[Review Buku] I Want To Die But I Want To Eat Tteokpokki karya Baek Se Hee

“Aku harus belajar dan berusaha untuk menerima diriku apa adanya.” (halaman 201)

Judul                    : I Want To Die But I Want To Eat Tteokpokki
Penulis                 : Baek Se Hee
Penerjemah         : Hyacinta Louisa
Penerbit               : Penerbit Haru
Tahun Terbit       : Cetakan Kesebelas, September 2020
Jumlah halaman: 236 hlm; 19 cm
ISBN                     : 978-623-7351-03-0

Sinopsis:

Aku: Bagaimana caranya agar bisa mengubah pikiran bahwa saya ini standar dan biasa saja?

Psikiater: Memangnya hal itu merupakan masalah yang harus diperbaiki?

Aku: Iya, karena saya ingin mencintai diri saya sendiri.

I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki adalah esai yang berisi tentang pertanyaan, penilaian, saran, nasihat, dan evaluasi diri yang bertujuan agar pembaca bisa menerima dan mencintai dirinya sendiri.

Buku self improvement ini mendapatkan sambutan baik karena pembaca merasakan hal yang sama dengan kisah Baek Se Hee sehingga buku ini mendapatkan predikat bestseller di Korea Selatan.

Buku ini ditulis oleh penulis Korea Selatan pada tahun 2018, dan diterjemahkan oleh penerbit Haru pada bulan Agustus 2019. Saya membaca cetakan kesebalasnya, wow mantap sudah cetakan kesebelas. Baek Se Hee lahir di Seoul, tahun 1990. Setelah lulus kuliah dari jurusan Sastra, ia bekerja selama lima tahun di sebuah penerbit. Selama lebih dari sepuluh tahun, ia mengidap distimia (depresi berkepanjangan) dan gangguan kecemasan. Setelah mencoba mengunjungi berbagai psikolog dan psikiater, akhirnya pada tahun 2017 menemukan rumah sakit yang cocok dan kini sedang menjalani pengobatan, baik dengan menggunakan obat maupun dengan metode konsultasi. Makanan yang paling ia sukai untuk dinikmati saat membaca buku dan menulis cerita adalah Tteokpokki.

Baca juga: review drama Korea START-UP

Yang menarik dari buku ini:

  • Kalau kamu butuh buku tentang self accaptance, buku ini rekomen dibaca.
  • Judulnya menarik sekali, sebelum memutuskan untuk membeli dan membaca buku ini, saya benar-benar sangat tertarik dengan judul bukunya yang unik, meski terkesan ‘suram’ tapi isinya memang bagus, saya jadi belajar memahami keadaan yang dialami penulis, sambil menyelami diri terkait beberapa hal yang secara tidak langsung juga relate dengan kehidupan pembacanya.
  • Dalam buku ini terdapat dialog antara penulis sebagai ‘Aku (A)’ dan ‘Psikiater (P)’ dalam dialog-dialog yang mereka sampaikan, saya seakan berada di dalam sebuah ruangan dan sedang melakukan konsultasi dengan psikiater.
  • Buku ini mengajak pembaca untuk menyelami diri, mungkin ada beberapa hal yang dialami penulis juga pernah dialami oleh pembaca, sehingga buku ini juga sangat menyenangkan untuk dibaca, tapi usakan bacanya saat kondisi kamu sedang dalam mood baik, agar nyaman 🙂
  • Membaca buku-buku jenis seperti ini, membuat saya semakin belajar dan semakin menyadari bahwa belajar menerima dan mencintai diri bukan perkara mudah, dibutuhkan usaha ekstra.
  • Kamu akan menemukan beberapa istilah psikiatri di sini melalui percakapan antara psikiater dan pasien.
  • Buku terjemahan ini juga nyaman dibaca, terima kasih kepada penerjemahnya 🙂

Baca juga: review buku Siapa yang akan datang ke pemakamanku saat aku mati nanti? 

Seorang rekan saya pernah berkata, karya sastra ditujukan untuk seseorang dalam memahami pola pikir orang lain. Dengan membaca karya sastra, kita menjadi lebih mudah memahami sudut pandang orang yang berbeda dengan kita. Bagi yang merasakan hal yang sama atau terhubung dengan karya itu, mereka dapat memperluas dan memperkaya pendangan baru tentang kehidupan. (halaman 7)

I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki adalah esai yang unik. Di dalamnya berisi kisah perjalanan seseorang yang sedang mengalami distimia. Esai ini tidak ditujukan untuk kita pahami secara teori, melainkan ditulis apa adanya berdasarkan pengalaman penulis tentang bagaimana hidup dipengaruhi oleh distimia.

