[Review Buku] Goodbye, Things Hidup Minimalis Ala Orang Jepang Karya Fumio Sasaki

Saya tidak akan membandingkan diri dengan siapa-siapa lagi, saya juga tidak akan menyiapkan diri menyambut masa  yang masih jauh di depan. Kaya atau miskin, sedih atau bahagia, akan saya hadapi. Yang penting saya hadir dan mengalami masa sekarang. (halaman 216)

Judul Buku            : Goodbye, Things Hidup Minimalis Ala Orang Jepang
Penulis                    : Fumio Sasaki
Tahun Terbit          : Cetakan ketujuh, September 2019
Penerbit                  : Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman  : 242 halaman
ISBN                        : 978-602-03-9840-2

Sinopsis:

Fumio Sasaki bukan ahli dalam hal minimalisme; ia hanya pria biasa yang mudah tertekan di tempat kerja, tidak percaya diri dan terus menerus membandingkan diri dengan mengurangi barang yang ia miliki. Manfaat luar biasa langsung ia rasakan: tanpa semua “barangnya”, Sasaki akhirnya merasakan kebebasan sejati, kedamaian pikiran dan penghargaan terhadap momen  saat ini. Di buku ini, Sasaki secara sederhana berbagi pengalaman hidup minimalisnya, menawarkan tips khusus untuk proses hidup minimalis, dan mengungkapkan fakta bahwa menjadi minimalis tidak hanya akan mengubah kamar atau rumah Anda, tapi juga benar-benar memperkaya hidup Anda. Hidup minimalis bisa dinikmati oleh siapa pun, dan definisi Sasaki tentang kebahagiaan sejati akan membuka mata Anda terhadap apa yang bisa dihadirkan oleh hidup minimalis.

Buku berjudul asli Bukutachini, Mou Mono Wa Hitsuyou Nai ini terbit pada tahun 2015, dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia pada November 2018 dan diterbitkan oleh penerbit Gramedia Pustaka Utama. Penerjemahnya Annisa Cinantya Putri. Penulisnya berasal dari negara Jepang tepatnya Prefektur Kagawa, dan tinggal di sebuah apartemen di Tokyo.

Melalui buku ini, penulisnya mengartikan minimalisme sebagai: (1) proses mengurangi barang kepemilikan kita hingga jumlah paling minimum, dan (2) hidup hanya dengan barang-barang itu agar kita dapat berfokus pada hal yang sungguh-sungguh penting bagi kita. Menurut saya, orang-orang seperti itulah yang merupakan menimalis.

Baca juga:

Saya pribadi belum menjadi minimalis sejati seperti penulisnya. Tapi saya juga suka konsep yang ditawarkan dalam buku ini. Menjadi minimalis adalah hal yang ingin saya pelajari dan berusaha dipraktekan, walaupun belum terbayang juga sih sampai seminimalis yang sudah dijalankan penulisnya. Setidaknya, saya mau mengurangi barang yang tidak diperlukan, dan sudah saya praktekan sejak membaca bukunya Marie Kondo. Rupanya, bertemu buku ini, saya jadi berpikir panjang dan menimbang ulang tentang barang yang sudah saya miliki, rasanya masih harus dikurangi biar belajar hidup minimalis dan seperlunya saja 🙂 Kalau bingung bagaimana cara berpisah dari barang-barang kesayanganmu, buku ini memberikan solusi berupa kiat berpisah dengan barang hingga menuju menimalisme.

Buku ini terdiri dari 5 bab yang akan membahas tentang:

  • Mengapa minimalisme?
  • Mengapa kita mengumpulkan  begitu banyak barang?
  • 55 kiat berpisah dari barang. 15 kiat tambahan untuk tahap selanjutnya dalam perjalanan menuju menimalisme.
  • 12 hal yang berubah sejak saya berpisah dari barang-barang kepemilikan.
  • “Merasa” bahagia alih-alih “menjadi” bahagia.

