[Review Buku] I’ll Go To You When The Weather is Nice karya Lee Do Woo

“Aku pikir, ada dua sikap yang diambil oleh orang yang sedang sakit. Pertama, orang yang ingin dihibur dan merasa berterima kasih saat ada yang mau merawatnya. Sebaliknya yang kedua, dia ingin sendirian dan bersembunyi dari orang disekitarnya ketika dirinya merasakan sakit. Orang yang kedua itu bahkan tidak suka jika ada yang ingin bertemu atau bahkan hanya sekedar melihatnya.” (halaman 146)

Judul: I’ll Go To You When The Weather is Nice
Genre: Romance
Penulis: Lee Do Woo
Penerbit: Penerbit Haru
Penerjemah: Dewi Ayu Ambar Rani
Tahun Terbit: Cetakan pertama, Februari 2020
Jumlah Halaman: 394 halaman

Sinopsis:

Haewon kembali ke kampung halamannya, pada saat musim dingin. Gadis itu terkejut melihat sebuah rumah tua di desa tersebut sekarang berubah menjadi sebuah toko buku independen bernama Good Night. Ternyata, pemiliknya adalah Eunsoeb, teman sekolahnya.

Berawal dari toko buku ini, Haewon menjalin hubungan baru dengan orang-orang di kota itu, termasuk dengan Eunsoeb. Ada banyak hal yang terjadi, bahkan sebuah rahasia yang selama ini tersimpan rapat akhirnya terbongkar.

Akankah desa itu membuat Haewon tetap tinggal? Dan bagaimana hubungan Haewon dan Eunsoeb akan berakhir?

Kali ini saya membaca buku setelah nonton dramanya lebih dahulu, yang berjudul When The Weather is Fine, berkat kepincut review-nya kak Shinta. Suka banget sama drama tersebut, sampai penasaran baca bukunya. Novel dewasa bergenre romance ini, menghadirkan sesuatu yang berbeda. Buat pecinta dunia buku, buku ini menyuguhkan setting sebuah toko buku Good Night yang dibuat dengan filosofi sederhana oleh pemiliknya. Tidak hanya toko buku, ada juga klub buku lintas usia yang anggotanya mulai dari orang dewasa, remaja, anak-anak, hingga usianya yang sudah matang. Ditambah setting pedesaan di desa Bukhyeon, kota Hyecheon di provinsi Gangwon, Korea Selatan, menjadikan novel ini asik untuk dibaca.

Konflik yang terasal relate dengan kehidupan sehari-hari. Para karakter yang memiliki konflik dengan keluarga, masa lalu, kenangan masa kecil, kenangan masa remaja, dan bagaimana mereka melaluinya hingga bisa menjalani hidup pada saat ini. Juga konflik dengan sahabat masa remaja yang terbawa hingga dewasa. Apakah persahabatan mereka bisa kembali rekat setelah mengalami retak?  Kisah pemilik toko buku dan pelukis yang bekerja di toko buku Good Night, tentu saja menjadi daya tarik dari novel ini. Bagaimana akhir kisah mereka? Silahkan baca bukunya 🙂

Haewon, berprofesi sebagai pelukis. Tidak terlalu suka membaca novel. Menurutnya dalam novel, tokoh-tokohnya muncul lalu terjadi konflik. Dia pikir, mungkin karena dia emosional ketika membacanya dan itu terlalu berat baginya. Dia sosok pemurung, karena hidupnya juga sulit, hadir di keluarga yang dingin, tapi sebenarnya keluarganya sangat menyayanginya. Dia seorang yang sulit bercerita, memeluk segala kesedihannya sendirian, terlebih setelah sahabat yang ia percaya mengkhianati kepercayaannya. Pernah suatu ketika dia menceritakan tentang kehidupannya pada sahabat yang sangat dipercayainya yaitu Boyoung. Namun, sahabatnya merusak kepercayaannya. Bagai kaca yang retak, semua tak lagi sama. Persahabatan mereka saat remaja menguap begitu saja. Haewon memendam luka yang mendalam, dan ia peluk sendirian. Sementara Boyoung merasa itu hanya sebuah kesalahpahaman.

