[Review Buku] Little Woman karya Louisa May Alcott

“Kau memiliki banyak bakat dan kebaikan, tapi semua itu tidak perlu dipamerkan, karena kesombongan akan menghancurkan genius terhebat. Tak perlu khawatir bakat atau kebaikanmu akan diabaikan, bahkan kalau diabaikan pun, kesadaran bahwa kau memiliki dan memanfaatkannya dengan baik sudah akan memuaskan hati; lagi pula, daya tarik besar dari segala kemampuan adalah kerendahan hati.”—Louisa May Alcott (Little Women, halaman 134)

Judul                     : LITTLE WOMEN
Penulis                  : Louisa May Alcott
Penerbit                : Qanita
Jumlah halaman : 436 halaman
Tahun Terbit    : Edisi ke satu -> Cetakan I, Maret 2013. Edisi kedua (Movie Tie-in), Cetakan I, Desember 2019
ISBN                       : 978-602-402-168-9

Sinopsis:

Karya klasik yang tak lekang oleh waktu ini bercerita tentang kehidupan empat bersaudari, suatu masa di Concord, Massachussets. Meg, si Cantik keibuan yang bermimpi menjadi ratu bergaun indah. Jo, si Tomboi yang sangat mencintai buku dan sastra. Beth, si Pendiam yang begitu berbakat memainkan piano. Dan Amy, Michelangelo kecil dengan sketsa-sketsa memukau di kertas gambarnya.

Hari-hari mereka seerhana, tapi dilingkupi kehangatan. Walaupun tak pernah luput dari masalah, kesedihan, ketidakpuasan, bahkan pertengkaran, mereka tak pernah berhenti saling mencintai dan teramat bersyukur memiliki satu sama lain. Sang ibu yang selalu berada di samping mereka memberi  banyak inspirasi dan semangat, sementara bocah laki-laki kaya bernama Laurie, yang ikut serta dalam setiap petualangan keempat gadis itu, membawa keceriaan tak tergantikan.

Diterbitkan pada abad ke-19, novel ini disebut sebagai karya paling realistis dari novel-novel sejenis yang lebih menawarkan mimpi dan idealisme. Lewat Little Women, Louisa May Alcott menyuratkan kebahagiaan dalam kesederhanaan, dan menunjukkan bahwa rumah mungil pun dapat menjadi istana indah dengan kehadiran orang-orang tercinta.

“Louisa May Alcott menciptakan empat karakter wanita yang paling dicintai dalam dunia sastra Amerika.–Penguin Classics

Apakah kamu suka buku novel klasik? Jika suka, buku ini bisa jadi referensi bacaan kamu. Buku karya penulis Louisa May Alcott ini pertama dicetak tahun 1868. Penulis berasal dari Pennsylvania, Amerika Serikat. Menurut saya, tidak semua karya klasik memikat hati saya, tapi buku ini berbeda, saya suka. Novel dengan judul asli sama ini diterjemahkan oleh Utti Setiawati. Terjemahannya juga enak dibaca.  Seperti tokoh Jo March di novel Little Women, Louisa berwatak tomboi sewaktu masih remaja, dan memiliki tiga saudara. Little Women yang ditulis pada 1868, menjadi karya pertama di Amerika yang memotret tokoh remaja perempuan dengan sikap-sikap realistis, alih-alih tokoh sempurna di kebanyakan fiksi anak-anak.

Meskipun sudah lama, ketika membacanya, saya cukup menikmati, apalagi tema yang disajikan pun memikat. Meskipun sudah dua abad berlalu, tapi masih relevan dengan keadaan sekarang. Buku yang saya baca ini, edisi kedua dengan cover-nya yaitu empat bersaudari, putrinya keluarga March. Film-nya sudah tayang di bioskop pada Februari 2020, kalau kamu penasaran bisa disaksikan juga di Nexflix yang tayang perdana pada tanggal 9 Juli 2020. Saking penasaran, saya pun nonton filmnya, yang menurut salah satu teman blog saya, film Little Women ini membuatnya terpukau. Mari kita berkenalan dengan keempat anak-anak Marmee, yang memiliki kepribadian berbeda namun saling melengkapi.

