[Review Buku] Pulau Sae Karya Mizuki Tsujimura

“Ada yang pergi, ada yang datang. Ada pula yang meninggalkan sesuatu meski mereka sudah tidak ada di sana. Seperti itulah hari-hari yang dilalui di Pulau Sae (halaman 162)

Judul                    : Pulau Sae
Penulis                 : Mizuki Tsujimura
Alih Bahasa         : Faira Ammadea
Penerbit               : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit       : Cetakan pertama,  2017
Jumlah halaman  : 352 hlm; 20 cm
ISBN                       : 978-602-03-6668-5

Sinopsis:

Tinggal di Pulau Sae yang terpencil di tengah Laut Seto, Jepang, setiap hari Akari, Kinuka, Genki dan Arata harus naik feri menuju daratan utama untuk bersekolah. Lahir dan besar di pulau itu, mereka akrab dengan penduduk desa, termasuk dengan para pendatang yang memulai hidup baru di Pulau Sae.

Akari, Kinuka, Genki dan Arata sangat mencintai Pulau Sae, tetapi menghabiskan sebagian waktu di daratan utama memberi mereka perspektif baru. Keempat remaja tersebut mulai mengamati dan menilai keputusan orang-orang yang datang untuk tinggal dan warga yang meninggalkan kenyamanan pulau.

Dan musim ini adalah tahun terakhir mereka bersama-sama, karena setelahnya anak-anak pulau itu harus memutuskan ke mana mereka akan mengejar masa depan: pergi atau bertahan di Pulau Sae.

Ini buku pertama yang saya baca dari penulis Mizuki Tsujimura, meskipun dalam buku tidak ada keterangan mengenai penulis, tapi ada catatan bahwa “Saya menyusun buku ini berdasarkan kisah yang dituturkan sahabat saya. Berkat bantuannya saya bisa mengenal seluk-beluk dunia desainer komunitas. Tanpa sahabatnya, buku ini takkan pernah ada. Apa yang tertuang dalam buku ini, terasa relate dengan kehidupan sehari-hari di sebuah pulau yang salah satu alat transportasinya mengandalkan kapal feri untuk menyebrang ke daratan.

Baca juga: review buku Winter in Tokyo

Buku ini menceritakan kehidupan dan keseharian penduduk Pulau Sae, yang uniknya ada tradisi “Cawan Persaudaraan”. Interaksi setiap penduduknya memberikan warna cerita tersendiri, dengan berbagai konflik yang terjadi di dalam kehidupan mereka. Lewat buku ini, kita akan merasakan bagaimana denyut kehidupan di Pulau Sae yang ritme kehidupannya jauh dari keramaian kota. 

Pada karakter Fukiko, kita akan belajar bahwa terkadang prestasi bisa juga melambungkan seseorang yang awalnya biasa saja, tapi bisa menjadi seseorang luar biasa di mata masyarakat ketika dia memenangkan sebuah penghargaan prestisius dalam bidang olah raga. Fukiko yang dulunya dijuluki sang Putri Duyung Perak yang cantik dan lembut. Namun, ketika berenang tidak menjadi bagian dari dirinya lagi. Ketenaran telah menjegal dirinya. Hanya karena satu masalah pribadi yang tersebar, sudah cukup bagi masyarakat untuk menganggapnya aib, terlepas dari segala prestasinya. Apalagi kini Fukiko bisa dibilang ibu tunggal. (halaman 133)

Setiap penduduk juga memiliki kisahnya sendiri. Selain Fukiko si ibu tunggal, ada Haiji Kirisaki yang kedatangannya ke Pulau Sae, dia ingin menemukan “Naskah Legendaris.” Ada juga Motoki seorang pemuda yang kelihatannya tidak bisa diandalkan, tetapi ternyata memiliki profesi yang tidak pernah diduga.  Kemudian ada Yoshino Tanikawa—teman baiknya Fukiko di Pulau Sae, yang banyak membantu warga Pulau Sae. Juga ada sosok Kepala Desa Ooya, yang menimbulkan pro dan kontra di mata penduduk.

Di Pulau Sae ada komunitas I-Turn yang merupakan orang-orang yang datang ke pulau tersebut, untuk menetap karena berbagai alasan. Ada pasangan suami-istri, yang sengaja datang, ada yang ingin mencari suasana baru, ada golongan anak muda yang berprofesi sebagai desainer, penulis, juga ibu tunggal. Pulau Sae dijuluki sebagai Pulau Para Ibu Tunggal. Bahkan kedatangan para ibu bersama anak-anaknya pun dinilai bisa meremajakan Pulau Sae sehingga tidak ketinggalan.

