[Review Buku] Dari Benih Ke Pohon Cedar Karya M. Fethulah Gullen

Sebenarnya cara yang paling ideal sebagai hadiah bagi anak-anak yang amat kita cintai itu adalah dengan memberikan dalam diri mereka, adab-adab Islamiyah dan adab Muhammad Saw.. Hadiah yang akan menjadi sebab bagi kebahagian abadi mereka di akhirat ini sebagaimana sebuah karunia yang tidak bisa dibandingkan dengan hadiah apa pun. Dalam hal ini, Nabi berpesan: “Perlakukanlah anak-anakmu dengan baik dan asuhlah mereka dengan bijak.” (halaman 76)

Judul Buku Dari Benih Ke Pohon Cedar
Penulis M. Fethulah Gullen
Penerbit Republika Penerbit
Tahun Terbit Cetakan I, November 2018
 Jumlah Halaman 238 halaman; 21 cm
ISBN 786025734335

Sinopsis:

Seperti pohon cedar—tumbuhan asli Libanon—yang mampu hidup di tanah gersang menampilkan keindahan dan memberikan keteduhan, juga bisa berumur panjang menghadirkan manfaat di semua unsurnya, demikianlah gambaran ideal harapan orangtua terhadap anaknya. Siapa pun kita pasti berharap bisa memilikin keturunan yang tidak hanya berumur panjang, tapi juga bermanfaat dan berguna bagi dirinya, orangtuanya, bukan saja di dunia, bahkan hingga akhirat.

Semuanya berawal dari benih: mulai saat kita memilih pasangan. Berikutnya ditentukan cara kita membangun  dan membina keluarga dan pilihan pendidikan yang kita jalankan. Kita tidak menginginkan benih yang kita tabur berubah menjadi pohon zaqqum yang beracun. Kita ingin setiap benih yang kita tanam dan pelihara tumbuh menjadi pohon yang besar, berguna, dan bermanfaat.

Buku yang ditulis oleh cendikiawan muslim asal Turki ini akan menuntun kita menghadirkan generasi yang penuh manfaat. Kuncinya ada pada pemenuhan kebutuhan spiritual anak.

Menurut saya, buku ini perlu dibaca bagi singelillah yang sedang mempersiapkan diri untuk otw nikah, orang yang mencintai dunia anak-anak, para pendidik. Orang-orang yang sudah menikah dan mempersiapkan kehadiran buah hati, dan juga baik suami – istri yang sedang mendidik putra putrinya menjadi pribadi-pribadi yang mencintai Allah Swt, Rasulullah, orang tua, juga sesama.  Tentunya bagi siapa pun yang suka dengan bacaan kategori agama. Buku yang sangat bagus, bergizi dan kaya akan asupan vitamin yang menyehatkan jiwa juga meluaskan wawasan, sebagai panduan untuk para keluarga muslim.

SUBSCRIBE AISAIDLUV

Baca: review buku Terapi Berpikir Positif karya Dr Ibrahim Elfiky

Masa ‘menulis’ dan ‘merajut’ pada kertas kosong milik anak yang menjadi tanggung jawab orangtua ini, harus dituliskan dengan tinta yang tak bisa terhapuskan dan ditanamkan agar mengendap selamanya dalam jiwa anak. Ya, setiap pasangan yang memiliki anak harus mencurahkan waktu di setiap harinya untuk merawat dan mendidik anak-anak mereka.  Keluarga adalah sekolah pertama dan akademi pertama bagi pendidikan dan tarbiyah atas seorang anak. Waktu yang diluangkan oleh seorang Ayah dan Ibu bagi pendidikan dan terbiyah untuk anak-anaknya haruslah menjadi prioritas, sebagaimana mereka pun meluangkan waktu untuk kewajiban-kewajiban individualnya seperti shalat, mengaji dan berzikir. (halaman 71-71).

Buku aslinya dalam Bahasa Turki berjudul Cekirdekten Cinara ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Astri Katrini Alftra, S.S. M.Ed dan Yudith. Disajikan dengan bahasa yang tidak berat, runut, memudahkan untuk mencerna isi dan pesan yang disampaikan penulisnya. Saya sangat menyukai buku ini, ada banyak pelajaran yang bisa dipetik, dipahami dan dijadikan pembelajaran, menambah pengetahuan. Saya juga sangat suka design cover-nya. Setahun lalu, saat lihat buku ini ingin sekali membacanya , dan baru setahun kemudian di bulan September 2019, saya berhasil membeli dan membaca bukunya 🙂 Rasanya, lihat buku ini walaupun belum pernah baca karya sebelumnya dari penulisnya, harus saya akui buku ini langsung memikat saya, pokoknya mesti baca. Alhamdulillah kesampain. Ibarat rasa dari sebuah makanan, membacanya amat sangat lezat dan menyenangkan.