Baca juga: review drama When The Weather is Fine yang diadaptasi dari novel karya Lee Do Woo ini

Eunsoeb, pemilik toko buku, dia tentu saja sangat suka membaca buku, baik fiksi maupun non fiksi. Seneng banget sama karakternya Eunsoeb, dia itu pendiam tapi baik hati. Tipikal pemerhati dan pendengar yang baik, dan tidak suka mencampuri urusan orang lain. “Meskipun H tersenyum saat membuka pintu dan masuk ke toko buku, aku bisa merasakan dia habis menangis. Namun, aku tidak tahu caranya menghibur hati yang sedih. Lagi pula, dia tidak memintaku untuk menghiburnya, jadi aku tidak bisa melakukan apa pun.” (halaman 57). Dia juga seorang blogger yang senang menulis tapi kalau tulisan pribadi berupa curhatan gitu, dia private. Eunsoeb ini lebih nyaman berkomunikasi lewat tulisan daripada melalui ucapan. Walaupun dia tidak banyak bicara, Eunsoeb adalah pria yang  hangat, dan bisa diandalkan. Di balik karakternya yang hangat, dia menyimpan luka batin yang mendalam.

Karakter dalam buku: Haewon, Eunsoeb, Seungho, Bibi Myung Yeo, Lee Jangwoo, Jeong Gilbok, Bibi Sujeong, Min Jiyeon, Kwan Hyunji, Bae Geusang, Madison, Park Depyonim, Kim Hyojin.

Baca juga: review buku Little Women

Yang menarik dari buku ini:

  • Saya sangat suka dengan judulnya, puitis 😀
  • Saya juga suka banget dengan cover buku ini, dan ada tulisan toko buku Goodnight. 🌙🤩😍
  • Buku ini dikemas dengan genre romance. Namun, isinya bukan kisah cinta layaknya roman picisan. Karakter utamanya memiliki luka hati yang dibawa sejak kecil, remaja hingga dewasa. Mereka berjuang untuk menyembunyikan rahasia hidupnya, hingga akhirnya mereka berusaha untuk menyembuhkan luka, serta berdamai dengan masa lalu dan menerima keadaan.
  • Untuk para book lover, cocok banget. 😍Banyak rekomendasi judul buku yang dibaca para anggota klub buku sama sang pemilik toko buku 😍. Buku ini bagi saya, bikin ah gimana ya, pengen main ke toko buku macam Good Night. -_-
  • Alurnya maju mundur, tapi tetap menarik untuk dibaca dari awal hingga akhir.
  • Ada unsur budaya yang dimasukkan dalam buku ini, seperti Chuseok, yaitu perayaan pertengahan musim gugur, pesta makan-makan untuk berterima kasih atas keberhasilan panen, atau dikenal juga dengan ‘Thanksgiving‘ versi Korea.
  • Di buku ini juga ber-setting toko buku, pemilik buku, seorang blogger, para pembaca buku yang tergabung dalam klub buku, penulis buku, dunia penerbitan, toko buku indie, penerbit indie. Beneran pas dan cocok banget buat saya, hahaha. 😛 buat kamu juga kalau suka genre buku semacam ini 🙂
  • Saya juga suka ending dibukunya ketimbang di dramanya. Tapi secara keseluruhan, saya sangat suka buku dan dramanya. Kalau nonton dramanya bikin adem, apalagi disuguhi pemandangan eksotis khas pedesaan dan kota kecil yang jauh dari hiruk pikuk kota metropolitan. Ceritanya sangat menarik, membuat saya terkesan sekali, sampai sudahan nonton sama baca, jadi banyak merenung. Jadi belajar mengenal karakter yang tertutup banget, belajar juga untuk memahami luka hati pada karakter-karakter di buku dan dramanya.

Baca juga: tetralogi empat musim karya Ilana Tan

Good Night Bookstore

Bagian favorit saya dari buku ini tentu saja tentang Toko Buku Good Night, keren banget nama toko bukunya. Saat Haewon menanyakan kepada Eunsoeb, kenapa toko bukunya dinamakan Toko Buku Good Night, maka jawabannya seperti ini:

“Entahlah …. Mungkin karena bagus kalau bisa tidur nyenyak. Segar saat bangun, makan pun enak, pekerjaan juga jadi lancar. Bisa beristirahat dan tidur nyenyak adalah kehidupan yang bagus.” Kehidupan hanya seperti itu? “Memangnya ada apa lagi? Itu adalah dasar yang kalau salah satunya tidak dilakukan maka seseorang akan merasakan penderitaan (halaman 51)

