[Review Buku] Surya Mentari dan Rembulan Karya Sili Suli

Apakah kamu suka fiksi berbalut budaya, sejarah, dan petualangan?

Jika suka, selamat menikmati ulasan dari saya.

Judul Buku             : Surya, Mentari & Rembulan
Penulis                    : Sili Suli
Tahun Terbit          : Cetakan kedua, September 2019
Jumlah halaman   : xxviii + 469 hlm; 13,5 x 21 cm
Penerbit                  : Arti Bumi Intaran
ISBN                        : 978-602-5963-39-1

Sinopsis:

Novel ini berkisah tentang Surya, seorang gembala kerbau dari Toraja yang mendapatkan tugas dan amanah dari warga kampungnya untuk mencari Mataallo, adik Mentari, kekasihnya yang diculik sekelompok orang yang tak dikenal di pinggiran kota Rantepao. Tugas itu dipercayakan kepada Surya dan beberapa anak muda kampung Waka. Untungnya, saat penculikan terjadi, ayah Mataallo sempat melakukan perlawanan dan meninggalkan tanda luka pada beberapa penculik Mataallo.

Pencarian ini berbuntut panjang, sehingga Surya dan dua temannya terpaksa berangkat ke Yogyakarta dengan bantuan Puang Lammai dan Tabib Istu. Sesampainya di Yogyakarta, ternyata Mataallo telah dijual kepada Raden Boedijono, seorang juragan batik asal Surakarta. Puang Yasser adalah seorang anggota Brigade Dhaeng berusaha membantu Surya dengan cara membeli kembali Mataallo dari tangan Raden Boedijono. Usaha Puang Yaser gagal karena Mataallo telah dijanjikan oleh Raden Boedijono untuk diserahkan kepada Koh Langgeng.

Untung seorang putri bangsawan Yogyakarya bernama Rembulan hadir di saat Surya dan teman-temannya telah putus asa untuk membawa pulang Mataallo ke Toraja. Berkat bantuan ayah dan kakak Rembulan, Raden Boedijomo meminta kompensasi bahwa Surya harus menggantikan Mataallo sebagai porter Koh Langgeng ke Nepal demi mewujudkan nazarnya untuk membawa abu jenazah kakeknya ke kaki Gunung Sagarmatha.

Novel ini merupakan kiriman penulisnya. Terima kasih Mas Suli, mungkin saya tidak akan tahu buku sebagus ini jika Mas Suli tidak memperkenalkan buku ini.  Saya memang pernah membaca ketiga buku yang menjadi inspirasi penulisnya dalam menghadirkan novel ini. Saman karya Ayu Utami, Laskar Pelangi karya Andrea Hirata dan 5 cm karya Donny Dhirgantoro. Dua novel yang sudah diangkat ke layar lebar dan menjadi box office movie Indonesia, tentu saja saya sangat menyukainya. Namun saya pastikan buku ini sangat berbeda dan keluar dari bayangan karya-karya yang telah mendahuluinya. Novel setebal 469 halaman ini bikin betah bacanya, tidak membosankan, tidak melulu serius–persahabatan Surya dengan kawan-kawannya, di tengah kesulitan yang mereka hadapi ketika mencari Mataallo–menyelipkan candaan-candaan lucu yang membuat pembacanya ikut tertawa.

Baca juga: review Laskar Pelangi karya Andrea Hirata

Untuk buku perdana, novel ini keren dan telah berhasil membuat saya tekun membacanya hingga selesai dan tak berasa “kok tiba-tiba usai”, masih pengen lanjut baca hehe. Maklumlah saking terhanyut dengan suasana yang digambarkan, saya  seakan diajak berpetualang oleh Surya mengunjungi berbagai tempat spektakuler di sepanjang perjalanannya menuju Nepal. Background penulis sebagai jurnalis  sekaligus pecinta alam, membuat buku ini kaya akan informasi sejarah, budaya, juga petualangan. Dan sebetulnya saya berharap penulis bisa membahas lebih dalam saat menyinggung kejadian meletusnya Gunung Tambora. Banyak tempat-tempat yang baru saya tahu, sampai berkali-kali membuat saat terpaksa menghentikan bacanya, dan langsung searching tempat yang dimaksudkan penulis. Buku ini sudah berhasil membuat saya terpesona, menambah wawasan terutama tentang budaya Toraja, dan petualangan mendaki gunung Merapi dan Gunung Sagarmatha, serta mengenal kota Yogyakarta di tahun 1884. Pas banget, di kota istimewa ini ada banyak kenangan baru yang indah hadir dalam kehidupan Surya, orang-orang baru yang begitu baik dan banyak menolong Surya. Yogyakarta  akan selalu istimewa bagi siapa pun yang mengunjunginya, dan akan selalu mengundangnya untuk datang kembali.  Akankah Surya kembali ke Yogyakarta setelah bertemu Mentarai? Bagaimana hubungan mereka?

