[Review Buku] Patah Hati di Tanah Suci karya Tasaro GK

Sementara aku akan mengajakmu dalam perjalanan yang tak akan aku lupakan hingga napas terakhir nanti. Sewaktu berbagai keajaiban mengantarku ke dua Kota Suci. Aku ingin Bapak merasakannya, mengalaminya, menikmatinya. Bertawaflah bersamaku, Bapakku. (halaman 330)

Identitas Buku

Judul                     : Patah Hati di Tanah Suci
Penulis                  : Tasaro GK
Penerbit                : Penerbit Bentang (PT Bentang Pusataka)
Jumlah halaman : 332 halaman
Tahun Terbit        : Cetakan pertama, Juli 2018
ISBN                       : 978-602-291-411-2

Sinopsis:

Aku hampir-hampir kehabiasan alasan untuk tetap peduli kepadamu, kecuali kenyataan bahwa aku anakmu. Lahir oleh perantara dirimu. Kita tak punya banyak kenangan, ya, pak?

Pada pusaran sang ayahanda, Tasaro memutar ulang memorinya. Betapa berjaraknya hubungan yang mereka jalin selama ini. Ia mengingat bahwa tak banyak percakapan yang mereka lakukan demi merekatkan hubungan.

Melalui buku ini, Tasaro menuliskan surat panjang kepada Bapak. Ia mencoba menceritakan kembali perjalanannya ke Tanah Suci, tempat yang paling ingin didatangi Bapak sepanjang hidupnya. Sebuah perjalanan menggetarkan yang membuatnya menyusuri setiap jengkal tanah yang 1.400 tahun sebelumnya Rasulullah Saw. membangun sejarah di sana.

Tanpa diduga, menuliskan surat tersebut mengantar Tasaro kembali pada kenangan-kenangan yang nyaris ia lewatkan. Bahwa sesungguhnya Bapak selalu membersamainya pada berbagai peristiwa, meski tanpa kata-kata ….

Pada walnya, saya kira buku tetralogi Muhammad yang ditulisan oleh penulis sama pada buku ini, dilakukan setelah penulis mengunjungi negeri Saudi Arabia. Nyatanya tidak, perjalanan mengunjungi Tanah Suci dilakukan justru setelah merampungkan buku tertralogi tersebut. Diceritakan dalam buku ini, bahkan salah satu buku yang ditulisnya tersebut dibawanya menuju negeri Baginda Rasul dan diabadikan melalui foto buku dengan latar tempat-tempat bersejarah selama penulis melakukan perjalanan umrah. Apa yang membedakan buku ini dengan buku tetralogi?

Baca juga: review novel Muhammad Lelaki Penggenggam Hujan 

Dari bentuk tulisan, tetralogi Muhammad dikemas dalam bentuk novel namun kaya akan riset mendalam, sehingga sebagai pembaca seperti sedang diajak mengunjungi tempat-tempat bersejah lewat petualangan Kashva untuk menemukan Muhammad. Berbeda dengan buku ini yang merupakan kisah nyata perjalanan penulis melakukan umrah yang terkesan sangat personal apalagi dalam buku ini sosok Bapaknya penulis menjadi bagian dari pusat cerita. Tadinya penulis akan melakuan umrah pada bulan Desember, ternyata maju pada bulan april, dan bulan agustus, Bapaknya pergi menghadap Sang Pencipta. Sungguh, rencana Allah sangat indah. Bapak masih bisa melepas kepergian sekaligus  menyambut kembali anaknya setelah berumrah, sebelum beliau wafat.

Baca juga: perjalanan umrahku

Tasaro menyiapkan tulisan ini selama satu tahun, tetapi benar-benar menyusunnya dalam bentuk buku dalam dua minggu. Perjalanan umrah ke Tanah Suci begitu membuatnya patah hati hingga teramat berat untuk mengingat-ingatnya lagi.

Setelah bapaknya meninggal, Tasaro menemukan alasan lain mengapa sepatah hati apa pun tetap harus menuliskan hari-hari di Mekah dan Madinah, yaitu demi kenangan terhadap bapaknya.

Sejatinya catatan dalam buku ini adalah “surat panjang” Tasaro kepada bapaknya. Cerita-cerita yang ia kisahkan kepadanya, seolah-olah ia mendengar, merasakan, dan mengalami hal yang sama.

Kali pertama seumur hidupnya, Tasaro merasa sangat dekat dengan bapaknya. Sepanjang ia bercerita perihal perjalanan ke dua kota suci dan bagaimana ia merasa patah hati di Tanah Suci.

