[Review Buku] MR CRACK Dari Parepare Karya A. Makmur Makka

“DARI ILMUWAN KE NEGARAWAN SAMPAI MINANDITO.”

“Saya bisa mengatakan bahwa buku ini adalah biografi terlengkap tentang diri saya yang pernah ditulis oleh beberapa pengarang. Bagi saya yang menarik dalam buku ini adalah bentuk penulisannya yang selalu menggunakan rujukan yang jelas sumbernya, karena itu semua sumber yang dikutif dalam buku ini, tidak ada yang fiktif dan direkayasa penulisnya.”—BJ Habibie  

Judul Buku             : MR. CRACK DARI PARE PARE
Penulis                     : A. Makmur Makka
Tahun Terbit          : Februari 2018.  Cetakan III, Agustus 2019
Jumlah halaman   : xxii + 493 hal. ; 15×23 cm
ISBN                        : 978-602-0822-91-4
Penerbit                  : Republika Penerbit

Sinopsis:

Perjalanan hidup seorang BJ Habibie melintas batas territorial dan waktu. Bermula dari Parepare, lanjut ke Aachen, lalu ke Jakarta. Dari seorang ilmuwan, kemudian menjadi negawaran, dan kini minandito. Dan, buku ini menyajikannya berdasarkan fakta, bukan rekayasa.

Kecintaan Habibie pada Tanah Air begitu besar. Tertanam kuat sejak masih mahasiswa dan tetap menyala hingga sekarang. Kedudukan yang prestisius, penghasilan yang besar ditinggalkan begitu panggilan untuk kembali datang. Lewat buku ini kita akan melihat perjuangan Habibie membangun Indonesia melalui teknologi.

Kisah cinta Habibie bersama Ainun menunjukkan sisi lain Habibie. Bila Rome & Juliet menggambarkan “kekandasan” cinta, Habibie & Ainun menggambarkan “keberhasilan” cinta. Melalui buku ini kisah cinta keduanya diceritakan kembali mulai dari pertemuan hingga maut memisahkan mereka.

Dibuka dengan prolog, dan ditutup dengan epilog, buku setebal 493 halaman, terdiri dari 5 bab utama, yaitu:

  1. Antara Parepare dan Aachen
  2. Kembali untuk Kembangkan Teknologi
  3. Ujian Kenegarawanan
  4. Kodrat Sang Kapiten Laut
  5. Eyang yang tak pernah berhenti mengabdi

Ada rasa sesak didada kala membaca buku biografi Eyang, rindu akan sosok beliau yang kini telah tiada. Kepergian beliau  pada usia 83 tahun (25 Juni 1936 – 11 September 2019), tidak hanya meninggalkan duka bagi saya sebagai rakyat, namun juga duka mendalam bagi seluruh bangsa Indonesia. Kehilangan Bapak Teknologi ini lantas memunculkan pertanyaan, kira-kira siapa yang akan menggantikan sosok beliau? Saya kira, tidak ada yang bisa mengganti beliau, kalau pun memungkinkan, mungkin akan lahir the next BJ Habibie dari para generasi berikutnya.

Buku ini juga kaya referensi (silahkan cek daftar pustakanya di halaman belakang). Bukan semata pendapat penulisnya, namun melalu riset dengan sajian yang sangat cerdas mengumpulkan dan menggunakan banyak rujukan. Membuat buku ini sangat kaya informasi dan jelas sumbernya (baca catatan kakinya). Untuk ukuran buku biografi yang biasanya kadang membosankan, buku ini justru sebaliknya, asik dibaca, tidak bikin mumet dan ngantuk, rasanya mengalir saja.

  • “Saya ada definisi, siapa yang usianya di bawah 40 tahun panggil saya eyang. Siapa di atas 40 tahun panggil saya pakde. Di atas 65 tahun, panggil saya mas. Anda panggil saya eyang, artinya tidak ada gap antara kita, Saya ini bukan eyang-eyangan, tapi saya ini kebetulan sudah menjadi eyang. Karena saya satu generasi dengan eyang Anda.” (halaman 476)
  • “Saya minta mereka memanggil saya “Eyang”, supaya mereka merasa tidak ada jarak antara saya dengan mereka.” “Anda adalah cucu intelektual saya. Saya mewakili eyang Anda sebelumnya. Tidak ada eyang yang tak ada cita-cita yang cucu atau cicitnya lebih baik,” …(halaman 477)