SURYA Sanggola Limbong, seorang gembala kerbau yang berguru pada Ne’Bua.  Saat pencarian Mataallo, Ne’Bua membuka kesempatan kepada warga di Kampung Waka untuk bergabung dalam misi pencarian Mataallo. Syaratnya, siapa yang bisa menemukan dan memetik lebih dulu buah tomendoyang di Gunung Napo, maka mereka berhak ikut. Surya berhasil memetiknya lebih dulu. Ia menjadi pemimpin dari timnya yang dinamakan dengan Tim Elang Napo, terdiri dari Suya, Yosua, Rombe, Boting, Salla, dan Satje. Setelah berhasil menemukan Mataallo, Surya pun menjadi bagian dari tim “Laskar Suryoputran.” Surya sang porter telah dianggap seperti keluarga pada saat pendakian ke Gunung Sagarmatha oleh para juragan yang terdiri dari Koh Langgeng, Raden Boedijono, Bang Andy, nDoro Anten, dan Mas Murti. Para juragan ini memiliki kesetiakawanan yang tinggi dan rela mengorbankan waktu serta biaya demi persahabatan. Bagaimanakah perjuangan Surya bersama timnya dalam menemukan adiknya Mentari? Bagaimanakah keseruan petualangan mereka? Pelajaran apa yang bisa Surya ambil sepanjang perjalanannya hingga ke Nepal?

MENTARI Tiku Parinding, anak Ne’Ari dan kakaknya Mataalo.  Mentari adalah satu-satunya gadis kampung Waka’ yang fasih bahasa Melayu. Di kampungnya ia mengajar bahasa ini pada para remaja. Waktu berumur 15 tahun, Mentari pernah mengidap suatu penyakit yang cukup kronis, sehingga dibawa Ne’Bua’ untuk berobat di Pinrang. Ne’Bua’ memiliki seorang sahabat yang pintar menyembuhkan berbagai penyakit. Namanya Tabib Istu. Hampir tiga bulan Mentari menjalani perawatan di Pinrang dan di sana dia belajar Bahasa Melayu dari Tabib Istu dan putri sulung Tabib Istu bernama Indrianti. Bagaimankah kisah Mentari dengan Surya? Sanggupkah Mentari tetap setia menunggu Surya? Mampukah ia memaafkan Surya?

Raden Roro Endah REMBULAN, gadis ayu, seorang putri bangsawan yang rendah hati, sederhana, santun, dan tahu  menghargai orang. Ia turut berperan dalam membebaskan adiknya Mentari. Rembulan menyukai Surya, sejak pendakiannya ke Gunung Merapi yang hampir saja merenggut nyawanya–jika Surya tidak sigap menolongnya. Bagaimanakah hubungan Rembulan dengan Surya? Apakah Surya berterus terang tentang kekasihnya–Mentari pada Rembulan? Apakah Rembulan tahu tentang Mentari?

NE’ BUA, usianya sudah 90 tahun, namun pemikirannya dan staminanya masih terlihat segar. Semua kegiatan belajar dan bekerja bersama membangun kampung Waka’ bersumber dari gagasannya. Hampir separuh hidupnya dihabiskan dengan mengembara di luar Toraja.  Bagi kampung Waka’, Ne’ Bua’ dianggap guru besar, karena perhatian dan kepeduliannya terhadap masyarakat jauh lebih besar dibandingkan perhatiannya terhadap dirinya sendiri. Ilmu dan pengalamannya tidak dimanfaatkan untuk dirinya sendiri, tetapi lebih banyak dibagikan kepada orang lain. Banyak perubahan di kampung Waka’ bersumber dari ide dan peran Ne’Bua. Bahkan hartanya sipa dikorbankan demi kepentingan masyarakat. Makanya tidak heran bila warga kampung Waka’ sangat menghormati menyayanginya.

TABIB ISTU,  perhatiannya kepada korban perang dan bencana alam sangat besar. Bila ada bencana alam di suatu daerah, Tabib Istu segera berangkat ke daerah bencana itu demi menolong korban yang terluka. Dia melakukan semua itu tanpa meminta imbalan atau upah. Semua dengan ketulusan.

