Pengalaman Berkebunku: Usai sebelum semua dipanen

oh sayur bayam anak-anak hijauku :3 :3 :3

Apakah kamu suka berkebun? Saya sendiri sebetulnya suka berkebun, hanya saja saya tidak punya banyak pengalaman berkebun. Lah kok bisa? Baiklah, dulu ketika kecil saya sering diajak ke sawah dan ke kebun oleh almarhum kakek, nenek, dan bapak saya. Mereka tidak pernah menyuruh saya bekerja suruh nanam ini itu. Entah kenapa mereka suka mengajak saya. Satu pengalaman yang saya ingat, saking pengennya berkebun, saya pernah meminjam halaman rumah nenek, kemudian saya tanam jagung, bayam dan entah apa lagi (lupa -_-). Seingat saya jagung itu sampai berbuah, dan bayam warna merah pun tumbuh subur. Setelah itu saya  pernah belajar sekali menanam pohon cabe yang berbuat lebah, setelah itu tidak sempat mencoba lagi. Saya hanya mengamati mereka, atau seringkali memetik hasil kebun yang ditaman oleh mereka. Mungkin karena masih kecil, tenaga saya waktu itu belum bisa diandalkan untuk mereka.

Beberapa tahun terakhir ini, saya mengikuti blog dengan beraneka tulisan para blogger, salah satunya saya suka sekali membaca tulisan berkebun milik Mbak Nella atau blog Emak Benjamin  atau pun tulisan berkebun Ibu Prih. Tentu saja mereka sudah ahli, beda dengan saya yang secara pengalaman masih kalah jauh, karena saya cuma senang lihat kebun ternyata, belum jago berkebun hehe. Setiap kali mereka menulis tema berkebun, entah itu sayuran, atau pun tanaman hias, atau juga pengalalaman mereka pergi ke mana kemudian memotret bebergai tanaman, rasanya kok bikin mata adem sekali :3 :3 :3

Saya suka berkebun tapi kalah rajin sama baca buku. Makanya blog ini sepertinya lebih dikenal dengan pemilik blog yang doyan baca buku ketimbang berkebun, hehehe. Benar juga, makanya agar blog ini isinya variatif, izinkan saya menulis pengalaman berkebun pertama kali seluas ini (sebenarnya gak luas-luas amat, tapi untuk seorang amatir seperti saya, mengurus kebun ini cukup makan waktu, tapi senang karena saya sangat menikmati prosesnya, hehehe).

Beberapa tahun lalu, kebun belakang ini ada yang mengurus, yaitu seorang bapak pekerja yang mengurus tanaman di halaman depan dan belakang rumah juga kebun belakang halaman rumah ini. Namun sekitar tiga tahun lalu, bapak ini sudah berhenti bekerja karena beliau sakit. Praktis kebun ini tidak ada yang mengurus dan saya juga belum sempat, belum kebayang juga diapain karena waktu itu tanahnya gersang serta banyak bebatuan dan semen. Tahun lalu sekita pertengahan bulan Juni 2019, salah satu driver di rumah melihat kondisi kebun ini. Ia berinisiatif untuk membersihkan kebun, kemudian dia memetakkan tanah menjadi gundukan-gundukan, berbaris rapi sekitar 11 gundukan.

Melihat kondisi kebun yang mulai rapi berkat pak driver, terus saya main ke belakang rumah. Muncullah ide untuk mulai belajar sesuatu yang baru yaitu berkebun. Berkebun itu kan bisa jadi terapi, pikir saya menyemangati diri. Saya ingin menjajal pengalaman hasil mengamati almarhum kakek, nenek, dan bapak, belasan tahun silam.

Maka mulailah ide untuk membeli bibit tanaman, membeli media tanam untuk menyuburkan tanah, membeli pupuk organik. Semua pembelian saya lakukan via online beli di Tokopedia. Wah praktis sekali, pekik saya dalam hati.

