[Review Buku] Dari Delft Hingga Madinah karya Oki Muraza

Tidak perlu memusingkan kompetisi. Cukuplah menjadi menjadi lebih baik dibanding diri kita yang kemarin. Dalam hidup, jika ada yang harus dikalahkan, itu adalah hawa nafsu kita sendiri. Pintar-pintarlah menjaga suasana hati. Jangan mudah tersinggung. Lihatlah pohon pisang di parak, yang tetap tumbuh mesti ditebas seribu kali. Sering-seringlah mengingat Al-Lathif, yang selalu menyelipkan tawa di sela tangis kita. (halaman 63)

Judul Buku Dari Delft Hingga Madinah
Penulis Oki Muraza
Penerbit Noura Books Publishing
Tahun Terbit Cetakan I, Oktober 2017
 Jumlah Halaman 243 halaman
ISBN 978-602-385-384-7

Sinopsis:

“Catatan diaspora anak bangsa yang 15 tahun berjuang di luar negeri, perjuangan merawat cita-cita, mencatat hikmah. Dengan buku ini, Oki ingin berbagi semangat hidup.” __Prof. Dr. Akhmaloka, Rektor Universitas Pertamina

“Keikhlasan dan keberanian adalah modal besar dalam hidup. Keduanya lahir dari keyakinan akan sifat-sifat Tuhan. Buah manisnya dituturkan dalam buku ini dengan rendah hati.” __Prof. Misri Gozan, Guru Besar Fakultas Teknik, Universitas Indonesia

Saya kira, buku ini isinya tentang pengalaman penulis selama berada di Delft, sebuah kota di negara Belanda hingga berada di Madinah, Saudi Arabia. Ternyata dugaan saya tidak tepat. Ini bukan buku catatan perjalanan atau pun kumpulan cerita sang penulis saat berada di kedua kota tersebut.

Baca: 24 purnama di negeri ginseng

Melalui buku ini, penulisnya ingin menularkan dan memberi semangat serta berbagi manfaat. Saya pribadi lebih merasa buku ini sebagai buku motivasi. Motivasi dari penulis yang pernah merantau, menimba ilmu dan kini berbagi ilmu, agar ilmunya bermanfaat. Buat kamu yang sedang giat belajar dan menimba ilmu, buku ini bisa menyuntik semangat kamu 🙂

Buat kamu yang ingin merantau, mencari ilmu, butuh motivasi, butuh disuntik semangatnya, buku ini bisa menemani kamu. 🙂

Baca: review buku di balik gerbang  Inspirasi dari 7 kisah pendamping diplomat 

Berikut ini kalimat-kalimat favorit saya dalam buku Dari Delft Hingga Madinah :