Bagaimana kita bisa menguraikan apa yang dimaksud dengan seorang “minimalis”? Seberapa jauh kita harus mengurangi keberadaan barang agar dapat menjadi minimalis? Definisi yang saklek dan pasti tidak mudah dirumuskan, tapi menurut saya sendiri, seorang minimalis adalah orang yang tahu persis hal-hal apa saja yang bersifat pokok bagi dirinya, dan mengurangi jumlah kepemilikan barang demi memberi ruang bagi hal-hal yang utama itu. (halaman 15)

Menjadi menimalis adalah sebuah proses yang tidak instan. Perlu sebuah keputusan besar untuk mengambil langkah hidup minimalis. Kemudian mulai mengurangi tumpukan barang. Saya salut dengan penulisnya yang sudah hidup minimalis. Bahkan barang dan koleksi kesayangannya pun rela dilelang demi hidup menimalis. Lewat buku ini, saya belajar bahwa di zaman sekarang untuk menyimpan kenangan tidak harus dengan mengumpulkan barangnya tapi bisa dalam bentuk digital, misalnya sebelum barang dikasih, dilelang atau dibuang, kita bisa memfotonya. Jadi suatu saat bila kangen, kita masih bisa melihat fotonya. Terlihat lebih praktis dan tidak memakan tempat.

Latihan Soal Matematika Mantappu Jiwa karya Jerome Polin,  penerima beasiswa di Waseda University – Tokyo

Dengan keputusan untuk hidup minimalis, juga akan berpengaruh kepada kebahagiaan. Memaknai kebahagiaan dengan cara sederhana namun mampu membangkitkan rasa damai dan bahagia bukan dengan apa yang dimiliki serta pencapaian yang diraih, melainkan bahagia yang hanya dapat dirasakan oleh hati.

Kebahagiaan bergantung pada bagaimana kita memaknainya. kebahagiaan bukan sesuatu yang ada di luar diri kita, melainkan sesuatu yang ada di dalam hati kita. (halaman 230)

Yang menarik dari buku ini:

  • Saya sangat menyukai desain cover-nya yang betul-betul minimalis, namun terlihat elegan dan tetap enak dipandang mata.
  • Bahasanya sederhana, kita seakan bisa menikmati setiap proses yang telah dilalui oleh penulisnya hingga bisa hidup minimalis.
  • Di lembar-lembar awal, kita akan disajikan foto-foto berwarna penampakan before – after apartemennya Fumeo Sasaki. Benar-benar perubahan yang fantastis, salut dan *tepuk tangan* 😀
  • Saya jadi banyak belajar tentang arti hidup minimalis, tentang barang apa yang saya perlukan dan tidak diperlukan. Minimalis bukan berarti pelit sih, tapi lebih ke hidup dengan cara yang sederhana. Jadi nggak ada lagi ceritanya barang yang kita beli tidak bermanfaat dan cuma jadi pajangan saja. Pokoknya habis baca buku ini jadi banyak mikir, kira-kira saya mau beli barang apa. Bahkan saya pun sedang menimbang untuk mengurangi beli buku (sebenarnya ini bagian sulit). Di satu sisi saya suka buku dalam bentuk fisik, tapi kalau beralih ke buku elektronik seratus persen saya belum siap -_- Bagian lain sih oke-oke saja, cuma bagian men-shortir buku saja yang membuat saya galau maksimal 😛
  • Buat kamu yang suka bebenah dan tidak suka menumpuk barang atau bahkan mungkin ingin belajar hidup minimalis, buku ini rekomen untuk dibaca 🙂

SUBSCRIBE AISAIDLUV

Pesan moral dari buku ini: Diperlukan tekad yang kuat dan niat yang tulus untuk memulai hidup minimalis. Namun, sekali kita memutuskannya, itu akan mengubah hidupmu jadi terasa lebih damai dan menyenangkan. Meskipun tentu saja belum tentu semua orang cocok dengan cara-cara yang ada di buku ini. Tapi paling tidak buku ini akan membuka cakrawala wawasan tentang asiknya hidup minimalis, tentang arti bersyukur, hingga memaknai kebahagiaan. Siapa pun bisa hidup menimalis, tentu saja jika kamu mau 🙂