Baca juga: review buku summer in Seoul

Rak Buku Keeping

Yang menarik dari toko buku independen ini adalah rak buku Keeping. Setelah membaca, para anggota toko buku ini meletakkannya di rak buku Keeping sebelum mereka pergi, karena itu banyak terdapat pembatas buku di dalamnya. Eunsoeb mencoba melakukan itu untuk mencari tahu cara agar orang-orang mau datang kembali berulang kali dengan nyaman. Ternyata, rak buku Keeping adalah sesuatu yang Eunsoeb pikirkan dan dikelola dengan sungguh-sungguh. Ini adalah caranya untuk membuat pelanggan membawa pulang bukunya setelah selesai membaca semuanya, karena banyak pembeli yang tidak memiliki kesempatan untuk membaca meski membawa  bukunya pulang ke rumah. Jadi, dengan meletakkan bukunya di rak buku Keeping ini, para pembaca bisa kemari kapan pun setiap punya kesempatan untuk membaca. Saya suka juga bagian ini. Sebagai pembaca buku, bisa menemukan toko buku macam ini pasti bakalan bikin betah dan jadi sering datang.

“Good Night Club”

Saya membayangkan bisa ikutan klub baca buku yang didirikan Eunsoeb ini -_- sayang ini hanya di novel, hehe. Sesungguhnya topik pembicaran panjang hidupnya Eunsoeb adalah ‘good night.’ Agar kami bisa membicarakan hal yang sama seriusnya. Dia memikirkan terbentuknya klub tersebut dengan harapan untuk berkumpul dengan orang-orang yang sering terjaga di malam hari. Meskipun mereka ‘makhluk malam’ yang tinggal di banyak tempat yang berbeda-beda, tetap saja pasti akan menyenangkan jika bisa berkumpul. Seru sekali membayangkan bagian yang ada di novel ini. 😁😍

Anggota Klub Good Night: Eunsoeb, Haewon, Seungho, Jeong Gilbok, Bibi Sujeong, Kwan Hyunji.

Baca juga: review buku 5 cm Aku, Kamu, Samudera dan Bintang-Bintang

Moral of the story:

Berdamai dengan masa lalu. Kenangan masa remaja yang belum tuntas, membuat kehidupan di masa dewasanya tidak mudah. Saya belajar banget dari karakter Haewon dan Eunsoeb untuk belajar berdamai dengan masa lalu, meskipun menyakitkan dan menakutkan tapi hanya dengan jalan berdamai dan memaafkan masa lalu kita bisa hidup dengan damai di masa sekarang.

Persahabatan tidak selalu tentang hal yang indah, tapi juga ada masanya menyulitkan dan menyakitkan. Saya juga belajar dari persahabatan Haewon dan Boyoung. Jika memang melakukan kesalahan tinggal meminta maaf. Jangan membela diri atau merasa itu sebuah kesalahpahaman. Untuk tipikal orang tertentu, atau yang sering di bully teman, kepercayaan adalah segalanya. Jangan pernah menyepelekan sebuah kepercayaan yang diberikan oleh sahabat, karena itu akan sangat melukai. Sekali melukai, akibatnya fatal. Bisa jadi akan menimbulkan luka yang tidak sesaat, tapi menahun. Namun, setelah saling memaafkan dan menerima, persahabatan bisa kembali dibangun.

Belajar juga dari keluarganya Haewon dan Eunsoeb. Yang lebih penting lagi, sepahit apapun masa lalu yang pernah dijalani, kita selalu bisa menjadi orang yang penuh kehangatan, dan berhati baik seperti Eunsoeb. Dia tidak memilih kehidupan yang sama seperti orangtuanya, namun dia menjadi versi diri dia yang terbaik. Dia juga beruntung dibesarkan oleh keluarga yang hangat. Sehingga sosok Eunsoeb meskipun pendiam, dia selalu bisa diandalkan. Kita memang tidak bisa memilih dilahirkan di keluarga yang kita inginkan, tapi kita bisa tumbuh menjadi pribadi yang baik, tak peduli sesulit apa pun masa lalu yang pernah dilalui. Haewon meskipun keluarganya dingin, mereka memeluk setiap rasa sakit tanpa dibagi satu sama lain dalam keluarganya, berharap orang yang kita sayang tidak perlu tahu agar tidak kecewa. Nyatanya, ketika akhirnya tahu, rasa kecewa dan sedih itu pasti ada. Namun, yang terpenting adalah saling menerima dan memaafkan masa lalu, agar bisa hidup dengan baik dan damai di masa sekarang.

