Review Drama When The Weather Is Fine

Drama berjudul When The Weather is Fine diangkat dari sebuah novel berjudul I’ll Go to You When The Weather is Nice karya Lee Do Woo. Bukunya sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh penerbit Haru di bulan Februari 2020.  Drama ini alurnya maju mundur, penonton diajak untuk menyatukan kepingan-kepingan puzzle kehidupan karakter utama serta beberapa orang terdekat dari dua karakter utama sehingga membingkai sebuah jawaban atas teka teki kehidupan yang mereka jalani.

Baca: review buku I’ll Go to You When The Weather is Nice

Mok Hae Won (“Irene”), diperankan oleh Park Min-Young, seorang berkepribadian introvert. Namun, dia suka berterus terang, blak-blakan, kalau gak suka dia bakal bilang gak suka. Dia tidak suka baca novel, karena menurutnya hidupnya saja sudah sulit, sementara tokoh-tokoh di novel muncul lalu terjadi konflik. Buku menceritakan kisah, bukan? Aku tidak bisa menghadapi konflik antara aku dan orang-orang dalam cerita. Hidupku sudah cukup berat. Aku tidak punya tenaga untuk memedulikan masalah orang lain 😥 semenyedihkan itu hidup Hae won.

Dia memeluk setiap lukanya selama ini sendirian. Pernah saat duduk di kelas XII, dia bersahabat dengan Boyoung, tapi sahabatnya mengkhianati kepercayaannya. Sejak saat itu, dia tidak akur lagi karena hatinya terluka oleh pengkhianatan yang dilakukan sahabatnya, meskipun dengan dalih membela Haewon. Tetap saja Haewon merasa sakit hati, apalagi Boyoung mengira apa yang dilakukannya hanya sebuah kesalahpahaman. Praktis dia tidak punya tempat yang mengekpesikan luka batinnya, terlebih ibu dan bibinya merupakan tipe orang yang tidak pandai mengungkapkan perasaan sayang, cenderung cuek dan sibuk mengurusi hidupnya sendiri, tanpa memikirkan perasaan Haewon. Padahal jauh dilubuk hatinya, mereka sangat ingin menjaga dan melindungi Haewon agar tidak perlu tahu kisah dibalik kematian ayahnya.  Di sekolah Haewon juga tidak bebas dari bully teman-temannya yang mempertanyakan kenapa dia bisa pindah dari kota Seoul dan bersekolah di sana. Setelah kematian neneknya, Haewon melanjutkan hidup, kuliah dan bekerja di Seoul.

Dia pandai memainkan alat music cello juga piano. Sempat menjadi guru musik di Seoul, tapi akhirnya dia memilih berhenti kerja. Hae won memutuskan kembali ke desanya saat musim dingin, disanalah dia kembali berhubungan dengan orang-orang di desa Bukhyeon, kota Hyecheon di provinsi Gangwon, Korea Selatan. Dia sangat dingin, dan memeluk setiap lukanya sendirian di tengah keluarga yang dingin pula. Bersama Eun soeb, Hae won kini tidak memeluk lagi luka batinnya sendirian. Kehangatan dan ketulusan Eun soeb, mampu membuat dinding kebekuan dalam hatinya mulai mencair, dia mulai banyak tersenyum, meskipun kesedihan demi kesedihan masih terus mampir dalam hidupnya.

Lim Eun Soeb, diperankan oleh Soe Kang-Joon, pemilik Toko Buku Good Night di desa Bukhyeon. Blogger, suka menulis catatan harian yang tidak dipublikasikan, juga meng-update buku-buku yang dijual secara online. Dia itu introvert sejati. Pendiam, senang dengan kesendirian, suka baca buku, suka membuat dan minum kopi juga teh, pengidap insomnia. Namun, pria pendiam dan sangat tertutup ini  memiliki kisah masa kecil yang memilukan, tetapi dia sosok yang berhati hangat dan dapat diandalkan.

Dia punya masa kecil yang menyedihkan. Namun, dia tumbuh menjadi sosok pria yang hangat dan tulus, meski terkesan misterius karena pribadinya yang tertutup—tidak banyak bicara, tapi sebenarnya dia pemerhati yang baik. Dia sangat penyendiri dan suka membaca buku sejak dia masih kecil, remaja, hingga dewasa. Dia pria yang bisa diandalkan dan memandang kebahagiaan hidup dengan cara sederhana—bukan dengan kesuksesan berada di level atau tingkat kemapanan tertentu seperti yang masyarakat umum persepsikan.