Saya mulai bercocok tanam ini pada musim kemarau, karena memang baru siap di waktu tersebut. Tak tahunya setelah nenek mengetahui saya belajar berkebun, beliau bilang justru menanam tanaman di musim kemarau itu bagus selama disirim tiap hari nanti hasilnya bagus. Jadi pas hujan bakalan tumbuh subur (dapat ilmu baru dari nenek 🙂 )

Baca juga : review buku 5 Cm

Berikut ini anak-anak hijau yang saya tanam:

  1. Bayam
  2. Kangkung
  3. Tomat
  4. Pohon pisang (yang nanam pak driver, saya yang kasih pupuk)
  5. Pare (Sebenarnya saya tidak tanam langsung dari biji, kayaknya ini dari pupuk yang saya beli, dan alhamdulillah tumbuh sangat subur)
  6. Pohon singkong (benih didatangkan langsung dari rumah nenek di kampung halaman nan indah permai 😀 )
  7. Pepaya (bukan saya yang nanam, kayaknya dari pupuk)
  8. Cabe rawit
  9. Cabe keriting

SUBSCRIBE AISAIDLUV

Tidak banyak jenis tanamannya karena baru perdana, lagian lahannya habis juga karena satu jenis tanaman ternyata tumbuh jadi banyak alhamdulillah. Singkat cerita, saya gak nyangka tanamannya tumbuh subur sekali. Bahkan pohon bayamnya tumbuh besar, daunnya lebar. Satu jenis tanaman, seperti cabe rawit ternyata tumbuh puluhan pohon, disusul tomat. Merawatnya cukup repot karena mesti disemai satu per satu kemudian di kasih bambu untuk pegangan dan dikasih tali rapia. Semua saya urus sendiri, dan untuk ukuran perdana saya sangat senang melihat anak-anak hijau ini.

Baca juga :Serial Anak Nusantara karya Tere Liye

Ketika anak-anak hijau sedang masa pubertas inilah, dipertengahan bulan Oktober ternyata ada pembangunan di dalam rumah, sehingga suka tidak suka maka kebun ini tidak bisa beroperasi lagi dengan baik, sebab lahannya dipakai untuk menyimpan bahan-bahan bangunan dan sebagainya. Dari kebun indah ini, saya hanya bisa menyelamatkan satu pot cabe rawit, itu pun masih saja saya harus amankan dari bahan-bahan bangunan yang bejibun serta hilir mudik para bapak tukang pekerja bangunan. Saya tidak menyalahkan siapa pun, tidak pula bapak bangunan yang dengan terpaksa dan menyesal, tamanku akhirnya rusak. Mungkin memang ini sudah jalannya….

Tanahnya kembali rusak dipenuhi bebatuan bangunan, yang tersisa hanya pohon pisang itu pun pakai acara patah karena tertindih bahan bangunan. Maka usailah sudah pengalaman berkebun pertamaku. Maafkan aku anak-anak hijauku, tak mampu menyelamatkan kalian semua. Terima kasih sudah menjadi anak-anak hijauku, meski hanya sementara. Sekitar 3 bulan lebih.

Pembangunan berlangsung selama kurang lebih tiga bulan hingga awal bulan Januari 2020. Selesai membangun, melihat kebun rusak total. -___-

Lagi-lagi pak driver baik hati atas inisiatifnya sendiri membereskan kebun belakang rumah ini dengan mencangkulnya (saya gak kuat kalau harus nyangkul hehehe). Tadinya hubungan saya dengan kebun mau putus, perih kalau harus lihat tanaman rusak lagi, gak kuat. Tapi akhirnya hati ini luluh juga ketika melihat kebun mulai dibersihkan, meski kenangan-kenangan itu berkelabat….

