[Review Buku]: GURU AINI Karya Andrea Hirata

“Dalam perjalanan menuju keikhlasan, kita akan menemukan harapan, dalam perjalanan lika-liku pengorbanan, kita akan menemukan keberanian, namun ke kejujuran pada diri sendiri, akhirnya kita akan pulang–Novel Guru Aini

“Dalam desau sepi angin pagi. Dalam gerimis hujan dini hari. Dalam gerak gerik halus benda-benda. Dalam harapan-harapan yang tak terkata. Tersimpan rahasia mengapa kita ini ada.”__Andrea Hirata

Judul Buku            : GURU AINI
Penulis                    : Andrea Hirata
Tahun Terbit          : Cetakan I, Februari 2020
Penerbit                  : Bentang Pustaka
Jumlah Halaman  : Xii + 336 halaman ; 20,5 cm364 halaman
ISBN                        : 978-602-291-686-4

Sinopsis: 

Konon, berdasarkan penelitian antah berantah, umumnya idealisme anak muda baru tamat dari perguruan tinggi bertahan paling lama 4 bulan. Setelah itu mereka akan menjadi pengeluh, penggerutu, dan penyalah seperti banyak orang lainnya, lalu secara menyedihkan tersesat arus deras sungai besar rutinitas dan basa basi birokrasi lalu tunduk patuh pada sistem yang buruk.

Dalam kenyataan hidup seperti itu, seberapa jauh Desi berani mempertahankan idealismenya menjadi guru matematika di sekolah pelosok?

Stunningly beautiful, high intelligent, sangat perlu dibaca mereka yang ingin belajar.”—Firza Aulia, scholarship awardee

Saya senang sekali Pak Cik sudah menghadirkan buku berjudul Guru Aini, novel bergenre sains yang merupakan karya terbaru Pak Cik yang terbit pada bulan Februari 2020. Buku ini merupakan prekuel dari buku Orang-Orang Biasa (OOB) yang terbit tahun 2019. Prekuel itu awalan dari cerita sebelumnya. Dan merupakan buku pertama saya, yang bertandatangan Pak Cik, karena saya ikutan PO di Mizanstore. Novel ini dipersembahkan Pak Cik untuk Guru Marlis.

“Novel ini kupersembahkan dengan segenap hormat dan rasa kagum untuk Ibu Guru Marlis, seorrang perantau ulung, seorang guru yang hebat.”

Membaca lembar pertama dan selanjutnya, sungguh akan dibuat kagum, sedih, senang, bangga sekaligus terharu hingga lembar terakhir. Ada banyak karakter dalam buku ini dan disajikan dengan menarik oleh penulisnya, namun dua karakter yang paling menonjol tentu saja Desi sang guru  dan Aini sang murid.

Baca juga : resensi buku Selena dan Nebula karya Tere Liye

DESI ISTIQOMAH, berasal dari keluarga cukup mampu, seorang berkepala batu, lulusan terbaik, bercita-cita menjadi guru matematika. Ia siap, meski harus ditempatkan di pelosok. Pada saat penempatan kerja, Desi sebetulnya mendapat  keistimewaan untuk memilih lokasi penempatan kerja karena ia lulusan cum laude pertama dari pendidikan itu. Namun Desi tetap ikut undian dan tidak mau mengambil kesempatan tersebut. Ketika mengambil kocokan, ternyata Desi mendapatkan tulisan Bagansiapiapi, namun karena Salamah, sahabatnya sangat bersedih di tempatkan di pelosok yaitu di Pulau Tanjung Hampar. Ia rela menukar tempat penugasannya di pelosok, tempat antah berantah yang perjalanannya ditempuh selama enam hari enam malam, naik berbagai macam kendaraan, mulai dari bus, angkot, hingga perahu untuk tiba di tempat tujuan. Sebetulnya Ibunya Desi sangat menentang cita-cita anaknya, beliau ingin anaknya masuk fakultas kedokteran. Lain halnya dengan ayahnya yang mendukung apa pun cita-cita putri kesayangannya.  Dibujuk dengan cara apa pun tetap saja Desi keukeuh, tidak mau.