Sudah tiga tahun dia memiliki toko buku yang diberi nama Goodnight. Menurut saya, dia orang yang berhasil menata kehidupannya dari proses masa kecil, remaja, hingga dewasa. Dia mampu berdamai dan menerima masa lalu, sehingga  tidak menyimpan luka yang mendalam. Dia hanya cukup menerima keadaannya dulu. Namun, beruntungnya Eun Soeb menemukan keluarga yang sangat mencintainya dengan tulus. (Silahkan nikmati adegan di setiap scene bagaimana kehangatan dan keseruan keluarga Eun Soeb 😊😊). Tentu saja dia tidak tumbuh seperti keluarga aslinya, dia berbeda karena ketika kecil hingga kini dia menerima banyak cinta dari ibu dan ayah non biologisnya. Poin yang saya pelajari, kita tidak akan menjadi seperti yang orang lain perkirakan dan pikirkan bahwa jika keluarganya berantakan hidup kita akan seperti itu. Kita bisa berubah menjadi pribadi yang jauh lebih baik, penuh kehangatan, perhatian juga memaknai hidup dengan cara sederhana tapi dewasa, walau pernah mengalami kesulitan hidup. Eun Soeb, meskipun tidak bisa mengekspresikan lewat kata-kata dan penghiburan pada temannya Hae won, tapi dia berusaha untuk menghibur tanpa menghakimi, dia benar-benar memosisikan diri gimana caranya biar temannya ini gak terlihat sendu.

Tipikal pemerhati dan pendengar yang baik, dan tidak suka mencampuri urusan orang lain. Aku orang bodoh yang tidak tahu cara menghibur orang. Aku tidak pernah tahu, apa yang harus kukatakan kepadanya saat dia menangis. (episode 1). Bersama Haewon, Eunsoeb mengenal arti kebahagiaan, dia tidak lagi takut untuk menyambut kebahagiaan, meskipun terkadang kebahagiaan datang beriringan dengan kesedihan.

Baca juga: review Chicago Typewriter, kisah penulis yang mengalami block writer

“Hanya ada satu alasan kenapa aku suka musim dingin. Dedaunan yang menutupi jendelaku telah jatuh, sehingga aku bisa melihat jendelamu di seberang jalan. Karena Natal dan Tahun Baru, kamu kembali ke kota ini dan tinggal beberapa hari di sini.” sumber foto: pinterest

Lewat drama ini saya seakan diajak menyelami dan memahami kehidupan mereka. Sebuah drama yang mengajak kamu untuk berpikir mendalam, juga berempati dari kesederhanaan hidup mereka, namun mengalami “luka batin” sejak masih kecil dan terbawa hingga dewasa. Baik luka batin karena di-bully, dikhianati, terluka karena perlakuan orang-orang dilingkungannya, serta memiliki hubungan yang tidak harmonis dengan keluarganya. Selain itu kamu juga akan mengenal berbagai judul buku yang dibaca saat pertemuan anggota klub buku Good Night, terus akan diajak ke tempat penerbit buku, pertemuan pemilik toko buku, jumpa penulis buku, dan mengenal sisi lain toko buku indie.

Drama ini juga terasa lebih relate dengan kehidupan sehari-hari, yang tidak jauh dari budaya masyarakat yang senang membincangkan urusan hidup orang lain. Perhatikan di beberapa scene, info tertentu bisa cepat sekali menyebar, apalagi setting-nya di sebuah kota kecil. Kisah kehidupan yang tidak mudah bagi mereka yang mengalami luka masa kecil yang belum tuntas, kisah cinta yang juga perlu waktu untuk bisa sama-sama saling mengakui perasaan masing-masing. Meskipun alurnya sangat lambat, tapi disinilah yang membuat saya terkesan dengan drama ini. Terkesan dengan ceritanya, pesan moralnya, toko bukunya—ini pas banget buat kamu book lover nonton drama ini bakalan makin jatuh cinta sama dunia buku dan kepenulisan.

Setting pedesaan juga sangat memikat dan membuat saya betah nontonnya, apalagi di masa pandemi covid 19 yang membuat saya belum bisa jalan-jalan bebas rasa cemas. Drama ini terasa jadi obat buat yang kangen jalan-jalan di pedesaan, kota kecil hingga naik gunung. Adem banget nontonnya. Selain itu, saya jatuh cinta dengan instrument-instrument yang ada di drama ini. Drama ini juga memiliki pesan yang sangat mendalam, jika kamu memperhatikannya dengan detail.

