[Review Buku] SUTERU GIJUTSU Seni Membuang Barang karya Nagisa Tatsumi

Pegang prinsip yang sangat sederhana ini: simpan barang yang Anda pergunakan dan buang yang tidak dipergunakan. Barang yang bermanfaat adalah barang yang dipergunakan. Menyimpan barang karena dibuang sayang dapat diibaratkan seperti sebuah siksaan. Bebaskan diri dari perasaan “dibuang sayang” dan dengan begitu Anda akan mulai melihat nilai sejati dari barang-barang. (halaman xiii)

Judul                    : SUTERU! GIJUTSU Seni Membuang Barang: Enyahkan Berantakan dan Raih Kebahagiaan
Penulis                 : Nagisa Tatsumi
Penerjemah         : Reni Indardini
Penerbit               : Penerbit Bentang Pustaka
Tahun Terbit       : Cetakan Pertama, Oktober 2020
Jumlah halaman: xIii + 134 hlm; 20,5 cm
ISBN                     : 978-602-291-734-2

Sinopsis:

“Buku yang membuka mata saya lebar-lebar!”—Marie Kondo

“Buku ini merupakan bacaan menarik karena banyak menggambarkan secara gamblang aneka hambatan psikologis yang membuat orang enggan membuang barang.”—The New York Times

Suteru! Gijutsu yang kali pertama terbit di Jepang pada tahun 2000 sontak menjadi sensasi—terjual sebanyak jutaan eksemplar dalam waktu singkat dan mengilhami Marie Kondo belia.

Lewat panduannya untuk menjalani hidup lebih damai dan teratur, Nagisa Tatsumi mengajari kita bahwa melepas barang-barang yang tak diinginkan akan melahirkan kebahagiaan dalam kehidupan sehari-hari. Buku ini menyuguhkan saran dan teknik praktis untuk membantu pembaca melepas barang-barang yang tak diinginkan akan melahirkan kebahagiaan dalam kehidupan sehari-hari. Buku ini menyuguhkan saran dan teknik praktis untuk membantu pembaca melepas barang-barang yang memenjarakan, juga menyampaikan kiat-kiat agar kita tidak banyak menimbun barang. Waktunya untuk hidup tanpa berlebih-lebihan.

Judul asli buku ini adalah Suteru! Gijutsu. Edisi aslinya dalam Bahasa Jepang pertama kali diterbitkan  oleh Takarajimasha Inc. Meskipun buku ini baru terbit dalam bahasa Indonesia pada tahun 2020, dan lebih dulu muncul buku The Life Changing magic of tidying up yang terbit tahun 2016, di mana edisi Bahasa Indonesia-nya sama-sama diterbitkan oleh Penerbit Bentang Pustaka. Namun, buku inilah yang menginspirasi Marie Kondo melahirkan metode KonMari.

“Serba-serbi berbenah adalah topik yang kali pertama menarik perhatian saya semasa SMP. Pemicunya adalah buku berjudul Suteru! Gijutsu karya Nagisa Tatsumi, yang menjelaskan pentingnya membuang barang-barang yang tidak perlu … Saya masih ingat betapa terkejutnya saya saat membaca buku itu di kereta. Saking berkonsentrasinya, saya hampir melewatkan stasiun perhentian saya. Setiba di rumah, saya langsung masuk ke kamar sambil membawa sejumlah kantong sampah dan mengurung diri di dalam selama beberapa jam. Kendati kamar saya kecil, pada saat selesai beres-beres, saya sudah memenuhi delapan kantong sampah … Saya bahkan lupa memiliki sebagian besar barang tersebut. Setelah itu, saya duduk terpaku di lantai selama sejam sambil memandangi gundukan kantong sampah dan membatin, Kenapa pula repot-repot menyimpan semua ini?”—Marie Kondo, dari The Life Changing Magic of Tidying Up.

Seperti halnya saat pertama kali saya baca buku karya Marie Kondo, setelah selesai baca bawaannya langsung mau beres-beres dan menshortir barang milik saya. Maka, tidak berbeda halnya setelah membaca buku Suteru! Gijutsu, bawaannya mau bebenah. Hanya saja, karena barang saya sudah berkurang banyak. Tinggal bagaimana berpisah dengan barang-barang esensial yang mulai memakan tempat, dan sudah tidak digunakan lagi.

Buku ini dibagi dalam tiga bab utama, yaitu:

BAB SATU: sepuluh tindakan yang membantu untuk mengenyahkan barang.

