[Review Buku] Siapa yang Datang ke Pemakamanku Saat Aku Mati Nanti? karya Kim Sang-hyun

“Terima kasih telah tumbuh tanpa banyak mengeluh” (halaman 56)

Judul                    : Siapa yang Datang ke Pemakamanku Saat Aku Mati Nanti?
Penulis                 : Kim Sang-hyun
Penerjemah         : Dewi Ayu Ambar Rani
Penerbit               : Penerbit Haru
Tahun Terbit       : Cetakan Pertama, Oktober 2020
Jumlah halaman: 168 hlm; 19 cm
ISBN                     : 978-623-7351-54-2

Sinopsis:

Siapa yang datang ke pemakamanku saat aku mati nanti?

Satu pertanyaan sederhana itu membuat Kim Sang-hyun banyak berpikir tentang hidup dan segala persoalannya. Buku ini adalah catatan kecil sang penulis yang berusaha untuk hidup sedikit lebih baik, sedikit lebih bahagia, sedikit lebih sejahtera. Ditulis dengan gaya bahasa yang tenang dan jujur. Kim Sang-hyun mencoba menyampaikan kehangatan, memberikan penghiburan, dan menumbuhkan kekuatan bagi pembaca untuk menjalani hidup, meraih mimpi, juga mengatasi kekecewaan dan berbagai perkara hidup sehari-hari.

Perenungan yang jarang kita lakukan ketika hidup adalah  tentang kematian.  Kadang kita perlu merenungi akhir perjalanan untuk menemukan mana yang penting, mana yang bermakna dalam perjalanan kita. Membaca “Siapa yang Datang ke Pemakamanku Saat Aku Mati Nanti?” memantik banyak pertanyaan tentang kehidupan yang sedang dijalani hari ini, penuh kebijaksanaan sederhana tentang hidup sepenuhnya. Sebuah karya yang menurut saya mudah dicerna tapi sarat makna. Ini salah satu buku yang layak kamu baca. dr. Jiemi Ardian, Sp.Kj, psikiater

Buku ini merupakan buku kategori self improvement yang diterbitkan oleh Penerbit Haru. Judul aslinya If I Die Who Will Comes To My Funeral, yang terbit di Korea pada tahun 2019.

Sudah beberapa tahun lalu, sejak nonton drama Chicago Typewriter di tahun 2017, saya sangat penasaran dengan karya-karya penulis asal Korea Selatan. Dan ketika di akhir bulan September selesai nonton When The Weather is Fine, lagi-lagi saya semakin penasaran. Maka saya mulai cari-cari referensi, akhirnya saya menemukan Penerbit Haru yang menebitkan karya-karya Asia, salah satunya menerjemahkan buku-buku dari penulis Korea Selatan. Pertama kali terpikat pada sebuah judul  buku I’ll Go To You When The Wetaher is Nice, setelah nonton dramanya. Ternyata tidak berhenti sampai disitu, saya jadi makin tertarik baca buku-buku lainnya. Kalau judul-judul buku yang saya nonton di tiga drama, belum ada yang diterjemahkan oleh Penerbit Haru. Tidak apa-apa, saya mencoba membaca buku lainnya dulu yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Ketika promo buku ini, hati saya langsung tergelitik untuk ikuta Pre Order. Tak hanya satu buku ini, melainkan buku-buku karya penulis Korea Selatan lainnya (nanti kalau sudah selesai saya baca, Insha Allah akan saya ulas). 

Baca juga review :Tentang Tubuhmu #serisayangidirimu

Yang menarik dari buku ini:

  • Ibarat kamu  sedang kepanasan, gerah banget, kemudian hadirlah udara sejuk. Bukankah itu sangat menyenangkan? Meskipun judulnya terlihat ‘dark’ atau gelap, tetapi saat membaca demi lembar, ternyata buku ini penuh kehangatan.
  • Ada banyak kata penyemangat yang menghangatkan hati pembacanya “Semua fakta dan kebohongan yang ada disekelilingmu itu tidaklah penting, karena pada dasarnya, manusia memang hanya bisa melihat apa yang ingin mereka lihat. Jadi, kuharap kamu tidak menyerah pada pandangan miring orang lain. Jika kamu tidak bisa menunjukkan sosok terbaik dirimu kepada semua orang, jangan jadikan itu beban pikiran. Sosok dirimu saat ini, tidak dibuat berdasarkan pandangan, penilaian, atau pun kecurigaan orang lain. Kamu dibentuk dari sakit dan air mata yang mengalir karena usaha kerasmu untuk tetap bertahan. Tidak penting bagaimana orang lain berpikir tentangmu. Aku ingin menyampaikan, hiduplah sebagai dirimu.” (halaman 44). Kalimat yang disampaikan penulisnya ini sangat terasa personal, dan menyentuh sisi psikologis.  Saya benar-benar kehilangan kata-kata pas  baca bagian ini, kayak semacam ternyata ada loh orang yang bisa memahami tanpa menghakimi, dan buku ini mengajak pembacanya untuk bisa lebih mengenal dan menyukai diri sendiri. Tanpa menghakimi, tanpa menggurui. Nice book 🙂
  • Buku ini tidak tebal, tapi setiap lembarnya membuat saya enggan beranjak karena tidak ingin membaca cepat-cepat. Ingin berpikir sekaligus merenungi dan mencoba menelaah apa yang disampaikan penulisnya. Buku yang penuh kehangatan untuk menemani perjalanan  memulihkan batin.
  • Meskipun ini buku terjemahan, tapi sangat nyaman dibacanya. Terima kasih kepada penerjemah buku ini 🙂
  • Saya suka banget di bagian hujan musim semi, saat penulis menerima pesan dari ibunya “TERIMA KASIH TELAH TUMBUH TANPA BANYAK MENGELUH. Aku bahkan tidak perlu mengkhawatirkan kesungguhanmu. Hujan musim semi akan segera tiba. Makanlah dengan teratur.” (halaman 56)  Kalimat ini menurut  yang sangat mengharukan, menyentuh ke dalam relung hatiku yang terdalam.  Kalau kamu sedang dalam kesulitan, dan membaca pesan yang sangat indah ini, akan terasa sangat berarti sekali. Pesan yang hangat dan sangat sederhana, tetapi memiliki makna yang sangat dalam sekali -_-
  • Buku ini akan menenangkan, terutama untuk kamu yang sedang belajar kuat menjalani hidup 🙂 Kamu akan diajak untuk merenungkan pertanyaan sederhana soal kematian. 
  • Buku yang sangat bergizi dan menghangatkan hati, serta akan membuat kamu semakin kuat menata hati dan meyakinkan diri untuk terus belajar menerima dan menyukai hingga mencintai diri sendiri 🙂
  • saya suka dengan bonus yang saya peroleh saat pre order kali ini, karena ada TANTANGAN BERBUAT BAIK  🙂 🙂 benar-benar kreatif, dan tentu saja ini akan sangat berguna untuk saya sebagai reminder untuk terus belajar menjadi orang baik.

Apa pun itu, jika pada akhirnya semua akan menjadi kenangan, aku ingin meninggalkan kenangan yang indah. Saat ini pun suatu saat akan jadi kenangan, dan aku percaya kenangan itu akan mengagumkan. (halaman 37)

Edisi tanda tangan penulis. Setahu saat, saat PO itu hanyaa untuk sekitar 200 orang pertama yang membeli bisa mendapat edisi ttd penulis

Tentang Penulis: Kim Sang-hyun sudah menerbitkan lima buah buku, dan buku ini adalah buku pertama yang diterbitkan dalam bahasa Indonesia. Ia juga mengelola sebuah kedai kopi bernama Gongmyeong Café dan sebuah penerbit independen bernama Feelm.

Baca juga: [Review Buku] Terapi Berpikir Positif Karya Dr. Ibrahim Elfiky

Berikut ini beberapa kalimat favorit saya:

  1. Kadang aku merasa tidak nyaman dan tidak bahagia dengan keberadaan orang lain, padahal biasanya aku tidak bisa hidup tanpa orang lain. Aku jadi berpikir jangan-jangan meski kita saling membutuhkan, kita juga adalah beban bagi satu sama lain. (halaman 20)
  2. Aku ingin kamu bisa terus bertemu hal baru, menemukan warna hidupmu sendiri tanpa membandingkan diri dengan orang lain. Aku harap, kamu tidak menyesal membuka hati untuk orang-orang baru.” (halaman 23)
  3. Namun, kebaikan adalah kebaikan dan gampangan adalah perkara yang berbeda. Yang jadi masalah bukan aku yang terlihat gampangan karena baik, tetapi orang yang menggampangkan kebaikan. Perbedaannya memang tipis. Akan tetapi, memisahkan dua perkara itu membuat pikiran dan hatiku lebih tenang. (halaman 25-26)
  4. Pada hari-hari yang sulit, aku menganggap diriku sebagai air yang mengalir. Saat air mengalir dari gunung ke lautan, kita akan bertemu dengan ikan, juga batu besar, lalu bergabung dengan aliran air lainnya. Itu sebuah proses harus kita lalui. (halaman 29)
  5. Aku ingin hidup tanpa menyesali pilihanku yang salah. Aku percaya ada alasan untuk itu. sesederhana itu. Karena memang tidak semuanya bisa berjalan sesuai rencana. Semuanya terjadi begitu saja. Sampai kapan pun, kehidupan ini tidak akan pernah sejalan dengan apa yang kita pikirkan, juga tidak sesuai dengn rencana yang kita persiapkan. (halaman 32)
  6.  Masing-masing orang punya peran dan batasan yang jelas mana yang bisa dilakukan dan mana yang tidak bisa. Karena itu, aku ingin selalu mengakui dan menghormati sepenuhnya ruang lingkup dan peran pihak lain; menyadari bahwa aku tidak hidup sendirian; menyadari apa yang bisa aku lakukan untuk menjaga nilai sosial—tidak hanya dalam kebersamaan, tetapi juga dalam kesadaran bahwa orang lain adalah orang lain; berusaha mengenali dan  memahami perbedaan; menghargai keberagaman orang-orang yang berbeda denganku. Dengan demikian, saat kematian tiba, aku bisa merasakan kehangatan hati karena semasa hidup aku telah berusaha keras menghormati kebersamaan itu. (halaman 40)
  7. Aku harus selalu ingat, bahwa apa yang kupikirkan bisa saja salah. Aku tidak boleh membeda-bedakan orang yang satu dengan orang yang lainnya dalam hubunganku dengan mereka. aku harus memiliki keberanian untuk tetap membiarkan telinga dan pikiranku terbuka setiap saat. Aku juga harus merekomendasikan sesuatu  yang baik terlebih dahulu. Dengan demikian, saat seseorang mengingatku, orang itu bisa merasakan kehangatan hatiku dan tahu bahwa aku ini orang yang baik. (halaman 40)
  8. Aku lelah menjawab semua pertanyaan yang jawabannya adalah apa yang orang lain ingin dengar. Bahkan lebih menyenangkan untuk tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. (halaman 46)
  9. Aku tidak ingin melukai orang-orang yang selalu mendukungku. Aku ingin jadi lebih kuat, agar bisa membantu mereka bertahan hidup. Aku juga tidak akan meragukan diriku sendiri sampai akhir hidupku. Aku ingin percaya pada apa yang kulakukan dan yang akan kulakukan. Aku ingin terus yakin bahwa pada akhirnya yang akan selalu berpihak padaku adalah diriku sendiri. (halaman 50)
  10. Aku ingin hidup sebaik-baiknya dengan hati penuh kehangatan. (halaman 87)
  11. Di mana pun kamu berada, keyakinan, pikiran, dan gagasanmu bisa saja berbeda dengan orang lain. Akan tetapi, jangan pernah mencoba menanamkan atau memaksakan pendapatmu itu kepada orang lain. Intinya, milikilah pikiran terbuka, luas, dan dalam untuk menerima perbedaan. (halaman 97)
  12. Semoga kamu bisa membawa kebahagiaan ke dalam hidupmu menggunakan warnamu sendiri. (halaman 101)
  13. Hiduplah dengan seni, karena semua seniman berjuang. (halaman 107)
  14. Aku sudah memutuskan untuk hanya memperhatikan orang yang masih berada di sisiku meski aku melakukan kesalahan, dan mengabaikan mereka yang meninggalkanku. Aku juga tidak akan melupakan teman-temanku yang berharga, yang menerangiku saat berada pada masa-masa paling sulit. Aku akan berusaha menyinari mereka dengan cahaya yang lebih terang dan memperlakukan mereka dengan lebih baik lagi. Jika mereka berjalan melalui kegelapan yang dingin, aku akan menjadi cahaya yang paling terang dalam kegelapan dan akan memberikan semua kegangatan yang kumiliki agar mereka tidak kedinginan. (halaman 118)
  15. Jangan pernah berusaha untuk mengubah seseorang dan jangan kecewa saat seseorang tidak berubah. (halaman 146)
  16. Aku ingin jadi seseorang yang bisa mengoleskan salep ke luka memar dalam hati. Aku tidak akan meremehkan perasaan seseorang. Aku ingin selamanya diingat sebagai orang baik yang selalu bisa diandalkan. Semoga ada semakin banyak hal untuk dirayakan. (halaman 157)

Baca juga: buku bajakan rugikan diri sendiri serta banyak pihak

Happy reading! 📚 📖😊

With Love, ❤️💙

3 thoughts on “[Review Buku] Siapa yang Datang ke Pemakamanku Saat Aku Mati Nanti? karya Kim Sang-hyun

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s