[Review Buku] KATA Karya Rintik Sedu

Semua dimulai dari satu kata. Satu kata menjadi satu kalimat. Satu kalimat menjadi satu paragraph. Satu paragraph menjadi satu halaman. Satu halaman menjadi satu bab. Satu bab menjadi satu buku. Dan satu buku menjadi satu suara. Mereka harus saling membaca dan saling mendengar. Mereka harus saling menerima dan saling melepaskan. Mereka membutuhkan sesuatu yang berunsur, mereka butuh sebuah kata, mereka butuh kata-kata untuk menjadi peta dan membebaskan keduanya dari jalur perjalanan yang salah. Mereka harus bicara. Mereka harus berani mengutarakan. Mereka harus mengeluarkan teriakan yang sudah tak bisa lagi diredam di dalam perasaan. Namun, kekecewaan membuat mereka terjebak di ruang gelap yang kehilangan cahayanya dan jalan keluar. (halaman 345)

Judul                    : KATA
Genre                    : Romance
Penulis                  : Rintik Sedu
Penerbit                : Gagas Media
ISBN                      : 978-979-780-932-4
Tahun Terbit        : Cetakan keempat,  2018
Jumlah Halaman: 396 halaman

Sinopsis:

NUGRAHA. Andai bisa sesederhana itu, aku tidak akan pernah mencintaimu sejak awal. Aku tidak akan mengambil  risiko, mengorbankan perasaanku. Namun, semua itu di luar kendaliku.

BIRU. Banda Neira adalah hari-hari terakhirku bersamamu. Kutitipkan segala rindu, cerita, dan perasaan yang tak lagi kubawa, lewat sebuah ciuman perpisahan. Berjanjilah kau akan melanjutkan hidupmu bersama laki-laki yang  bisa menjaga dan menyayangimu lebih dariku.

BINTA. Cinta pertama seorang perempuan yang didapat dari laki-laki adalah ayahnya. Dan cinta pertama itu, telah mematahkan hatiku. Ayahku sendiri  membuatku berhenti percaya dengan yang namanya cinta.

Nugraha, Biru, dan Binta saling membelakangi dan saling pergi. Mereka butuh kata-kaa untuk menjelaskan perasaan. Mereka harus berhenti menyembunyikan kata hati serta mencari jawaban dari sebuah perasaan.

Binta sering dijuluki The Invisible Girl’ di kampus karena saking tak terlihat, saking tidak ada yang tahu kalau ada perempuan bernama Binta kuliah di sana. Anak Ilmu Komunikasi. Anehnya semakin  tidak kelihatan, Binta semakin merasa tenang. Karena baginya, semakin sendirian, hidup akan semakinmudah dijalani. Seorang perempuan yang tak suka mengeluh apalagi minta tolong kepada orang lain. Ia menggantungkan hidupnya kepada dirinya sendiri. Supaya jika hasilnya tidak sesuai dengan ekspektasi, ia tidak perlu kecewa dengan siapa-siapa kecuali dirinya sendiri.

Baca review buku Bait-Bait Multazam dan Assalamualaikum Beijing

Saat Nug bertanya pada Binta. “Ta, lo suka binatang gak? Awalnya Binta bilang “Enggak.” Namun akhirnya ia pun bilang bahwa dia suka kura-kura.

“Kura-kura bisa bawa rumahnya ke mana-mana, bisa hidup sendirian. Kura-kura itu makhluk paling beruntung yang hidup di muka bumi. Jalan mereka yang lambat, seakan lebih banyak mencuri kenangan ketimbang manusia, mereka bisa merasakan apa pun dengan waktu yang lebih lama. Mereka ngak pernah berlomba jadi juara. Mungkin kura-kura adalah binatang paling bahagia. Enak kali ya, kalau semua manusia di dunia berjalan selayaknya kura-kura, mungkin takkan ada yang namanya juara, mereka sudah cukup bahagia dengan langkah lambat yang mereka punya. (halaman 19)

Nugraha. Anak arsitektur, yang biasa dipanggil NUG. Mengaku pada teman-temannya menyukai Binta, yang biasa saja. “Justru itu, karena dia biasa aja. Dia anak Komunikasi yang penampilannya biasa banget bahkan. Tapi dari kesederhanaannya itu, gue langsung luluh dalam sekali tatap. (halaman 122)

Kalau suka novel genre romance, buku ini cukup menarik. Awal-awalnya ini karakter Nugraha apaan sih, pikir saya. Eh tapi lama-lama saya kok jadi suka banget sama karakter Nugraha yang biasa dipanggil Nug. 😀 Ya ampuun Nug baik banget, dan oh Binta kamu galak sekali sama Nug! >.<

Jadi, Nug suka Binta, sementara Binta suka Biru yang biasa memanggilnya Senjani. Nug pantang menyerah, sementara Binta terus menolak, karena masih tersangkut di masa lalu, di mana ia masih mengharapkan Biru. Namun, saat Binta menolong mantan pacarnya Nug sementara Nug menghindar karena sudah tidak ingin berurusan dengan masa lalu, ini Binta malah terkesan nyomblangin. Tapi ketika Sinta menguji Nug dan ketahuan sama Binta, Binta malah kecewa, dan disitulah rupanya Binta baru menyadari bahwa Nug telah menempati ruang dihatinya. Ehem!

