[Review Buku] Journey to Aqsa Karya Marfuah Panji Astuti

“AKU MEMINTA KEKUATAN DAN ALLAH BERIKAN KESULITAN SUPAYA KUAT. AKU MINTA KEBERANIAN DAN ALLAH BERIKAN BAHAYA UNTUK DIATASI.” (SHALAHUDDIN AL-AYYUBI) –(halaman 85)

Judul Buku JOURNEY TO AQSA
Penulis Marfuah Panji Astuti
Penerbit Lembaga Kemanusiaan Syam Organizer
Tahun Terbit Oktober  2019
 Jumlah Halaman 152  halaman

Ini tentang perjalanan yang dirindukan. Ini tentang doa-doa panjang yang disorongkan ke pintu langit. Ini tentang sebuah pinta yang diijabah. Ini tentang PALESTINA…

Membaca buku ini rasanya membuat pikiran terus melayang membayangkan kondisi rakyat Palestina saat ini yang masih terus berjuang. Penulis seakan mengajak saya untuk merasakan pengalamannya selama berada   di Palestina. Rasa haru menginjakkan kaki dan mengunjungi tempat yang sangat bersejarah bagi umat muslim.

Mereka hidup di tanah sendiri, namun diperlakukan semena-mena. Berada di tanah Palestina yang diduduki Israel tentu saja bukan hal yang mudah.

Baca: review buku Aher Tamimi Gadis Palestina yang melawan tirani Israel

“Mereka merampas tanah dan pohon jeruk  kami. Tapi kami tidak akan menyerah. Kami tidak takut, karena yakin Allah bersama kami.” (halaman 14)

“Jamal lalu bercerita tentang tembok pembatas yang dibangun sejauh 844 km (sekedar perbandingan jarak Jakarta-Surabaya melalui jalan darat adalah 822 km!). Tembok ini merenggut rakyat Palestina. Mereka tidak bebas bergerak, kemana pun harus melewati check point. Bahkan sekedar berkunjung ke rumah tetangganya. (halaman 30-31)

Baca: review buku Journey to Andalusia

Penuh haru, sedih, pedih, dan merasakan sesak di dada, dan membayangkan suatu hari nanti saya bisa mengunjungi dan shalat di Masjidil Aqsa, seperti pengalaman yang dirasakan Mbak Utiek (penulisnya) bersama dengan suaminya. Sungguh beruntung mereka pernah berada di sana, dan melaksanakan sholat di salah satu masjid suci umat muslim.

Maha suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. [QS Al Isra: 1] __ (iv)

“Tidak dikerahkan melakukan suatu perjalanan kecuali menuju tiga Masjid, yaitu Masjid Al Haram (di Mekkah), dan Masjidku (Masjid An Nabawi di Madinah), dan Masjid Al Aqsha (di Palestina).” (H.R. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah Rdhiyallahu ‘Anhu). __((viii)

Sungguh, saya bersyukur sudah melakukan perjalanan ke Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan kini tentu saya masih harus terus bermimpi agar kelak bisa mengunjungi dan shalat di Masjidil Aqsha, Aamiin. Buku ini membuat saya makin ingin segera pergi ke sana. Saya ingin menyusuri tempat mulia yang pernah disinggahi para Nabi. Menghirup bau tanahnya. Sujud di tempat manusia-manusia mulia itu bersujud. Sebuah pengalaman yang pernah dirasakan sendiri oleh penulisnya dan semoga bisa saya alami langsung.

Baca: my amazing journey at Masjidil Haram

Buku ini sebagian besar membuat saya seolah berada dan di sana, dan bagian yang membuat embun itu menetas juga saat bagian ini:

Perempuan berseragam itu terus mengangguk-angguk sambil memandang saya. Saya balas senyumnya. Lalu dengan bahasa Inggris yang sangat fasih ia memperkenalkan diri. Namanya Fatima. Ia adalah penjaga Masjidil Aqsa. Diucapkannya selamat datang pada saya. Senang sekali ada saudara jauh dari Indonesia berkunjung. Sama seperti perempuan tadi, Fatima juga memeluk saya erat, bersahabat. “Kabarkan pada saudaramu untuk datang kemari. Mereka hanya memusuhi kami. Masjid ini aman. Masjid Al Aqsa aman karena Allah yang menjaganya,” katanya tegas tanpa melepaskan tangan saya.   (halaman 50-51)

Baca: Buku Bajakan Merugikan Diri Sendiri dan Banyak Pihak

Buku ini disajikan dengan sangat menarik oleh penulisnya yang punya latar belakang sebagai wartawan. Menurut saya, jika suka dengan buku-buku perjalanan wisata sejarah dan wisata religi, maka buku ini sangat sangat membantu dan penambah pengetahuan juga. Saat menyusun buku ini penulisnya berulang membaca catatan Ibnu Bathutah yang menurutnya sangat luar biasa, “Bagaimana mungkin di abad ke-14, ia sudah melakukan perjalanan sejauh 120.000 km, yang ditempuh selama 28 tahun, melintasi 44 negara! Sesuatu yang di abad modern ini pun tak mudah dilakukan.” Penulis ingin melakukan hal yang sama menyusuri setiap sudut bumi Allah dan membuat catatan perjalanan yang akan ia bagikan pada siapa saja yang belum berkesempatan melihatnya…

Baca: jajan buku

Dan lewat buku ini pula, saya telah diajak melihat kenyataan tentang Masjidil Aqsa, dan seakan memanggil saya untuk terus bermimpi kelak bisa ke sana.

Happy reading! 📚 📖😊

With Love, ❤️💙

2 thoughts on “[Review Buku] Journey to Aqsa Karya Marfuah Panji Astuti

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s