[Review Buku]: The Book of Ikigai karya Ken Mogi

Rahasia terbesar ikigai adalah menerima diri sendiri, apa pun ciri-ciri unik yang mungkin kita miliki semenjak lahir. Jangan lupa untuk sedikit tertawa sembari mencarinya—hari ini dan setiap hari! (halaman 183)

Judul                     : THE BOOK OF IKIGAI Untuk Hidup Seimbang, Lebih Bahagia, dan Panjang Umur
Penulis                  : Ken Mogi, Ph.D.
Penerbit                : Penerbit Noura Books
Jumlah halaman : 190 halaman
Tahun Terbit        : Cetakan ke-1, Juni 2018. Cetakan ke-5, Juni 2020
ISBN                       : 978-602-385-415-8

Sinopsis:

Perkenalkan Jiro Ono, 91 tahun:

  • Chef bintang-tiga-Michelin paling tua di dunia yang masih hidup.
  • Di restorannya, selalu tersedia telur ikan salmon (ikura) dalam kondisi segar yang biasanya hanya bisa disajikan di musim gugur.
  • Ono “memijat” daging gurita selama satu jam agar empuk dan enak untuk membuat menu guritanya yang terkenal.
  • Saat orang-orang masih meringkuk di tempat tidur, Ono sudah tiba di pasar demi mendapatkan ikan terbaik.

Tak heran restoran sushi milik Ono masuk dalam daftar restoran kelas dunia. Presiden Barak Obama bahkan memuji karya Ono sebagai sushi terlezat yang pernah disantapnya.

Rahasia Ono adalah IKIGAI—Filosofi hidup ala Jepang yang memberikan motivasi, semangat, gairah, dan tujuan untuk menjalani hidup. Dalam The Book of Ikigai, brain scientist Ken Mogi menunjukkan kisah-kisah inspiratif. Nah siapkah Anda menemukan Ikigai Anda sendiri?

Dalam buku ini, penulis banyak memberikan contoh-contoh karakter orang Jepang yang sukses mengembangkan Ikigai dalam kehidupannya. Penulisnya adalah Ken Mogi, seorang brain scientist, penulis, dan penyair yang berbasis di Tokyo.  Buku ini menurut saya bagus, membahas tentang filosofi hidup orang Jepang, yaitu bercerita tentang filosofi Ikigai.

Baca juga: review buku Terapi Berpikir Positif

Ikigai adalah istilah Jepang untuk menjelaskan kesenangan dan makna kehidupan. Kata itu secera harfiah meliputi “iki” (untuk hidup) dan “gai” (alasan).

Ikigai bagaikan kursi professor itu. Ikigai adalah tentang menemukan, menjelaskan, dan menghargai kesenangan-kesenangan hidup yang memiliki arti bagi Anda. Tidak masalah jka tak ada seorang pun yang melihat arti khusus itu. (halaman 17)

Sepanjang buku ini, penulis merujuk pada lima pilar Ikigai, yaitu:

Pilar 1: Awali dengan hal kecil

Pilar 2: Bebaskan dirimu

Pilar 3: Keselarasan dan kesinambungan

Pilar 4: Kegembiraan dari hal-hal kecil

Pilar 5: Hadir di tempat dan waktu sekarang

Salah satu contohnyaketika menjelaskan pilar pertama, awali dengan hal yang kecil. Dalam menjelaskan pilar ini, penulis menceritakan tentang Hiroki Fujita  yang berdagang tuna di pasar ikan Tsukiji yang terkenal di Tokyo, bukanlah seorang asing terhadap etos bangun di awal hari. Dia bangun pada pukul 02.00 dini hari, dan bersiap-siap berangkat kerja, membeli ikan tuna terbaik untuk pelanggannya, yang merupakan restoran-restoran sushi terbaik di Jepang. Itulah alasan kenapa dia bangun pagi.

Sepanjang buku ini, sambil meninjau cara hidup, budaya, tradisi, cara berpikir, dan falsafah hidup di Jepang, kita akan menemukan nasihat-nasihat bagi kesehatan dan usia panjang yang berakar dalam ikigai dan  Anda bisa tanyakan kepada diri Anda sendiri sembari jalan:

  • Apakah nilai-nilai yang paling sentimental bagi Anda?
  • Apakah hal-hal kecil yang bisa memberi Anda kesenangan?

Itulah tempat-tempat yang baik untuk memulai jika menyangkut menemukan ikigai Anda sendiri sebagai jalan bagi kehidupan yang lebih bermakna dan bahagia.