Untuk selanjutnya, saya akan menyapa idola saya sejak kecil, dengan panggilan Eyang. Tak banyak tokoh ilmuwan–meski tidak sedikit ilmuwan yang saya tahu. Namun, Eyang adalah ilmuwan pertama idola saya sejak duduk dibangku SD. Saya teringat nasehat Mamah saya, jika saya malas belajar, Mamah akan selalu bilang, “Kamu harus rajin belajar, biar pintar kayak Pak Habibie yang bisa bikin pesawat.” Orang tua masa saya, mengidolakan orang yang sama dengan saya–jelas sekali bahwa sebagai ilmuwan kehadiran beliau diidolakan oleh banyak generasi. Semoga anak cucu generasi kita juga akan seperti itu, memiliki figur terbaik yang di idolakan. Kalau kamu mengidolakan idola yang sama, jangan lewatkan untuk membaca buku yang bagus ini.

Setelah baca buku ini, saya baru tersadar dan bersyukur, alhamdulillah saya punya idola yang luar biasa iman dan ilmunya. Menurut saya, ilmuwan yang cerdas itu banyak. Eyang tidak hanya cerdas, namun dengan keimanan dan kecintaannya kepada Tuhan, menjadikan beliau seorang ilmuwan yang membumi hingga akhir hayatnya. Beliau selalu down to earth dengan segala pencapaian yang diraihnya. Namanya harum dalam dunia internasional.

Eyang, ilmuwan idola saya… (sumber foto: buku Mr Crack dari Parepare)
  • Crack Propagation yang amat penting dan serbasulit hasil penemuan BJ Habibie cukup memesonakan hati, inilah dasar reputasi BJ Habibie dalam lingkungan dunia ilmu dirgantara. Retakan dalam struktur pesawat memang sangatlah dicemaskan oleh para perekayasa structural dan keperilakuan penyebaran retak sungguh sulit diperhitungkan. __Prof. Dr. Ing. B. Lascka, Ahli Aerodinamika (halaman 86)
  • Di dalam karierrnya ia mendapat sebutan “MR. CRACK karena termasuk orang pertama di dunia yang bisa memperlihatkan kepada dunia ilmu pengetahuan bagaimana menghitung crack propagation on random sampai ke atom-atomnya. Selain sebagai ilmuwan, BJ Habibie juga aktif di organisasi ilmiah, antara lain, dari DGLR atau Himpunan Ahli Aeronautic dan Aerospace, Kelompok Jerman di dalam AGARD, sebuah grup riset berbobot dalam NATO, juga dalam ICAS (International Conference on Auronautical Science, ICAF (International Council on Aircraft Fatique). (halaman 95-96)
  • “Pak Habibie menemukan satu cara yang sebelumnya masih misterius untuk memprediksi umur material pesawat yang berpotensi mengalami “kegagalan” material akibat adanya retakan atau crack,” kata Andi Alisjahbana . Sebagai tenaga ahli pada perusahaan dirgantara Jerman, yakni Messerschmitt-Bolkow-Blohm, Habibie kala itu mencoba kritis untuk mencari jalan keluar atas kebingungan yang sempat melanda industri pesawat dunia. Atas temuan ini, tokoh kelahiran Parepare, Sulawesi Selatan, ini mendapat julukan ‘Mr Crack’. (halaman 97)

Baca: review buku I Am Malala, peraih nobel perdamaian

Saat peluncuran perdana pesawat N-250 di Bandung, saya pun ikut menjadi saksi sejarah bahwa bangsa Indonesia mampu membuat pesawat sendiri–meski saat itu saya dan keluarga hanya bisa menyaksikan langsung lewat siaran di televisi. Namun rasa haru dan bangga, mungkin juga dirasakan oleh seluruh bangsa.

  • Ia ingin menghindarkan bahwa sukses N-250 hanya kerena faktor Habibie, tetapi justru oleh putra-putri Indonesia yang bekerja pada IPTN yang disebut oleh BJ Habibie sebagai “generasi penerus”. (halaman 165)
  • Sejumlah besar ‘anak intelektual’ BJ Habibie itu adalah orang-orang pilihan Indonesia yang disekolahkan oleh pemerintah untuk melanjutkan jenjang S-1 hingga S-3 di luar negeri. Padahal mereka juga dipersiapkan untuk mengembangkan tidak hanya industri penerbangan, tetapi juga kereta api, pesawat terbang, kapal, senjata, sesuai program transformasi teknologi 9 wahana BJ Habibie. [] (halaman 171)

Di luar kiprah selain sebagai ilmuwan, beliau juga pernah menjabat sebagai Presiden RI yang ketiga. Bagaimana kiprah beliau dari seorang ilmuwan hingga bisa terjun dalam dunia politik? Apa saja tantangan yang beliau hadapi? Kebijakan-kebijakan apa yang beliau lakukan? Buku ini menjawabnya dengan jelas dan terperinci.

