenggara, Paramadina Award 2009, Anugerah Tokoh Persuratan dan Kesenian Islam Nusantara dari Ketua Menteri Negeri Sabah, Malaysia.  Tokoh Perubahan dari Harian Republika. Pada tahun 2008, Insani Undip Semarang, menasbihkan penulis Ayat-Ayat Cinta ini sebagai Novelis No.1 Indonesia. Tahun 2019, panitia Islamic Book Fair (IBF) Jakarta menobatkannya sebagai Tokoh Perbukuan Islam 2019.

Pre-order, dapat diskon, tanda tangan penulisnya juga

SUBSCRIBE AISAIDLUV

Stop beli buku bajakan!!! Karena merugikan diri sendiri dan banyak pihak

Berikut ini kutipan-kutipan favorit saya dalam buku Kembara Rindu:

  1. Meskipun kini ia miskin, ia berharap kuat iman dan tidak memakan harta orang lain dengan haram. (halaman 6)
  2. “Santri-santriku, dalam pengembaraan mengarungi kehidupan dunia ini jadilah kalian orang-orang yang penuh rindu. Orang-orang yang rindu pulang. Jadilah seperti orang yang mengembara dan sangat rindu untuk segera pulang bertemu keluarganya. Orang yang didera rindu untuk segera pulang, itu berbeda dengan orang yang tidak merasa rindu, meskipun sama-sama bepergian. Orang yang didera rasa rindu, tidak akan membuang-buang waktunya di jalan, ia ingin cepat-cepat sampai rumahnya. Sebab, ia ingin bertemu dengan orang-orang yang dicintainya. Sebaliknya, orang yang tidak merasa rindu, mungkin dia mampir di satu tempat berlama-lama di situ, jadinya banyak waktu terbuang dan sia-sia. Kita seperti orang bepergian, orang yang mengembara. Dunia ini bukan tjuan kita. Tujuan kita adalah Allah. Kita harus memiliki rasa rindu yang mendalam kepada Allah. Dan Allah akan membalas dengan kehangatan rindu dan ridha-Nya yang tiada bandingannya.” (halaman 61)
  3. “Anak panah kalau tidak dilepas dari busurnya, tidak akan pernah sampai pada sasarannya. Demikian juga manusia, jika tidak berani merantau  untuk mencari ilmu maka dia tidak akan meraih kegemilangannya. Kamu harus belajar, jauh, merantau, agar banyak pengalaman. (halaman 66)
  4. Ya, kita semua sudah pasti ingin selamat. Dan kita sangat mengimani Allah yang Maha Menentukan. (halaman 101)
  5. …”Akal sehat dan kewaspadaan itu sangat penting untuk menjaga keamanan dan keselamatan!” (halaman 103)
  6. “Jangan berputus asa dari rahmat Allah. Kita harus tetap ikhtiar semaksimal yang kita mampu.” (halaman 120)
  7. Satu-satunya hal yang bisa membungkam mulut-mulut yang miring adalah sebuah keberhasilan, sebuah prestasi. Ia harus berhasil. (halaman 134)
  8. “Aku memilih jualan gorengan asal barokah. Sekali lagi, kata-kataku ini bukan sabda yang harus diikuti. Kau merdeka menentukan pilihan.Yang jelas aku sudah berusaha menunaikan kewajibanku menjagamu sebagai kakak yang dituakan.” (halaman 200)
  9. Makmurkan mesjid depan rumahmu itu! Kau makmurkan rumah Allah, maka Allah akan memakmurkan hidupmu! Jangan khawatir tentang rezeki Allah. Ingat, lebah  di dalam hutan, bahkan di lereng tebing gunung saja, diberi rezeki oleh Allah. (halaman 214-215)
  10. Jangan pernah putus asa dari rahmat Allah! Jangan pernah tinggi hati. Kalau kau nanti dijahati orang, jangan membalas. Biarlah Allah yang menangani. (halaman 215)
  11. … tiga akhlak penting yang ada dalam diri Rasulullah saw. yang harus diteladani oleh seluruh umatnya, terutama para pebisnis. Tiga akhlak itu ialah jujur, amanah dan profesional. (halaman 245)

Baca juga review buku karya Kang Abik:

  1. Merindu Baginda Nabi 
  2. API TAUHID
  3. Kembara Rindu 1

Note: buku ini saya beli di website bukurepublika.com (ikutan Pre-Order yang dibuka tanggal 28 Agustus – September 2019, dengan keuntungan dapat diskon, tanda tangan penulisnya serta, bookmark, pouch).

Happy reading! 📚 📖😊

With Love, ❤️💙

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s