BAB DUA: sepuluh strategi untuk membuang barang.

BAB TIGA: Menyingkirkan barang dengan hati tenang.

Di setiap bab juga dijelaskan tentang berbagai tindakan untuk membuang barang.

10 Tindakan yang mempermudah menggapai seni membuang  barang:

  1. Jangan “Simpan dulu”
  2. Dilarang menyediakan tempat penyimpanan “Sementara”—putuskan sekarang!
  3. Tidak ada yang namanya “Kapan-kapan.”
  4. “Praktis sekali” menurut orang lain—menyebalkan menurut saya.
  5. Tiada yang keramat
  6. Barang yang dipunyai harus digunakan
  7. Metode penyimpanan dan penataan bukan solusi
  8. Mungkin ini bisa dibuang
  9. Jangan takut tidak boleh membuang
  10. Jangan menyasar kesempurnaan

Buku ini hadir untuk membantu kita dalam membuang barang yang sudah tidak digunakan tapi masih disimpan. Yang penulis ingin sarankan adalah menyikapi kegiatan membuang secara positif. Untuk membenahi kehidupan kita yang repot karena kebanyakan barang, kita harus mulai menyingkirkan barang. Alih-alih takut mubazir, mari memanfaatkan keharusan untuk membuang sebagai kesempatan untuk merenungi nilai sejati harta benda Anda.

Pegang prinsip yang sangat sederhana ini: simpan barang yang Anda pergunakan dan buang yang tidak dipergunakan. Barang yang bermanfaat adalah barang yang dipergunakan. Menyimpan barang karena dibuang sayang dapat diibaratkan seperti sebuah siksaan. Bebaskan diri dari perasaan “dibuang sayang” dan dengan begitu Anda akan mulai melihat nilai sejati dari barang-barang. (halaman xiii)

Akan tetapi, sekadar memiliki barang belum tentu bagus. Kita harus mempertimbangkan apakah barang tersebut perlu, apakah barang tersebut dipergunakan. Jika tidak perlu, barang tersebut harus kita singkirkan. Inilah esensi dari Seni Membuang. (halaman xv)

Anda tidak perlu mencamkan bahwa merawat barang baik-baik adalah tindakan yang bagus untuk lingkungan. Ambil saja tiap barang satu-satu dan tanyakan kepada diri sendiri: apakah ini perlu? Bisakah ini dibuang? Proses seleksi ini akan berangsur-angsur memangkas kelebihan sampai Anda mencapai jumlah harta benda yang optimum. Pada saat itu, gaya hidup Anda niscaya sudah lebih ramah lingkungan. (halaman xvi)

Saya beropini bahwa cara terbaik untuk menghargai barang adalah dengan menggunakannya. (halaman xvi)

Saya harap pesan dari buku ini sampai kepada orang-orang segenerasi dengan ibu saya, orang-orang yang memegang nilai-nilai dan prinsip sama seperti beliau. Mereka harus mulai membuang barang dan menganggap bahwa bisa membuang barang juga tak kalah terpuji. (halaman xxxi)

Baca juga: review buku The Life Changing Magic of Tidying Up – Seni beres-beres dan metode marapikan karya Marie Kondo

Yang menarik dari buku Suteru! Gijutsu:

  • Penulis memberikan strategi untuk membuang barang, tetapi di akhir bab juga memberikan opsi. Jika kamu tidak tega membuang barang seperti buku misalnya karena sayang, masih ada cara lain yang bisa kamu lakukan (selengkapnya silahkan baca di bab 3). Namun, bukan berarti menyimpan di tempat sementara, cara lain yang ampuh memangkas barang bisa dengan membuang, menjual, atau memberikan.
  • Buku yang tidak tebal, tapi sangat bergizi. Buat kamu yang senang membaca buku inspiratif yang berkaitan dengan seni membuang barang, buku ini pas banget untuk menemani kamu. Karena bisa membantu kamu secara psikologis mempersiapkan diri membuang barang yang sudah tidak digunakan selama ini, tapi kamu terlampau sayang, sehingga pada akhirnya kamu bisa memutuskan untuk membuang atau mungkin memberikan (jika masih bagus).
  • Buat kamu yang mau beberes dan melepas berbagai barang yang sudah menumpuk, membaca buku ini akan memberikan berbagai solusi yang bisa jadi cocok dengan kamu.
  • Menurut saya, buku ini benar-benar tegas, kalau memang tidak dipakai yang simple saja, tinggal dibuang. Memang tidak sesederhana ketika diucapkan, makanya lebih baik silahkan menyelami buku ini dengan membacanya, siapa tahu akan menggugah hati kamu untuk cukup menyimpan barang yang akan digunakan.  Menariknya menurut saya, penulis juga melibatkan proses psikologis tersembunyi dibalik kegiatan “membuang.” Jadi, kegiatan membuang bukan suatu yang menyulitkan, melainkan membebaskan saya dari barang-barang yang tidak perlu saya simpan jika tidak akan digunakan.
  • Penulis juga memberikan berbagai contoh kasus terkait kegiatan membuang barang, serta solusi yang diberikan, hingga mengajak pembaca untuk “berpikirlah begini” sebagai upaya untuk menyingkirkan berbagai perasaan yang muncul saat akan membuang barang yang tidak diperlukan lagi.
  • Penulis mengajari kita untuk melepas barang-barang yang tak diinginkan akan melahirkan kebahagiaan dalam kehidupan sehari-hari. Buku ini menyuguhkan saran dan teknik praktis juga solusi untuk melepas barang-barang yang memenjarakanmu, juga kiat-kiat agar kamu tidak banyak menimbun barang. Waktunya untuk hidup tanpa berlebih-lebihan. 🙂 🙂
  • Saya sangat suka buku ini*****  selesai baca  langsung beres-beres memangkas barang lagi. Bertahap, yang jelas setelah membaca buku The Llife Changing Magic of Tidying Up karya Marie Kondo saya sudah memangkas barang milik saya, lanjut setelah baca bukunya Fumio Sasaki barang saya makin menciut, dan habis baca buku ini, barang-barang saya makin ramping dan merasa terbebas 😀

Pelajaran yang bisa saya ambil dari buku ini:  Sederhananya bagi saya, lebih baik memiliki barang yang benar-benar dibutuhkan dan akan digunakan, ketimbang memiliki banyak barang yang diinginkan tapi digunakan, ujung-ujungnya mubazir. Buku ini memberi kesadaran dalam diri saya bahwa seringkali tidak sadar membeli barang yang sebenarnya tidak penting hanya karena lagi ada diskon, karena lucu dan sebagainya, tapi ya itu tadi tidak dipakai dan jadi numpuk. Kalau sudah seperti ini, bukankah barang yang sudah menumpuk dan tidak dipakai mulai dishortir, entah itu akan dibuang (jika sudah tidak layak pakai), akan di daur ulang, atau bahkan dijual. Seni membuang paling esensial dan paling sulit saya lakukan tentu saja melepaskan buku, karena sebagai pecinta buku, tak luput ratusan buku yang sudah saya beli, baca hingga tersusun dalam barisan koleksi buku.

Baca juga: review buku Goodbye things, hidup minimalis ala orang Jepang karya Fumio Sasaki

Survei kami menunjukkan bahwa orang-orang merasa paling berat berpisah dengan buku, majalah dan pakaian. Masalah tersebut disebabkan oleh mentalitas “kapan-kapan”, yang secara umum berlaku pada barang-barang yang masih bisa digunakan alih-alih barang seperti makanan busuk atau TV rusak. (halaman 19)

Tentang membuang buku yang dibahas dalam buku ini, saya lebih suka dengan kata melepas buku ketimbang membuang buku -__-, karena khusus buku saya tidak akan pernah tega membuangnya apalagi buku ori, lebih baik disumbangkan ke perpustakaan daerah.  Setelah mengenal buku ini, saya berhasil untuk meminimalisir jumlah buku. Saya tetap mengoleksi buku yang menurut saya bagus, tapi selebihnya saya mulai rela melepaskan berbagai koleksi buku. Kalau barang-barang lain, saya sudah mulai nyicil sejak baca buku karya Marie Kondo. Selepas baca buku ini, rasanya saya terbebas dari rasa bersalah karena sempat menyimpan beberapa barang yang walaupun kondisinya bagus tapi sudah tidak saya pakai.