Bagi saya, Eyang tetaplah ilmuwan sejati, yang selalu memikirkan dan mencintai rakyat Indonesia. Meskipun beliau mendapat pendidikan luar negeri bahkan lebih dari dua puluh tahun merantau dan tinggal di Jerman, namun justru di tanah rantaulah kecintaan beliau akan bangsa ini tumbuh semakin kuat. Inilah puisi yang beliau tulis saat beliau sedang sakit, sungguh luar biasa indah puisinya. Rasa cintanya kepada bangsa ini sangat besar, begitu pula dengan nasionalisme, sungguh Eyang teladan yang sangat baik.

SUMPAHKU!!!

“Terlentang!!!

Djatuh! Perih! Kesal!

Ibu pertiwi.

Engkau pegangan.

Dalam perdjalanan.

Djanji pusaka dan sakti.

Tanah tumpah darahku.

Makmur dan sutji.

Hantjur badan.

Tetap berdjalan.

Djiwa besar dan sutji.

Membawa aku, ………… padamu! (halaman 68-69)

  • Begitu lama tinggal di Eropa, nasionalismenya justru makin tumbuh. Kadang-kadang saya menemukan potret-potret yang dibelakangnya ditulis syair-syair. Syairnya tentang Indonesia. Memang dari dulu jiwanya untuk pembangunan,” kata Ainun mengenang masa hidupnya merantau di Jerman Barat. (halaman 85)
  • Kepedulian besar BJ Habibie terhadap rakyat kecil ini tidak berlebihan karena di mata BJ Habibie rakyat adalah bosnya. (halaman 318) –

Bagi saya yang tidak mengenyam pendidikan di luar negeri, hal yang sangat saya pelajari dari sosok Eyang, bahwa kecintaan beliau terhadap Indonesia sungguh luar biasa, rasa nasionalisme tidak pernah luntur meskipun beliau lebih dari dua puluh tahun tinggal di Jerman. Sungguh meskipun saya tidak mengenal dan bertemu langsung dengan sosok rendah hati penuh prestasi di dunia internasional namun tetap membumi, karismanya mampu menembus batas ruang dan waktu. Dari dulu hingga saat ini, meski beliau telah tiada, saya selalu menaruh rasa hormat, betapa ilmuwan besar ini sangat mencintai bangsanya. Dan berkat beliau pula, mungkin banyak generasi penerusnya yang termotivasi untuk menjadi the next BJ Habibie. Dan Eyang pasti akan bangga, jika pemuda pemudi generasi penerusnya berlomba-lomba meraih prestasi untuk memajukan negeri tercinta, Indonesia.

Selain dikenal sebagai ilmuwan, juga negarawan, jangan melupakan kisah cinta teromantis abad dua satu, versi Pak Habibie dan Ibu Ainun. Sejauh ini, dari buku-buku yang sudah saya baca, buku romantis berdasarkan kisah nyata di abad ini, ya kisahnya Eyang yang super romantis. Pada bab tentang bagaimana Pak BJ Habibie bertemu dengan Ibu Ainun serta saat Ibu Ainun wafat, mengingatkan saya akan buku berjudul Habibie & Ainun. Kalau kamu suka baca buku romantis, buku tersebut sangat rekomen untuk dibaca.

  • Leila, Ich bin verliebt, Ich bin verliebt (Leila, saya jatuh cinta, saya jatuh cinta). –BJ Habibie (halaman 70)
  • “Saya bersyukur telah dipertemukan oleh Allah Swt., dua insan yang memang dijodohkan. Saya selalu berkata kepada istri saya, kamu dilahirkan untuk saya, dan saya untuk kamu. Itu yang saya rasakan dalam seluruh tubuh saya.” (halaman 79)

Bab tentang kepergian Ibu Aiunu, benar-benar membuat saya tak kuasa menahan embun yang terus bergelantungan..

  • “Profesor masuk ke ruangan dan matanya memandang mata saya, sambil mengangguk memberikan tanda detik-detik terakhir Ainun di dunia kita dan Ainun akan sebentar lagi pindah kea lam dan dimensi lain.” –BJ Habibie (halaman 421)

Sebagai perempuan, tentu saja banyak hal yang bisa saya pelajari dari Ibu Ainun. Salah satu sosok wanita yang menopang kesuksesan Eyang BJ Habibie. Ibu dan istri adalah dua wanita yang sangat dicintai Eyang.