Baca : review buku OTW Nikah

Berikut ini bebeapa kalimat favorit dalam buku Dari Benih Ke Pohon Cedar:

  1. “Ketahuilah bahwa  karena anak tersebut adalah anakmu, maka kebaikan atau kejahatan (yang berasal darinya) akan kembali kepadamu.” (halaman 73)
  2. Sebenarnya cara yang paling ideal sebagai hadiah bagi anak-anak yang amat kita cintai itu adalah dengan memberikan dalam diri mereka, adab-adab Islamiyah dan adab Muhammad Saw.. Hadiah yang akan menjadi sebab bagi kebahagian abadi mereka di akhirat ini sebagaimana sebuah karunia yang tidak bisa dibandingkan dengan hadiah apa pun. Dalam hal ini, Nabi berpesan: “Perlakukanlah anak-anakmu dengan baik dan asuhlah mereka dengan bijak.” (halaman 76)
  3. Ternyata begitu pentingnya bahwa disamping kata-kata yang benar, diperlukan pula tindakan atau perilaku yang benar juga. Pertengkaran apa pun antara kata-kata dan perilaku kita. Jika anak mendapati Anda telah berbohong atau melihat kontradiksi antara kata-kata dan perilaku kita walaupun hanya sekali saja, maka itu cukup untuk membuat mereka menganggap Anda sebagai orang yang tidak dapat diandalkan. (halaman 78)
  4. … janganlah seorang ayah atau ibu mementingkan salah satu dari anak-anaknya di atas anak yang lainnya dalam hal kasih sayang. Sudah jelas bahwa perlakuan istimewa seperti itu hanya akan memicu perasaan cemburu diantara anak-anak, dan perlakuan orangtua tersebut akan menimbulkan rasa kebencian di alam bawah sadar mereka, bahkan ketika mereka yang terlibat tidak menyadari bahwa hal seperti itu terjadi. (halaman 87-88)
  5. Siapa pun yang ingin menjadi orangtua harus memiliki pemahaman mendasar tentang pedagogi dan psikologi, atau setidaknya mereka harus memahami prinsip-prinsip umum yang terdapat dalam Al-Quran dan berkaitan dengan masalah ini serta kemudian haruslah dengan ucapan “Bismillah” memulai kehidupannya yang baru. ( halaman 90)
  6. Rasulullah Saw. selalu menyarankan kita agar bersikap sensitif dan penuh kasih kepada anak-anak: “Allah tidak akan menaruh belas kasihan kepada orang-orang yang tidak menunjukkan kasih sayang kepada anak-anak mereka.” (halaman 92)
  7. … jika anak-anak yang kita besarkan melanjutkan hidup mereka sebagai umat di jalan Nabi Muhammad Saw., maka masa depan mereka cerah dan orangtuanya adalah termasuk mereka yang berbahagia. (halaman 97)
  8. … kita harus menyadari betapa pentingnya membesarkan generasi yang akan mengingatkan surga pada orangtuanya dengan cahaya spiritual mereka sambil berusaha mengikuti yang “thayyib / baik” dan mencoba menjadi ayah, pendidik, dan muallim yang “thayyib / baik “pula. (halaman 99)
  9. Jika demikian, menumbuhkan generasi yang memiliki iman yang kuat dan kemauan yang tangguh baik secara materi maupun spiritual, generasi yang berkomitmen dan memiliki basirah untuk tidak menyerah kepada daya tarik dunia yang sementara, generasi yang tidak ada tempat dihatinya untuk rasa cinta kepada dunia atau rasa takut kepada kematian (wahn), serta generasi yang berani berdiri kokoh menentang musuh-musuhnya haruslah menjadi tujuan terbesar yang ingin kita capai. (halaman 101)
  10. Jika ingin anak-anak menjadi orang yang sopan dan menjalani hidup dengan jujur, menjaga iffah-nya dengan menghormati kesucian dan kesopanan dirinya, maka semua kualitas tersebut harus pula dihidupkan dalam keluarga tersebut, dan ‘ksatria’ pertama atas perilaku tersebut haruslah diri kita sendiri sebagai orangtuanya. Jika ingin anak-anak membaca Al-Quran dan mendalami pemahaman atas hakikat kebenaran yang terkandung di dalamnya, maka pada pagi dan petangnya, di rumah tersebut harus selalu teerdengar diskusi atas tema-tema yang terkandung  dalam  Al-Quran. (halaman 110-111)