Kisah cinta dalam drama ini juga bukan layaknya cinta yang dibangun berdasarkan ketemu langsung suka, tapi melalui proses panjang. Inilah uniknya drama ini, kisah cinta yang dibangun berdasarkan proses panjang itu meskipun mengalami berbagai masalah, pada akhirnya mereka tidak akan bisa melupakan, tetap bisa saling sayang dan saling memaafkan, saling menerima, kemudian bisa melanjutkan hidup dengan jauh lebih baik dari sebelumnya.

“I’m so happy, you are here, Irene.”

Yang menarik dari drama ini:

  • Chemistry pemain utamanya keren banget, sesuai dengan karakter yang digambarkan dalam buku.
  • Walaupun terdapat beberapa hal yang berbeda dari bukunya, tetap saja tidak mengurangi bagusnya drama ini.
  • Di drama ini kita akan mengenal toko buku independen, yaitu Toko Buku Good Night dan Klub Baca Buku, asli ini bagian favorit banget, impian saya banget bisa punya toko buku sambil ngobrolin buku, hehe. Saya juga sangat suka toko buku yang didominasi kayu, kayaknya bakalan bikin mager—malas gerak kalau ada di toko tersebut. -__- Dan klub bacanya lintas usia, betapa asiknya diskusiin buku. Bertukar pikiran dengan segala usia membuat suasananya jadi semakin hangat dan makin memperkaya ilmu. Duh gak bisa move on dari toko buku Goodnight. Saya suka banget semua scene pertemuanklub buku. Selalu senang melihat cara mereka membahas cerita dalam sebuah buku. Seperti buku puisi, cerita legenda, novel, dan sebagainya. Oya, Eunsoeb paling suka legenda “Bulu Mata Perak Serigala.” Dia merasa cerita tersebut  relate sama kehidupan yang dijalaninya saat dia masih kecil.
  • Ada unsur budaya yang dimasukkan dalam buku ini, seperti Chuseok, yaitu perayaan pertengahan musim gugur, pesta makan-makan untuk berterima kasih atas keberhasilan panen, atau dikenal juga dengan ‘Thanksgiving‘ versi Korea. Festival menjelang musim semi seru banget. Suka sama suasana kekeluargaan dan saling tolong menolong. Terus ada lelang buku, seru dan keren.
  • Ada banyak judul buku dan penulis yang disebutkan dalam drama ini. Duh bikin ngiler deh, apalagi kalau pas anggota klub buku lagi pada kumpul di toko buku terus membacakan dan membahas buku. Saya juga suka saat Eunsoeb pergi ke penerbit besar, maupun penerbit indie. Terus ada pertemuan dengan para pemiliki toko buku, hingga diundang ke acara jumpa penulis.
  • Setting pedesaan dan juga kota kecil, akan membuat penontonnya akan mengenal sisi lain dari Korea Selatan. Beberapa drama korea yang saya tonton ber-setting di Seoul. Drama ini sangat sedikit sekali scene di ibukotanya. Lebih banyak pedesaan, membuat mata jadi adem melihat alam pedesaan yang indah.
  • Musim dingin mendominasi pengambilan gambar dalam drama ini sesuai dibukunya, saya senang sekali menikmati musim dingin lewat drama ini. Suka banget lihat kostum para pemainnya yang menggunakan pakaian khas musim dingin yang tebal-tebal. Apalagi Haewon, baju musim dinginnya keren-keren, stylist. Mulai dari coat, cardigan, syal, hingga kupluk. Duh cakep banget!!!! Lihat salju numpuk, pokoknya jadi kangen suasana musim dingin -__-
  • Dan yang pasti ceritanya, dong. Sebagus apa pun pemain, kru film, kalau ceritanya gak bagus, saya gak mau menghabiskan waktu untuk menontonnya. Habis nonton drama ini saya jadi merenungkan banyak hal. Selalu senang deh, kalau habis nonton apa pun jadi banyak merenungkan sesuatu yang menambah pemahaman kehidupan.
  • Dramanya adem, sederhana, tapi maknanya dalam dan relate sama kehidupan. Drama yang menggambarkan proses penerimaan dan pencarian jati diri sangat menyenangkan. Disampaikan dengan halus tanpa menggurui. Menerima itu kadang menyakitkan, berdamai dengan masa lalu juga tidak mudah. Eun soeb beruntung dicintai keluarga yang hangat.