Sekitar bulan Februari 2020, sebelum korona sampai di Indonesia, saya sudah kembali merawat kebun ini. Sayangnya hujan turun lebat setiap hari, bibit-bibit yang mulai tumbuh, lagi-lagi terbawa hanyut oleh air hujan. Berkali-kali saya coba, hasilnya selalu sama. Maka saya mulai berpikir untuk mengganti jenis tanaman. Bagaimana hasilnya sekarang? Mungkin nanti saya akan tuliskan, kalau kebunku makin kece, ya 😉

Baca juga : review buku Little Woman

Dari pengalaman berkebun ini, saya punya satu hobi baru yang kalau dipikir-pikir ini juga hasil dari pengamatan ketika kecil saya sering melihat nenek menanam tanaman hias. Itu dia clue-nya, sekarang saya mulai senang merawat tanama hias. Nanti kamu akan berkenalan dengan tanaman hiasnya, ya 🙂

Ini dia pengalaman berharga dan mengesankan, berkebun kemudian usai sebelum di panen 😀 Dari sekian banyak anak hijau ini, saya hanya menikmati enaknya sayur bayam hasil dari kebun sendiri. Daunnya lebar-lebar alhamdulillah. Pernah dimasak tiga kali: dua kali dibuat keripik bayam dan satu kali sayur bayam enak mantaaapj jiwa. Selebihnya kini hanya tersisa pohon pisang yang pernah patah dan kini mulai tumbuh lagi. Semoga beberapa tahun ke depan pisangnya berbuah lebat dan lezat. Aamiin.

Selamat menikmati anak-anak hijauku 😀

SUBSCRIBE AISAIDLUV

Ini dia sepetak kebun di belakang rumah
halo anak hijauku pohon singkong 🙂
halo anak hijauku tanaman kangkung 🙂
Halo anak hijauku pohon tomat, bayam dan kangkung 🙂
Halo anak hijauku pohon bayam yang subur
kenangan terindah bersama anak-anak hijauku :3
kenangan terindah bersama anak-anak hijauku: tamanan tomat
oh sayur bayamku :3 :3 :3
ini dia bayam raksasa, terima kasih bayam sudah hadir di keluarga kami, kamu lezat sekali 🙂 :3
sayur bayamku ;3 :3 :3
sayur bayamku sayang, terima kasih sudah tumbuh subur 🙂 daun pepaya di samping pohon bayam dan kangkung serta tomat ini pernah dimasak sekali untuk lalapan direbus dan bagian dari sayuran pelengkap pecel di rumah
kenangan terindah: pertama kali nanam bayam dan hasilnya seperti ini Masha Allah daunnya lebar-lebar. Pernah tiga kali panen bayam saja, terus saya masak keripik bayam dua kali sama satu kali di sayur, rasanya enaaaak sekali 🙂
sedap dipandang mata, gak nyangka bisa sesubur ini :3
kenangan terindah bersama pohon tomat :3 :3 :3
Di saat tomat-tomat sedang berbuah, maka terjadilah pembangunan yang telah merusak tanaman-tanaman ini -___-
haiii anak hijauku pohon singkok, terima kasih sudah tumbuh subur meskipun aku tidak bisa memperoleh umbi singkongnya -___-
Tidak hanya di kebun belakang rumah, saya juga isi polybag dengan berbagai macam tanaman
sayur bayam di polybag 🙂
Bunga talang pun ikut rimbun di dekat tanaman lain 🙂
coba pindahin ke polybag. Tapi sejak ada tukang yang totalnya ;ebih dari lima orang untk membangun sesuatu, praktis kegiatan berkebun saya usai selama berbulan-bulan -_-
Tamanku sebelum rusak masha Allah bikin hatiku adem dan bahagia 🙂
Hanya pohon cabe yang bisa kuselamatkan, dan hingga kini per tanggal 25 Juli 2020 pohon ini alhamdulillah masih hidup. Kini daun lama berganti dengan daun baru. Terima kasih anak-anak hijauku pohon cabe, kamu sudah tumbuh lebih dari satu tahun, terima kasih kamu telah tangguh bertahan pohon cabeku 🙂
Tanamanku sayang: Kamu usai sebelum kupetik buahnya
dipenuhi bambu-bambu untuk bangunan di dalam -___- ini mulai rusak, maafkan aku anak-anak hijauku tidak menyelamatkan kalian, aku menangis melihat kalian rusak 😥 😥
-_____-
tanamanku jadi rusak -_-
-___-
Tanamanku jadi rusak -_- kumenangis