MARGARET, atau lebih dikenal dengan panggilan MEG. Anak tertua dari empat bersaudara. Usianya 16 tahun. Perangainya manis, anggun, parasnya cantik

JOSEPHINE, biasa dipanggil JO. Usia 15 tahun. Jo seorang gadis yang sangat suka membaca buku dan menulis. Karakternya tomboy, menyayangi adik-adiknya, dan memosisikan diri sebagai laki-laki di keluarga March. Cita-citanya menjadi penulis.

ELIZABETH, biasa dipanggil BETH. Usia 13 tahun. Gadis ini pemalu, sosok introvert. Namun sangat suka musik, dia pandai bermain piano. Sayang dengan boneka-boneka usang yang diturunkan padanya. Dia bahkan dihadiahi piano oleh tetangganya yang kaya namun dermawan.

AMY, si bungsu ini berusia 12 tahun. dia Machelangelo di keluarga March. Seorang gadis periang yang sangat suka dengan seni, terutama melukis. Satu-satunya gadis yang masih sekolah di keluarga March.

SUBSCRIBE AISAIDLUV

Kemudian cerita dimulai ketika keempat gadis ini ditinggal oleh ayahnya untuk bertugas  sebagai tentara yang ikut berperang. Keluarga March dulu adalah keluarga berada. Namun kondisi mereka berubah, dan membuat keluarga ini harus hidup sederhana. Tinggal bersama Ibunya yang setiap hari bekerja, juga Hannah, pelayan yang sangat setia di keluarga mereka. Meg bekerja sebagai pengajar di keluarga King. Jo bekerja menjadi pengasuh bibinya, Bibi March yang sifatnya kurang menyenangkan. Beth lebih memilih di rumah, dan Amy berangkat sekolah.

Baca juga: novel klasik Pride and Prejudice karya Jane Austin

Kehidupan keempat gadis ini mulai berubah setelah mereka berkenalan dengan tetangga mereka yang kaya raya, umurnya sebaya dengan Jo, bernama Theodore Laurence, atau akrab disapa Laurie. Sementara hanya Jo, yang memanggil nama Laurie dengan sebutan Teddy. Laurie awalnya merasa kesepian dan terkurung di rumah megah milik kakeknya, kedua orangtuanya telah tiada. Berkat Jo yang mengajaknya keluar dari zona nyaman, juga  saudara-saudaranya, pemuda ini menjadi bagian dari kehidupan dan petualangan, empat bersaudara: Jo, Meg, Beth, Amy.

Secara keseluruhan, buku ini asik untuk dibaca. Setting di abad ke 19 membuat pembacanya diajak menikmati kehidupan di masa itu, bagaimana cara mereka bergaul, menganal alat transportasi yang digunakan, makanan seperti apa yang disajikan, serta bagaimana cara berpakaian. Kehidupan sehari-hari yang tersaji dan konfliknya pun porsinya cukup pas. Walaupun alurnya berjalan cukup lambat, namun mulai dipertengahan hingga akhir cerita, membuat saya penasaran untuk menyelesaikan buku ini.

Baca juga : mengenal lebih dari 40 buku karya Tere Liye

Karakter: Meg, Jo, Beth, Amy, Mrs March, Hannah, Mr March, Laurie, Mrs King, Pak Tua Laurence, John Brooke, Sallie, Bibi March, dll.

Yang menarik dari buku ini:

  • Saya sangat menyukai kisah persaudaraan yang diceritakan di buku ini. Keluaga yang hangat. Meskipun sebagai saudara selalu ada konflik, mereka bisa menyelesaikan dengan baik dan yang terpenting mereka tetap rukun dan saling menyayangi.
  • Setting kisah ini di abad ke 19, latar kisahnya terasa unik dan menarik, mengambil tema keluarga, juga persahabatan.
  • Cerita di buku ini penuh warna, seperti bagaimana kisah Meg dan teman-temannya. Jo dan Laurie. Usaha Beth dalam membuka diri, serta Amy dan kisahnya yang juga tidak kalah menarik.
  • Tokoh ibu membuat pembaca akan mendapat banyak pelajaran hidup serta hikmah yang tidak terhingga, tapi tidak terkesan menggurui. Pesan-pesan yang disampaikannya pun masih relevan dan bisa digunakan dalam kehidupan sehari-hari di zaman ini.
  • Momen favorit: Saat Jo bertengkar dengan Amy. Saking marahnya karena tidak diajak ke acara, Amy membakar novel yang ditulis Jo, hingga membuat saudaranya muntab. Beruntung mereka saling berbaikan. Kejadiaan Amy terjatuh, kemudian Jo merasa amat bersalah, ini asli bikin sedih banget. Terus momen ketika Jo dan Marmee ngobrol tentang bagaimana mengontrol marah.  Ternyata Marmee sudah belajar selama puluhan tahun bagaimana cara beliau mengatasi marah agar di depan anaknya tidak marah, selalu terlihat menyenangkan dan sabar.  Kemudian saat mereka membuat surat-surat yang dikirim ke ibunya isinya manis sekali—dari keempat putri tercintanya. Saat Marmee—panggilan sayang mereka pada ibunya, sedang merawat ayahnya di rumah sakit. Sementara mereka dititipkan pada Hannah dan tinggal di rumah saja. Momen ketika hari natal, Marmee meminta keempat gadisnya untuk berbagi dengan tetangga yang anaknya berjumlah lima. Meski awalnya enggan, pada akhirnya mereka menuruti permintaan Marmee.
  • Sosok ibunya sangat dicintai oleh anak-anaknya. Ibu yang tidak membeda-bedakan juga tidak membandingkan antara karakter putri satu dengan lainnya. Salut deh sama Marmee. Mereka mempunyai kebiasaan menoleh ke belakang sebelum mengitari sudut jalan, karena ibu mereka selalu berada di balik jendela untuk mengangguk, tersenyum, serta melambaikan tangan kepada mereka. Entah bagaimana, tampaknya mereka tidak dapat menjalani hari tanpa itu, karena betapa pun buruknya suasana hati mereka, kelebatan terakhir wajah keiubuan itu pasti akan memengaruhi mereka seperti cahaya matahari. (halaman 71)

Pesan moral dari buku ini:  Menjadi ibu yang baik itu tidak mudah, tapi bisa dilakukan. Membagi  kasih sayang dengan adil kepada keempat putrinya tanpa membeda-bedakan karakter anaknya. Menerima kelebihan dan kekurangan anaknya, tak lupa menyirami dengan berbagai nasihat kehidupan, seperti harus selalu berdoa dan bersabar. Memberi nasehat tanpa terkesan menggurui, tidak pula memarahi, sehingga cara ini efektif membuat anak yang merasa bersalah seperti Jo, mau berusaha berubah jadi lebih baik.

Dalam sebuah keluarga, kakak dan adik bertengkar sebetulnya hal yang wajar dan tidak bisa dihindari. Tapi jangan lupa untuk saling mengingatkan, memaafkan, kemudian saling menyayangi kembali dan cinta kasih terhadap saudara semakin erat, seperti yang ditunjukkan Jo pada Amy.(duh bikin meleleh deh, versi filmnya juga -_-).

Intinya sama saudara kandung itu harus saling menyayangi dan mendukung satu sama lain. Banyak pesan moral dalam buku ini, seperti juga hidup bertetangga. Menolong yang tidak mampu. Meskipun Marmee hidup sederhana dengan anak-anaknya, tapi rasa pedulinya sangat tinggi sekali kepada keluarga yang kurang mampu. Rela berbagi, semampunya. Buku ini juga ada romance, tapi lebih banyak porsinya tentang keluarga, persahabatan, hidup bertetangga, saling tolong menolong. Sebuah karya klasik yang indah. Meskipun sudah ratusan tahun, banyak pesan yang disampaikan dalam buku ini masih relevan dengan kehidupan saat ini.

Berikut ini beberapa kalimat favorit saya dalam buku Little Women:

  1. “Kami tidak akan menyerahkan anak perempuan kami demi harta. Kaya atau miskin, kami akan tetap bersama dan bahagia memiliki satu sama lain.” (halaman 74)
  2. … mereka berhenti untuk mengeluh, menikmati anugerah yang telah mereka miliki, dan merasa puas atas anugerah-anugerah itu. Kalau tidak, semua anugerah itu malah akan diambi seluruhnya, bukannya bertambah. (halaman 89)
  3. “Ingatlah anugerah yang telah kalian dapat, Anak-anak!” (halaman 89)
  4. … tapi ingat tepat pada waktunya bahwa tidak sopan terlalu banyak bertanya tentang urusan orang lain. (halaman 99)
  5. Barangkali karena dia sangat bersyukur atas anugerah ini, dia pun menerima anugerah yang lebih besar. Bagaimanapun, dia pantas menerima keduanya. (halaman 117)
  6. “Senang rasanya memiliki kecakapan dan kecerdasan, tapi tidak pamer atau sombong.” (halaman 135)
  7. Namun, kemarahannya tidak pernah berlangsung lama, dan setelah mengakui kesalahannya dengan rendah hati, dia akan menyatakan penyeasalan dengan tulus dan berusaha untuk berbuat lebih baik. (halaman 140-141
  8. “Anakku, jangan biarkan matahari membakar kemarahanmu. Bermaaf-maafanlah, saling menolong, dan besok mulai dari nol lagi.” (halaman 145)
  9. “Selalu ingat dan berdoa, Sayang. Jangan pernah bosan berusaha, dan jangan pernah berpikir mengatasi kesalahanmu itu mustahil.” (halaman 150)
  10. Kesabaran dan kerendahan hati yang tampak di wajah yang sangat disayanginya, merupakan pelajaran yang lebih baik bagi Jo daripada ceramah paling bijak dan teguran paling tajam. (halaman 151)
  11. “Ya, ibu sudah belajar untuk menahan kata-kata kasar yang naik ke bibir, dan jika ibu merasa kata-kata itu akan terlontar tanpa dikehendaki, ibu pergi sebentar dan mengingatkan diri karena bersikap begitu lemah dan jahat.” (halaman 151)
  12. Dia (Ayah) membantu dan menghibur ibu, juga menunjukkan bahwa ibu harus berusaha melatih semua kebaikan yang ingin ibu lihat dalam diri anak-anak ibu, karena ibulah contoh mereka. lebih mudah berusaha untuk kepentingan kalian daripada untuk kepentingan ibu sendiri. Tatapan kaget atau heran dari kalian saat ibu berbicara tajam, lebih bisa mengingatkan ibu daripada perkataan apa pun. Selain itu, cinta, penghargaan, dan kepercayaan anak-anak ibu adalah anugerah terindah yang akan ibu terima atas usaha ibu untuk menjadi contoh bagi mereka. (halaman 152-153)
  13. “Ingatlah itu, dan berusahalah dengan segenap hati dan jiwa untuk menguasai watak mudah marah ini, sebelum kesedihan dan penyesalanmu lebih besar daripada yang kau rasakan hari ini.” (halaman 153)
  14. “Jo, Anakku, kau boleh menceritakan apa pun pada ibumu, karena merupakan kebahagiaan dan kebanggaan terbesar mengetahui bahwa anak-anak ibu memercayai ibu, dan tahu betapa besar cinta ibu mereka.” (halaman 154)
  15. Anakku, kesulitan dan godaan hidupmu sudha dimulai dan barangkali akan banyak, tapi kau bisa mengatasi dan menanggung semua itu, kalau kau belajar merasakan kekuatan dan kelembutan Tuhan. (halaman 155)
  16. “Aku akan melupakan semua hal buruk dan mengingat yang baik saja, karena aku sangat menikmatinya, dan terima kasih banyak telah mengizinkan aku pergi.” (halaman (182)
  17. “Belajarlah mengenal dan menghargai pujian yang memang pantas diterima dan gugahlah perasaan kagum dari orang-orang hebat dengan bersikap rendah hati dan santun.” (halaman 183)
  18. “Dicintai dan dipilih oleh lelaki baik-baik adalah hal terbaik dan terindah yang bisa dialami seorang wanita, dan ibu sungguh berharap anak-anak perempuan ibu dapat merasakan pengalaman indah ini.” (halaman 184)
  19. “Uang memang sesuatu yang diperlukan dan berharga, dan bila digunakan dengan baik, uang akan menjadi sesuatu yang mulia, tapi ibu tidak ingin kalian berpikir uang adalah satu-satunya hal yang harus dikejar. Ibu lebih suka kalian menjadi istri orang miskin, asalkan kalian bahagia, dicintai dan puas, daripada menjadi ratu di singgasana tetapi tanpa harga diri dan kedamaian.” (halaman 184-185)
  20. “Satu hal yang harus kalian ingat anak-anak. Ibu selalu siap menjadi orang kepercayaan kalian, Ayah pun siap menjadi teman kalian, dan kamu berdua berharap dan percaya bahwa semua putri kami, akan menjadi kebanggaan dan penghibur dalam hidup kami.” (halaman 185)
  21. Bukankah akan terasa menyenangkan , membantu satu sama lain, memiliki tugas rutin setiap hari yang membuat liburan terasa manis saat tiba, dan memikulnya serta bersabar hati sehingga rumah menjadi nyaman dan cantik bagi kita semua. (halaman 222-223)
  22. “Kami akan bekerja dengan rajin dan penuh cinta, Bu.” (halaan 223)
  23. “Aku ingin melakukan sesuatu yang luar biasa sebelum pergi ke istanaku, sesuatu yang heroik atau hebat yang tidak akan terlupakan setelah aku mati. Entah apa, tapi aku mengharapkannya, dan bermaksud mengejutkan kalian satu hari nanti. Kurasa aku akan menulis buku dan menjadi kaya dan terkenal, itu sesuai untukku, jadi itulah impian favoritku.—Jo (halaman 270)
  24. “Aku tidak suka meminjam uang, sama seperti ibuku,” (halaman 305)
  25. “Jangan khawatir, wahai manusia! Selalu ada kebahagiaan dibalik kesulitan.” (halaman 310)
  26. “Jangan bersedih dan resah selama ibu pergi. Jangan pula berpikir kalian bisa berpangku tangan atau menghibur diri dengan bersikap malas dan berusaha melupakan. Lanjutkan pekerjaan kalian seperti biasa, karena bekerja adalah pelipur lara yang baik. Teruslah berdoa dan menyibukkan diri,” (halaman 312)
  27. Berdoa dan menyibukkan diri,” itu semboyan untuk kita … (halaman 315)
  28. “Kepala, kau boleh berpikir. Hati, kau boleh  Tetapi, tangan, kau harus terus bekerja!” (halaman 321)
  29. “Orang-orang yang baik dan disayangi selalu meninggal,” (halaman 345)
  30. Ada banyak masa sulit dalam kehidupan kita, tapi kita pasti dapat menanggungnya kalau meminta bantuan pada dengan cara yang tepat. (halaman 373)
  31. “Nak, berusalah sebisamu. Ibu rasa kau akan berhasil, karena niat tulus untuk menjadi orang yang baik merupakan setengah dari perjuangan.” (halaman 375)
  32. “Uang itu sesuatu yang baik dan berguna, Jo, tapi ibu harap anak-anak ibu tidak akan pernah merasa terlalu membutuhkannya dan tergoda memilikinya terlalu banyak.” (halaman 379)
  33. Tapi ibu tahu, berdasarkan pengalaman, betapa banyak kebahagiaan sejati yang dapat dimiliki disebuah rumah kecil sederhana, tempat kebutuhan hidup diusahakan setiap hari dan sejumlah kesulitan justru mempermanis nikmat yang sedikit itu.” (halaman 380)
  34. … karena jika sudah membulatkan tekad untuk meraih sesuatu, dia akan mewujudkannya meskipun langit rumtuh, … (halaman 434)