    Suka banget dengan kehangatan keluarga ini 🙂
  • Buat kamu yang suka genre slice of life, drama ini akan menghangatkan hati kamu sambil banyak belajar makna kehidupan serta berempati pada berbagai karakter dalam drama ini. Terlebih kalau kamu ingin mengenal karakter introvert sejati, bisa memahami dari karakter Eunsoeb. Eunsoeb ini masuk karakter introvert sejati, dan saya rasa masih langka menemukan karakter seperti ini dan dapat digambarkan dengan baik dalam sebuah drama.
  • Drama yang romantis dan manis, serta penuh kehangatan. Ditambah cerita yang menarik—dekat dengan kehidupan sehari-hari, pemain yang solid, instrument yang enak didengar, latar cerita di pedesaan saat musim dingin, rasanya ini membuat saya terkesan dengan drama ini. Drama ini benar-benar mengaduk-aduk perasaan saya, bersedih saat karakter dalam drama ini sedang bersedih, bahkan tak luput menitikkan air mata saat ada adegan mengharukan, dan tak lupa bahagia saat karakternya juga berbahagia.
    Hodu House, tempat tinggalnya Haewon, berlatarkan pegunungan, indah sekali
    Toko Buku Good Night, tempat tinggalnya Eunsoeb, dilihat dari Hodu House. Mereka itu tetanggaan sejak kecil, tapi gak deket 😀

    Bahkan baru dari pasar beli daun bawang sama tomat saja, masih terlihat kece 😀

    Kalau suatu hari bisa ke Korea Selatan, tempat yang pengen dikunjungi tentu saja tempat-tempat yang ada di setting drama ini 😀 😀 Suka dengan alam pedesaan di musim dingin, suka pula toko buku Good Night.

Apa yang saya pelajari dari drama ini?

  • Drama ini membuat saya belajar untuk tahu tentang luka batin masa kecil yang bisa dibawa hingga dewasa, dan ini sangat mempengaruhi kehidupan. Setiap orang memiliki cara yang berbeda dalam memaafkan. Ada yang mudah memaafkan, ada pula yang perlu waktu lama untuk bisa memaafkan dan berdamai dengan masa lalu.
  • Saya juga belajar dari kisah Haewon dan Boyoung, persahabatan mereka retak karena masalah kepercayaan. Yang satu merasa dikhianati, yang satunya lagi merasa itu salah paham, karena dia mengkhianati kepercayaan demi untuk membela sahabatnya. Intinya yang satu merasa tidak bersalah, yang satunya merasa terluka karena kepercayaannya dilanggar. Padahal yang namanya salah, sederhana saja tinggal meminta maaf. Karena kalau tidak meminta maaf, bisa jadi secara tidak langsung tanpa bermaksud, ternyata menyebabkan luka batin pada diri Haewon, sehingga perlu waktu bertahun-tahun untuk bisa berbaikan lagi.
  • Kisah masa kecil Eunsoeb juga tak kalah menyedihkan. Beruntungnya dia mendapatkan kasih sayang luar biasa dari ibu dan ayahnya Hwi. Sehingga dalam kesulitan hidup serta sikapnya yang senang menyendiri, dia tetap bisa tumbuh menjadi pribadi yang jauh lebih baik dari orangtua kandungnya. Sosoknya yang hangat dan penolong—meskipun sangat pendiam dan tertutup, membuat dia tetap banyak disayang dan diandalkan oleh orang-orang disekelilingnya, termasuk Haewon. Eunsoeb bersama Haewon, jadi jauh lebih ceria, dia mulai tidak takut untuk berbahagia. Semua hal yang hangat dan manis membuatku gelisah. Aku khawatir momen bahagia yang berharga bisa menghilang dalam sekejap.

Scene yang mengharukan:

  • Waktu Eunsoeb membelikan dan memasang sadel sepeda untuk adiknya Lim Hwi, asli ini sedih banget, bikin terharu sekali -__-
  • Waktu nenek Haewon dipanggil ke sekolah dan Haewon harus meminta maaf. Dia bilang “Mereka mengatakan aku harus dihukum dan mencorat-coret mejaku. Mereka menaruh strobei sisa di sepatuku. Mereka menyembunyikan pakaian olahragaku dan membuangnya. Bahkan hakim dan jaksa tidak bilang aku melakukan kesalahan. Mendiang ayahku juga tidak bilang itu salahku.  Tapi bagaimana bisa? Apa hak mereka menyalahkanku dan menyiksaku?” sedih banget -___-
  • Waktu Eunsoeb memberikan kado ulang tahun untuk ibunya, berupa syal yang bertuliskan untuk ibuku tersayang. Haduh, so sweet banget -__- dan jadi terharu.
  • Saat Haewon mengetahui rahasia Eunsoeb, dia menghibur Eunsoeb dengan cara tidak biasa. Dia sama sekali tidak terganggu dengan masa lalu yang sangat menyakitkan bagi Eunsoeb.
  • Dan saat Eunsoeb akhirnya tahu rahasia masa lalu Haewon, dia berusaha menamani Hae won dan ada di masa-masa sulit tersebut. Meskipun tidak banyak bicara, Eun soeb sungguh sosok yang dewasa, pokoknya terharu banget dengan apa yang dilakukan Eun soeb untuk Hae won. -__-
  • Saya juga scene festival awal musim semi, lelang buku, suasana gotong royong terlihat sekali. Seru menikmati scene ini, apalagi waktu ngadain acara di toko bukunya Eun soeb.