Baca juga: Review buku Merindu Baginda Nabi

Yang menarik dari buku ini:

  • Buku ini tentang perjalanan umrah yang terasa personal untuk penulisnya bersama Bapak yang diikutsertakannya dalam perjalanan ini.
  • Judul bukunya sangat puitis. Premis dari buku ini tentang bagaimana karakter utamanya, yaitu Tasaro GK, merasakan patah hati di Tanah Suci. Kira-kira patah hati seperti apa? temukan jawabannya dalam bukunya 🙂
  • Salah satu bagian favorit saya dari kisah perjalanan penulisnya, ketika sang penulis menceritakan sosok seorang nenek yang ditolongnya. Sedih karena nenek ini tidak ada yang menemani. Namun nenek ini beruntung bertemu dengan Tasaro yang mengantarkannya menuju Ka’bah hingga beliau kembali ke hotel tempatnya menginap dengan selamat. “Aku membandingkan diri sendiri dengan Nenek Tarsiyah dan merasa amat malu. Entah berapa tahun dia kumpulkan rupiah dari berjualan kacang rebus hingga cukup untuk berumrah. Dia punya banyak waktu, kesempatan, alasan, untuk membatalkan mimpinya, tapi dia keukeuh. Tujuannya hanya satu: ibadah ke Mekah. Dia tak paham apa itu mahzab, mantik, fikih, atau khilafiyah. Dia hanya meyakini, ibadah terbaik baginya, cara mendekati Allah terbaik, adalah mendatangi rumah-Nya. Tak apa, seumur hidup sekali saja.” (halaman 178)
  • Baca buku ini saya jadi kangen Tanah Suci. -_-

Berikut ini beberapa kalimat favorit saya dalam buku ini.

  1. Mungkin karena sejak kecil aku sangat suka sejarah. Sejarah memberitahu kita bagaiamana orang-orang zaman dulu menjalani kehidupannya. Sejarah lalu menerangkan bagaimana sebuah peradaban sekukuh apa pun pada akhirnya runtuh. Jadi, ketika hari ini, kita merasa aman-aman saja, itu karena tak cukup menoleh ke belakang, belajar dari kekeliriuan-kekeliriun para pendahulu. (halaman 124)
  2. Allah mengundang mukmin datang ke kota ini, Dia akan mencukupkan setiap kebutuhan—termasuk mereka yang ditinggalkan. (halaman 158)
  3. … Dia hanya percaya, hidup ini mesti disyukuri seberat apa pun beban yang mendera. Syukur yang paling hakiki adalah memberi hadiah kepada Allah. Bagi Nenek Tarsiyah artinya sowan ke Baitullah. Dia mendengar pangilan itu lalu berlari mendatanginya. (halaman 179)
  4. Sebab, aku ada karenamu. Pemahamanku datang dari Allah tetapi ini tak akan pernah terjadi jika engkau bukan bapakku. Sebab bapak mengajariku dengan hikmah. Membuatku merenungkan segalanya. Kita tidak bisa bersama dalam ketaatan, tetapi aku percaya kita satu frekuensi dalam keimanan. (halaman 188)
  5. Jadi, hidup manusia tidak selesai setelah dia mendapat hidayah. Perjalanannya masih panjang agar sanggup menjadi manusia istikamah, hingga ia berpeluang mendapat rida Allah. Maka, pengalaman-pengalamanku di Kota Suci membuatku semakin yakin, daya kritis manusia pada titik baliknya berakhir pada kepasrahan. Banyak orang yang tidak perlu memperumit segala perintah dalam agama dan memasrahkan dirinya saja, kemudian kebesaran Allah memenuhi hatinya. (halaman 205)

Happy reading! 📖😊

With Love, ❤️

SUBSCRIBE AISAIDLUV

SIMAK JUGA SERBA-SERBI BUKU ALA SAYA BERIKUT INI:

6 thoughts on “[Review Buku] Patah Hati di Tanah Suci karya Tasaro GK

    1. Ayo mari diselesaikan mbak. Saya belum kelar yg tetralogi Muhammad. Baru 1 buku 😂

      Ngubek2 iPusnas memang seru. Jadi pengen baca ini itu, meskipun terkadang buku incaran mesti nunggu antrean 😅
      Iya mbak, baca buku fisik emang asik. Tapi kalau lagi pengen baca buku terus adanya hanya di iPusnas, saya pilih alternatif ini 😀

      Like

      1. samaa ahah..

        tetralogi baru dapet 1,5 buku.
        patah hati di tanah suci setengah,
        citra rasmi baru pembukaan 😀

        buku2 tasaro suka banget, tp kudu nunggu mood bgt bacanya.

        baca ipusnas kerna pengen cari2 penulis lain, meski bosenan juga ternyata 😀

        Liked by 1 person

      2. Kok sama Mbak. Ga tau kenapa baca buku Tasaro harus nunggu mood. Ga bisa sekali liat buku langsung anteng baca 😂 padahal udah ada buku fisiknya 😅

        Buat cari referensi penulis lain Mbak. Se sekali main ke iPusnas ☺️

        Like

Leave a Reply to Ai Cancel reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s