  • Hidup bagi mereka benar-benar prihatin. Hidup benar-benar keras. Tetapi ada hikmahnya. Di masa-masa inilah Ainun belajar untuk hidup berdikari. Ia belajar menggunakan waktu secara maksimal sehingga semuanya dapat terselesaikan dengan baik: mengatur menu sehat, membersihkan rumah, menjahit pakaian, melakukan permainan edukatif dengan anak, menjaga suami, membuat suasana rumah yang nyaman. Pokoknya, semua itu Ainun lakukan agar sang suami dapat memusatkan perhatian pada tugas-tugasnya (halaman 81)
  • Maka ia kembali pada falsafah hidupnya sewaktu di Oberforstbach, yakni falsafah yang mengutamakan anak dan keluarga daripada mencari kepuasan professional dan penghasilan tinggi.” Sejak itu dokter Ainun melepas pekerjaan untuk mencurahkan perhatian pada keluarga. Ia mendampingi suami dan anak-anak. “Kesibukan jadi ibu rumah tangga membuat saya tak berpikir lagi jadi dokter.” (halaman 84-85)

Kehilangan Ibu Ainun, membuat Eyang akhirnya menulis buku tentang kisah romantis milik mereka.

  • “Banyak makna kelahiran buku ini bagi BJ Habibie. Buku ini memang berbicara mengenai cinta, tetapi bukan lagi antara cinta manusia, tetapi cinta dalam arti yang luas.” –BJ Habibie (halaman 442)
  • Bagi BJ Habibie, ibu yang melahirkannya telah berperan penting dalam kehidupannya sampai ia berumur 24 tahun, kemudian sesudah itu, setelah ia berkeluarga maka estafet peran seorang wanita dalam kehidupannya dilanjutkan oleh istrinya. Dan, itu terjadi selama 48 tahun 10 hari, sampai saat itu Ibu Ainun meninggalkannya. Dialah wanita yang diakui berperan utama dalam kehidupannya, dalam keadaan pahit dan senang. Sebaliknya bagi Ainun, “Suamilah yang diutamakan dan dia sebagai istri hanya di belakang layar. Suami baginya adalah makrokosmos dan ia sebagai istri adalah mikrokosmos. Ada malam dan ada siang, ada langit da nada bumi. Keduanya harus berjalan sesuai dengan orbitnya, teratur indah dan harmonis.” Kini mereka secara ragawi sudah terpisahkan, tetapi secara rohani, mereka telah manunggal tidak terpisahkan. (halaman 432)
  • Almarhumah sempat berpesan pada saya untuk tidak melupakan budaya orang Indonesia dan tetap menjadi perempuan Indonesia, berapa pun lamanya tinggal di negeri orang. –Miranti Soetjipto (halaman 441)
sumber: buku Mr Crack

QUOTE-QUOTE BJ HABIBIE favorit saya:

  • Kromosom intelegensia datang dari ibu disempurnakan oleh kontribusi kromosom dari ayah. Inilah yang mungkin menghasilkan apa yang terjadi dan ada dalam tubuh saya.” –BJ Habibie (halaman 1)
  • “Saya ini bukan Kyai, bukan pula manusia ahli agama. Pertama, saya hanya manusia biasa yang beragam Islam dan melaksanakan ajaran Islam secara sungguh-sungguh, tidak berbeda dengan yang lain. Kedua, saya hanya seorang insinyur yang bisa membuat kapal terbang dan memimpin pembangunan dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi dan kalau perlu mendobrak sesuatu. Tetapi saya sadari bahwa di belakang ilmu pengetahuan, manusia harus mempunyai iman. Dalam hal ini saya berusaha akan menjadi manusia demikian itu. (halaman 214)