Buku best seller The Life Changing Magic of Tidyng Up karya Marie Kondo

Berikut ini kalimat-kalimat favorit saya dalam buku Googbye things hidup minimalis ala orang Jepang:

  1. Semua orang mengawali hidup sebagai minimalis. Nilai diri kita tidak ditentukan oleh seberapa banyak barang yang kita punya. Barang bisa membuat kita senang, tapi tidak lama. Sementara itu, semua benda yang tidak kita perlukan sebetulnya hanya menghabiskan waktu, energi, kebebasan. Sepertinyapara minimalis mulai menyadari hal ini. (halaman 3)
  2. Kita pun akhirnya di destinasi, lantas berbaring di tempat tidur yang baru saja dibereskan–atau dikasur tatami jika kebetulan menginap di hotel yang bergaya Jepang. Nyaman. Ruangannya bersih dan apik. Tidak ada barang-barang yang biasanya mengganggu pikiran atau selalu saja menyita perhatian.  Itulah kenapa pengalaman menginap saat melakukan perjalanan sering terasa sangat menyenangkan. (halaman 4)
  3. Jika Anda mengalami apa yang saya rasakan saat itu–tidak puas dengan kehidupan Anda, merasa tidak aman, tidak bahagia–cobalah mengurangi barang-barang di sekitar dan Anda akan berubah. (halaman 12)
  4. Minimalis adalah upaya memangkas hal-hal yang tidak esensial agar kita bisa sepenuhnya menghargai hal-hal yang memang berharga bagi kita. (halaman 16)
  5. Buku The Life Changing Magic of Tidyng Up karya Marie Kondo diterbitkan tahun 2010 dan langsung melejit. Sejak itulah, semakin banyak minimalis bermunculan di Jepang. Menurut saya, hal-hal berikut melatari dan akhirnya ikut memunculkan minimalisme: (a). Peredaran berlebih dari informasi dan benda-benda. (b). Perkembangan teknologi dan jasa yang memungkinkan kita hidup tanpa banyak barang sebagaimana dulu. (halaman 18)
  6. … berkat kemajuan teknologi dan bidang jasa, kita sekarang bisa hidup tanpa memiliki banyak barang. (halaman 21)
  7. Dunia yang kita tinggali saat ini amat luar biasa; di sini, semua bisa bekerja tanpa harus memiliki kantor fisik sama sekali. (halaman 23)
  8. … Jadi, tak perlu memiliki mobil. Sistem nebeng cukup memuaskan bagi saya. Sistem ini juga ekonomis: kita tak perlu membayar pajak kendaraan, tak perlu memikirkan biaya perawatan, dan yang pasti cara ini lebih ramah lingkungan. Saya yakin di masa depan tren ini akan terus bertambah popular, dan merambah ke daerah di luar perkotaan. (halaman 23)
  9. Dengan adanya internet, kita bisa menawarkan sumber daya yang kita miliki kepada orang lain, dan sebaliknya menerima sumber daya pula. (halaman 24)
  10. Minimalisme harus timbul bukan karena ilham sesaat atau sekedar ingin mengikuti gaya hidup baru, melainkan niat yang tulus dan kebutuhan membara untuk memaknai ulang kehidupan kita. (halaman 25)
  11. Andre Agasi, menyatakan ia telah mempelajari sesuatu yang jarang diketahui orang: rasa bahagia setelah memenangkan sesuatu tidaklah sekuat rasa putus asa setelah kekalahan, dan bahwa kegembiraan setelah kemenangan bertahan sangat sebentar disbanding penderitaan yang kita tanggung setelah mengalami kekalahan telak. (halaman 35)
  12. Kalau saja peningkatan fungsi barang mengikuti kenaikan harganya; kalau saja mobil mahal bisa membawa kita ke mana pun kita mau dua atau tiga kali lebih cepat; andai jaket berpalis bulu yang harganya dua kali lipat juga dua kali lebih hangat, uang dan benda pasti bisa membuat kita semua sangat bahagia! Tapi kenyataan berkata lain. (halaman 37)
  13. Di mata orang lain, apa yang kita miliki sudah layak. Tapi persepsi kita sendirilah yang bisa menentukannya. Kitalah yang bisa mengubah stimulus. (halaman 40)
  14. Saat hendak membuang sesuatu, wajar saja jka perhatian kita menjadi terpaku padanya karena benda itu ada di depan mata. Apalagi, manfaat yang akan kita dapatkan memang tak kasatmata sehingga lebih sulit terlihat. Tapi percayalah, kita akan mendapatkan lebih banyak dibandingkan barang yang kita singkirkan. Alih-alih membayangkan kehilangan, mari kita ubah perhatian kita pada hal-hal yang akan kita dapatkan. (halaman 57)