  11. Mereka harus disadarkan bahwa semua yang telah mereka terima dalam hidup ini adalah anugerah dari Ilahi dan karenanya mereka harus diajarkan untuk berterima kasih kepada Allah dan orang-orang yang membantu tersedianya semua berkah tersebut.  (halaman 112)
  12. Bahkan, kita harus meningkatkan keinginan di dalam diri anak kita untuk melakukan perbuatan baik yang dilakukan oleh orang lain kepada dirinya sebagaimana seorang ahli batu pertama yang bisa mengetahui satu per satu nilai dari berlian dan permata yang dilihatnya. (halaman 112)
  13. Kita harus menjelaskan kepada mereka tentang bagaimana Allah Swt. telah memberi pada manusia nikmat makanan, memelihara, membesarkan dan bagaimana besar kasih sayang yang diberikan pada kita. Kita harus mengatakan bahwa Dia-lah yang Maha Pengasih yang selalu menjaga kita, menjauhkan dari segala bahaya, dan merupakan Penjaga dan Pelindung terbaik “agar rasa percaya, keyakinan, dan kepasrahan anak pada Allah akan semakin membara. Selanjutnya, kita harus meningkatkan hubungan anak-anak dengan Allah, membantu mereka membangun hubungan itu dengan menjelaskan kepada mereka menggunakan bahsa yang sesuai dengan usia mereka, bahwa bahkan makhluk terkecil sekalipun di alam semesta ini dapat bertahan hidup berkat kebaikan, belas kasih, dan Rahmat-Nya. (halaman 113)
  14. Cara yang paling berpengaruh dalam ta’lim dan tarbiyah adalah dengan apa yang tercermin dalam sikap dan perilaku kita. Tidak ada keraguan bahwa keteraturan hidup di sebuah keluarga amat penting dalam menanamkan sebuah pemikiran pada anak-anak. (halaman 115)
  15. Sebaliknya, jika pada sebuah rumah terdapat dua orang yang bertanggung jawab dan ada dua perintah berbeda yang datang dari dua individu yang berlawanan maka keadaan ini hanya akan membingungkan anak. (halaman 122)
  16. Anak-anak tidak boleh terpapar masalah yang berada diluar kapasitas kemampuannya. Masalah-masalah yang dapat memberi kesan negatif atau sebaliknya, pada pikiran dan hati mereka harus dipertimbangkan dengan cermat. Ketika anak-anak berada di sekitar kita, percakapan, debat, dan diskusi, baik di rumah atau di kantor, harus dilakukan dengan mempertimbangkan kehadiran mereka tersebut. (halaman 124)
  17. Sikap penuh perhatian dan mendengarkan keluhan mereka dengan penuh kehangatan dan semua perilaku penuh kasih sayang tersebut akan menjadi pelajaran paling berpengaruh dalam menumbuhkan kebaikan hati dan belas kasih pada diri anak-anak kita. (halaman 125)
  18. Secara singkat dapat dikatakan bahwa tingkatan tarbiyah agama yang diberikan hingga anak berusia lima tahun harus dilanjutkan dan maju setahap demi setahap sampai anak tersebut mencapai masa pubertas, yaiutu sekitar usia lima belas tahun, Materi tarbiyah harus dipilih dengan hati-hati menurut tingkat usia anak, agar anak tidak kesulitan dalam memahami dan mencernanya. (halaman 130)
  19. Tidak sulit untuk membuat anak-anak Anda mencintai Rasulullah dan para sahabatnya, asalkan kita menemukan metode yang tepat. Jika saja yang kita hadiahkan bagi mereka adalah buku kumpulan kisah hidup Nabi yang diberkahi untuk dibaca dan bukan buku-buku lain yang tidak penting, atau setidaknya memberi mereka Muhammad Yusuf Kandahwi yaitu Hayatush Shahaba (Kehidupan Para Sahabat), sebuah buku referensi yang sangat baik. Jika kita memberi mereka yang dengannya anak-anak memiliki kesempatan untuk belajar tentang Rasulullah, para sahabatnya, dan tentang anak-anak Para Sahabat, mengenal mereka dan menjadikan masing-masing darinya sebagai pahlawan di mata mereka. (halaman 172-173)

Baca: Buku Bajakan Merugikan Diri Sendiri dan Banyak Pihak

Sebetulnya, masih banyak kalimat-kalimat favorit saya, tapi biar kamu penasaran, silahkan baca dan nikmati langsung bukunya. Mari membaca 🙂

Happy reading! 📚 📖😊

With Love, ❤️💙

2 thoughts on “[Review Buku] Dari Benih Ke Pohon Cedar Karya M. Fethulah Gullen

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s