Bangsa Jepang tidak memerlukan dasar motivasi yang besar-besaran untuk terus bergerak, tetapi lebih mengandalkan pada ritual-ritual untuk terus bergerak, tetapi lebih mengandalkan pada ritual-ritual kecil dalam rutinitas keseharian mereka.

Secara keseluruhan, buku ini enak untuk dibaca, apalagi jika kamu ingin tahu, mengenal, atau mempelajari filosofi orang Jepang. Buku ini  terkesan tidak menggurui. Namun, seolah mengajak pembacanya untuk berkontemplasi

Berikut ini beberapa kalimat favorit saya dalam buku ini:

  1. Anda bisa menemukan dan menanam ikigai Anda sendiri, menumbuhkannya secara rahasia dan perlahan-lahan, hingga suatu hari ia akan menghasilkan buah yang orisinal. (halaman 18)
  2. Pada pagi hari, jika Anda menikmati waktu tidur yang cukup, otak telah menuntaskan tugas malamnya yang penting. Ia berada dalam kondisi yang segar, siap untuk mencerna informasi baru selagi Anda mengawali aktivitas harian Anda. (halaman 24)
  3. Wujudkan dari kegembiraan melakukan hal-hal kecil, maka Anda juga dapat mengawali ikigai Anda di pagi hari. (halaman 33)
  4. Dari lima pilar ikigai, kodawari adalah pilar pertama, mengawali dengan yang kecil, tanpa perlu menjustifikasi upaya bagi skema-skema besar apa pun. (halaman 41)
  5. Pada titik tertentu, seorang pengamat biasa mungkin akan menganggap bahwa para pengejar kesempurnaan ini bertindak berlebihan, dan bahwa upaya mereka kelewat batas. Namun, tepat saat itulah, suatu keajaiban terjadi. (halaman 44)
  6. Kepercayaan pada kefanaan ikigai, menghadirkan diri pada tempat dan waktu sekarang (pilar kelima), mungkin merupakan hal yang paling mendalam dari kelima pilar. (halaman 49)
  7. Bangsa Jepang memiliki rasa keingintahuan tinggi terhadap hal-hal yang berasal dari negeri luar. Mereka pandai menyerapnya lalu menyesuaikan dan menguasai sesuatu yang telah diimpor itu. (halaman 54)
  8. Perajin dipandang begitu tinggi dan memainkan peran-peran kunci dalam menyarakat Jepang. Sering kali, hidup mereka dipandang sebagai perwujudan ikigai—kehidupan yang dipersembahkan hanya untuk menciptakan satu hal yang sepantasnya, betapapun kecilnya. (halaman 65)
  9. Alangkah menyenangkannya jika kita dapat mempertahankan cara pandang seorang anak sepanjang kehidupan kita. Hal ini mengarah pada pilar kedua ikigai, membebaskan diri. (halaman 69)
  10. Berada dalam kondisi mengalir (flow), terbebas dari beban diri sendiri, akan terlihat pada kualitas hasil kerja. (halaman 80)
  11. Setiap peluang itu istimewa. Itu sebabnya, bangsa Jepang memperlakukan detail terkecil dari ritual apa pun seakan-akan itu masalah hidup dan mati. (halaman 90)
  12. Dengan menghargai dan menghormati karakteristik orang-orang di sekitar, Anda akan menyadari “segitiga emas” antara ikigai, aliran dan kreativitas. (halaman 93)
  13. Buatlah musik, meski tak ada seorang pun yang mendengar. Lukislah sebuah gambar, meski tak akan seorang pun yang melihat. Tuliskan sebuah cerita yang singkat yang tak akan dibaca orang. Kesenangan batin dan kepuasan akan lebih dari cukup untuk menyemangati terus hidup Anda. (halaman 97)
  14. Ikigai berhubungan erat dengan keselarasan dengan lingkungan, dengan orang-orang di sekeliling Anda dan dengan masyarakat secara luas, yang tanpanya maka kelestarian menjadi mustahil. (halaman 103)
  15. Saat sesuatu diawali dengan sungguh-sungguh di Jepang, kemungkinan besar ia akan terpelihara untuk waktu yang sangat lama. (halaman 106)
  16. Bila Anda pertimbangkan upaya berat yang harus dikerahkan seseorang untuk menetap di arena sumo, pegulat pensiun sudah tentu akan memiliki karakter dan sumber daya yang cocok untuk memulai karier kedua yang sukses. (halaman 124)
  17. Bukan para pemenang yang memiliki ikigai. Dilihat dari perspektif ikigai, batas antara yang menang dan kalah perlahan-lahan mencair. Pada akhirnya, tidak ada perbedaan antara yang menang dan kalah.(halaman 135)
  18. Menjadi tangguh dalam hidup itu penting, terutama mengingat betapa dunia ini semakin tidak dapat diprediksi, bahkan kacau. (halaman 142)
  19. Hari ini, jika Anda berdiri di jalan sibuk Kota Tokyo, Anda akan takjub karena tidak menemukan jejak kehancuran tak terbayangkan yang pernah menimpa area itu. wilayah yang terdampak pengeboman Tokyo pada 1945, hari ini menikmati kedamaian dan kemakmuran yang sama seperti di ibukota selebihnya. (halaman 146)
  20. Tidak ada formula yang tepat bagi kebahagiaan—setiap kondisi unik dalam hidup bisa menghadirkan fondasi bagi kebahagiaan, dengan cara uniknya sendiri. (halaman 168)
  21. Cermin di kamar mandi Anda memantulkan tampilan fisik Anda. Akan tetapi, untuk menghargai kepribadian Anda sendiri, Anda memerlukan orang lain untuk memantulkan bayangan diri Anda. Hanya dengan menyadari kesamaan dan perbedaan antara diri Anda sendiri dan orang lainlah, Anda bisa jadi menilai karakter Anda secara nyata. (halaman 171)
  22. Setiap orang itu berbeda. Bahkan, kembar identik sekalipun memiliki kepribadian yang berbeda. (halaman 177)
  23. Rahasia terbesar ikigai adalah menerima diri sendiri, apa pun ciri-ciri unik yang mungkin kita miliki semenjak lahir. Jangan lupa untuk sedikit tertawa sembari mencarinya—hari ini dan setiap hari! (halaman 183)