  1. Semoga kita senang memberikan kesempatan pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya, agar orang-orang gagal dapat mencicipi nikmatnya sukses. Menciptakan lingkungan yang positif agar potensi orang-orang biasa bisa tersalurkan. Agar setiap orang mendapatkan ruang untuk menjadi insan yang bermanfaat. (halaman 53)
  2. Mungkin orangtua kita tidak mampu, tapi Allah Mahakaya. Mungkin kita lemah, tapi kita mesti sering mengingat-ingat, bahwa Allah Mahakuasa. (halaman 60)
  3. Tidak perlu memusingkan kompetisi. Cukuplah menjadi menjadi lebih baik dibanding diri kita yang kemarin. Dalam hidup, jika ada yang harus dikalahkan, itu adalah hawa nafsu kita sendiri. Pintar-pintarlah menjaga suasana hati. Jangan mudah tersinggung. Lihatlah pohon pisang di parak, yang tetap tumbuh mesti ditebas seribu kali. Sering-seringlah mengingat Al-Lathif, yang selalu menyelipkan tawa di sela tangis kita. (halaman 63)
  4. Hidup adalah berdamai dengan ketidaksempurnaan yang tidak bisa kita tolelir. (halaman 67)
  5. Harapannya, jika nanti mereka sempat mencicipi nikmat Allah berupa pendidikan tinggi, semoga mereka setidaknya punya semangat berbagi seperti Pak Habibie. Pak Habibie mengirimkan banyak putra-putri bangsa ke luar negeri, agar mereka menjadi pintar seperti beliau. Pulang dari Eropa, beliau tidak serta merta menjadi superman dan spiderman yang sendirian menjadi jagoan dan paling hebat di bidangnya, tapi beliau mengirimkan sekian putra-putri bangsa ke luar negeri tanpa takut tersaingi kepintarannya. Pesan yang ingin disampaikan ketika anak-anak ini nanti menjadi pintar: Semoga tidak menjadi pintar sendirian, dan tidak minteri orang lain. Dan ketika menjadi sedikit lebih baik, semoga tidak menjelekkan selainnya. [] (halaman 55-56)
  6. Jangan menilai buku dari sampulnya, tapi cek dulu daftar isi nya. (halaman 68)
  7. Sering-seringlah melihat ke bawah, itu akan melembutkan hati. Jangan sering melihat ke atas, sebab mata bisa kemasukan debu dan pasir.” (halaman 76)
  8. Hadirnya keinginan, impian, cita-cita adalah momen yang tepat untuk mendekat, merapat kepada Pemilik Semesta yang kita yakini sangat  amat berkuasa. Allah yang tidak lelah mengurusi galaksi dan benda-benda langit lainnya. (halaman 95)
  9. Kita tentu pernah menghadapi keadaan yang sangat sulit. Di mana peluang kesuksesannya kecil. Saat sulit itulah saat terbaik untuk berdoa, berharap kepada Tuhan yang menciptakan langit dan yang mengatur ratusan milyar bintang di langit. Semakin sulit keadaan, semakin kecil kemungkinan, semakin baik. Itulah kesempatan untuk berharap pada Pencipta sel darah, sel otak, dan DNA kita. Itulah kesempatan berdoa secara diam-diam. Kelak, saat ternyata lepas dari kesulitan, kita jadi tahu, siapa tadi yang mengabulkan doa dan harapan kita. (halaman 99-100)
  10. Pahit itu baik. Tanpa merasakan pahit, bagaimana mungkin kita bisa memahami nikmatnya manis. Dengan berpahit-pahit dahulu, kita bisa lebih bersyukur kemudian. Buat yang mengalami kepahitan hidup, stay positive, jadikan yang pahit-pahit itu bekal agar kita lebih bersyukur saat bertemu yang manis-manis. (halaman 152)
  11. Catatlah impian-impian itu, jika memang belum sempat menjadikannya sebagai suatu item dalam munajat kita. Kelak, akan ada saatnya kita memekik bahagia, begitu mudahnya bagi Allah subhanahu wa taala mengabulkan keinginan-keinginan tersebut, bahkan dengan cara dan skenario yang tidak pernah terpikirkan oleh kita. (halaman 157)
  12. “Tidak akan ada perubahan kecuali kita memaksakan diri untuk membuang semua debu dan kotoran tersebut.” (halaman 176)
  13. Tidak usah khawatir akan ada badai lain, sebab tidak yang sia-sia dalam usaha bersih-bersih, usaha mengobati jiwa yang lelah dan memar, serta tazkiyatun nafs. (halaman 176)
  14. Pak Habibie tidak pernah membagikan uang pada anak-anak di pelosok Nusantara. Tapi semangat dan inspirasi seorang Habibie, cukup untuk menguatkan hati anak bangsa untuk belajar sekuat-kuatnya. (halaman 191)
  15. Bermimpilah saudaraku. Bermimpilah untuk menulis buku bagi anak cucu kita. (halaman 214)

Gimana, baca kutipan-kutipan di atas, sudah semangat belum? Tapi kamu bakal lebih semangat lagi kalau langsung baca bukunya 🙂

Baca: Buku Bajakan Merugikan Diri Sendiri dan Banyak Pihak

Happy reading! 📚 📖😊

With Love, ❤️💙

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s