  15. Membuang barang barangkali butuh keterampilan, tapi kita bisa bertindak tanpa menunggu keterampilan itu menjadi sempurna. Bahkan, jangan tunggu hingga selesai membaca buku ini. Cara terbaik untuk mengasah keterampilan adalah dengan mempraktikkannya: berpisah dengan barang. Mengapa tidak menutup buku ini sekarang dan mulai membuang sesuatu? (halaman 61)
  16. Cobalah mengurangi benda-benda yang persis sama menjadi hanya satu benda. (halaman 64)
  17. Begitu memutuskan untuk hidup minimalis, saya memindai semua foto beserta surat-surat yang pernah saya terima menggunakan ScanSnap dan mengubahnya menjadi format digital. (halaman 69)
  18. Area tanpa barang memberi kita rasa merdeka dan menjaga pikiran kita terbuka pada hal-hal yang lebih penting dalam hidup. (halaman 73)
  19. Mempertahankan benda-benda lampau sama saja dengan mempertahankan sosok diri kita di masa lalu. Jika ingin, mseki sedikit saja, mengubah diri, saran saya adalah Anda harus berani dan merelakan banyak hal dari hidup. Biarkan hal-hal yang betul-betul dibutuhkan yang tetap tinggal, dan melangkah maju mulai saat ini. (halaman 75)
  20. Satu alasan kita cenderung berpikir membuang sampah adalah tindakan mubazir adalah karena suatu barang mungkin didapatkan dengan harga mahal. (halaman 78)
  21. Dalam buku terlarisnya mengenai seni merapikan rumah, Marie Kondo mencetuskan frasa luar biasa tentang rasa senang. Metode sederhana memilih barang untuk disimpan, yaitu menyentuh dan mempertahankan hanya barang yang memberi kita rasa senang, bisa sangat berguna. (halaman 80)
  22. Sebaiknya, barang yang diambil tanpa dasar yang kuat bisa dengan mudah dibuang atau diganti. Barang-barang yang secara tanpa sadar kita akumulasi tidak akan membuat kita puas. (halaman 87)
  23. Kenangan yang bisa diingat tanpa bantuan suatu benda adalah kenangan yang benar-benar penting. Dengan menyingkirkan barang-barang berlebih, kita akan mulai mengingat hal-hal penting di masa lalu tanpa harus terganggu oleh memorabilia mahal di sekitar kita. (halaman 91)
  24. Rasa apresiasi itu akan tinggal dan terukir di hati kita, bahkan setelah barang itu tidak ada, dan rasa itulah yang sangat penting. (halaman 107)
  25. Kemubaziran yang sesungguhnya tidak terletak pada barang melainkan kerugian psikologis yang terakumulasi akibat mempertahankan barang yang tidak kita gunakan atau perlukan lagi. (halaman 108)
  26. …seorang minimalis adalah orang yang mengetahui apa yang benar-benar penting baginya, orang yang mengurangi barang supaya bisa berfokus pada hal-hal pokok. Hal yang kita anggap penting berbeda bagi masing-masing orang, jadi tidak ada perlunya membandingkan diri kita dengan orang lain. (halaman 124)
  27. Waktumu terbatas, jangan menyia-nyiakannya dengan menjalani hidup orang lain.—steve Jobs (halaman 131)
  28. Begini: hidup ini singkat. Sungguh sayang jika hidup tersia-siakan oleh benda belaka. (halaman 133)
  29. Sekarang ada beberapa hal yang saya cari dari setiap barang: (1) bentuk barang minimalis dan mudah dibersihkan; (2) warnanya tidak terlalu mencolok; (3) bisa digunakan untuk jangka panjang; (4) strukturnya sederhana; (5) ringan dan praktis; (6) multifungsi. (halaman 135)
  30. Tinggal di rumah yang bersih dan sederhana membuat waktu bermalas-malasan berkurang. (halaman 137)
  31. Jika terlalu sibuk dan tidak punya keleluasaan dari segi waktu, orang-orang paling ramah sekalipun akan berubah menjadi pribadi yang negatif. (halaman 139)
  32. Sains membuktikan bahwa momen-momen ini penting bagi kita. Kaya atau miskin, kita semua punya 24 jam dalam sehari. Bisa menemukan waktu untuk bersantai adalah kemewahan. (halaman 140)
  33. Yang kita butuhkan adalah menjadikan kegiatan berbenah sebagai kebiasaan. Setelah kebiasaan itu terbentuk, kita pun melakukannya tanpa banyak berpikir (halaman 145)