PUANG LAMMAI. Saudagar kaya raya yang ikut menolong Surya dan teman-temannya hingga mereka mencari Mataallo sampai ke Tanah Jawa. Ia mempunyai salah satu sifat yang luhur, yakni tidak mau melupakan kebaikan orang-orang yang pernah membantunya

Sebetulnya masih banyak karakter, namun saya tuliskan yang pokoknya saja. Karakter-karakternya sangat menarik dipadukan dengan cerita yang  kaya dengan unsur budaya. Ratusan halaman awal, penulis menyajikan tentang budaya Toraja, di mana di  abad ke 19, masih kental dengan unsur mistisnya seperti karakter Ne’ Bua, sebelum menjadi tokoh yang arif dan bijaksana di kampung Waka’, ketika mudanya gemar mengoleksi senjata-senjata pusaka. Kemudian disinggung juga tentang prahara judi sabung ayam (halaman 79), mayat berjalan (halaman 135). Juga acara rambu solo’ dengan tingkatan ma’barata (acara pemakaman adat Toraja yang harus dilakukan  dengan menyembelih seorang manusia yang diculik dari kampung  yang tidak ikut serta saat perang Topado Tindo. Satu hal yang unik, di kampung Waka’ memiliki pekikan yang sangat khas yaitu “Aihihihi…”

Novel ini sepertinya dipersiapkan penulis dengan riset yang mendalam, sehingga banyak hal yang disajikan, tidak hanya kisah cinta, tapi juga budaya yang sangat kental sekali, petualangan yang sangat menantang di saat alat transfortasi masih terbatas. Di Toraja yang kontur alamnya berbukit-bukit, sehingga Surya dan kawan-kawan saat mencari Mataallo harus berjalan kaki dari satu kampung ke kampung lain. Baru pada saat akan menyeberang ke Jawa, mereka naik kapal phinisi ke Semarang. Tentang gotong royong dan saling tolong menolong digambarkan dengan apik pula lewat para karakternya. Tak lupa, penulis pun menyampaiakan sindiran halus, berupa ritik sosial yang bisa ditemukan dalam novel ini :

Surya merasa kagum dengan sikap para pemuka adat yang berani menentang  tindak pelanggaran adat dari orang kaya yang ambisius dan kritis popularitas, serta konsisten untuk menjaga dan melestarikan warisan budaya nenek moyang. Para pemuka adat seperti ini patut di teladani dan dihormati. Namun, di sisi lain, Surya juga heran, mengapa ada segelintir orang kaya baru yang tetap ngotot mengadakan acara adat yang aneh-aneh, hanya untuk mendongkrak citra sosialnya di tengah masyarakat. (halaman 73)

… Bukan apa-apa, selama ini istilah koteng jawa, digunakan untuk menyindir ulah para penjilat yang suka mengumbar saksi dusta bahkan fitnah untuk menghisap keuntungan dari orang-orang kaya atau tokoh masyarakat yang sedang bersaing dalam perebutan kursi kekuasaan. Makanya mereka sangat muak bila melihat para ‘koteng jawa’ beraksi membodohi orang yang diincarnya tanpa merasa terbeban dengan ulah mereka yang memuakkan. (halaman 150)

Yang menarik, selain ceritanya yang tidak umum, juga petualangan dari satu tempat ke tempat lain. Novel ini memiliki banyak setting: Toraja – Makassar – Semarang – Yogyakarta – Singapura – Bangladesh – Sungai Gangga, India – Nepal. Salut, bisa mengolah  banyak tempat, dan seakan kita diajak menengok satu tempat ke tempat berikutnya.

Keindahan alam Tanah Toraja, sebelum Mataallo diculik, ayahnya–Ne’ Ari mengajaknya pergi. Ne’ Ari’ ingin memperlihatkan kepada putranya, sebuah panorama alam yang menawan di Lolai, yakni keindahan padang awan di pagi hari. Fenomena alam inilah yang membuat Lolai dijuluki negeri di atas awan. Dia berharap dengan melihat keindahan alam tersebut, putranya bisa memahami betapa luar biasa Puang Matua menciptakan alam semesta ini. (halaman 100). Dan lihatlah pemandangan spektakuler ini, sungguh magis!

sumber foto: https://www.idntimes.com/travel/destination/maria-lois/potret-kampung-lolai-toraja-c1c2/full