Buat kamu yang suka baca karya novel klasik, semoga bisa menyempatkan waktu membaca buku ini 🙂

Happy reading! 😍

With Love, ❤️

SIMAK JUGA SERBA-SERBI BUKU ALA SAYA BERIKUT INI:

8 thoughts on “[Review Buku] Little Woman karya Louisa May Alcott

    1. Iya Mbak. Saya baru tahu kalau ada yg 5 seri. Kapan-kapan tolong review dong Mbak ☺️☺️
      Hebat Mbak, menularkan minat baca sama anaknya. Salut 😍😍
      Ssmoga semua anak Gassmom pecinta membaca melebihi mommy- nya. Salam sayang untuk mereka ya Mbak 😊😊

      Liked by 1 person

  1. Benar, buku bagus. Kekeluargaan yang menghanyutkan. Apapun itu keluarga adalah segalanya. Setiap aksi Jo di buku bayangan Saoirse Ronan selalu muncul.
    Saya udah beli dua buku lain dari Alcott.
    Tinggal menanti waktu tepat buat baca.

    Liked by 1 person

    1. Jarang banget saya menemukan buku klasik dg kisah keluarga yg indah.
      Wow keren Kak. Buku-buku Alcott ini bertemakan kekeluargaan ya? Selain buku klasik ini adakah rekomendasi buku klasik lainnya yang bagus?

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s