Baca juga: review buku Selena dan Nebula

Berikut ini beberapa kalimat favorit saya dalam buku ini:

  1. “Jika kau meminum teh panas setelah terbangun dari tidur pertamamu, kesedihanmu akan mereda saat kau terbangun dari tidur yang berikutnya. (halaman 16)
  2. “Hal yang kusadari akhir-akhir ini adalah … mengajarkan orang melukis itu tidak sama dengan mengajarkan orang menulis. Aku tidak perlu mengajari orang yang sudah memiliki bakat dan tidak ada gunanya aku mengajari orang yang tidak punya bakat.” (halaman 19)
  3. Bertemu dengan seseorang yang sudah lama tidak ditemui akan memaksa kita untuk menyentuh kenangan lama. Ingatan yang terlupakan, tapi sesungguhnya kenangan itu terus tersimpan di dalam ingatan sepanjang waktu. (halaman 40)
  4. Seseorang yang selalu kita pikir adalah orang yang sama, ketika kita sudah lama terpisah jauh akan terasa seperti bukan orang yang kita kenal, mungkin hal itu juga berlaku untuk anggota keluarga (halaman 45)
  5. Ada sesuatu yang sudah lama kupikirkan  tapi sulit untuk kukatakan, sering kali aku akhirnya memutuskan untuk lebih baik tidak mengatakan apa pun. (58)
  6. “Hal yang menyedihkan adalah ketika seseorang tidak bisa memahami perasaanmu.” (halaman 96)
  7. “Cobalah baca ensiklopedia, kau bisa temukan hal-hal menarik yang mungkin tidak pernah terpikirkan olehmu sebelumnya.” (halaman 105)
  8. Memilih untuk membaca buku yang dibaca dan disukai seseorang adalah salah satu cara untuk memahami pembacanya. (halaman 115)
  9. Kalau melakukan kesalahan katakan saja ‘aku bersalah’, ‘aku melakukan kesalahan’ lalu mengucapkan kata maaf dan semuanya selesai. Tapi, kenapa orang-orang memilih untuk mengatakan ‘kau sudah salah paham’, seperti ada kesalahpahaman, ingin menjelaskan kesalahpahaman. (halaman 127)
  10. Kesalahpahaman berarti pemahaman yang kurang atau kemampuan untuk memahami dan membaca situasi atau perasaan yang kurang atau memahami kesalahan pada diri sendiri karena tidak memiliki kemampuan berkomunikasi yang cukup. Tapi bukan itu. Tidak ada kesalahpahaman,  hanya ada salah satunya yang melakukan kesalahan. Itu artinya dia mengetahui kesalahannya, tapi berusaha mengatakan bahwa bukan dirinya yang bersalah dan menyalahkan orang lain. (halaman 127)
  11. “Kalau ada yang sakit, bukankah kita harus berada di sisinya dan membiarkan mereka bersandar pada kita. Sama-sama saling mengandalkan seperti itu.” (halaman 146)
  12. “Aku pikir, ada dua sikap yang diambil oleh orang yang sedang sakit. Pertama, orang yang ingin dihibur dan merasa berterima kasih saat ada yang mau merawatnya. Sebaliknya yang kedua, dia ingin sendirian dan bersembunyi dari orang disekitarnya ketika dirinya merasakan sakit. Orang yang kedua itu bahkan tidak suka jika ada yang ingin bertemu atau bahkan hanya sekedar melihatnya.” (halaman 146)
  13. “Jika kau melalui tempat itu  sambil teringat sesuatu yang kau ragukan, keraguan itu akan menjadi nyata.” (halaman 171)
  14. Ada hal-hal yang bisa terlihat lebih baik ketika sendirian dan tidak ada salahnya untuk belajar dari kesepian. Semakin sedikit yang kau harapkan, semakin damai hidupmu. Sangat menyakitkan untuk memiliki harapan tentang ‘sesuatu yang sangat diinginkan.’ (halaman 182)
  15. “Penilaian buruk itu selalu datang bersamaan dengan penilaian baik yang mengikuti sebagai bayangannya.” (halaman 194)
  16. “Vitamin itu sama saja seperti sebuah pekerjaan rumah. Tidak akan kelihatan jika kau meminumnya, tapi akan terlihat jika kau tidak meminumnya.” (halaman 199)
  17. Tampaknya tidak akan ada penyesalan di masa depan ketika saat ini mereka semua merencanakan untuk membuat sebuah kenangan di musim dingin, dan bukanlah lebih baik melakukan sesuatu daripada tidak melakukan apa pun. (halaman 205)