Dari karya-karya sastra klasik Indonesia, ini buku pertama yang saya baca, yang membahas secara detail budaya di Toraja, pada  abad ke 19. Apakah ini termasuk karya sastra klasik?  Awalnya, saya kira ini merupakan sastra klasik yang ditulis para era milenial, baru terbit bulan April 2019. Sayangnya  saat terjalinnya percakapan manis antara Surya dan Rembulan, saya agak sedikit terganggu dengan penggunaan istilah seperti lebay (halaman 272), “cie-cie” (halaman 274). Atau kata lain yang saya temukan seperti ‘top markotop’ (halaman 379), ‘mantap’ (halaman 382).  Dengan setting abad ke-19, tentu saja kata-kata tersebut rasa-rasanya belum muncul. Penggunaan kata hoaks, masih masuk akal sebab meskipun mungkin kata ini lebih familiar digunakan pada abad ke-20, tapi sebetulnya kata sendiri baru mulai digunakan sekitar tahun 1808.  Tapi secara keseluruhan saya sangat suka novel ini.

Ada banyak karakter dalam buku ini, tapi tidak mengganggu, karena masing-masing punya peran yang pas, dan penulis pandai mengemasnya. Sehingga kita akan tahu, misal pada saat sampai di sebuah daerah baru, akan ada karaker baru yang diperkenalkan dan akan menuntun untuk melanjutkan misi para juragan dalam perjalanan ke Nepal, atau pun Surya dan teman-temannya dalam menemukan Mataallo.  Mereka selalu mendapatkan banyak bantuan. Sepertinya pesan yang ingin disampaikan dalam novel ini salah satunya, kalau kita berbuat kebaikan, maka sama saja telah berbuat baik kepada diri sendiri dan orang disekeliling.

Surya teringat Ne’ Bua, Orang tua itu yang menabur kebaikan, tapi mereka yang menuai hasilnya.” (halaman 153). Berkat kebaikan dan ketulusan Tabib Istu dan Puang Lammai, Surya dan teman-temannya bisa melanjutkan pencarian Mataallo, kedua tokoh Bugis ini, berperan besar dalam perjalanan Surya sampai bertemu dengan orang-orang baik di Tanah Jawa, menemukan Mataallo, yang harus ditebusnya dengan melanjutkan perjalanan ke Nepal.

sumber: wikipedia (view gunung Everest dari Kala Patthar)

Hanya dengan kemauan keras, pengorbanan besar dan stamina yang prima, mereka bisa melalui semua rintangan dan tantangan perjalanan hingga tiba di Kala  Patthar. (halaman 435). Mengukuti kisah Surya bersama para juragan, membuat saya penasaran dengan panorama yang bisa mereka lihat. Ini dia fotonya dari wikipedia. Akhirnya Koh Langgeng bisa melaksanakan nazarnya. Kebahagiaan itu tak hanya dirasakan oleh Koh Langgeng, namun juga timnya. Mereka sadar bahwa “Semua hasil yang besar berawal dari mimpi.” (halaman 443). Sepanjang perjalanan mereka juga melakukan banyak kebaikan, dan mereka menerima banyak kebaikan.  “Makanya, jangan lupa kebaikan orang lain. Kalau kebaikan kita kepada orang lain, silahkan dilupakan.” (halaman 443).

Ada banyak pesan moral yang bisa kita ambil dari buku ini:

  • tentang berbuat kebaikan
  • tentang persahabatan
  • tentang kesetiaan
  • kita jangan gampang terpengaruh dengan hal-hal yang belum pasti, seperti info yang sifatnya hoaks.
  • tentang memaafkan
  • bergotong royong

Berikut ini kalimat-kalimat favorit saya dalam buku Surya, Mentari dan Rembulan.