Good Night Bookstore

Eun soeb, pemilik toko buku. Di depan toko buku, ada papan tulis. Tulisan ini: “Menua itu indah, karena kamu makin bijak”

Bagian favorit saya dari drama ini tentu saja tentang Toko Buku Good Night, keren banget nama toko bukunya. Saat Hae won menanyakan kepada Eun soeb, kenapa toko bukunya dinamakan Toko Buku Good Night, Kenapa Eun soeb menamakan “Toko Buku Good Night?” karena menurut dia makan dan tidur dengan baik lebih sulit dari dugaan kita. Itu hal mendasar, tapi orang-orang masih kesulitan. Kunamai tempat ini dengan harapan orang-orang bisa makan dengan baik dan tidur nyenyak. Karena tidur nyenyak adalah hal yang baik. Bangun dengan nyaman, makan dengan lahap, bekerja dengan baik, dan berisitirahat dengan baik. Jika kamu tidur nyenyak pada malam hari, itulah yang kamu sebut hidup yang baik. Jadi, selamat malam, semuanya.”

Rak Buku Keeping

Yang menarik dari toko buku independen ini adalah rak buku Keeping. Setelah membaca, para anggota toko buku ini meletakkannya di rak buku Keeping sebelum mereka pergi, karena itu banyak terdapat pembatas buku di dalamnya. Eun soeb mencoba melakukan itu untuk mencari tahu cara agar orang-orang mau datang kembali berulang kali dengan nyaman. Ternyata, rak buku Keeping adalah sesuatu yang Eun soeb pikirkan dan dikelola dengan sungguh-sungguh. Ini adalah caranya untuk membuat pelanggan membawa pulang bukunya setelah selesai membaca semuanya, karena banyak pembeli yang tidak memiliki kesempatan untuk membaca meski membawa  bukunya pulang ke rumah. Jadi, dengan meletakkan bukunya di rak buku Keeping ini, para pembaca bisa kemari kapan pun setiap punya kesempatan untuk membaca. Saya suka juga bagian ini. Sebagai pembaca buku, bisa menemukan toko buku macam ini pasti bakalan bikin betah dan jadi sering datang.

“Good Night Club”

Saya membayangkan bisa ikutan klub baca buku yang didirikan Eun soeb ini -_- sayang ini hanya di novel, hehe. Sesungguhnya topik pembicaran panjang hidupnya Eun soeb adalah ‘good night.’ Agar kami bisa membicarakan hal yang sama seriusnya. Dia memikirkan terbentuknya klub tersebut dengan harapan untuk berkumpul dengan orang-orang yang sering terjaga di malam hari. Meskipun mereka ‘makhluk malam’ yang tinggal di banyak tempat yang berbeda-beda, tetap saja pasti akan menyenangkan jika bisa berkumpul. Seru sekali membayangkan bagian yang ada di novel ini.

Anggota Klub Good Night: Eun soeb, Hae won, Seungho, Lim Hwi, Lee Jang Woo, Jeong Gilbok, Bibi Sujeong, Kwan Hyunji. Anggota paling muda berusia 9 tahun, yaitu Seungho. Karakter Jang Woo dan Hwi itu sangat seru, mereka rame. Kalau gak ada mereka, bakalan sepiii kayaknya 😀

Karakte favorit saya: Eunsoeb, Haewon, Lim Hwi, Jang Woo, sama bibinya Haewon.

Pesan moral yang saya dapat dari drama ini:

  1. “Masa remaja berdampak pada kenangan masa kini. Tapi dengan cara itu mereka menyelesaikan persoalan hidupnya dengan kedewasaan meski perlu waktu untuk menyembuhkan luka.”
  2. Betapa pun beratnya masa lalu, jika ada satu orang yang bisa menerimamu apa adanya, dengan segala kelebihan dan kekuranganmu, rasa sakit itu pasti akan hilang suatu hari nanti. Walaupun sembuhnya rasa sakit bisa memerlukan waktu: ada yang sebentar, ada juga yang lama hingga bertahun-tahun. “Semua hal yang hangat dan manis selalu membuatku cemas. Dahulu kala hidup seorang anak laki-laki yang disakiti oleh orang-orang disekitarnya. Jadi, dia mulai memperhatikan orang-orang melalui bulu mata perak serigala. Dia ingin menemukan orang-orang yang nyata di dunia yang palsu ini.” Tidak akan ada kenyamanan yang lebih besar atau penghiburan yang lebih besar dari ini, jika seseorang mengatakan kepada saya seperti kata-kata ini, seperti yang dilakukan Haewon kepada Eunsoeb. “Kamu sedingin aku. Bisakah kamu datang kepadaku dan …. peluk aku…. agar aku bisa memelukmu juga?”
  3. Lebih berani dengan perasaan kita sendiri, mengungkapkan perasaan itu bukanlah hal mudah untuk dilakukan, terutama untuk orang yang sangat tertutup atau pemalu, atau introvert sejati seperti Eun soeb. Namun, aspek yang sangat baik untuk diingat bahwa beberapa hal dalam hidup ini dapat tetap tidak diketahui selamanya jika kita tidak bertemu untuk mengucapkannya, seperti ucapan “Terima kasih” dan kata “Maaf” yang tulus. Atau juga sebuah ungkapan hangat seperti “aku menyayangimu, aku menyukaimu, aku mencintaimu.” Pastikan untuk mengambil setiap kesempatan yang ada dihadapan kamu, karena hidup itu tidak bisa diprediksi, dan momen seperti itu bisa jadi lebih berharga dan tak terlupakan. Walaupun dalam hal menyatakan perasaan terhadap lawan jenis, balik lagi ke keputusan hidup masing-masing dari kamu 🙂 Di luar konteks kisah asmara Haewon dan Eusoeb, saya suka cara mereka berdua yang kalau merasa salah, tidak sungkan meminta maaf. Bahkan jika mereka senang atas kebaikan yang dilakukan satu sama lain, tidak lupa mengucapkan terima kasih. 🙂 🙂 Terlihat sederhana bukan? Tapi hal-hal kecil seperti ini menurut saya jauh lebih bermakna dalam aspek kehidupan yang kita jalani di mana pun kita berada.
  4. Temukan arti kebahagiaanmu sendiri, ini pesan yang mendalam yang ingin  disampaikan drama ini. Bagi saya, kebahagiaan sejati selalu dapat ditemukan dari hal-hal kecil, karena perkataan yang tulus dan pelukan hangat jauh lebih berharga dari apa pun yang materialistis, yang dapat dibeli dengan uang. Namun, terkadang hidup memiliki jalan memutar seperti yang terjadi pada Hae won, setelah dia menemukan kebenaran yang menyakitkan tentang masa lalunya, itu seperti pedang bermata dua (untuk lebih memahaminya, silahkan kamu tonton episode 14). Haewon perlahan memulai perjalanan menemukan kembali dirinya sekali lagi, meski kali ini dia butuh waktu untuk menerima luka barunya kemudian berusaha menyembuhkan lukanya dan berdamai dengan masa lalu serta berusaha menerima keadaan. Dia bilang kebahagiaan itu sulit diketahui. Meskipun kamu mengetahuinya, butuh usaha keras untuk menjadikannya milikmu. Dia benar. Kebahagiaan sulit didapatkan jika tidak bersamamu dalam waktu lama. Meskipun bekerja keras untuk sesuatu yang lama, kamu mungkin tidak akan bahagia, tidak ada yang bisa meramalkan kebagiaan kami. Jika kita terus melangkah maju … Jika kita terus berusaha… Jika kita terus menjalani hidup, aku yakin hari itu akan datang. Ya, aku juga percaya. Aku yakin hari itu akan benar-benar datang.
masnya, tolong bantuin dong 😀 😀

Apa yang berbeda dari buku dan drama? Terdapat perbedaan antara buku dengan drama. Misalnya, karakter Lim Hwi—adiknya Eunsoeb itu tidak ada dibukunya. Tapi justru saya suka karakter Lim Hwi yang ada di drama, dia gadis periang yang membuat suasana di drama jadi terasa makin hidup. Eun Sil juga tidak ada. Karakter Oh Yeong Woo juga tidak ada di buku, tapi jadi pemanis di drama, meskipun hanya sedikit scene-nya.

Karakter pemanis, yang membuat drama ini makin manis. Waktu SMA, cuma dia yang mau makan dan duduk bareng Haewon di kantin. Sementara teman-teman yang lain menjauhi Haewon.