  34. Menyukai diri sendiri juga memudahkan kita dalam menghadapi tantangan lain. Orang bisa berubah, dan perubahan dimulai dari gaya hidupnya. (halaman 149)
  35. Dengan mengurangi jumlah barang dan menurunkan biaya hidup minimum, Anda bisa pergi ke mana pun Anda mau. Minimalisme bisa membebaskan kita. (halaman 155)
  36. Ingin tahu bagaimana cara membuat diri kita murung seketika? Bandingkanlah diri sendiri dengan orang lain. (halaman 159)
  37. Sama seperti penumpukan benda, membandingkan diri sendiri dengan orang lain adalah kegiatan yang tak ada habisnya. Dalam proses menulis buku ini, pasti tak akan sanggup menulis satu kata pun jika terpaku memikirkan buku-buku lain, yang ditulis orang lain, yang saya anggap lebih baik. Kenyataannya, memang selalu ada orang yang lebih baik dari kita. Jika kita mulai membandingkan diri dengan mereka, merana karena merasa tak berharga dibandingkan mereka, kita pun tidak akan pernah memulai sesuatu. (halaman 162)
  38. Menurut saya, alasan sebenarnya saya tidak menyukai buku elektronik bukanlah ketiadaan benda fisik untuk dipegang, melainkan karena tidak ada yang bisa ditumpuk usai membaca. (halaman 166)
  39. Tak seperti benda, pengalaman ada dalam diri dan pikiran, serta bisa dibawa ke mana pun Anda pergi. Apa pun yang terjadi, pengalaman bersifat pribadi dan adalah milik Anda seorang. (halaman 174)
  40. Setelah meminimalkan seluruh benda kepemilikan, saya juga mulai mengurangi informasi yang saya serap. Saya tak lagi mengikuti berita dan gossip yang tidak penting, atau sembarang acara stand-up comedy. Saya mencoba untuk tidak mengisi percakapan dengan hal-hal yang diciptakan atau diperebutkan orang lain. Alih-alih berfokus pada suara orang lain, saya berfokus pada dan meyakini suara yang datang dari diri sendiri. Saya sekarang merasa tengah “kembali” kepada diri sendiri. (halaman 165)
  41. Dengan meminimalkan kepemilikan dan hidup sederhana, namun penuh fokus, Anda akan merasakan bahwa beban berat di kedua pundak Anda akan jauh lebih baik bagi lingkungan. Dan apa yang akan terjadi? Anda akan merasa jauh lebih baik. (halaman 191)
  42. Saya sudah bertemu banyak minimalis dan tak ada satu pun (sejauh ini) yang mengalami obesitas. Mengapa? Menurut banyak buku yang saya baca tentang membereskan rumah, turunnya berat badan sering kali merupakan bonus dari menyingkirkan barang berlebih. (halaman 195)
  43. Warga di Okinawa,Jepang, juga dikenal berusia panjang, dan memiliki budaya yang menganggap siapa pun yang ditemui sebagai saudara. Orang-orang yang lebih tua mengawasi anak-anak di lingkungan mereka dan masyarakat umumnya menjaga hubungan saling percaya serta menikmati kebersamaan di antara mereka.  (halaman 208)
  44. Saya tidak akan membandingkan diri dengan siapa-siapa lagi, saya juga tidak akan menyiapkan diri menyambut masa  yang masih jauh di depan. Kaya atau miskin, sedih atau bahagia, akan saya hadapi. Yang penting saya hadir dan mengalami masa sekarang. (halaman 216)
  45. Rasa syukur memungkinkan kita melihat hidup sehari-hari dari sudut pandang yang baru, kita tak lagi menganggap sepele berbagai hal ketika mengetahui cara menghargainya. Melalui rasa syukur, kita bisa senantiasa membuat diri kita terstimulasi, dan hal ini memberikan rasa damai yang jauh lebih besar ketimbang stimulasi yang kita dapatkan dengan membeli sesuatu atau menambah tumpukan barang. (halaman 219)
  46. Penelitian bidang psikologi menunjukkan bahwa semakin banyak kesempatan yang dimiliki seseorang untuk bersyukur, akan semakin bahagialah orang itu. Hal ini tentu saja tidak mengherankan jika kita melihat rasa syukur sebagai kebahagiaan. (halaman 222)
  47. Saat ingin lebih bersyukur sekarang juga, kita menjadi sosok yang lebih positif, toleran dan murah hati. (halaman 224)

