[Review Buku] Bising Karya Kurniawan Gunadi

Kita pasti bisa melewatinya meski proses yang akan kita tempuh nanti tidaklah mudah. Paling tidak, kita percaya kepada diri sendiri. Tunjukkan bahwa kita layak memenangkan semua kebisingan ini. tunjukkan bahwa apa yang mereka katakan tentang kita, tidaklah berarti apa-apa. (halaman 143-144)

Judul Buku            : Bising
Penulis                   : Kurniawan Gunadi
Tahun Terbit         : Cetakan 2, November 2020
Penerbit                 : PT. Bentang Pustaka
Jumlah Halaman : 156 halaman
ISBN                       : 978-602-291-760-1

Sinopsis:

Aku hanya ingin mendengarkan diriku sendiri. Memilah mana kata hati dan mana kata orang. Memberi jeda untuk melihat masalah dengan lebih jelas. Membangun ruang yang lebih besar agar bisa menampung luapan perasaanku yang terbendung selama ini, perasaan-perasaan yang tak kukenali, tapi memengaruhi sebagian besar hidupku. Meluaskan cara pandangku terhadap dunia yang terasa begitu sempit selama ini.

Aku hanya ingin mengambil jeda untuk meredakan kebisingan. Duduk, diam, dan mendengarkan. Meskipun, kadang tak yakin apakah aku bisa melewatinya atau tidak. Yang aku tahu, aku tak ingin berlama-lama hidup sebising ini.

Setelah buku Arah Musim, Bising merupakan buku kedua yang terbit melalui penerbit mayor, Bentang Pustaka.  Sebelumnya, buku Hujan Matahari, Lautan Langit, Menentukan Arah, dan Bertumbuh terbit melalui jalur indie. Jika kamu sudah membaca buku Arah Musim, maka kamu akan menemukan hal berbeda dalam buku Bising yang ditulis oleh Kurniawan Gunadi, atau akrab disapa Mas Gun ini.

Baca juga: review buku The Things You Can See Only When You Slow Down

Yang menarik dari buku Bising:

  • Buku ini berisi kumpulan cerita yang terasa sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari yang terjadi di masyarakat.
  • Kalau kamu perhatikan desain cover-nya, memang sangat mencerminkan isi buku ini. Meskipun buku ini terlihat ‘dark’ atau gelap, tapi ada banyak pelajaran hidup yang bisa kita ambil. Seperti jangan pernah lari dari masalah, berani mengambil keputusan, berani memperjuangkan mimpi-mimpi, dan yang tak kalah penting buku ini juga mengingatkan kita untuk bersyukur dengan kehidupan kita saat ini, karena di luar sana masih banyak orang yang menginginkan kehidupan kita saat ini.
  • Lewat buku Bising, saya diajak menyelami berbagai problematika kehidupan yang melekat dalam masyarakat di sekitar. Kebisingan-kebisingan yang memang sangat berisik, tapi mau bagaimana lagi, memang seperti itu adanya, dan di posisi orang yang mengalami, kebisingan ini memang cukup mengganggu, karena seringkali menyentuh ranah privasi yang seperti sudah dianggap jamak jika bertanya “Kapan lulus kuliah? Kapan kerja? Kapan nikah? Kapan punya anak? Kapan nambah anak?” dan seterusnya. Padahal, jika berpikir tentang kondisi psikologis seseorang, maukah sebelum bertanya kamu memikirkan bagaimana posisi saya jika ditanyakan hal seperti itu. Jadi, walaupun tampak jamak, rasanya pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak perlu ditanyakan.
  • Buku ini tidak menyajikan solusi atas permasalahan yang dialami, melainkan pembaca diajak untuk memahami kondisi kehidupan yang mengalami kebisingan hidup. Dengan membaca buku ini semoga kita bisa belajar untuk berempati, ketika melihat orang lain yang mungkin kehidupannya tidak sama dengan kita, atau mereka yang sedang memperjuangkan hidupnya. Hidup ini tidaklah mudah, setiap orang memiliki permasalahan kehidupannya masing-masing, maka daripada berisik mempertanyakan kehidupan orang yang berbeda dengan kita, kenapa tidak mulai saja untuk misalkan jika ada yang belum lulus kuliah, belum dapat kerjaan, kalau tidak bisa bantu dengan tenaga, paling tidak mendoakan jauh lebih meringankan beban mereka, ketimbang komentar negatif yang akan menambah beban mental mereka. Untuk kamu para pejuang kehidupan yang sedang mengalami kebisingan hidup, keep positive thinking, dan tetap semangat ya 🙂
  • Penulisnya, Mas Gun, lewat buku ini seperti ingin mengajak pembaca untuk melihat sudut pandang orang-orang yang mengalami kebisingan hidup. Buku ini membuka mata saya, bahwa di luar sana banyak orang mengalami hal-hal yang sangat mengganggu lewat kebisingan. Andai semua orang paham bahwa kebisingan itu bisa jadi menambah beban hidup mereka, jika tidak bisa bantu mengulurkan tangan, paling tidak jangan bebani mereka dengan sikap kita yang membuat mereka tidak nyaman, atau bisa jadi bersedih karena ucapan kita yang membebani mereka.
  • Buku ini tidak tebal, tapi tulisan-tulisan di dalamnya sukses menyentuh relung hati saya. Terima kasih untuk karyanya Mas Gun. 