Bagaimana kisah mereka selanjutnya? Akankah Nug memenangkan hati Binta? Akankah Binta sanggup menyelesaikan kisah di masa lalu bersama Biru? Apakah Biru berani jujur tentang perasaannya pada Binta? Silahkan temukan jawabannya dengan membaca novel ini. Dan karaker favorit saya adalah: NUG! 🙂

Berikut kalimat-kalimat favorit saya dalam buku KATA:

  1. … Ia ingin menunjukkan kepada Binta, kalau hidup yang ramai itu menyenangkan, paling tidak dengan satu orang yang mencintainya, yang bisa berbagi bebannya. (halaman 4)
  2. Tidak pernah setetes air mata yang muncul ketika ia sedang berdua dengan beliau. Karena buat Binta, bersedih dihadapannya akan semakin mempersulit keadaan. (halaman 10)
  3. “Perbedaan itu akan selalu ada, Ta. Tidak ada dua manusia yang hidup dengan berbekal kesamaan saja.” (halaman 25)
  4. “Kalau zaman sudah berubah, apa yang kita sukai juga harus diubah?” (halaman 29)
  5. Dengan kita menggunakan sesuatu yang sudah tidak ada lagi di masa yang baru, bukan berarti itu kuno, tetapi kita menghargai sejarah. (halaman 32)
  6. “Untuk Tuhan. Jadi begini, kemarin aku bertemu salah satu cucu Hawa. Dia itu berbeda sekali, Tuhan. Dia tidak suka senyum. Sukanya merengut dan bicara ketus. Sepertinya terlalu banyak kepahitan  dalam hatinya. Aku tidak tahu juga sih, Tuhan, soalnya dia tidak suka banyak bicara. Dia banyak diamnya. Jadi aku Cuma menebak-nebak. Tapi, Kau pasti tahu mengapa dia begitu kan, Tuhan? Untuk itu, tolong beri tahu aku cara supaya bisa menjadikan senyuman menjadi riasan yang selalu ada di wajahnya setiap hari. (halaman 34)
  7. Tetapi ia selalu bilang, bertahan itu bukan pilihan, tapi keyakinan.(halaman 37)
  8. Macet itu takdir, Ta. Mungkin Tuhan ingin kita berlama-lama di dalam mobil, supaya aku punya lebih banyak waktu denganmu.” (halaman 52)
  9. “Kalau kataku, keindahan itu tidak ada nilainya. Hal yang indah itu bukan untuk dinilai, tapi dimaknai. Kayak kamu.” (halaman 86)
  10. “Bagiku, cinta itu nggak pernah membuatku ngerti. Aku nggak ngerti cinta yang kamu maksud itu sama atau nggak dengan yang kumaksud. Apalagi kita sering punya maksud yang bertabrakan.” (halaman 88)
  11. “Tidak apa-apa, aku akan tetap mencintaimu. Karena aku nggak takut kehilanganmu, Ta. Kita dilahirkan saja untuk menemui kematian.” (halaman 89)
  12. “Jatuh cinta itu jangan terlalu banyak bagaimana.” (halaman 104)
  13. Bukankah yang tahu perasaan seorang Ibu adalah anaknya sendiri dan yang tahu perasaan seorang anak adalah Ibunya sendiri? (halaman 123)
  14. “Binta, perempuan itu harus sekolah. Ia harus pintar, bukan untuk siapa-siapa, bukan untuk menjadi kaya, tapi untuk melahirkan anak yang pintar seperti ibunya. Lagi pula, perempuan harus punya pendidikan karena ia dihargai dari situ.” (halaman 137)
  15. “Aku tidak mau hidup dalam angan-anganmu. Aku mau kamu hidup dalam realita yang sebenarnya bisa membuat kamu bahagia.” (halaman 137)
  16. “Berarti kita harus saling menghilang untuk kembali dipertemukan.” (halaman 149)
  17. Dalam hidup, ada kala ketika kita mencintai seseorang tanpa berharap apa-apa. Tanpa berharap dicintai kembali, tanpa berharap memiliki, tanpa berharap tidak akan pernah disakiti. …. Yang kulakukan hanyalah mencintainya, itu saja. Dan sebesar apa pun rasa sakit yang ia berikan, besarnya perasaanku untuknya selalu bisa menutup luka itu … (halaman 175)
  18. “Seseorang yang tulus menyayangi tidak akan pernah kecewa kalau perasaanya tidak dibalas.” (halaman 181)
  19. … kita ada sekarang karena sejarah. Kita hidup ke depan karena ada sejarah di belakang. (halaman 184)