Happy reading! 📖📚😊

With Love, ❤️

7 thoughts on “[Review Buku] Goodbye, Things Hidup Minimalis Ala Orang Jepang Karya Fumio Sasaki

  1. Lengkap sekali ulasannya saya jugs masih belajar tentang minimalisn..Nah pertanyaannya : saat kondisi darurat spt epidemi dimana org hrs di rumah saja, apakah msh menguntungkan mjd minimalist yg tdk ngestock mkn dan groceries?

    Liked by 1 person

    1. Terima kasih Mbak Phebie, selamat belajar menjadi minimalis.
      Menguntungkan atau tidak, mesti dilihat kondisinya.
      Untuk kondisi darurat yg mengharuskan orang ada di rumah, tentu saja perlu menstok mkn dan groceries. Ngestok di sini juga bukan berarti menimbun sebanyak-banyaknya, tapi lebih ke menyimpan sesuai kebutuhan

      Minimalist kan idealnya dilakukan saat kondisi aman, tapi kalau dalam hal meminimalkan barang yg tak perlu, tetap bisa menguntungkan, misal kalau mau pindahan gak perlu ribet bawa byk barang yg sebenernya ga perlu tapi dibuang sayang. Kalau dalam kondisi gawat misal harus ngungsi juga gak ribet kepikiran barang-barang yg masih tertinggal di rumah dan gak ke bawa, di kondisi ini tentu menjadi minimalis menguntungkan