Penambahan karakter di drama ini sedikit pun tidak mengganggu saya, justru saya makin menikmatinya. Kemudian profesi Haewon kalau di buku sebagai pelukis, sementara di film dia sebagai guru musik. Jadinya drama ini didominasi musik yang indah, kadang melow, ceria, sedih, hingga bahagia. Sebetulnya lagu-lagunya juga enak dan liriknya bagus, tapi saya lebih menyukai instrumennya yang enak didengar dan melekat dalam benak.

Ending-nya di drama juga berbeda dengan dibukunya. Penasaran ending-nya seperti apa? silahkan tonton sendiri. Tapi secara keseluruhan saya sangat menyukai buku dan dramanya.

Habis nonton dramanya, saya jatuh cinta dengan ost berupa instrumen-intrumen yang di-composed oleh Chung Joong-Han. Sebenarnya ost-nya juga enak-enak dan puitis, tapi entah kenapa saya jauh lebih suka instrumennya yang teridiri dari puluhan judul, selamat mendengarkan.

source: YouTube Chung Joong-Han

Ost When The Weather is Fine

  1. When The Weather is Fine
  2. Watching You
  3. Waltz For The Two
  4. Good Night, Irene
  5. A Pray For You
  6. That Is Not What I Meant
  7. I Am Feeling Good Today
  8. A Thought In My Mind
  9. She Come Back
  10. Shy Confession
  11. A World of Their Own
  12. Sound of Winter
  13. Very Strange Situation
  14. A Morning at My Hometown
  15. Silver Eyebrown
  16. The Lights When Off
  17. A promise For Myself
  18. The Bicycle is Running
  19. A Winter Night
  20. Smiley Your Face
  21. Could You Hold Me
  22. How Are You?
  23. Holding Your Hand
  24. She Was Beautiful
  25. A Sound of Spring
  26. Too Loud
  27. An Eyes That Loves Me Long Time
  28. The Memory of Night
  29. That Is Nothing To Worry About
  30. The Road To You
  31. The Pieces Of Memories
  32. A Day of Goonbam
  33. True Happiness

Baca juga: review Romance is A Bonus Book, suka duka dunia penerbitan buku

Buat book lover, drama ini bakalan membuat kamu makin cinta sama buku 🙂

Quote favorit dalam drama When The Weather is Fine:

  1. “Bangun dari tidur nyenyak untuk membuat secangkir teh panas. Itu akan melelehkan kesedihan dari hari sebelumnya.” (episode 1)
  2. Haruskah mengatakan kepada orang bodoh bahwa dia bodoh? (episode 1)
  3. Seolah-olah mengatakan itu terlalu sulit atau terlalu menyakitkan. Mereka tidak pernah mengatakan itu dan memendam semuanya, sampai mereka mati. (episode 2)
  4. Aku sangat benci dengan kata “kesalahpahaman.” Jika kita melakukan kesalahan, akuilah itu dan meminta maaf. Kurasa itu hanya alasan. Itu menyiratkan bahwa kita tidak melakukan kesalahan. Artinya, “Aku tidak bersalah. Kamu salah paham. Karena kemampuan komunikasimu yang tidak cukup tajam, kamu salah paham dengan tindakanku.” Itu artinya mereka akan terus menyalahkanmu. Itu alasan yang konyol. (episode 2)
  5. Beberapa orang tidak pernah berbagi kekhawatiran mereka seumur hidup. Mereka membangun pondok sendiri di dalam hati mereka dan tidak pernah meninggalkan pondok itu seumur hidup mereka. Bahkan saat kesepian, mereka tidak pernah mengakuinya. Sebenarnya, mereka lebih suka merenungkan kesepian mereka. Mereka lebih menyukainya daripada keluarga mereka sendiri.
  6. Jangan menangis. Menjadi kesepian adalah menjadi manusia. Hidup adalah menahan kesepian. Jangan menunggu panggilan yang tidak pernah datang. Sandpiper berdada hitam di lapangan alang-alang memperhatikanmu. Terkadang, bahkan Dewa pun menangis karena kesepian. Burung-burung duduk di ranting karena mereka kesepian. Kamu duduk di dekat air karena kesepian. Bayangan gunung datang ke desa sekali sehari karena kesepian. Gemuruh lonceng berbunyi karena terlalu sepi. –“Kepada Dafodi” oleh Jeong Ho Seung. (kutipan yang dibacakan dari sebuah buku)
  7. Keluargamu sangat hangat. Keluargaku, dingin seperti lemari pendingin. Aku sangat iri karena ada banyak orang yang mencintaimu.
  8. Menua itu indah karena semakin bijak.
  9. Kita tidak boleh melihat jika sudah dilarang. Jangan lakukan hal yang dilarang. Sesederhana itu. Saat dilarang melakukan sesuatu, kamu hanya ingin melakukannya.
  10. Semua orang sibuk merawat luka mereka dan meninggalkanku. Meninggalkanku sendirian.
  11. Kalau begitu, mereka bisa berhenti menyukai sesuatu. Mereka bisa berhenti memberikan hati mereka. Mereka bisa merelakan kebahagiaan yang mereka dapatkan dari menyukai sesuatu. Karena kebahagiaan dan penderitaan seperti dua sisi koin. Jika tidak bahagia, kamu juga tidak akan menderita.
  12. Kamu juga tidak kehilangan. Kamu bisa menghilang selamanya agar orang itu tidak pernah menemuimu. Kita pergi ke negeri yang jauh untuk mencari burung biru kebahagiaan, tapi burung biru itu ada di rumah selama ini? itu hanya alasan yang kita buat untuk menghibur diri karena sulit mendapatkan kebahagiaan. Aku pribadi merasa kebahagiaan tidak terjangkau.
  13. Tiap hari, matahari terbit dan terbenam. Sama dengan kehidupan. Ada hari-hari yang cerah dan gelap. Beberapa orang selalu terkena sinar matahari. Namun, ada beberapa yang hidup dalam kegelapan sepanjang hidup mereka. Kamu tahu apa yang orang takutkan? Kehilangan matahari yang telah menyinariku selama ini. Cahaya memudar dan tidak bisa melihat matahari yang memesona lagi. Pasti lebih baik jika aku tidak pernah melihatnya. Aku tahu kehangatannya, dan aku mengerutkan dahi karena sinar matahari yang bersinar. Karena itulah aku takut. Meski begitu, Hae Won, aku menyukaimu.—Eunsoeb
  14. “Bocah yang dahulu selalu terluka oleh orang-orang, mulai melihat orang-orang melalui bulu mata perak serigala. Untuk menemukan orang-orang yang jujur di dunia yang penuh dengan orang-orang palsu. Tapi anak itu tidak melihat orang-orang yang jujur di dunia ini. Anak itu kesepian. Dia tidak mempercayai siapa pun.
  15. Saat dia datang ke kota untuk bekerja, mereka juga bergosip tentang hal itu.
  16. Aku membesarkan putriku dengan kasih sayang. Tapi itu tidak berarti begitu uang terlibat. Semua hal di dunia berubah. Semuanya berubah dan pergi. Tidak terkecuali anak-anak kita. Tapi buku itu berbeda. Selagi banyak berisi, buku jarang berubah.
  17. Kepercayaan itu seperti kaca. Setelah rusak, retakannya akan selalu terlihat meskipun kita rekatkan dengan lem.
  18. Dia mungkin berpikir, sebaiknya kamu tidak tahu. Jika kamu tahu, kamu akan sangat menderita. Dia mungkin ingin mengatasinya sendiri, sampai dia tidak sanggup lagi. Dia pasti memilih untuk menderita sendirian sampai sekarang, agar kamu tidak perlu menderita, Hae Won.
  19. Aku sangat iri kepadamu. Karena kamu sehangat ini.
  20. Meskipun meja punya satu retakan, kamu bisa menggunakannya. Sudah sewajarnya sesuatu menjadi usang seiring waktu. Tidak ada hubungan yang sempurna. Apa salahnya sedikit retakan? Apa salahnya saling menyakiti perasaan? Tidak ada yang sempurna. Karena itu kita melakukan hal yang mengharuskan kita minta maaf, menyesalinya, dan memperbaiki keadaan. Begitulah hidup. Aku tahu, aku telah sangat menyakitimu, aku menginginkan kesempatan untuk memperbaiki keadaan. Aku akan menunggu jika kamu belum siap. Entahlah. Mungkin saat lebih lama waktu berlalu, itu akan sedikit lebih mudah bagimu. -Boyoung
  21. Aku yakin, keluarga harus saling berbagi penderitaan. Mari berbagi penderitaan kita.
  22. Ada beberapa hal yang tidak akan pernah diketahui orang, kecuali memberitahu mereka.
  23. Terkadang, orang baru tahu sesuatu setelah diberi tahu.
  24. Tapi aku ingin membangun dan menjalani hidupku, melakukan hal biasa tiap hari. Itu impianku. Bekerja keras dan menjalani hidup bisa membuatku bahagia. Aku tahu itu cocok untukku.

Sumber foto-foto: Viu, JTBS, soompi.com, pinterest, dan tenor.com

Happy watching! 📚 📖😊

With Love, ❤️💙

2 thoughts on “Review Drama When The Weather Is Fine

Leave a Reply to Ai Cancel reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s