[Review Buku]: Belahan Jantungku Karya Andiesn Aisyah & R. Kenyasentana

Justru sekarang tantangannya makin berat. Kehidupan personal dan sosial semakin blur. Bayangkan, hanya dengan mengikuti seseorang lewat media sosial, kita sudah merasa sudah mengenal dia seutuhnya. Padahal, kan, banyak sisi orang tersebut yang tidak ditonjolkan di  media sosial. Hal yang seharusnya personal, sekarang sudah jadi urusan semua orang. Harusnya, kan, kalau nggak kenal sama orang, kita lebih sopan, ya, sama orang tersebut? Yang kejadian sekarang malah: sudah nggak kenal, tapi lebih kasar—Najeela Shihab. (halaman 197)

Judul Buku            : BELAHAN JANTUNGKU
Penulis                    : Andiesn Aisyah & R. Kenyasentana
Tahun Terbit          : Cetakan Pertama, November 2019
Penerbit                  : Penerbit Bentang
Jumlah Halaman  : xviii + 230 halaman
ISBN                        : 978-602-291-645-1

Sinopsis:

Setiap perjalanan kehidupan ialah spesial dan personal. Begitu pun dengan perjalanan menemukan diri yang sejati, kadang tidak bisa diduga awal mulanya. Andien Aisyah Hariadi memulai perjalanan ke dalam diri sejak mengetahui dirinya akan menjadi seorang ibu. Menjadi ibu bukanlah sesuatu yang saat itu menjadi rencananya. Namun, seiring dengan kebingungan dan bertambah, keinginintahuan dan tekad untuk belajar pun terus tumbuh. Andien mempersiapkan dirinya dengan kembali ke pada alam, termasuk mengenali ritme alami tubuh dalam menjalani kehamilan.

Buku ini membawa energi positif dari mereka yang berkontribusi dalam perjalanan Andien menemukan sosok dirinya yang baru, seorang ibu. Mulai dari Reza Gunawan, Nia Umar, Tantan Kuswandi, Fonda Kuswandi, Dokter Ratih Ayu Wulandari, Irene Mongkar, Gobind Vashdev, Coach Yusa Aziz, hingga Najeela Shihab yang merupakan ahli dalam ranahnya turut menitipkan pesan penting melalui buku ini.

Belahan Jantungku menjadi catatan pembuka Andien mengenai perjalanan menemukan diri, pengalaman kehamilan, persalinan, mengasihi, menyapih, hingga saling menguatkan sesama perempuan. Bukan sebagai ajakan, apalagi kampanye, melainkan sebuah kesempatan untuk becermin pada pemahaman dan pilihan kita masing-masing.

Buku cerita inspiratif ini ditulis oleh Andien, ibunya ANAKU AKSARA BIRU yang akbrab disapa KAWA. KAWA dalam bahasa Jepang artinya ‘sungai’. Kelahiran.  ANAKU dalam bahasa Jepang artinya ‘Cahaya dari Selatan’ atau ‘Kedamaian dari Selatan.’

Kemudian di buka dengan kata pengantar oleh Reza Gunawan, praktisi kesehatan holistik dan pegiat gentle birth. Di mana Andien saat itu menghubungi Reza Gunawan, dan bilang “Mas Reza, aku mau water birth.” (halaman 24). Dari situlah Andien mulai melihat video-video yang disarankan oleh Mas Reza tentang gentle birth. Gentle birth nggak bisa aku anggap sebagai pilihan karena gentle birth adalah kodrat alami manusia. Aku ingin sekali menjalani  laku ini dengan sebaik-baiknya. Pada suatu malam aku berdoa kepada Tuhan meminta kekuatan dan pencerahan. Aku meminta petunjuk supaya bisa menjalani kehamilan ini dengan baik. (halalaman 29).

Meski saya perlu akui, pendekatan gentle birth belum tentu sesuai untuk setiap orang, dan memang tidak harus dipaksakan kepada siapa pun juga. Pada zaman maraknya cyberbullying, public shaming, dan adu pendapat yang pro dan kontranya terlalu runcing seperti ini, tidaklah perlu mempermasalahkan secara berlebihan bila ada pilihan yang berbeda. Yang penting, apakah saat memilih, yang bersangkutan sudah memahami penuh pilihannya dan siap menjalani konsekuensi pilihannya—Reza Gunawan. (halaman xvi).

