[Review Buku] Tafsir Al-Quran di Medsos : Mengkaji Makna dan Rahasia Ayat Suci pada Era Media Social karya Nadirsyah Hosen

Bahasa Al-Quran itu sastranya amat tinggi. Kita memahami prosa bahasa Indonesia saja sering kesulitan meski kita mengerti bahasa Indonesia. Sama saja, tidak semua orang yang bisa bahasa Arab akan paham kandungan tafsir Al-Quran. Memahami bahasa Arab tentu merupakan syarat menafsirkan Al-Quran. Namun itu saja tidak akan cukup. Kita juga harus belajar ilmu-ilmu lainnya, (halaman 82)

Judul                    : Tafsir Al-Quran di Medsos : Mengkaji Makna dan Rahasia Ayat Suci pada Era Media Social
Penulis                  : Nadirsyah Hosen
Penerbit                : Bentang Pustaka
Jumlah halaman : 396 halaman
Tahun Terbit        : Cetakan I, Oktober 2019
ISBN                       : 396 978-602-291-637-6

Sinopsis:

Dunia berubah dengan sangat cepat. Dulu, kita harus berangkat ke majelis taklim untuk menyimak para ustaz atau kiai mengajar tafsir Al-Quran. Tetapi kini para ulama yang mendatangi kita lewat gadget. Kita bisa mengaji di mana saja, saat tengah terjebak macet, menunggu antrean panjang di bank, kafe, bahkan tempat tidur sesaat sebelum terlelap.

Cara baru dalam berdakwah ini tentunya memudahkan bagi kita. Ada banyak sekali kajian Islam yang dengan gampang disebarluaskan lewat sekali klik. Tetapi, apakah semua yang kita baca lewat medsos itu benar? Apakah kita bisa memilah mana kajian yang benar atau sekedar hoax?

Prof. H. Nadirsyah Hosen, Ph.D. atau yang akrab dipanggil Gus Nadir, secara aktif mengamati fenomena para ayat Al-Quran yang semata mengandalkan terjemahan dan mengambil rujukan melalui medsos daripada kitab tafsir klasik dan modern. Beberapa diantaranya bahkan salah kaprah karena tidak memahami sejarah di balik turunnya ayat-ayat tersebut. Maka, melalui buku ini Gus Nadir akan mengajak kita untuk betul-betul memahami konteks agar semakin menghayati dan memahami kitab suci. Tak hanya itu, kita akan dipandu untuk memahami metode-metode tafsir dan mengenal para penafsir di sepanjang peradaban Islam.

Upaya membahas Al-Quran lewat medsos patut diapresiasi. Apa pun konteks pembahasannya, dipandang dari sisi mana pun, ayat Al-Quran akan tetap memancarkan cahaya Ar-Rahman dan Ar-Rahim.—Prof. Dr. Quraish Shihab, M.A.

Saya juga pertama kali membaca karya penulis yang akrab disapa Gus Nadir ini. Membaca buku ini menambah wawasana bahwa sebagai pembaca yang juga mengkonsumsi bacaan yang ada di media social, maka yang berhubungan dengan ayat Al-Quran memang jangan sembarangan langsung disetujui. Minimal cari tahu dulu, kemudian lihat dulu siapa yang menyampaikan, apa yang disampaikan. Kamu pernah kan, mendengar berbagai kasus yang terjadi di negeri ini yang seringkali mengatasnamakan ayat dalam Al-Quran, padahal jika dikaji lebih mendalam seperti yang dipaparkan oleh penulisnya, bahwa jika memahami tafsir dan mempelajari, tidak demikian adanya. Ibaratnya  jangan langsung  menyimpulkan hanya karena kita tahu ayat yang tertera dalam Al-Quran. Contoh-contoh kasusnya silahkan bisa dibaca detailnya di buku ini 🙂

Baca juga: Terapi Berpikir Positif

Sejarah mencatat betapa darah amat mudah menetas hanya karena sebuah tafsir. (halaman 8)

Banyak orang membunuh kelompok lain atas nama ayat suci. Mengerikan sekali bukan? Memahami Al-Quran, mempelajari juga bukan hal mudah. Kita tidak bisa menelan bulat-bulat arti ayat yang terdapat dalam Al-Quran. Bahasa Al-Quran itu sangat indah sekali, kalau mempelajari tafsir setidaknya tidak akan mudah menggunakan ayat Al-Quran untuk sebuah kepentingan pribadi, atau pun kelompok. Jangan sampai karena salah memahami merugikan diri sendiri juga orang lain. Ngerinya, apabila salah menafsirkan dan memahami, yang ada bukan rida Allah yang diraih, malah sebaliknya, murka. Semoga Allah membimbing kita untuk memahami, serta mempelajari keindahan bahasa Al-Quran.