Namun apa boleh buat, dia ingin jujur pada dirinya sendiri, bahwa yang paling diinginkannya adalah menjadi guru matematika yang mengajar anak-anak miskin di pelosok. Dia tak mau menukar mimpinya itu, dia tak ingin menjadikan hal lain, seindah apa pun hal itu berjanji.” (halaman 7)

Hal yang unik dari Guru Desi ia memiliki sumpah sepatu! Sebagai guru, dia memahami psikologi pendidikan bagi anak kampung. Kemiskinan dan kepercayaan diri yang rendah membuat mereka selalu merasa hal-hal akademik yang hebat akan selalu menjadi milik orang lain, milik orang kota, miliki anak-anak orang kaya di sekolah-sekolah hebat. Mereka selalu memerlukan contoh nyata, dari kalangan mereka sendiri. Dalam pemikiran Guru Desi, jika dia berhasil menemukan dan mendidik seorang anak Kampung Ketumbi menjadi genius matematika, maka anak-anak Kampung Ketumbi lainnya akan melihat bahwa mereka pun bisa meraih sesuatu yang selalu mereka bayangkan tak mungkin dapat mereka raih. Maka ini bukan melulu soal matematika, ini soal keberanian bermimpi. Untuk Desi berjanji pada dirinya sendiri, ia mengangkat semacam sumpah sepatu, bahwa dia akan terus memakai sepatu olahraga pemberian ayahnya sampai anak genius matematika itu ditemukan! (halaman 50).

Guru Desi pernah menemukan murid yang jenius matematika, namanya Debut Awaludin. Namun sayang otak jeniusnya tak berbanding lurus dengan semangat belajarnya. Tak tahu apa yang merasuki kepala lonjong biji nangka Debut. Dia senantiasa dilanda perasaan romatik untuk bergabung dengan kaum marginal. Baginya dunia selalu tak adil, politisi ingkar janji, penguasa melindungi pencuri, para penegak hukum tak amanah. Dia merasa hidupnya kelihangan makna jika berpangku tangan saja. Karena itu, Rombongan 9 itu lebih menarik minatnya ketimbang matematika. (halaman 63-64). Hasilnya? Debut malas belajar matematika, kekecewaan Guru Desi mencapai puncaknya saat Debut menyalahkan soal-soal matematika yang diberikannya dan lebih memilih bergabung dengan Rombongan 9 (terdiri dari Dinah, Handai Tolani, Tohirin, Honorun, Sobri, Rusip, Salud, Nihe, dan Junilah) –baca kisahnya di buku OOB. Sejak saat itu, tentu saja Guru Desi jadi lebih sensitif, strict, intense, meski pernah kecewa dan sakit hati dengan muridnya, tapi  tidak pernah menyerah dengan idealismenya mendapatkan yang genius dalam matematika. “Memintarkan seorang murid cukup untuk membuat batin seorang guru tertekan, namun murid yang sudah pintar dan mengabaikan kepintarannya, akan memukul perasaan seorang guru dengan kegetiran yang tak dapat dimengeri siapa pun.” (halaman 66)

Percakapan Guru Desi dengan sahabatnya Guru Laila, sangat “dalam” sekali:

Tak pernahkah kau lelah menjadi idealis, Desi? “Lelah, Laila, tapi tanpa idealisme, aku akan lebih lelah. Tanpa idealisme, orang akan hidup dengan menipu dirinya sendiri, dan tak akan ada yang lebih lelah dari hidup menipu diri sendiri.” Pernahkah terpikir menekuni bidang lain selain matematika? “Aku bukan Desi, tanpa matematikaku.” (halaman 68)

Baca juga: Serial Anak Nusantara dan Buku Serial BUMI

NURAINI binti Syafrudin, atau AINI, menderita psikosomatis, secara aneh mengalami sakit perut saat pelajaran Matematika, dan paling bebal dalam pelajaran matematika. Nilai ulangan matematikanya seperti bilangan biner, 1 0 1 0 yang dipakai dalam bahasa komputer. Kalau biasanya ulangan matematika pada umumnya ada 10 soal dan bila menjawab semuanya mendapat nilai 10. Maka sungguh Aini memiliki prestasi yang sangat fenomenal dalam menjawab soal-soal itu adalah keberhasilannya menjawab paling banyak satu soal saja. Maka nilainya 1. Selebihnya sesat, gelap, memalukan, nol. Hebatnya, Aini tidak pernah menyontek dalam ulangan, saking gelap matematika dan tidak tahu cara menyontek.