Goodbye, things hidup minimalis ala orang Jepang

Buku ini ditulis dalam kurun waktu 6 bulan oleh Andien dan Kenya. Menulis buku ini membuatku sadar bahwa Mbak Andien, aku, kamu, dan setiap perempuan punya rimba motherhood-nya sendiri. Perjalanan perempuan yang satu tidak bisa dibandingkan apple to apple dengan perjalanan perempuan lainnya. Sama halnya seperti kita yang diciptakan beragam; cerita, tantangan, dan serba-serbi menjadi ibu yang kita hadapi juga berbedaKenny  (halaman 220)

Terdiri dari 18 bab, dengan judul-judul per bab-nya sangat unik dan bikin saya semangat membaca dan ingin segera menuntuskan buku bergizi ini 😀 Penasaran kan judul bab-nya apa? Ini dia:

KAWA (dalam bahasa Jepang artinya ‘sungai’). Kelahiran Kawa. ANAKU (Kedamaian) dalam bahasa Jepang artinya ‘Cahaya dari Selatan’ atau ‘Kedamaian dari Selatan’. Perjalanan mengasihi. Mengasihi ala Andien dan Ippe, oleh Nia Umar. The forgotten trisemester. Percakapan dengan Fonda Kuswandi. Makan yuk, Kaw! Percakapan dengan dr. Ratih Ayu Wulandari. Lebih dekat dengan ibu bumi. Percakapan dengan Gobind Vashdev. BIRU (speak the truth). Terisak-isak karena perisakan. Asuhlah diri sendiri sebelum mengasuh anak. Catatan Ippe. Kawa akhirnya disapih. Dan lebih seru lagi kalau kamu baca bukunya langsung dan menikmati detail yang disajikan dalam buku Belahan Jiwaku.

Rudy, kisah masa muda sang visioner

Dear Kawa, inilah cerita perjalanan kita, itulah tulisan Andien mengawali cerita –cerita berikutnya yang mengalir begitu saja menceritakan perjalanan personalnya menjadi seorang Ibu, mulai dari proses kehamilan, melahirkan, memberi asi, memberi makan kawa, hingga menyapihnya. Tersaji dengan apik sekali. Menurut saya, perjalanan ibu dan anak, antara Andien dan Kawa sungguh romantis dan menyenangkan. romantis nggak melulu ke pasangan atau ke pacar kan? 😛 Hubungan Ibu dan anak bayi pun bisa semenyenangkan itu 🙂  hingga membuat saya sebagai pembaca hanya bisa bilang, “Oh, Kawa how lucky you are punya eboook-nya Andien.” Saya tidak akan mengomentari tentang cara Andien mengurus Kawa, setiap Ibu punya haknya memutuskan metode-metode terbaik yang akan digunakan untuk anaknya sendiri. Saya cukup mereview buku bergizi ini. Hebatnya Andien, dia bersama Mas Ippe mengurus Kawa, dan yang lebih salutnya lagi, lewat buku ini saya jadi tahu ternyata dalam mengurus anaknya, Andien dibarengi dengan mempersiapkan diri seperti, belajar tentang parenting dan bertanya serta mau belajar pada ahlinya (para narasumbernya ada di buku ini) hingga membuatnya teredukasi dengan baik. Dan salutnya lagi, tidak hanya Mbak Andien sebagai ibunya Kawa, namun Mas Ippe yang juga sebagai Bapaknya Kawa dan juga suaminya Andien tentu saja punya peranan besar dan tumbuh kembangnya anak serta mendukung istri sepenuhnya. Luangkan waktu buat quality time bersama istri. Bukan buat membicarakan kerjaan, bukan membicarakan masalah lain, melainkan khusus untuk mengobrol dari hati ke hati dan menyamakan visi. Bukan untuk kepentingan suami-istri saja, melainkan menurut saya, ini adalah salah satu cara untuk berinvestasi ke hubungan yang dibangun bertahun-tahun ke depan—Ippe (suaminya Andien), (halaman 182)

SUBSCRIBE AISAIDLUV

Sebagai Ibu, Andien sepertinya siap dan tahu betul dengan tantangan yang dihadapi dalam membesarkan Kawa.