  18. … tapi aku harus melakukan apa yang ingin kulakukan. Karena kalau aku tidak melakukannya, aku tidak akan pernah tahu dunia lain ketika aku melakukannya. (halaman 238)
  19. “… tidak ada alasan untuk tidak bahagia ketika ada orang-orang baik yang selalu ingin kuucapkan terima kasih kepada mereka. (halaman 239)
  20. “Coba katakan yang sejujurnya. Karena itu jauh lebih penting daripada kata-kata indah yang enak didengar tapi hanya sebuah omong kosong.” (halaman 245)
  21. Namun, ukuran rasa sakit itu tidak penting. Tidak semua orang meninggalkan dunia ini hanya karena merasakan sakit yang begitu banyak dan orang yang ditinggalkan akan merasa sakit yang lebih sedikit, tapi karena mereka berusaha keras untuk menjalani hidup mereka sampai akhir nanti. (halaman 245)
  22. … Jika buku itu diterbitkan, namanya akan terus tersimpan di sana, untuk apa aku meninggalkan jejak orang yang kubenci. Bagaimanapun, akan lebih baik meninggalkan jejak nama orang yang kita sayangi dan cintai.” (halaman 312)
  23. Orang-orang yang hidup bersama di bawah satu atap dalam bentuk apa pun mungkin keluarga yang menetap ataupun yang berpindah-pindah tempat, saya tidak berpikir bahwa mereka wajib saling mencintai. Cukup dengan adanya perasaan bersalah, berterima kasih, dan saling pengertian, saya pikir semua itu sudah cukup. (halaman 324)
  24. “Aku tahu rasanya, hal yang tidak ingin dikatakan dan menyembunyikan kelemahan sendiri karena tidak ingin siapa pun mengetahuinya.” (halaman 345)
  25. Aku berpikir bahwa kebencian yang tumbuh  adalah hambatan bagiku,. Setidaknya aku masih berpikir begitu sampai sekarang. (halaman 356)
  26. Aku berpikir bahwa hidup adalah proses mencari pekerjaan. Sebuah titik di dunia yang bisa memberikanku ketenangan dan kedamaian. Aku ingin menemukan tempat yang tepat untukku. Tempat yang bisa menerima keberadaanku, di mana tidak ada yang mengganggu atau terganggu, tempat yang tidak akan menolak keberadaanku. Aku anggap ini adalah proses untuk menemukannya. (halaman 356)
  27. Menghilangkan rasa sakit dalam hidup dengan membaca buku, bagi sebagian orang mungkin hatinya merasa terhibur setelah membaca, tapi bukan berarti rasa sakitnya menghilang. Namun, bukan berarti itu tidak berguna … karena sejak awal itu memang untuk menyembuhkan rasa sakit di hati. Mungkin saja orang-orang membaca buku untuk menyampaikan bahwa rasa sakit selalu ada, tapi bukan berarti kau harus selalu bersama dengan rasa sakit itu. (halaman 366)
  28. Aku berharap kalian juga memberiku hak untuk merasa sakit bersama kalian. Meskipun semua itu sudah berlalu. (halaman 366)
  29. Aku berharap semua yang terbaik untukmu. Kau tidak perlu belajar pelajaran atau apa pun dalam hidupmu. Itu agak menyedihkan. Mereka mengatakan tidak ada yang lain selain kesedihan yang mereka punya. Jadi, mari kita menghibur diri kita sendiri…. Akan lebih baik jika tidak sedih dari awal. Tentu saja, akan lebih baik lagi jika semuanya berjalan sesuai harapanmu. (halaman 369)

Happy reading! 😍

With Love, ❤️

9 thoughts on “[Review Buku] I’ll Go To You When The Weather is Nice karya Lee Do Woo

      1. Iya ya Kak. Gak ada rak buku keeping aja, ke gramedia itu menyenangkan.
        ke Toko buku goodnight kayak di dramanya, kalau ada bakal bikin mager.

        Like

    1. Terima kasih kak Shinta 😍😍
      Kukaget capslock semua 😆😆

      Kalau suka, bisa keluar detailnya kak Shinta. Rasanya tuh pengen bahas, meski sebatas tulisan. Kalau B saja, gak bakal keluar detailnya 😅 Makannya nasi kak, sejak lahir itu makanan pokoknya 🤣 sama kayak Hae Won

      Terima kasih ya kak Shinta buat rekomennya. ❤️❤️❤️ *kugakbisamoveon*

      Liked by 1 person

Leave a Reply to Ai Cancel reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s