[Review Buku] Santai Aja, Namanya Juga Hidup Karya Yozuck

Aku pikir, di awal aku memang harus menumpuk kegagalan dulu. Terus suatu saat nanti aku percaya, tumpukan kegagalan itu pasti akan berubah jadi kemampuan aku yang sebenarnya. (halaman 198-199)

Judul                    : Santai Aja, Namanya Juga Hidup!
Penulis                 : Yozuck
Penerjemah         : Presillia Prihastuti
Penerbit               : Transmedia Pustaka
Tahun Terbit       : Cetakan pertama,  2019
Jumlah halaman  : 312hlm; 13 cm x 19 cm
ISBN                     : (13) 978-623-7100-20-1

Sinopsis:

Buku ini mengingatkan kita bahwa gagal dan berbuat salah bukanlah suatu perkara besar, karena pada dasarnya manusia itu hidup. Daripada menghukum diri sendiri, sebaiknya kita justru merangkul diri sendiri.

Kita didorong menjadi baik terhadap diri sendiri dan merefleksikan bagaimana sebaiknya kita memperlakukan kehidupan.

Semua dipaparkan dalam kisah anekdot antarhewan. Kita akan menemukan inspirasi dan semangat dari kisah mereka yang begitu hangat dan ceria.

Saya mendapatkan rekomendasi buku ini dari teman blogger, Kak La. Saya baru tahu, dan ketika Googling, dan lihat cover-nya saja langsung kepincut 😀

Tidak berhenti disitu, ketika membaca lembar demi lembarnya pun, sungguh saya ingin sekali membaca ulang buku ini. 🙂

Yang menarik dari buku Santai Aja, Namanya juga hidup:

  • Seperti judulnya, lewat buku ini penulis seakan ingin mengajak pembacanya untuk bersikap santai saja dalam menjalani kehidupan. Santai tanpa beban, seperti terurai dalam kalimat-kalimat yang disajikan buku  ini.
  • Lebih kerennya lagi, buku ini ditulis sekaligus digambar oleh Yozuck. Biasanya penulis akan berkolaborasi dengan ilustrator sehingga tercipta buku yang disajikan dengan ilustrasi menarik seperti di buku yang berjudul The Things You Can See Only When You Slow Down, 1 CM Between You and Me, dan lain sebagainya. Nah dibuku ini penulis merangkap ilustratornya, mantap.
  • Melalui kisah anekdot antarhewan, pembaca diajak untuk menemukan banyak inspirasi dan pelajaran hidup yang bisa kita dapatkan.
  • Buku ini menceritakan tokoh utamanya pinguin menggemaskan yang sedang berpetualang karena merasa hidpnya sangat flat. Dalam perjalanannya dia ditemani seekor ikan mas yang cukup menghibur setiap kali penguin merasa resah. Dan perjalanan kedua hewan ini banyak bertemu dengan hewan-hewan lainnya, dalam perjalanan tersebut mereka bertemu dengan hal yang terkesan repele, tapi justru membuat penguin ini merenung. 
  • Buku kategori pengembangan diri ini akan menghangatkan hati pembacanya sekaligus akan membuat kita belajar untuk menerima diri sendiri serta belajar mencinta diri sendiri.
  • Suka banget sama cover buku, isi, juga gambar-gambarnya. Buku yang sederhana dan bergizi juga penuh makna 🙂

Baca juga: review buku I Want To Die But I Want To Eat Tteokpokki karya Baek Se Hee

Pesan moral yang disampaikan buku ini bahwa yang namanya hidup itu memang banyak masalah, tapi tidak perlu memperumitnya dengan banyak mengeluh. Jadi mari menikmati dan santai saja, sebab gagal, sedih, takut, senang dan bahagia adalah hal normal yang bisa kita temukan di sepanjang perjalanan kehidupan. Jangan terlalu keras terhadap diri sendiri ketika bertemu kegagalan demi kegagalan, serta melakukan kesalahan, karena melakukan kesalahan dan mengalami kegagalan adalah bagian dari proses kehidupan yang akan kita jalani.   

Jadi, kupikir … ada baiknya kalau kita bisa menerima diri sendiri saat kita melakukan suatu kesalahan karena memang kita nggak pernah sempat latihan sebelumnya. (halaman 193)

Kalau kamu sedang ingin membaca buku tidak berat tapi terdapat banyak pelajaran hidup yang bisa direnungkan, serta menyukai buku yang ada ilustrusinya barangkali buku ini akan pas untuk menemani kamu. 🙂

Terima kasih untuk Kak La, sudah merokemendasikan buku ini. 🙂 🙂

Baca juga: review buku The Things You Can See Only When You Slow Down

Berikut ini kalimat-kalimat favorit saya dalam buku SantaiAja, Namanya Juga Hidup!:

  1. Jalan-jalan itu menyenangkan , lho. Aku jadi bisa melihat pemandangan yang menakjubkan. (halaman 9)
  2. Memangnya kehidupan sebegitu nggak menariknya? Aku sih, yang membuatnya begitua. (halaman 27)
  3. Bukannya justru kita harus menyocokkan diri dengan tempat yang ada, ya? Meskipun itu bukan tempat yang pas juga, kita harus terima apa adanya (halaman 45-46)
  4. Aku nggak ingat apa pun. Kapan tergoresnya, ya? Kadang memang suka gitu, kan? Kita nggak tahu, eh tiba-tiba ada luka muncul begitu saja. (halaman 67)
  5. Bisa jadi ada luka atau ingatan nggak enak di kepalaku ini. mungkin banyak. Ya, dunia sekarang ini kan penuh dengan kata-kata kejam. (halaman 68)
  6. Padahal hidupku sendiri pun belum tentu lebih baik daripada mereka. sudah berani nasihati ini dan itu tentang hidup. (halaman 87)
  7. Mereka juga tahu kok, jawaban yang kamu dapat selama hidupmu belum tentu bisa jadi jawaban untuk kehidupan mereka juga. (halaman 88)
  8. Kita bisa mengalah saat kita nggak bisa mengerti sesuatu, tetapi suatu hubungan akan hancur kalau nggak ditanam dengan kepercayaan. (halaman 94)
  9. Memang benar sih, cari-cari alasan nggak akan buat kita jadi lebih baik. Tapi kita tetap butuh alasan saat jatuh ke dalam situasi yang nggak kita inginkan. Itu supaya kita nggak benci sama diri sendiri. Terus biar nggak cepat menyerah dan tetap berusaha selama masih hidup. (halaman 109)
  10. Tapi aku masih punya kehidupan yang panjang. Memikirkan yang indah-indah saja selama hidup. (halaman 130)
  11. Dicintai sama orang lain nggak boleh dijadikan tujuan hidup. Soalnya itu hanya buat kita layaknya benda yang minta dikasihi sama orang lain. Daripada hidup untuk mendapatkan cinta dari orang lain, aku lebih ingin hidup sesuai apa adanya aja. (halaman 135)
  12. Dibandingkan kemarin, dibandingkan seminggu yang lalu, apa aku sudah jadi lebih baik daripada sebelumnya, ya? (halaman 139)
  13. Jika aku takut gagal sampai-sampai aku nggak mau mencoba yang lain, rasanya aku nggak akan pernah tahu apa itu ‘hal baru’ (halaman 169)
  14. Bicara sih memang gampang. Tapi, kadang apa yang dibicarakan itu bisa tajam sampai menusuk hati. Dan bisa berlebihan juga sampai-sampai yang mendengar nggak bisa menampung semua di telinganya. (halaman 185-186)
  15. Kata-kata sepele yang terlontar begitu aja juga bisa lho, artinya berbeda sama pendengarnya. Aku pikir kita juga harus pintar menimbang-nimbang anggapan ‘pasti nggak apa-apa’ itu datangnya dari siapa. (halaman 187)
  16. Aku pikir, di awal aku memang harus menumpuk kegagalan dulu. Terus suatu saat nanti aku percaya, tumpukan kegagalan itu pasti akan berubah jadi kemampuan aku yang sebenarnya. (halaman 198-199)
  17. Aku nggak ingin berpura-pura jadi jahat. Aku juga nggak mau berbuat nggak baik kepada orang lain. Soalnya aku juga pernah diperlakukan tidak baik oleh orang lain. (halaman 215)
  18. Jadi kepikiran, pelajaran itu ternyata bukan memberitahu soal keberhasilan saja. Tapi, juga harus berisi tentang keberanian-keberanian pada kegagalan yang mungkin bisa terjadi di dunia nyata. (halaman 243)
  19. Nggak perlu pergi jauh-jauh, ada banyak kebahagiaan kecil yang bisa kita cari. Contohnya, menghangatkan tubuh pakai selimut yang empuk. (halaman 270)

Review drama Start-Up dan When The Weather is Fine

Baca juga:

Happy reading! 📚 📖😊

With Love, ❤️💙

12 thoughts on “[Review Buku] Santai Aja, Namanya Juga Hidup Karya Yozuck

  1. Saya juga suka ilustrasinya, menggemaskan 😍 apalagi interaksi penguin dan ikan mas 😆
    Cerita si penguin dan ikan masnya ini ada lanjutannya, Mbak. Kalo tidak salah, tahun lalu bukunya baru rilis di Korea. Judulnya As You Love for the First Time kalau diterjemahkan ke bahasa Inggris. Semoga buku keduanya juga diterbitkan di Indonesia 🤲

    Liked by 1 person

    1. Yes. Tooos dong, Kak Na 😄😄 Gemes banget interaksi penguin dan ikan masnya 😃

      Wah, senang sekali kalau ada lanjutannya. Terima kasih infonya, Kak Na. Semoga buku keduanya juga diterbitkan di Indonesia. Aamiin

      Like

      1. Tooosss 😄

        Kembali kasih, Mbak Ai. Aamiin aamiin 🤲

        Dari penerbit yang sama yang menerbitkan Santai Aja, Namanya juga Hidup, apa sudah baca buku Bukannya Malas, Cuma lagi Mager Aja, Mbak? Buku ini karya ilustrator buku I Wan to Die but I Want to Eat Tteokpokki.

        Liked by 1 person

      2. Wah belum baca, Kak. Belum baca, baru tahu, Kak Na 😃
        Kok ini judulnya bikin penasaran 😄
        Kepengen puasa jajan buku dulu, ini malah gatel pengen searching bukunya 🤣

        Terima kasih untuk infonya Kak Na 🙏

        Like

      3. Cari-cari dulu saja bukunya Mbak Ai, belinya nanti kalo sudah tidak puasa jajan buku 😆 saya senang menebarkan racun buku-buku esai dari Negeri Ginseng walaupun belum banyak juga yang saya baca 😁

        Sama-sama, Mbak Ai 😊

        Liked by 1 person

      4. Ide bagus Kak, masuk waiting list, tapi rasa-rasanya rekomen Kak bikin saya penasaran, hingga saya tergiur 😆
        Dan saya sedang tertarik, pas banget nih timing-nya 😄

        Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s