Buatku, parenting itu nggak lepas dari trial and error juga. Parenting juga urusan bersama. Pepatah it takes a village to raise a child benar adanya. Parenting urusan bersama. Benar bahwa setiap orang tua harus mengurus kepompongnya sendiri. Suatu hari nanti, saat anak bertambah dewasa, apa yang sudah kita ajarkan dan kita rawat sepenuh hati akan ikut ambil peran dalam keberlangsungan “village” bagi anak-anak kita. (halaman 213)

Baca juga:

Yang menarik dari buku Belahan Jantungku:

  • Saya suka design cover-nya, terlebih isinya, sangat bergizi.
  • Di buku ini juga banyak quote yang bisa temukan, banyak masukan dan ilmu yang didapat pembaca dari para narasumber-nya Andien.
  • Dilengkapi juga dengan foto-foto Mbak Andien, Kawa, dan Mas Ippe dengan penuh warna. Senang sekali melihat mereka. Kebersamaan yang terjalin diantara mereka, sungguh dimataku mereka terlihat menyenangkan dari apa yang aku lihat lewat foto dan tulisan yang tersaji. Teruslah bertumbuh Kawa, jadilah mata air jernih untuk Ibu dan Bapak, you’re in the right hand. Sebagai penggemar anak-anak, saya jadi pengen ketemu Kawa! >.< Boleh nggak, ya, sama Ibu dan Bapaknya? -_-
  • Buku ini tidak terkesan menggurui meski ada ilmu parenting. Terkesan mengalir dan tidak memaksa bahwa apa yang diterapkan Andien dalam mengurus anaknya, ini merupakan bagian dari proses perjalanan Andien, bukan mengharuskan kita mengikutinya. Poin penting menurut saya, kita bisa mengambil hal-hal positifnya yang disesuaikan dengan kebutuham kita. Bila ada yang tidak sesuai ya, nggak perlu dikomentari juga, karena setiap orang punya cara masing-masing. 🙂
  • Saya rasa buku ini diperuntukkan tidak hanya untuk para mahmud (mamah muda) atau  ibu-ibu yang sudah punya anak. Siapa pun yang ingin menambah wawasan dalam dunia parenting, bisa baca buku Belahan Jantungku. Sebagai salah satu sumber referensi dari buku-buku cerita inspirasi dalam dunia parenting.
  • Saya suka dengan “Catatan Andien” di mana ia sharing misalnya tentang menu favorit keluarga mereka, hal-hal yang dilakukannya saat hamil, dan tentu saja disajikan dengan desain yang enak dipandang mata.

Pesan moral yang bisa saya ambil dari buku ini, apabila sudah siap untuk memiliki anak, maka persiapkanlah dari sebelum kelahiran, sambil belajar ilmu parenting dan teruslah belajar karena mendidik anak itu sama saja dengan bertumbuh dan berproses bersama antara anak, ibu juga bapak. Perlu sama-sama saling mendukung. Kalau perlu belajarlah pada ahlinya seperti yang dilakukan Andien yang banyak belajar dari para narasumber yang ditemuinya. Terima kasih Andien, buku yang inspiratif sekali 🙂

review buku PERIKARDIA karya dr. Gia Pratama

Dalam buku ini  juga dilengkapi  catatan Andien tentang:

  • Hal-hal yang aku lakukan saat hamil
  • Hal-hal yang aku lakukan saat menyusui
  • Manfaat pijat bayi
  • Resep makanan favorit keluarga
  • Jenis gendongan favorit

Berikut ini kalimat-kalimat favorit saya dalam buku BELAHAN JANTUNGKU:

  1. “Aku jadi paham bahwa aku seharusnya mempermudah mencari jalan keluar, bukan malah mempersulit. Aku harus tetap berjuang dan mengikuti keadaan, bukannya malah berpikir untuk keluar dari keadaan ini.” (halaman 13)
  2. Saat itu aku benar-benar merasa bahwa rasa sakit mengajarkanku banyak hal tentang kepasrahan. Di titik ini aku benar-benar berserah diri, Kawa meluncur lahir dari dalam lahirku seperti aliran sungai. Dia langsung ditangkap oleh Mas Ippe dan ditaruh di pelukkanku. Rasanya nggak bisa digantikan dengan apa pun. (halaman 14
  3. …betapa di tengah ingar bingarnya zaman ini, perempuan merindukan suasana yang begitu syahdu dan damai saat melahirkan. Kita butuh teman perempuan yang tulus mendukung dari masa kehamilan hingga kelahiran. Sekarang olahraga ketika hamil terdengar menjadi penting karena saat ini kita tak lagi berladang atau jalan kaki ke pasar … (halaman 20)
  4. Masa-masa awal kehamilan memang penuh dengan kebingungan dan pertanyaan. Namun, justru itu hal yang baik, kebingungan menandakan bahwa otak masih terus berpikir. (halaman 29)
  5. Tuhan, aku adalah bejana kosong. Tolong isi aku dengan apa pun yang Kau berikan untukku jika memang itu sesuai dengan jalanku. Aku percaya, aku tidak sendirian menjalani kehamilan ini. (halaman 30)
  6. Pemahaman dan sudut pandangku tentang kehamilan juga perlahan-lahan berubah. Aku jadi punya pemahaman bahwa kesehatan itu mencakup sehat jiwa dan raga. Aku jadi punya prioritas untuk selalu sehat secara fisik dan mental. (halaman 32)
  7. Mas Reza pernah mengatakan bahwa momen setelah kelahiran adalah momen yang sangat penting bagi ibu dan janin. Saat ibu dan bayi sama-sama kebanjiran hormon cinta, oksitosin. Saat ibu dan bayi sama-sama mengalami peningkatan hormon cinta, itu kali pertama bayi merekam bagaimana rasa cinta di dalam otaknya. Indah sekali, ya. Sungguh, aku merasa dibanjiri cinta. Semoga Kawa juga merasakannya. (halaman 43)
  8. Malamnya, setelah semuanya pulang, kami bertiga mengalami meomen syahdu yang nggak akan aku lupakan seumur hidup. Di kamar cuma ada aku, Mas Ippe, dan Kawa, tidur bertiga di satu kasur yang sama untuk kali pertama. It was one of the best moments in my life. Ternyata begini, ya, rasanya jadi orang tua. Damai…. (halaman 44)
  9. Aku jadi tahu bahwa bayi menyusu itu berdasarkan insting. (halaman 54)
  10. .. Di situ aku sadar, seharusnya aku nggak boleh kalah dengan sakit yang aku rasakan ini. Aku jadi terharu menyadari keajaiban menyusui. Walau ada kalanya si ibu merasa sakit, bahkan menyusui tetap menjadi obat untuk rasa sakit tersebut. (halaman 56)
  11. Menurut Mbak Nia, bagi para ibu, menyusui adalah proses belajar. Menyusui memang proses alamiah, tetapi pada praktiknya ibu tetap harus belajar serba-serbi menyusui. Di sinilah pentingnya persiapan. Mbak Nia menyarankan, jika ingin berhasil menyusui dari jauh-jauh hari sebelum bayi lahir. (halaman 57)
  12. … Karena, dalam proses menyusui sepasang ibu dan bayi belajar banyak. Salah satunya ibu akan membaca apa yang si bayi inginkan dan ini akan membantu proses awal kehidupan mereka bersama. Ibu juga akan menjadi lebih percaya diri dalam mengasuh anak karena mereka melihat anaknya tumbuh dan berkembang dengan baik—Nia Umar (halaman 64)
  13. … Namun, paling tidak kita bisa belajar bahwa kerja sama sepasang suami istri dalam pengasuhan anak khususnya menyusui sangat penting dan layak diperjuangkan oleh setiap keluarga. Tugas sepasang orang tua untuk bisa memberikan bekal kesehatan yang tidak tergantikan oleh buah hati mereka—Nia Umar (halaman 65)