Ai, matematika, mengapa kau sulit sekali? Mengapa aku tak kunjung mengerti? Dari manakah angka-angka ini bermula? Ke manakah mereka akan pergi? (halaman 171)

Namun Aini berubah sejak ayahnya sakit keras dan sulit diobati, ia juga tidak naik kelas karena absen selama 7 bulan untuk menjaga ayahnya, ketika anggota gengnya Aljabaria—Enun dan Sa’diah naik kelas, Aini masih duduk di kelas 1 SMA. Ada seorang tabib yang bilang pada Aini  kalau penyakit ayahnya hanya bisa disembuhkan dengan pengobatan modern, dan hanya dokter yang bisa mengobati ayahnya. Sejak itulah Aini bercita-cita menjadi dokter. Bahkan saking semangatnya, sepada milik Aini dituliskannya “Aini Cita-Cita Dokter” dan sudah diketahui oleh warga dikampungnya. Yang menjadi masalahnya, untuk menjadi dokter tentu saja Aini harus menaklukan matematika agar bisa masuk dan kuliah di fakultas kedokteran! Maka tidak ada jalan lain, kecuali ia harus belajar matematika pada guru terbaik, yaitu Guru Desi. Guru matematika yang sangat idealis. “Tanpa idealisme, matematika akan menjadi lembah kematian pendidikan,” kata Guru Desi. Guru Desi dikenal sebagai guru yang jenius, galak, eksentrik, dan punya nazar yang sangat aneh! Aini dengan tekadnya yang bulat tanpa bisa dipengaruhi oleh sahabat-sahabat terbaiknya, memutuskan untuk pindah ke kelas Guru Desi. Sayangnya, masuk ke kelas Guru Desi bukanlah perkara mudah. Guru Desi tak serta merta menerimanya. Ia harus mengetahui seberapa kuat nyali Aini. Menurut Guru Desi, ada tiga cara mempersulit diri sendiri di sekolah itu: “Pertama, masuk ke kelasku. Kedua, belajar matematika. Ketiga, belajar matematika dariku.” (halaman 110)

Baca juga: Latihan soal Matematika, Matappu Jiwa

SUBSCRIBE AISAIDLUV

Nah, dari sinilah awal mula kisah indah antara Guru jenius, galak, eksentrik terjalin dengan murid paling bebal matematika, Aini di mulai…………..

Pertanyaannya: “Sanggupkah Guru Desi mengajar Aini yang sejak kelas 4 SD, nilai matematikanya hanya  berkisar 1,0 atau 0,0?  Apakah Aini akan bertahan belajar dengan Guru Desi yang galak? Sanggupkah Aini mengejar ketertinggalannya dalam belajar Matematika saat duduk di bangku SMA dan memilih menjebloskan diri ke kelasnya Guru Desi? Metode apakah yang digunakan Guru Desi untuk menaklukan kegagalan Aini yang tak kunjung bisa Matematika, dan nilainya belum bergerak dari angka  1? Mau tahu cara mengikat sepatu ala Guru Desi? Kenapa sampul bukunya fokus pada gambar sepatu? Apa makna dibalik sepatu tersebut? Apakah kamu tidak suka pelajaran Matematika? Jika kamu tidak suka, silahkan baca buku ini, siapa tahu kamu bisa terinspirasi dari sosok Aini yang awalnya tidak suka matematika dan sering sakit perut saat pelajaran matematika, kini telah berubah penjadi pelajar yang sangat menyukai matematika hingga membawanya menyenangi pelajaran-pelajaran lain. Mampukah Aini lolos seleksi fakultas kedokteran? Temukan jawaban-jawaban atas pertanyaan tersebut dengan membaca bukunya, selamat menikmati novel yang bergizi ini 👍😊❤️

Bagian yang membuat saya terharu, saat pengumuman kelulusan Aini memperoleh nilai matematika yang fantastis. Bagian menerima pengumuman kelulusan kuliahnya, bagian bahwa sebagai anak tertua, dia bertanggung jawab atas ayahnya 😭

Yang menarik dari buku ini:

  • Saya sangat menyukai design cover-nya. Sebelum memutuskan untuk ikutan PO, terlebih dahulu saya sudah dibuat jatuh cinta dengan cover-nya. Sederhana tapi filosofis, juga kreatif.
  • Judulnya juga menarik dan mengangkat dunia mendidikan, khususnya seorang Guru Matematika yang sangat idealis, ditambah seorang murid yang tangguh dan mau belajar Matematika meski anak ini harus jatuh bangun meyakinkan gurunya, bahwa ia sungguh mau belajar, tidak mau menyontek, ia ingin bisa Matematika karena ia mau jadi dokter. Sungguh duet antara Guru Desi dan muridnya Aini, menghadirkan kisah yang inspiratif dan juga mengharukan. ⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️
  • Menurut saya buku ini sangat inspiratif dan bisa dibaca siapa saja. Baik saya yang pernah menjadi murid sekolah, atau pun adik-adik yang sedang sekolah, bahkan Bapak-Ibu Guru yang sedang mengajar anak-anak sekolah. Selamat berjuang untuk mencerdaskan anak-anak bangsa 😊
  • Pak Cik ini selalu pandai meramu kisah sederhana jadi menarik namun tetap menyajikan gelak tawa dengan humor-humor khasnya.
  • Kabarnya, novel Guru Aini merupakan novel tersulit yang ditulis oleh Pak Cik, dan memerlukan riset selama 2 tahun! Wow, lama sekali, tapi hasilnya terbaik (silahkan baca dan nikmati bukunya) J Nanti bagian yang paling seru tentu saja saat Guru Desi dan Aini berkolaborasi menjadi guru dan murid yang ….. ah sudahlah kamu baca sendiri bukunya :’)
  • Terima kasih Pak Cik sudah menghadirkan buku ini, setelah Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, buku Guru Aini juga jadi favorit saya 🤩🤩

Pesan moral dari buku ini:

  • Menjadi guru dan mendidik murid itu sungguh tidak mudah. Namun berkat idealisme yang tertanam begitu kuat, Guru Desi bisa membuktikannya, bahwa beliau meski harus bertahun-tahun mengajar, pada akhirnya bisa.
  • Jika seorang anak sekolah memiliki kemauan keras demi mencapai yang dicita-citakan, sesulit apa pun perjuangannya, sesulit apa pun keadaan ekonomi yang menghimpit keluarganya, selama punya tekad, kemauan, dan pantang menyerah, meski harus jatuh bangun, pasti bisa mewujudkannya. Seperti Aini ❤️
  • Guru dan murid jika saling tolong menolong. Guru mengajar dan murid yang mau belajar keras meski awalnya tidak bisa. Berkat kegigihan Guru Desi dalam menemukan metode yang tepat untuk mengajarkan Matematika kepada Aini. Maka pada akhirnya akan melahirkan murid sekaligus guru berprestasi. Seperti Guru Desi (Mal) dan Aini.
  • Seperti yang disampaikan penulisnya lewat karakter dalam buku ini yaitu Guru Desi yang sangat suka membaca dan akhirnya diikuti Aini, bahwa membaca buku merupakan elemen yang sangat penting agar bisa menambah pengetahuan. Awalnya Aini tidak suka membaca, namun karena menyadari pentingnya membaca, maka ia pun jadi rajin membaca, megikuti jejak guru yang sangat dicintainya, Ibu Guru Desi. 📚 📖

Kalimat-kalimat favorit saya dalam buku GURU AINI:

  1. “Menjadi guru adalah panggilan jiwa. Kita akan sangat kesulitan memajukan pendidikan jika seorang guru ingin menjadi guru sekedar untuk mencari nafkah.” (halaman 8)
  2. “Harus ada seseorang yang memulai sesuatu yang tak pernah ada.” (halaman 10)
  3. Salah satu tugas utama orang tua di dunia ini adalah memuji anak-anaknya, apa pun yang terjadi. (halaman 17)
  4. “Mengapa senang menjadi guru matematika, Desi? Tanya ayahnya. “Karena… karena matematika adalah salah satu ilmu yang paling banyak memecahkan misteri, karena matematika dapat mengubah peradaban, karena ingin menjadi seperti guru Marlis.” (halaman 18)
  5. Diingatnya pesan Bu Marlis padanya, bahwa dia takkan menjadi kaya dan takkan selalu mendapat kesenangan dengan menjadi guru, namun akan sangat bahagia. Dari warung itu Desi menatap laut nan luas tak bertepi. Digenggamnya nyalinya dan dikatakannya pada diri sendiri sekali lagi , bahwa memutuskan untuk menjadi guru matematika berarti siap menghadapi kesulitan darat, laut dan udara. (halaman 25-26)
  6. “Siapa yang memusuhi matematika, akan dimusuhi matematika..” (halaman 39)
  7. Dan kesulitan matematika tak hanya dialami murid-murid yang terbirit-birit mempelajarinya, tapi juga guru-guru yang mengajarnya. (halaman 54)
  8. Ada guru matematika yang frustasi karena murid-muridnya melihatnya macam melihat hantu. (halaman 55)
  9. Pada setiap kesulitan, tersembunyi kemudahan. (halaman 69)
  10. Lalu menyelinap optimisme, bahwa Aini sangat percaya, seperti ajaran dari guru mengaji, bahwa seluruh keselamatan hidup manusia merupakan akibat dari nawaitu yang baik. Ingin belajar dan bersungguh-sunguh dari guru yang paling bagus, ai, tak ada nawaitu yang lebih baik dari itu. (halaman 84)
  11. Math is like respect, you hsve to give it, to get it.” “Matematika itu respek, kau harus memberi respek, untuk mendapat respek.” (halaman 111)
  12. “Waktu adalah ibu matematika, Nong. Angka berbaris-baris dalam deret hitung, deret ukur, dan deret waktu. Mereka yang tak dapat merasakan waktu, takkan dapat belajar matematika. Karena waktu memberi nasihat terbaik dalam belajar matematika, yakni kesabaran untuk memahami sesuatu, ketangguhan dalam menghadapi kesupitan apa pun, dan obsesi pada presisi, dan presisi tertinggi.” (halaman 113)
  13. “Aku lebih dari tahu soal itu, namun seorang kawan yang menyampaikan pada kawannya itu, bukanlah seorang kawan.” (halaman 120)
  14. Menghafalkan matematika tanpa memahaminya adalah satu tindakan yang tidak hanya konyol, menghianati matematika, mengecewakan menteri pendidikan, tapi juga brutal dan gila. (halaman 141)
  15. “Matematika itu strategi, strategi dalam menjawab, strategi dalam bertanya.” (halaman 149)
  16. Guru Desi berharap wejangannya di kelas tadi siang dapat menyadarkan Aini, bahwa matematika adalah ilmu kompleks yang telah berusia ratusan tahun, satu ilmu yang tidak dapat dikuasai dengan hysteria (halaman 175)
  17. Seribu bala tentara tak dapat mencegah anak itu. Mereka yang ingin belajar, tak bisa diusir. (halaman 175)
  18. Pakaian yang kita pakai, posisi yang melekat di tempat duduk, ilmu yang kita kuasai, pekerjaan yang kita pilih untuk mencari nafkah, bahkan kata-kata yang belum kita ucapkan, tunduk pada hukum sebab akibat. (halaman 203)
  19. Namun kalau kau tekun dan tabah, matematika akan memiliki hati seorang ibu, tak peduli seberapa sering kau keliru, matematika tetap memberimu maaf, memberimu kesempatan. (halaman 205)
  20. Aku tak pernah menjelek-jelekkan orang di belakang mereka, Aini. Kalau aku mengkritik, kukritik langsung di depan mereka. Aku pun tak pernah keberatan dikritik di depanku. Tapi, aku juga takkan memujimu di depanmu, Aini. Pernahkah mendengar ajaran tabur pasir di mulut orang yang suka memuji?” “Dan ingat, math anxiecty tak hanya diderita mereka yang tak bisa matematika, tapi juga mereka yang pintar matematika. Yai! Banyak-banyaklah membaca buku, Aini! (halaman 239)
  21. Kekagumanmu padamu adalah sumur tak berdasar, Guru. Sungguh luas pengetahuanmu. Betapa beruntungnya aku menjadi muridmu. (halaman 240)

Berikut ini  buku-buku Andrea Hirata yang sudah di review:

Happy reading! 📚 📖😊

With Love, ❤️💙

SIMAK JUGA SERBA-SERBI BUKU ALA SAYA BERIKUT INI:

14 thoughts on “[Review Buku]: GURU AINI Karya Andrea Hirata

  1. riska naura

    sebagai guru saya sangat tertarik dengan buku ini, makasih mba reviewnya membuat saya tambah yakin untuk beli buku ini

    kunbal ya mba ke riskanaura.blogspot.com

    Liked by 1 person

    1. Terima kasih sudah berkunjung ke blog saya, Bu Guru ❤️
      Buku ini sangat bagus dan bergizi utk dibaca oleh Bapak Ibu Guru, juga kami murid-muridnya ☺️

      Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s