Baca juga: review buku I See You Like A Flower

Berikut ini beberapa kalimat favorit saya dalam buku ini:

  1. Mulai sekarang, Anda harus mencoba mencari tantangan atau terobosan diri. Mulailah dari hal yang kecil. (halaman 26)
  2. ‘Oh ternyata orang itu sama-sama hidup sambil bernapas sepertiku, sama-sama orang biasa sepertiku.’ Jika Anda memikirkan hal itu, tentu akan menjadi penghiburan yang hangat bagi diri Anda. (halaman 30)
  3. Obsesi itu tidak muncul gara-gara penampilan Anda. Obsesi terhadap penampilan itu muncul karena Anda memiliki gambaran yang ideal tentang sosok diri Anda. (halaman 36)
  4. Jangan mengatakan ‘Aku baik-baik saja’, tapi katakan mungkin saja aku terlihat lebih nyaman secara fisik jika dibandingkan denganmu, tapi aku merasa kesulitan. (halaman 48)
  5. Tapi, di saat Anda menerima diri Anda sendiri apa adanya, Anda akan merasa lebih bebas dan nyaman. (halaman 54)
  6. Aku tidak mengerti kenapa seseorang diperlakukan tidak baik hanya karena dia tidak sesuai dengan standar yang berlaku di masyarakat. Aku juga tidak paham mengapa seorang pribadi harus menyesuaikan dirinya dengan standar yang ditentukan masyarakat. Padahal menurutku pihak pihak yang salah adalah orang-orang yang memandang rendah orang lain yang tidak sesuai dengan standar yang berlaku. (halaman 154)
  7. Aku tidak menyukai diriku yang tidak percaya diri saat bertemu dengan orang yang kuanggap lebih hebat dariku, tapi merasa percaya diri saat bertemu dengan orang yang kuanggap tidak lebih hebat dariku. (halaman 154)
  8. Meskipun kita merasa seperti ingin mati, kadang hati kita berbisik dan kita pun merasa ingin makan tteokpokki. (halaman 192)
  9. Aku pun belajar bahwa lubang kehidupan seharusnya diisi dengan hal-hal yang kita sadari sepanjang perjalanan kehidupan kita ini. (halaman 198)
  10. Kebanyakan orang tidak bisa menjalani kehidupan di mana perkataan dan tindakan mereka selaras. Meskipun  sudah diasupi dan mendapat pengaruh ilmu pengetahuan, jika kita tidak bisa mengawasi dan mengendalikan sikap, maka akan muncul sifat asli dari orang tersebut. Oleh karena itu, aku sangat menghormati orang-orang yang bisa menyadari sikap mereka yang tidak baik dan bisa membuktikan perubahan diri mereka melalui tindakan yang nyata. (halaman 199)
  11. Satu-satunya jalan yang bisa kulalui adalah mulai menggerakkan  diriku sendiri, sedikit demi sedikit dengan perlahan dari sekarang. (halaman 201)
  12. Aku harus belajar dan berusaha untuk menerima diriku apa adanya. (halaman 201)

Setelah buku pertama, ada juga lanjutan buku keduanya yang berjudul I Want to Die But I Want to Eat Tteokpokki 2.

Buku ini bisa dibeli online di Gramedia.com

Baca juga: buku bajakan rugikan diri sendiri serta banyak pihak

Happy reading! 📚 📖😊

With Love, ❤️💙

 

 

 

10 thoughts on “[Review Buku] I Want To Die But I Want To Eat Tteokpokki karya Baek Se Hee

  1. latifadelina

    Akhir2 ini sering review buku dari negeri ginseng ya kak aii hehe…
    Udah baca “Santai Aja Namanya Juga Hidup!” sama “The Things You Can See Only When You Slow Down” belum kak? Itu juga lumayan bagus 😁

    Liked by 1 person

    1. Iya, Kak. Lagi penasaran dan tertarik dengan literature negeri ginseng. 😁

      Belum baca Kak, saya lagi ngincer buku “The Things You Can See Only When You Slow Down” pengen baca dan kepincut sama covernya yang kece 😍
      Buku “Santai Aja Namanya Juga Hidup” belum baca, baru tau, Terima kasih infonya Kak 🙏🤩

      Liked by 1 person

      1. latifadelina

        Iyaa kak saya sempet baca beberapa buku dari sana juga, emang bagus2 bgt yaa…

        Covernya simpel tapi eyecatching ya kak hehehe. Saya juga blm selesai, baru baca 3/4 nya kak. Kalau santai aja namanya juga hidup itu lebih banyak gambar ilustrasinya sih kak, tp isinya cukup “ngena” juga…

        Sama2 kak aiii. Makasih juga udah review buku ini, saya jadi penasaran pengen baca juga 🙈

        Liked by 1 person

      2. Iya, Kak. Kubaru tau, ternyata gak hanya drakornya, literature-nya bagus-bagus juga 🤩 Beruntung sekarang banyak penerbit besar yang sudah menerjemahkan buku-buku dari negeri ginseng.

        Mantaaap nih, mesti masuk wishlist. 🤩🤩🤩

        Sama-sama Kak.
        Kalau suka buka bertemakan mental health, buku ini rekomen. Ada juga judul lain Nunchi “Seni Membaca Pikiran dan Perasaan Orang Lain” saya lagi baca ini, dan sepertinya menarik (silakan cek di Google Play Book)

        Like

      3. latifadelina

        Iya kak, dulu cuma bisa mupeng tiap liat tokoh di drama lagi baca buku, penasaran gitu buku ala korea gimana sih isinya 😂

        Wah makasih rekomendasinya kak. Kebetulan saya sekarang juga lagi suka sama genre self healing, self improvement gitu-gitu 😅

        Liked by 1 person

      4. Iyaaa, Kak 😂😂
        Sekarang rasa penasaran itu mulai terjawab dengan bermunculannya buku terjemahan. Ternyata memang bagus. 😍

        Sama-sama, Kak.
        Mantap Kak, saya perhatikan cukup banyak buku menarik di kategori tersebut yang sudah diterjemahkan. 🥰🥰 Setelah baca satu dua buku, jadi ketagihan 😅

        Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s