  14. Mungkin di awal-awal, ibu-ibu atau bapak – bapak merasa kikuk saat harus mendongeng atau bercerita untuk anak. Namun, percaya nggak, sih, saat jadi orang tua, kita semua mendadak menjadi seniman. Tiba-tiba kita bisa mengarang lagu, tiba-tiba bisa bikin dongeng, dan bisa akting. Interaksi- interaksi konyol seperti itu sangat dibutuhkan oleh anak. (halaman 72)
  15. Kalau kamu memupuk apa yang ada di dalam, dia juga akan terasa sampai ke luar. Terdengar abstrak, ya? Namun, setelah kurenungi, ini semua banyak betulnya. Menurut Mas Reza, selama perjalanan kehamilan, melahirkan, postpartum, orang-orang pasti memberikan fokus lebih besar ke proses persalinan, bukan ke masa-masa sebelum dan sesudahnya. Padahal, dari masa hamil sampai melahirkan, semua itu adalah rangkaian perjalanan panjang yang sama pentingnya. (halaman 84)
  16. Menurutku, pupuk yang paling mendasar untuk anak adalah bonding dan cinta. (halaman 88)
  17. Mungkin benar, parenting sebenarnya adalah cara kita untuk mengingat banyak hal yang terlupakan. (halaman 88)
  18. Aku sebenarnya nggak terlalu peduli apakah Kawa berhasil makan banyak atau nggak. Toh, tujuan utama BLW (baby-led-weaning) sebenarnya bukan membuat anak berhasil makan, melainkan membuat anak menikmati proses makan. (halaman 106)
  19. Praktik BLW yang benar-benar membiarkan bayi makan sendiri memang masih menuai kontroversi di berbagai pihak. Namun, apa sih, sebenarnya yang tidak pro-kontra di dunia ini? Setiap keluarga memiliki nilai dan konstelasi parenting yang berbeda-beda. Menurutku, sebaiknya kita paham alasan utama kenapa kita memilih cara tertentu. Setelah kita paham dengan “why’ dan alasannya, baru kita mencari lebih dalam mengenai “how” atau metode-metodenya. Aku dan Mas Ippe tahu kenap kami berdua merasa cocok dengan metode BLW. Kami merasa prinsip dan pelaksanaan BLW punya kemiripan dengan gentle birth dan proses menyusui, sama-sama minim intervensi dan mempercayakan proses kepada anak. (halaman 107)
  20. Ibunya harus belajar dengan benar. Belajar dalam arti membaca buku, bertanya pada orang yang tepat, belajar berproses juga bersama anak. Jangan telan mentah-mentah info yang berseliweran di internet. Baby-led-weaning itu tidak untuk semua orang (halaman 132)
  21. Namun, yang paling penting, apa pun metodenya, yang dibutuhkan saat mau makan bersama anak adalah ibu yang teredukasi dengan baik. (halaman 132)
  22. Hipocrates, Bapak Kedokteran Modern pernah bilang, “Walking is the best medicine.” Ada satu orang lagi pernah mengatakan bahwa kita punya dua orang dokter dalam diri kita, yaitu kaki kanan dan kaki kiri. (halaman 240)
  23. Alam memberikan ruang pada segalanya, alam sabar memberi waktu pada proses apa pun. Dan dalam meraih kedekatan emosional, sebagai orang tua kita perlu dua hal ini, yaitu ruang dalam arti tidak memaksa anak pada apa-apa yang kita anggap benar, dan juga kita perlu memberikan waktu yang cukup agar kesadaran kita dan anak bertumbuh. (halaman 147)
  24. Aku jadi berpikir lagi, ternyata memang benar tugas kita sepanjang menjadi orang tua adalah terus berusaha berdamai dengan luka batin atau trauma diri sendiri. Anak justru berperan sebagai media kita untuk bertransformasi. (halaman 162)
  25. Jujur, semanjak Kawa lahir, rasa dalam diriku yang ingin sekali mengetahui semua hal yang terjadi dalam diriku dan dunia parenting semakin tumbuh subur. (halaman 163)