  20. Dengar, beberapa orang dititipkan Tuhan masuk ke dalam dunia kita bukan untuk singgah, bukan untuk menetap, tapi untuk menitipkan pelajaran kemudian kembali hilang. (halaman 219)
  21. …. Akan ada masa ketika kita jatuh cinta sama orang yang tidak pernah di duga, di waktu yang juga tiba-tiba. (halaman 259)
  22. “Sesuatu yang pergi tidak akan terasa menyakitkan bila segera diganti dengan yang lebih baik,… (halaman 264)
  23. Biru selalu punya gayanya sendiri. Ia tidak suka termakan zaman. Ia tidak suka internet. Apalagi media social dan berbagai aplikasi. Pokoknya segala dunia internet yang bising, yang membuat manusia saling caci, tak pernah mau Biru kunjungi. Internet memang bisa membuat yang jauh menjadi dekat, tetapi entah mengapa itu tak berlaku bagi Biru. Selama ini ia mengobati rasa rindunya kepada Jani hanya dengan berdoa. (halaman 267)
  24. Karena pada dasarnya cinta tak memilih, cinta akan menuntun seseorang menuju sebuah perasaan yang bukan lagi tempat penginapan, tapi rumah yang tetap. (halaman 279)
  25. Menyibukkan diri. Beberapa manusia yang patah hati, pasti tak mau berdiam diri. Karena ketika diam, kesedihan akan berjalan di sekitar. Itu sebabnya, beberapa di antara mereka memilih menyibukkan diri, agar taka da celah waktu untuk memikirkan hal-hal yang sudah tak layak untuk dipikirkan. Kenangan, misalnya. (halaman 280)
  26. Pada akhirnya, rasa sakit akan membuatnya semakin dewasa. Rasa sakit akan membuatnya bercermin pada perasaannya sendiri, dan membuatnya melihat dirinya sejujur-jujurnya. Binta hanya butuh proses, dan setiap proses pasti memakan waktu yang tak sebentar. (halaman 318)
  27. …. Membuatnya percaya bahwa menyayangi seseorang yang tak pernah diduga-duga bukan sebauh kesalahan, (halaman 328)
  28. “Rasa kecewa akan mendewasakan manusia, Ta.” (halaman 330)
  29. “Siapa orang paling bahagia di dunia ini? “Orang-orang yang tak pernah berharap.” (halaman 332)
  30. Semua dimulai dari satu kata. Satu kata menjadi satu kalimat. Satu kalimat menjadi satu paragrap. Satu paragraph menjadi satu halaman. Satu halaman menjadi satu bab. Satu bab menjadi satu buku. Dan satu buku menjadi satu suara. Mereka harus saling membaca dan saling mendengar. Mereka harus saling menerima dan saling melepaskan. Mereka membutuhkan sesuatu yang berunsur, mereka butuh sebuah kata, mereka butuh kata-kata untuk menjadi peta dan membebaskan keduanya dari jalur perjalanan yang salah. Mereka harus bicara. Mereka harus berani mengutarakan. Mereka harus mengeluarkan teriakan yang sudah tak bisa lagi diredam di dalam perasaan. Namun, kekecewaan membuat mereka terjebak di ruang gelap yang kehilangan cahayanya dan jalan keluar. (halaman 345)
  31. “Andai bisa sesederhana itu, aku nggak akan pernah mencintaimu sejak awal. Aku nggak akan mengorbankan perasaanku ke dalam banyak risiko. Tapi semua ini diluar kendaliku, Ta, harusnya kamu bisa memahami itu.” (halaman 348)
  32. “Ada banyak cara untuk menyembunyikan sesuatu. Kadang, yang terdengar belum tentu benar, dan yang terlihat belum tentu tepat.” (halaman 353)
  33. Akan ada satu orang, yang membuatmu jatuh cinta tanpa sebab, tanpa alasan, juga tanpa pertanyaan. Akan ada satu orang, yang membuatmu belajar bahwa cinta bisa datang di waktu yang lama, di waktu yang singkat, juga di waktu tepat. Nugraha mengajarkanku bahwa cinta tak melulu tentang seseorang yang kita inginkan. Cinta butuh lebih dari itu. Cinta adalah seseorang yang kita butuhkan. (halaman 395)

Happy reading! 📖📚😊

With Love, ❤️

 

 

SUBSCRIBE AISAIDLUV

SIMAK JUGA SERBA-SERBI BUKU ALA SAYA BERIKUT INI:

2 thoughts on “[Review Buku] KATA Karya Rintik Sedu

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s