  • “Hoaks artinya kebohongan yang diciptakan dengan tujuan yang tidak baik. Tampilannya bagaikan ular beludak berwajah merpati. Jadi hoaks ini semacam makhluk berbisa yang dapat meracuni pikiran, perkataan bahkan tindakan orang banyak. Dunia bisa terguncang karenanya.” (halaman 5)
  • Gerakan Ma’dong Mamali merupakan gerakan moril untuk menghimbau para perantau dari kampong Waka’ yang telah berhasil di negeri orang, untuk ikut peduli dan berperan aktif dalam membangun bidang pertanian dan perkebunan yang subur .
  • “Dunia tak selebar daun miyana. Kalau mau jadi pelaut ulung, belajarlah dari orang Bugis Makassar. Kalau mau pintar memasak daging rending belajarlah dari orang Minang. Kalau mau bago berdagang tuntutlah ilmu dari orang China. Kalau mau belajar membatik pergilah ke Tanah Jawa,” demikian pesan Ne’Bua yang sering terlontar. (halaman 14)
  • “Nah, untuk kalian yang masih muda-muda, belajarlah dari Indo’ Tasik. Walaupun usianya sudah lanjut usia, tapi semangatnya tetap muda. Kepedulian dan perhatiannya terhdap orang lain memang luar biasa…”  (halaman 114)
  • “Ada petuah orang tua kita, dimana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Ini jurus paling sakti yang harus kalian lihat dan amalkan saat memasuki daerah orang. Jurus ini takkan lenyap walaupun kalian berjalan di bawah jemuran, atau saat menyeberangi lautan. Saat masuk ke daerah orang, jangan pernah berniat jahat. Hormati mereka dengan santun. Ketika bertemu dengan musuh, jangan mulai membuat masalah. Langkah terbaik adalah berusaha mencegah benturan fisik. Tetapi bila kita sudah berusahan menghindari benturan fisik dan musuh tetap datang menyerang hingga membahayakan nyawa kita, maka kita harus membela diri tanpa berniat mencelakai musuh kita. Kecuali bila nyawa kita benar-benar sudah terancam, maka langkah terakhir ialah melawan dan melumpuhkan musuh. Ingat, tugas utama kalian adalah membawa pulang Mataallo dengan selamat. Tugas utama saya adalah membekali kalian agar bisa kembali dengan selamat,” pesan Ne’ Bua’. (halaman 116-117)
  • “Cuma saya heran mendengar perbincangan mereka yang isinya hanya melecehakn orang lain, bahkan tominaa mereka sendiri dijelek-jelekkan. Padahal mereka sendiri bukan orang baik,” …. (halaman 128)
  • “Soal begitu tidak perlu membuatmu heran. Salah satu perilaku orang tidak cerdas adalah suka melecehkan orang. Mungkin itu dilakukan  untuk menutupi ketidakcerdasannya,” …. (halaman 128)
  • “Maksud saya, jadi orang itu sebaiknya jangan suka melecehkan orang, apalagi kalau diri mereka belum beres,” … (halaman 129)
  • “Biarkan sajalah. Ini kan kampung orang. Kita urus saja kampung kita,”… (halaman 138)
  • “Penyakit yang paling sulit disembuhkan dalam diri manusia adalah penyakit iri hati, kebencian, egois, dan dungu,’ kata Tabib Istu (halaman 154)
  • Saudagar memang selalu berpikir selangkah lebih maju dibandingkan pekerja. (halaman 166)
  • Saya setuju bahwa perlawanan terhadap penjajahan tak selamanya harus dengan kekerasan dan kebencian, tetapi bisa juga dengan cara-cara yang elegan dan cerdas. Kadang-kadang kita perlu juga mendengar syair-syair para seniman yang seperti ini, agar pola pikir kita tidak mudah disesatkan oleh narasi-narasi yang berisi hasutan yang menyesatkan dan hanya menanamkan kebencian dalam hati kita.”  (halaman 210)
  • Yang ingin saya sampaikan bahwa Jayabaya mengatakan hal itu bukan karena dia seorang peramal yang hebat, namun dia cerdas menggunakan logika berpikirnya dengan baik karena dia menyadari bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi akan terus berkembang dari waktu ke waktu. Saya berharap kita juga bisa berpikir cerdas seperti Jayabaya, sekalipun kita masih dikukung oleh penjajahan bukan hanya oleh penjajah asing, tetapi juga terjajah oleh cara berpikir kita yang sempit dan malas belajar, serta sifat-sifat iri hati terhadap kemajuan orang lain. Seharusnya kita lebih banyak belajar dari mereka yang lebih maju, agar nasib kita tidak selamanya berada di belakang, tetapi kelak bisa sejajar dengan orang-orang cerdas lainnya, dengan bangsa dan negara yang sudah lebih dulu maju. Saya berharap semoga kalian kelak akan menjadi generasi penerus bangsa yang handal, jujur, mandiri, visioner dan tetap idealis,” (halaman 271)
  • “Apalah arti hidup ini, bila kita tidak membantu sesama kita. Jadi nggak perlu berterima kasih kepada saya, tetapi berterima kasihlah kepada Gusti Allah. (halaman 294)
  • Hidup ini kadang berat dan butuh pengorbanan. (halaman 363)

Jika kamu ingin mengenal Indonesia di zaman dulu dari sisi sejarah dan budayanya, serta gunung-gunung di Nepal yang memiliki panorama yang spektakuler, maka bacalah buku ini 🙂