 

10 thoughts on “[Review Buku]: The Book of Ikigai karya Ken Mogi

  1. Buku Ikigai yang ini saya punya gak ya? Kayaknya belum deh….ternyata karangannya beda yang saya baca kalau nggak salah yang nulis orang Barat jadi menjelaskannya juga pakai sudut pandang Barat.

    Tapi walaupun judulnya sama, saya jadi tertarik baca yang ini…..karena yang menelaah orang Jepang ya?

    Liked by 1 person

    1. Ikigai yang penulis orang barat (yg saya baca karya Hector Garcia dan Francesc Miralles), bahasanya lebih general mbak, enak dibaca, isinya bagus, saya juga suka. Benar mbak, menjelaskannya yg pakai sudut pandang Barat, meskipun mereka meneliti di Jepang khususnya di Okinawa yang tingkat umur panjangnya tertinggi di Jepang.

      Sementara buku ini, lebih membahas Ikigai-nya dari sudut pandang Jepang, penulis orang Jepang dan contohnya banyak orang Jepang.
      Iya Mbak Phebie, yang menelaah orang Jepang. Jadi lebih berasa Jepang banget. Bahasa terjemahannya agak kurang nyaman, banyak diksi gitu, saya mesti baca berulang saking pengen paham 😅. Tapi secara keseluruhan bagus. Wajib baca dan dikoleksi 😁

      Judul sama, isi beda banget. Mari baca dan koleksi Mbak Phebie 😊

      Like

  2. Wah aku juga rencana mau beli ini buku.. tapi btw menurut kamu setelah baca buku ini sampai di mana bisa mengaplikasikannya di diri sendiri? dan gimana caranya tidak sekadar membaca tapi mengaplikasikan, pasti agak sulit atau butuh usaha kan

    Liked by 1 person

    1. Baru sedikit demi sedikit Kak. Tadinya tuh masih kadang suka makan mie. Tapi sekarang mulai inget dampaknya gimana, jadi berusaha untuk mengalihkan ke makanan lain. Jauh sebelum buku ini hadir, saya pernah baca share penulisnya di Ig, yang paling terasa saya sudah mulai mengurangi makanan manis. Sulit banget, Kak. Tapi balik lagi, karena yg ditumbuhkan adalah sayangi diri sendiri, makanya mulai mengontrol makanan saja. Kalau makanan tidak dikontrol berarti gak sayang sama diri sendiri 😂

      Mulai pelan-pelan Kak. Semoga istiqamah. Aamiin

      Like

Leave a Reply to miss kacamata Cancel reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s