Baca: review buku Terapi Berpikir Positif 

  • “Ketika seseorang menghina kamu, itu adalah sebuah pujian bahwa selama ini mereka menghabiskan waktu untuk memikirkan kamu. Bahkan, ketika kamu tidak memikirkan mereka.” –BJ Habibie (halaman 305)
  • “Biarkanlah kekurangan itu menjadi milik saya. Kerja, karya, dan hasil yang tercapai seluruhnya terpulang kepada rakyat Indonesia, pemilik sejati negeri ini.” –BJ Habibie (halaman 378)
  • satu hal yang sangat berharga bagi generasi penerus Indonesia di masa mendatang. Semangat juangnya tidak pernah padam, terpancar dari sorot matanya yang senantiasa berbinar-binar. Bahkan, ia sendiri mengakui, sebagaimana perkataan yang diucapkannya tatkala menjumpai para prajurit yang tengah menjalankan tugas di lapangan, “Saya tidak mau mengucapkan kata perpisahan, karena sebagai seorang prajurit, tidak akan pernah berhenti berjuang, di mana pun ia berada.” (halaman 391)
  • “Kita tidak boleh melewatkan momentum sehingga kita tidak dapat memanfaatkannya. Kita tidak boleh kehilangan momentum. Sehingga, pemimpin yang demikian itu, tidak tepat untuk memimpin suatu perusahaan, suatu gerakan apalagi suatu Negara.” –BJ Habibie (halaman 393)
  • “Kalau bukan Anda, saya dan cucu Anda yang membangun bangsa ini, jangan harap bangsa lain datang kemari membangun. Kita lebih mengandalkan sumber daya alam daripada sumber daya manusia. Kita lebih berorientasi jangka pendek daripada jangka panjang (mentalitas “kasir); kita lebih mengutamakan citra daripada karya nyata; Kita lebih melirik makro daripada mikro ekonomi.” –BJ Habibie (halaman 444)
  • Itulah BJ Habibie kini, dia tidak menjadi seorang Begawan yang selalu turun dari pertapaanya, seorang resi yang sudah menjadi minandito, karena ia selalu berada tidak jauh dari masyarakat dan rakyat seperti dirinya kini. Kepekaannya tidak pernah berkurang melihat kesenjangan, salah urus atau kelambanan dalam penerapan kebijakan. Ketika ramai kerisauan mengenai krisis negeri, wujud dan prediksinya semasa menjabat menteri Negara Riset dan Teknologi/Kepala BPPT tahun 80-an. (halaman 455)
  • Bagi BJ Habibie, rumahku adalah surgaku. (halaman 465)
  • “Sapaan Eyang membuat saya tidak ada jarak dengan mereka.” –BJ Habibie (halaman 475)
  • Ia percaya momentum, karena dengan rendah hati ia mengatakan bahwa momentum itulah yang menyebabkannya bisa unggul mempelajari ilmu konstruksi pesawat terbang di Jerman. ……. Yang mengambil jurusan konstruksi hamper tidak ada mahasiswa Jerman. Ada warga Negara lain, misalnya Amerika Serikat dan dari Indonesia hanya satu orang: BJ Habibie (halaman 480)
  • Saya bersyukur bahwa saya telah mampu melakukan sinergi elemen agama, budaya, dan ilmu pengetahuan dan teknologi. Saya bersykur telah berhasil menyelesaikan masalah yang bisa dirasakan dan dinikmati orang lain.” Sebagaiman biasa, BJ Habibie selalu mengutip pesan-pesan ayahnya bahwa, “MATA AIR YANG JERNIH MEMBERIKAN KEHIDUPAN SEKITARNYA.  (halaman 483)

Saya memang belum pernah bertemu langsung dengan Eyang, tapi saya bersyukur saya mengidolakan Eyang sejak kecil, sehingga hal itu membantu saya melewati masa sulit sehingga saya bisa tetap menyelesaikan pendidikan saya. Meski saya tidak mengenyam pendidikan luar negeri, semoga generasi saya bisa memiliki pendidikan lebih baik yang dengan ilmunya bisa bermanfaat untuk orang banyak namun sikapnya selalu rendah hati dan membumi seperti Eyang. Eyang, semoga saja saya bisa berkesempatan mengunjungi perpustakaan Eyang Habibie dan Eyang Ainun.

sumber foto: https://www.tribunnews.com/travel/2019/09/16/bj-habibie-meninggal-dunia-perpustakaan-habibie-ainun-akan-dibuka-untuk-umum

“Sejak kecil watak Habibie berbeda dari saudara-saudaranya. Ia termasuk anak yang senang mengerjakan sesuatu. Di rumah, ia senang membaca buku apa saja. Menurut kakaknya yang paling tua, Titi Sri Sulaksmi, yang kemudian menjadi Ny. Subono Mantofani, pada waktu kecil ia harus setiap hari membujuk BJ Habibie (Rudy) adiknya untuk keluar rumah bermain dan bergaul dengan teman-teman yang lain. (halaman 19)

Selamat membaca kisah Eyang Habibie yang sangat inspiratif 🙂

Baca: Buku Bajakan rugikan diri sendiri dan banyak pihak

Note: buku ini saya beli online melalui website http://www.bukurepublika.com

Happy reading! 📚 📖😊

With Love, ❤️💙

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s