  26. Mas Gobind juga pernah bilang, seringkali orang tua pengin anaknya tumbuh penuh cinta tetapi melakukan parenting dengan ketakutan. Kalu sudah begitu, bukan lagi cinta kasih yang ditanamkan pada anak, melainkan ketakutan. (halaman 164)
  27. Menurut saya, idealnya para ayah memang mendampingi dan mendukung istri selama hamil dan turut serta dalam pengasuhan anak juga sangat penting—Coach Yusa (halaman 180)
  28. Aku memang menjalaninya mengalir begitu saja, tetapi ada hal-hal yang diusahakan dalam prosesnya. Aku percaya bahwa proses penyapihan ini berhubungan dengan proses-proses yang aku sudah lakukan sebelumnya. (halaman 188)
  29. Menurutku, usaha penyapihan ini juga usaha Kawa buat percaya dengan dirinya sendiri. Kalau kita melihat dari sudut pandang anak, mungkin dia perlu waktu untuk bisa benar-benar menyadari bahwa menyusui ini sudah bukan buat dirinya lagi. (halaman 189)
  30. Justru sekarang tantangannya makin berat. Kehidupan personal dan sosial semakin blur. Bayangkan, hanya dengan mengikuti seseorang lewat media sosial, kita sudah merasa sudah mengenal dia seutuhnya. Padahal, kan, banyak sisi orang tersebut yang tidak ditonjolkan di  media sosial. Hal yang seharusnya personal, sekarang sudah jadi urusan semua orang. Harusnya, kan, kalau nggak kenal sama orang, kita lebih sopan, ya, sama orang tersebut? Yang kejadian sekarang malah: sudah nggak kenal, tapi lebih kasar—Najeela Shihab. (halaman 197)
  31. Aku percaya banget dengan kekuatan apresiasi. Kita bisa memuji perempuan dengan cara yang spesifik. Intinya, kan, kita saling belajar dari perempuan lainnya. Kalau menurut kita keren, bilang saja keren—Najeela Shihab (halaman 208)
  32. Semua yang aku cerna sekarang membutuhkan proses panjang. Jadi perempuan (dan jadi ibu) itu sangat kompleks. Sering kita dibilang harus pakai kacamata kuda, harus jalan lurus ke depan, dan nggak usah pedulikan apa kata orang. Namun, bagaimana pun kita harus aware dengan keadaan sekitar. (halaman 211)
  33. Benar bahwa setiap orang punya kepompongnya masing-masing, tetapi kita nggak bisa sembarangan mengotak-ngotakan orang. Apa pun yang kita tanamkan pada anak kita sekarang, akan kita tuai di kemudian hari, dan dituai juga oleh banyak orang yang jadi “village” tempat anak berbaur. (halaman 214)
  34. Menurutku, jika aku, kamu, dan banyak perempuan lainnya bersatu padu untuk mengajarkan cinta kasih dan menghargai perbedaan pada anak, kita akan menjadi sebuah “village” yang menyenangkan dan penuh cinta. (halaman 214)
  35. Penting bagi kita ibu-ibu menyadari bahwa tidak semua orang akan memahami pilihan-pilihan yang kita ambil—Kenny (halaman 220)
  36. Cukup buka pikiran dan telinga lebar-lebar, pakai kacamata kuda and you’re good to go to the university of motherhood. FYI, banyak ujian dan siding, tetapi nggak akan ada wisuda. (halaman 220)

NARASUMBER dalam buku belahan jiwa:

  • Reza Gunawan @rezagunawan
  • Nia Umar @housniati
  • Tantan Kuswandi @tantankuswandi
  • Fonda Kuswandi @fondakuswandi
  • Irene Mongkar
  • Dokter Ratih Ayu Wulandari @menjadiibu dan @ratih_ayu_wulandari
  • Gobind Vashdev @gobindvashdev
  • Yusa Aziz
  • Najeela Shihab

Happy reading! 📖📚😊

With Love, ❤️

SIMAK JUGA SERBA-SERBI BUKU ALA SAYA BERIKUT INI:

2 thoughts on “[Review Buku]: Belahan Jantungku Karya Andiesn Aisyah & R. Kenyasentana

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s