Yang menarik dari buku ini:

  • Tulisannya asik dan menyenangkan untuk dibaca. Penulis juga kaya akan referensi, sehingga apa yang beliau tulis bukan berdasarkan opini penulisnya melainkan juga merujuk kepada tafsir-tafsir yang menjadi rujukan beliau. Sebuah buku yang sangat bergizi,  dan mudah dicerna, meski tema yang diangkat cukup berat, berbicara mengenai tafsir Al-Quran di Medsos. Habis baca buku ini pembaca akan jauh lebih berhati-hati dalam menyaring tafsir Al-Quran di medsos.
  • Saya senang, ada banyak pengetahuan baru yang diperoleh dalam buku ini. Kalau kamu senang membaca Al-Quran dengan terjemahan dan tafsirnya, dengan baca buku ini akan jauh lebih semangat untuk terus belajar membaca Al-Quran dan mencoba membaca tafsirnya. Kalau kamu belum pernah membaca Al-Quran dengan tafsirnya, yuk mulai baca 🙂 dan kalau sudah pernah, yuk teruslah belajar 🙂
  • Dalam buku ini juga disebutkan metode tafsir dalam Islam.
  • Tahukah kamu bahwa Mushaf Al-Quran yang kita baca saat ini sebenarnya merupakan hasil inovasi (baca: bidah) yang dilakukan sepeninggal Nabi Muhammad Saw? Temukan penjelasan selanjutnya dalam buku 🙂

Baca juga: review Riyadhus Shalihin

Buku ini dibagi menjadi lima bagian:

  1. Rahasia menghayati kitab suci Al-Quran
  2. Tafsir ayat-ayat politik
  3. Menebar benih damai bersama Al-Quran
  4. Al-Quran bergelimang makna
  5. Benderang dalam cahaya Al-Quran

Penulisnya mengatakan bahwa pada saat yang sama umat harus diedukasi dan diberi pencerahan akan makna dan kandungan ayat Al-Quran sesuai tafsir para ulama, bukan pakai logika dan kepentingan para politisi. Setiap upaya mereduksi ayat suci ke dalam kubangan politik kotor, harus kita lawan.  Setiap upaya pembodohan umat dengan sesama hendak membangkitkan emosi massa yang harus kita tangkal. Setiap penerjemahan yang tidak sesuai dengan kaidah-kaidah tafsir harus kita jelaskan dengan merujuk kepada kitab-kitab tafsir yang mu’tabar (representatif). Mari kita jujur pada keilmuan kita. Berikut ini sepuluh rujukan yang dicantumkan oleh penulis yang merupakan Rais Syuriah PCI (Pengurus Cabang Istimewa) Nahdlatul Ulama (NU) di Australia dan New Zealand ini:

  1. Tafsir Al-Thabari
  2. Tafsir Al-Qurthubi
  3. Tafsir Ibn Abbas
  4. Tafsir Al-Tsa’labi
  5. Tafsir Hasyiah Al-Shawi
  6. Tafsir Al-Munir
  7. Tafsir Al-Wasith Sayyid Thantawi
  8. Tafsir Al-Qasimi
  9. Tafsir Al-Khazin
  10. Tafsir Al-Sya’rawi

Baca juga: review buku Krisis dunia dan jalan menuju damai

Kalimat-kalimat favorit saya dalam buku Tafsir Al-Quran di Medsos:

  1. Al-Quran mengajarkan banyak hal kepada kita, tidak hanya melulu soal ritual dan akidah, tetapi juga tentang menggunakan logika dalam berargumentasi, (halaman 15)
  2. Akses umat terhadap Al-Quran dan hadis sebenarnya selalu terbuka sepanjang masa. Siapa pun boleh membaca dan mempelajarinya, (halaman 21)
  3.  … kita harus “kosong” sebelum memahami Al-Quran. Artinya, kosongkan diri kita dari berbagai kepentingan, hawa nafsu, atau pun sekedar upaya mencari-cari pembenaran atas opini kita. Hanya mereka yang kosong yang akan siap menerima pencerahan, kebenaran, dan inspirasi dari Al-Quran, (halaman 25-26)
  4. Jangan sampai gara-gara dakwah kita yang tidak santun, Allah yang kena caci maki. (halaman 90)
  5. Mari kita tunjukkan siapa yang paling baik akhlaknya dalam berdakwah. Tidak perlu kita menunjukkan keindahan agama kita dengan mengolok-olok atau memaki sesembahan dan ajaran agama orang lain. Kita tunjukkan keindahan dan kebenaran Islam dengan akhlak mulia. (halaman 90)
  6. ….. Itulah sebabnya Rasulullah Saw disebut sebagai Al-Quran berjalan karena beliau tidak mengikuti hawa nafsu, amarah atau dendam permusuhannya, tetapi benar-benar merupakan perwujudan rahmat bagi semesta alam. (halaman 143)
  7. Keragaman tidak dimaksudkan untuk saling meneror, memaksa atau membunuh. Al-Quran mengenalkan konsep yang luar biasa: keragaman itu untuk saling mengenal satu sama lain. (halaman 194)
  8. Ciri-ciri munafik yang disebutkan dalam Al-Quran seharusnya membuat kita mawas diri, bukan malah digunakan untuk menyerang sesama Muslim, apalagi hanya karena perbedaan pilihan politik. (halaman 198)
  9. Ketimbang memaksakan hanya satu penafsiran yang benar atau menganggap tafsir ulama lain keliru, mungkin lebih baik kita mulai membiasakan diri untuk hidup dalam naungan satu Al-Quran dengan beragam tafsirnya sehingga apa pun persoalan yang kita hadapi tafsir Al-Quran akan memberi beragam pilihan. (halaman 255)
  10. Untuk memahami Al-Quran, keyakinan saja tidak cukup, gunakanlah apa yang telah Allah anugerahkan kepada kita secara berulang-ulang: pancaindra, ilmu pengetahuan, pengalaman dan naluri lainnya. (halaman 366)
  11. Keyakinan bahwa sepahit apa pun perintah Ilahi, Dia tidak akan meninggalkan hamba-Nya. (halaman 337)
  12. Maka, sekarang terbentang di depan kita “pelajaran” akan kolerasi antara Surat Al-Qamar dan Surat Al-Rahman, serta kaitan antara ayat yang diulang pada kedua surah tersebut. Kalau empat kali pengulangan redaksi dalam Surah Al-Qamar berkenaan dengan azab dan 31 kali pengulangan dalam Surah Ar-Rahman berkenaan dengan nikmat yang Allah berikan. Itu artinya nikmat yang Allah berikan jauh lebih banyak ketimbang azab-Nya. Alhamdulillah. (halaman 354)

Apakah kamu sebagai muslim membaca Al-Quran sekaligus membaca terjemahan dan tafsirnya? Jika ya, bagaimana menurut pendapatmu, apakah terjemahan Al-Quran mampu kamu pahami? Jika kamu tidak membaca terjemahannya, apakah kamu memahami bahasa Arab? Jika kamu hanya membaca ayat-ayat Al-Quran-nya saja, bagaimana kamu akan memahami isi Al-Quran?

Happy reading! 😍

With Love, ❤️

SIMAK JUGA SERBA-SERBI BUKU ALA SAYA BERIKUT INI:

12 thoughts on “[Review Buku] Tafsir Al-Quran di Medsos : Mengkaji Makna dan Rahasia Ayat Suci pada Era Media Social karya Nadirsyah Hosen

  1. Aku pengin banget belajar tafsir. Tapi, belum ngeriset buku apa yang cocok untuk pemula seperti aku. Makasih rekomendasinya, kak ai! ❤

    Btw, cocok kah tafsir ini dibaca seorang pemula kayak aku gini kak ai?

    Liked by 1 person

    1. Yuk, Kak Shinta baca tafsir Al-Quran 😊
      Sama-sama Kak. Silahkan riset dan cari referensi has Kak ❤️

      Cocok saja Kak Shinta,bahasanya menyenangkan, memperluas pandangan dan gak bikin skeptis.
      Meskipun kata “tafsir” itu kelihatan cukup berat, tapi bahasannya dari orang-orang yang kaya ilmu akan membuat kita justru jadi berfikir, merenung dan tidak gampang menyimpulkan. Baca buku ini jadi pengen memahami isi Al-Quran 😂 kan kalau sudah paham tidak akan salah mengamalkan 😂

      Like

      1. Alhamdulillah. Aku takutnya membaca buku tafsir yang “berat” malah bikin mundur mempelajari lbh dalam 😅

        Siap, kak Ai. Semoga aku kesampaian baca tafsirnya. Supaya tidak salah mengamalkan :’)

        Liked by 1 person

      2. Insha Allah enggak berat Kak, apalagi kalau sudah punya kemauan untuk mempelajari Insha Allah malah wawasan kita akan jauh lebih terbuka 😊😊

        Aamiin Kak Shinta 💙😇

        Liked by 1 person

    1. Iya, beda Mbak, yg ini edisi diperkaya, makanya covernya berbeda dengan edisi awal.

      Terima kasih Mbak ❤️🙏

      Sudah seminggu lebih blog saya bermasalah, mohon maaf atas ketidaknyamanannya

      Like

    1. Sami-sami. Alhamdulillah upami maca Al-Quran sareng hartosna, langkung afdol. 👍👍👏👏

      Alhamdulillah, muhun bade dicek blogna. Hatur nuhun kak

      Like

  2. I really like your beautiful blog. A pleasure to come stroll on your pages. A great discovery and a very interesting blog. I will come back to visit you. Do not hesitate to visit my universe. See you soon.

    Liked by 1 person

Leave a Reply to Ai Cancel reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s