Happy reading! 📚 📖😊

With Love, ❤️💙

SUBSCRIBE AISAIDLUV

23 thoughts on “[Review Buku] Surya Mentari dan Rembulan Karya Sili Suli

  1. Dulu…(rasanya sdh lama tak membaca)…aku juga suka membaca fiksi yang ada sejarah, budaya dan petualangan. Lebih sering yang terjemahan karena bisa dibeli di pasar loak ( karena hanya mampu beli buku second). Mengasyikkan memang, walaupun terkadang aku kesulitan melafalkan namanya dan kadang kubaca sesuai versiku saja biar cepat he he he

    Liked by 1 person

    1. Wow mantap dan keren Mba Sondang 👍👏

      Iya, seru mba, kalau suka buku fiksi seperti ini, semoga bisa membaca buku ini juga 😊

      Tenang Mba, saya akan ngadain giveway buku 😁

      Like

  2. ▪ Waaah, embel-embel sejarah dan budaya Indonesia tempo dulu, beserta suguhan panorama pegunungan Nepalnya membuat saya tertarik untuk membaca bukunya. Sepertinya asyik bertualang bersama Surya menjelajahi semesta.

    ▪ Quote yang saya suka dalam review ini adalah: “Dunia tak selebar daun miyana. Kalau mau jadi pelaut ulung, belajarlah dari orang Bugis Makassar. Kalau mau pintar memasak daging rendang belajarlah dari orang Minang. Kalau mau jago berdagang tuntutlah ilmu dari orang China. Kalau mau belajar membatik pergilah ke Tanah Jawa,” demikian pesan Ne’Bua yang sering terlontar. (halaman 14)

    Liked by 1 person

  3. – Yang membuat saya tertarik ingin membaca buku Surya Mentari & Rembulan adalah karena mengandung unsur budaya dan banyak petualangan ke berbagai tempat yang pastinya akan menarik untuk dibaca bila dideskripsikan dengan bagus. Menurut penuturan Mbak Ai, saat beliau membaca buku ini sampai tak sadar kalau ternyata telah selesai. Dan itu artinya buku itu memang asyik dibaca dan bisa membuat si pembaca seakan berada dalam cerita.

    – Quote favorit saya dalam review Surya Mentari & Rembulan adalah
    “Saya setuju bahwa perlawanan terhadap penjajahan tak selamanya harus dengan kekerasan dan kebencian, tetapi bisa juga dengan cara-cara yang elegan dan cerdas. Kadang-kadang kita perlu juga mendengar syair-syair para seniman yang seperti ini, agar pola pikir kita tidak mudah disesatkan oleh narasi-narasi yang berisi hasutan yang menyesatkan dan hanya menanamkan kebencian dalam hati kita.”  (halaman 210)

    Liked by 1 person

  4. Apa yang membuat kamu tertarik ingin membaca buku Surya Mentari & Rembulan?
    1. Setting cerita berada di abad ke 19 di mana Indonesia belum mengenal android
    2. Memiliki unsur budaya Toraja. Saya belum pernah baca novel tentang Toraja
    3. Nepal, terkenal dengan keeksotisannya
    4. Cerita disuguhkan dengan kisah penculikan. Apa gak tegang. Kan buat penasaran. Jadi harus baca Surya Mentari & Rembulan

    Apa quote favoritmu dalam review Surya Mentari & Rembulan?
    Hidup ini kadang berat dan butuh pengorbanan. (halaman 363)
    (Bukan rindu aja yang berat! Kayak anak muda sebelah) 😀

    Liked by 1 person

  5. wkwkwkwk, aku juga baru sadar ka ai, gara2 ka ai bilang, aku langsung cek baca lagi, hehe
    yang membuat saya tertarik ingin membaca buku surya, mentari dan rembulan, karna dalam buku tersebut bertajuk sejarah, ditambah lagi dengan setting, dengan kaya budaya indonesia. ditambah si penulis sedikit terispirasi oleh novel 5 cm, dan langkar pelangi, yang keduanya saya udh baca, buat saya semakin penasaran. apalagi setelah baca review ka ai..
    buat quote sebenernya quote nya sedikit mainstream “sebuah hasil yg besar berawal dari mimpi” saya paling suka “hanya dengan kemauan keras, pengorbanan dan stamina yang prima, mereka bisa melalui semua rintangan dan tantangan perjalanan hingga tiba di kala patthar” salam kenal ka ai…

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s