      Like

  2. saya msh belajar dan rasanya sulit buat orng turki:D waktu di istanbul kami banyak tinggalkan semua barang cm bawa baju dikoper, buku sekardus dan foto2i alat2 makan dan isi dapur semua disumbangkan, furniture krn dulu juga kebanyakan pake barang second ya udah sumbangkan saja, pindah beda provinsi makan waktu dan biaya mahal jd kami pikir ulang. di tempat barui beli barang ya sesuai kebutuhan aja, untuk ukuran orang turki kami ini termasuk minimalis, ga ada numpuk barang diatas lemari, kalo org sini entah kenapa rasanya konsumtif sekali untuk beli2 isi rumah, kulkas di rumah aja bisa 2.satu kulkas besar dn satu lg khusus freezer-.-, belum aneka selimut bantal tujuannya buat tamu jika menginap, ada paket piring buat jamuan khusus, dibedakan dgn koleksi sehari2…saya kalo masuk rumah tetangga, kadang serasa sesak sama barang2 dlm rumahnya, meja makan di dapur sama meja makan khusus jamuan tamu jg berbeda–entah ni kalo konsep maria kondo diterapin ke orang turki, brp banyak harus buang barang hehe. bahkan di rumah kami hanya satu hiasan dinding: jam di dapur doang, kurang suka nempel2lin foto atau tulisan2 di dinding. jd rumah berapa lapang jg sebenarnya, keliatan sesak krn ada dua anak yg suka menebar mainan dimana2 ini jg kalo seiring umur mainannya kami sumbang2in ke orang lagi. sakit kena ranjau mulu, lego lah… kalo ttg kendaraan untuk nebeng2 rasanya sulit jg, beda kultur.tergantung kebutuhan aja,kalo fasilitas moda transportasi nya sudah sebaik jepang rasanya memungkinkan, waduh kalo di pluto gini, nebeng org susah. ga terbiasa org sini tebeng menebeng. angkot jg 2 jam sekali, pergi ke kota naik kendaraan umum ongkosnya jauh bh mahal, tapi konsep minimalis gini nerapin sesuai kebutuhan ajai kyk saya baru bener2 ganti hp kalo emang udah ga terselamatkan:V koleksi gonta ganti gitu ga sanggup dibudget jg mending buat keperluan lain, ngikutin mode ga akan ada habisnya numpuk barang jg sebenanya ga baik, krn ada hisabnya kelak di akhirat, org jepang jauh lbh paham ya meski ga ada kaitannya sama keyakinan, metode minimalis sebenarnya sudah dterapkan nabi muhammad semasa hidupnya, tapi ummatnya:)

    Liked by 1 person

    1. Alhamdulillah kalau masih bisa berbagi dan menyumbangkan barang saat pindahan, Mbak. Biar bermanfaat dan gak kebuang.
      Iya, pasti biaya lebih mahal kalau pindahan beda provinsi semua barang ikut dibawa, mending bawa seperlunya ya mbak.
      Alhamdulillah kalau Mbak Rahma sudah menerapkan hidup minimalis.

      Sepertinya konsep Marie Kondo tidak bisa diterapkan di semua tempat, tergantung kulturnya, ya. Apalagi di Turki senang dengan budaya menjamu tamu, mesti punya banyak barang 😂 Luar biasa, saya gak sanggup.
      Kalau saya ada acara keluarga atau ada tamu aja ngeluarin barang lumayan bebenah dan beresinnya bikin pegel-pegel nih 😅

      Kalau masih punya anak kecil memang rumah susah terlihat rapi Mbak, pasti ada printilan mainan. Lagi masa-masanya suka main.

      Terima kasih untuk sharing-nya Mbak. Betul, saya sependapat, orang Jepang jauh lebih paham dg metode minimalis, meski tak ada kaitan dg keyakinan.
      Iya Mbak, padahal Nabi Muhammad sudah mencontohkan hidup minimalis semasa beliau hidup. Terima kasih untuk reminder-nya Mbak Rahma ❤️

      Like

  3. Buku ini mengingatkan sama bukunya Marie Kondo, tapi kata temen yang sudah baca sih bahkan lebih minimalis lagi.. gimana agak susah buat seperti itu bahkan aku yang sudah baca buku Marie Kondo belum bisa sepenuhnya mempraktekan 😂🙏🏻. Thanks sudah berbagi cerita isi bukunya.

    Liked by 1 person

    1. Saya juga pas bacanya teringat sama bukunya Marie Kondo. Kalau Marie Kondo itu kan dibukunya sharing tentang cara bebenah dan menyimpan barang-barang yg benar-benar dibutuhkan, saya dikit-dikit sudah mempraktekan dan memangkas byk barang yg awalnya dibuang sayang (padahal sih gak ke pake juga) 😂
      Untungnya baca buku Marie Kondo dulu, baru baca buku ini, jadi gak kaget banget. Betul Kak, ini bahkan lebih dan super minimalis lagi…
      Awal-awal mulai dari step bebenah, pelan-pelan mulai belajar minimalis. Memang awalnya saya juga merasa agak susah 😂

      Sama-sama, Kak ☺️
      Terima kasih berkenan membaca reviewnya 🙏

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s