Ternyata, ada perasaan plong dan lega ketika saya memiliki cukup barang-barang yang saya akan gunakan saja. Semoga dengan melepaskan berbagai barang yang melekatkan ada kenangan, itu justru akan membebaskan. Sedikit atau banyaknya barang semua balik ke kamu maunya seperti apa, apapun yang disarankan oleh penulis lewat buku ini, tentu saja kembali ke diri kamu masing-masing lebih nyaman yang mana. Tinggal sesuaikan saja sama kebutuhan kamu dalam mengolah atau meminimalisir barang yang kamu punya. Kalau saya ternyata lebih senang membuang barang yang sudah tidak digunakan, dan melepaskan barang yang masih bagus tapi layak pakai.

Baca juga: menikmati musim dingin dan road trip ke Hokkaido juga traveling ke Jepang di awal tahun 2020

Lewat buku ini, akhirnya saya berhasil melepas beberapa buku koleksi. Pelan-pelan dulu, karena kalau langsung melepas semua buku koleksi, ngeri khilaf beli lagi kalau pas ada diskon -__- Untuk buku-buku ori yang sudah saya baca dan koleksi selama beberapa tahun ini tidak saya buang, tapi saya sumbangkan.

Apakah kamu masih kesulitan membuang barang? Kini, saya tidak lagi, apalagi pas baca kalimat ini, langsung jleb tapi bener banget dan saya sangat setuju.

Agar Anda tidak menganggap keramat suatu barang, Anda harus mencamkan ini: “Ketika aku mati, ini semua akan menjadi sampah.” (halaman 31)

Berikut ini beberapa kalimat favorit saya dalam buku ini:

  1. Jadi, jangan menyimpan barang sekedar untuk disimpan. Jika Anda menjunjung wacana mottanai, pikirkan apakah sebuah benda PERLU atau TIDAK? (halaman xvii)
  2. Keyakinan saya sekarang masih sama dengan keyakinan saya kali pertama saya menulis buku ini: penting sekali agar kita membuang barang secara tegas tanpa rasa sayang.
  3. Sebagaimana kita tidak boleh makan terlalu banyak, kita seharusnya juga tidak boleh mengumpulkan terlalu banyak barang di sekitar kita. Makanan mungkin lezat dan bergizi, tetapi harus ada batasnya: barang mungkin murah dan berkualitas bagus, dan berguna, tetapi kita tidak boleh menimbun barang terus-menerus. (halaman xxiv)
  4. Apabila Anda bersikukuh untuk tidak menyediakan tempat “penyimpanan” sementara, Anda seringkali akan mendapati bahwa ada barang-barang yang semestinya dibuang. (halaman 12)
  5. Barang yang Anda punyai harus Anda gunakan. Jika tidak digunakan jangan sampai punya. (halaman 36)
  6. Jangan menyasar kesempurnaan program yang cocok untuk Anda mungkin akan membutuhkan lebih banyak waktu, tetapi program itu pulalah yang kemungkinan besar lebih ampuh. (Halaman 62)
  7. Tak usah repot-repot memikirkan apakah suatu barang sudah Anda pergunakan sampai maksimal atau belum. Barangkali betul masih bisa digunakan, tetapi bukan berarti barang tersebut tak boleh dibuang. Terima kenyataan tersebut dan dengan demikian, akan berkurang kekhawatiran Anda. (Halaman 92)
  8. Hal pertama yang harus kita lakukan masing-masing adalah membuang tumpukan barang yang mengepung kita. Ini akan membantu mengubah cara hidup kita. Kemudian, barangkali akan berubah pula cara beroperasi aneka usaha lain-lain di negara kita. (Halaman 129)

Baca juga: review buku KonMari mengubah hidupku dan buku bajakan rugikan diri sendiri serta banyak pihak

Buku ini saya beli di toko buku online mizanstore.com

Happy reading! 📚 📖😊

With Love, ❤️💙

6 thoughts on “[Review Buku] SUTERU GIJUTSU Seni Membuang Barang karya Nagisa Tatsumi

    1. Iyaaa ada Mbak Phebie, terjemahanya juga nyaman dibacanya 😍😍😍
      Masih fresh, ayo ayo baca. Gak tau kenapa pas lagi baca buku ini, keinget Mbak Phebie 😅
      Sama-sama, Mbak Phebie 😊
      Happy reading 📚 📖

      Like

    1. Sama-sama, Ibu Prih 😊

      Wow, mantaap kita sedang senada bu.
      Tulisannya bagus, keren bu menulis di Kompasiana juga 👍👍😍😍 Terima kasih sharing tulisannya 🙏

      Salam hangat Ibu Prih 😊

      Like

Leave a Reply to Ai Cancel reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s