Semoga akan ada banyak orang yang membaca buku ini agar bisa lebih berempati dan mau belajar memahami orang-orang di sekitar kita. 🙂 Semoga buku ini bisa membuka perspektif kamu untuk melihat kehidupan seseorang bukan dari yang tampak dari luarnya saja. 

Aku merasa, kehidupan manusia itu memang tidak pantas untuk kita nilai dari apa yang nampak saja. Harus benar-benar menyelami dan mengenali setiap sebab akibat. (halaman 21)

Baca juga: review buku Selamat Tinggal

Berikut ini beberapa kalimat favorit saya dalam buku bising:

  1. Aku merasa, kehidupan manusia itu memang tidak pantas untuk kita nilai dari apa yang nampak saja. Harus benar-benar menyelami dan mengenali setiap sebab akibat. (halaman 21)
  2. Namun, ketika aku sudah cukup dewasa, mengerti hidup, dan bersinggungan dengan banyak orang, aku tak menyangka bahwa apa yang terjadi di dunia nyata jauh lebih keras dari apa-apa yang terjadi di buku fiksi dan layar kaca. (halaman 26)
  3. Masalah-masalah yang datang, sejatinya hanya kita hadapi sendiri, semua orang yang ada di sekitar kita, tidak harus kita akui, kehadiran mereka setidaknya membuat kita merasa tenang karena punya tempat untuk bercerita. (halaman 42)
  4. “Hidup ini memiliki banyak pilihan yang akan kamu temui di sepanjang perjalanan. Kejarlah yang menurutmu baik. Kejarlah sampai kamu tahu bahwa pilihan itu juga memilihmu. Kalau kemudian kamu mendapati bahwa jawaban atas pilihan itu justru berlawanan dengan keinginanmu, tidak apa-apa kalau kamu ingin bersedih, asal jangan lama-lama.” (halaman 44)
  5. Bahwa tidak apa-apa mengalami kegagalan. Tidak apa-apa kalau kebingungan. Tidak apa-apa kalau masih bingung dengan tujuan. Boleh kamu mau istirahat dulu sejenak. Boleh kalau mau menangis dan marah kepada semua orang yang tak mampu memahami. Asal, jangan dulu menyerah. (halaman 50)
  6. Hidup ini tidak selamanya tentang salah dan benar. Kalau kita berhasil melewati suatu masalah, bukan berarti mereka yang gagal adalah orang-orang yang salah. Bisa jadi, mereka memang sedang dilatih ketahanan dan ditempa untuk menjadi pribadi yang mereka butuh kelak kemudian hari. (halaman 51)
  7. “Bagaimana mungkin kamu merasa kalah padahal kamu tidak berjuang?” (halaman 73)
  8. Mengapa orang lain begitu repot memikirkan hidup yang kujalani? Bahkan mereka pun tak mengalaminya! (halaman 79)
  9. Aku ingin memulai dengan kejujuran: tak ada sesuatu yang kututup-tutupi. Karena ku percaya bahwa penerimaan itu tidak bisa dipaksakan, sekaligus tidak boleh dikhianati oleh kebohongan. (halaman 90)
  10. Kalau pernah terbesit luka karena mereka pernah salah dalam mendidik dan membesarkan kita, pahamilah bahwa pada masanya, itulah ilmu yang mereka miliki. Tentu berbeda dengan kita saat ini yang bisa belajar tentang pengasuhan sambil rebahan. (halaman 97)
  11. Dan aku percaya bahwa muara hidup ini bukanlah segala hal yang tampak megah dalam hidup. Namun, bagaimana aku bisa melewati hidup ini dalam keadaan sabar dan syukur yang tak pernah surut. Dalam ikhtiar dan tawakal yang berkesinambungan. Dalam iman dan amal saleh yang tak pernah terpisahkan. (halaman 108)
  12. Sungguh teman itu bukan seberapa banyak, tapi seberapa dalam. (halaman 115) 
  13. Kita tidak bisa menyenangkan semua orang, dan bukankah kita juga tidak disenangkan oleh semua orang? Kita tidak perlu berjuang keras untuk disukai oleh semua orang karena bukankah kita juga tidak menyukai semua orang? (halaman 125)
  14. Takaran-takaran tentang apa yang terbaik, memang tidak akan pernah ada dalam ukuran kita, melainkan ukuran-Nya. (halaman 129)
  15. Kita pasti bisa melewatinya meski proses yang akan kita tempuh nanti tidaklah mudah. Paling tidak, kita percaya kepada diri sendiri. Tunjukkan bahwa kita layak memenangkan semua kebisingan ini. tunjukkan bahwa apa yang mereka katakan tentang kita, tidaklah berarti apa-apa. (halaman 143-144)
  16. Aku hanya ingin berhenti sejenak dari semua urusan hidup. Memberi jeda yang cukup untuk diriku sendiri. Untuk bisa mendengarkan diri sendiri. Dan, untuk bisa melakukan semua ini, ternyata tidak mudah. (halaman 41)
  17. … “Kita tak akan pernah bisa menghapus masa lalu, sekelam apa pun. Jejak itu melekat. Kita hanyaperlu menerima senagai bagian dari diri kita” (halaman 152)

Baca juga:

Happy reading! 📚 📖😊

With Love, ❤️💙

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s