Demikian cerita dan pengalaman berkebun pertamaku. Sungguh sangat berkesan dan menyenangkan. Anak-anak hijauku, terima kasih sudah tumbuh dengan subur. Tak apa kalian usai sebelum kupanen, yang terpenting kalian anak-anak hijauku pernah memberi kebahagian hanya dengan melihat kalian tumbuh dengan subur dan semangat. Terima kasih 🙂

Dari sang pecinta alam yang selalu senang melihat tumbuhan hijau, baik di kebun orang lain, maupun di kebun sendiri, cie akhirnya punya kebun, eh tapi bukan kebun rumah saya, melainkan kebun rumah om dan tante saya. 😀

*belajarberkebunsebelumpunyarumahdankebunsendiri* Aamiin

With Love,

10 thoughts on “Pengalaman Berkebunku: Usai sebelum semua dipanen

  1. Hahahahahahahhahaha saya tidak bisa lagi berekspresi. Susah dibilang dengan kata2. Mari kita berkebun bersama. Saya dari kecil sudah hobi berkebun ikut nenek kakek dan juga orang tua. Sampai suatu hari saya dibawa terbang sama pangeran, hobi itu terhenti sesaat sampai hari ini. Pas ditinggal anak2 bayam mulai tumbuh. Dan ga bisa liat mereka besar 😭

    Liked by 1 person

    1. Duh kak Ra, ketawanya puas bener 😆😆
      Hanya yg suka berkebun yg akan paham gimana rasanya.
      Senangnya, ketemu sahabat baca dan ternyata sabahat tanaman juga. Mari kak Ra, kita berkebun bersama 😎😎

      Aaaaaaah gak nyangka kalau kak Ra senang berkebun, ternyata kita dapat warisan hobi dari nenek, kakek dan orangtua 🤩🤩

      Oh pangeran, kenapa kau tak sekalian ajak anak-anak bayam juga 😅 pasti anak-anak bayam sedih ditinggal plant mom 😂😂

      Like

      1. Tak di sangka kita punya hobi lain yg sama. Jadi sampai ga bisa berkata-kata.
        Ini namanya bukan sehati lagi tapi sejantung. Hahahahah. Bisa samaan gini.
        Repot bawa anak anak bayam. 😂
        Semoga nanti bisa menikmati masa tua dengan berkebun. Hahahaha. Seru kayaknya.

        Liked by 1 person

      2. Iya, Alhamdulillah. Kayak kalau kita berkebun bersama seru juga 😁

        Hahaha, wadidaw mantap betul, sejantung 🤩🤩 masih geleng-geleng kepala, bisa samaan gini. Untung saya tuliskan pengalaman yg menyesakkan dada ini 😆 hikmahnya jadi tau kita punya hobi yg sama 😁

        Ya udah nanem anak-anak bayam lagi di polybag 😂
        Aamiin. Aamiin kak Ra 😊🤗
        Menikmati masa tua dengan berkebun, menulis, dan membaca buku. Bahagia jiwa 🌸😁

        Liked by 1 person

      3. takdir yang indah namanya ini bisa samaan gini. hahaha. punya hobi kok sama kebun kebunan. wekaweka.
        setiap tulisan pasti ada hikmahnya. salah satunya ya ini. mungkin nanti kita bakal cerita tanaman kangkung bukan raib atau ali. hahahah.
        seru tu mba ai. masa tua berkebun menulis dan membaca. ngebayanginya aja udah indah apalagi dijalani. hiyaaa. hahahah

        Liked by 1 person

      4. Alhamdulillah, takdir yg indah bersama sahabat baikku ini 💚💚
        Hobi kebun kebunan bikin mata sehat krn lihat yg Ijo-Ijo 💚
        Hahaha iya ya biar variasi obrolan kita, gak cuma Putri Raib dan Tuan Muda Ali, Hilya dan Bang Henri, hiyaaa hiyaaa wekakak 😄😄

        Iya kak Ra 🤩 Ngebayanginnya aja udah seru dan indah, semoga bisa terealisasi dan diberikan umur panjang yg bermanfaat dan berkah. Aamiin 😇🥰

        Liked by 1 person

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s