Baca juga: road trip ke Hokkaido

Yang menarik dari buku ini:

  • Saya suka banget sama cover bukunya, biru langit cerah sambil menatap lautan sejauh mata memandang, bikin hati jadi adem. Dan saya jadi kangen suasana laut berpadu biru langit. 
  • Buku berlatar Pulau Sae di tengah Laut Seto ini dideskripsikan dengan sangat detail oleh penulisnya. Saya seakan sedang menyaksikan kehidupan langsung di pulau tersebut.
  • Judul sangat menggambarkan isi. Mengangkat Pulau Sae dan penduduknya lengkap dengan segala problematika kehidupan yang dialami.
  • Ada banyak karakter di buku ini selain keempat remaja yang menjadi karakter utama, sehingga mesti jeli bacanya, untuk bisa memahami berbagai karakter pendukung lain yang tak kalah pentingnya.
  • Bukan tipikal buku yang bisa dibaca tergesa-gesa, untuk memahami masing-masing karakter di buku, bacanya mesti lagi santai, semacam menghabiskan waktu akhir pekan bersama buku, seperti ini yang saya lakukan, meskipun saya sudah membelinya beberapa bulan lalu, tapi saya menunggu momen waktu santai, biar bisa menikmati isi buku ini. 😀
  • Buku pemenang Naoki Prize 2012 ini terasa relate dengan kehidupan, terutama kehidupan di sebuah pulau,  lengkap dengan segala liku liku masalah yang terjadi di dalam masyarakatnya.  Fasilitas yang tidak sebagus di pusat ibukota, di mana di pulau ini tidak ada dokter, dan kalau ada yang sakit mesti nyebrang dulu naik kapal feri menuju daratan (bagian ini bisa baca pengalaman Fukiko yang mesti membawa Mina, anaknya yang masih kecil ketika sakit harus nyebrang dulu untuk menemui dokter). Saya jadi ngebayangin bagaimana fasilitas kesehatan dan kondisi masyarakat yang tinggal di pulau-pulau terpencil. -__-
  • Meskipun alurnya terasa lambat dan harus tekun bacanya, tapi ada banyak hal yang bisa dipelajari dari buku ini, dan kita akan diajak berkenalan dengan penduduk Pulau Sae yang welcome dengan para pendatang.
  • Novel remaja ini menariknya, tidak hanya menonjolkan keempat karakter remaja SMA 2 Toyozumi, yaitu Arata, Akari, Kinuka dan Genki yang hidup di Pulau Sae, tetapi juga interaksi mereka dengan penduduk lokal, para pendatang yang tergabung dalam I Turn, juga orang tua dan keluarga mereka. Di buku ini bukan menceritakan tentang kehidupan khas masa remaja di sekolah, melainkan bagaimana inteksi mereka dengan penduduk di sekitar yang akan  membangun karakter serta cara pandang mereka dalam menentukan arah masa depannya. Jadi, untuk keempat remaja ini, bukan romance-nya yang diangkat dalam novel ini, melainkan kehidupan yang mereka jalani di Pulau Sae. Saya suka dengan tema yang diangkat dalam buku ini, karena yang namanya kehidupan dalam usia remaja tidak selalu berisi tentang mengisi masa remaja dengan belajar, pacaran dan sebagainya, tapi juga bagaimana mereka bisa membaur dalam masyarakatnya. Sehingga kelak, mereka sebagai generasi penerus bisa ikut membangun daerahnya, seperti yang dilakukan Kinuka dan Akari untuk Pulau Sae.
  • Alih bahasanya, Faira Ammadea merupakan alih bahasa yang sama dengan buku Keajaiban Toko Kelontong Namiya, dan kabar baiknya terjemahannya sangat nyaman dibaca.

Karakter dalam novel ini: Akari Ikegami, Kinuka Kayano, Genki, Arata, Haruka Tateyama, Haiji Kirisaki, Fukiko Tabata, Mina (anaknya Fukiko), Yoshino Tanikawa, Kepala Desa Ooya, Masato Matoki, Yoshino Tanikawa, Ogiwara, Masago (Adiknya Arata), Kota, Yotsuya, Shirakawa, Shiina, Bibi Michan, Nenek Akari, Ibu Akari, Kakek Tonami,  Mizuno (kakaknya Arata), Bibi Takechi, Nenek Shimano, Aoko Chifune, Mei-chan, Tamaki Akabane (penulis skenario), Kaminato, Wakasugi-sensei, Kikuo Ueno –sensei.

Berikut ini kutipan-kutipan favaorit saya dalam buku ini:

  1. “Jangan terlalu fokus pada keuntungan atau kesuksesan.” Begitu kata-kata pertama Yoshino setibanya di pulau. “Dalam bisnis seperti ini, yang sering disorot adalah bagaimana semuanya berawal dari usaha ibu-ibu petani yang kini telah berkembang pesat dengan keuntungan ratusan juta yen hingga  membangkitkan semangat kaum lansia. Hal semacam itu cocok untuk materi tayangan kisah sukses di TV, tapi bukan itu tujuanku. Anggap saja ini proyek demi mengisi waktu luang dan mendapat uang saku.” (halaman 30)
  2. … sikap Fukiko yang tidak mau merepotkan orang lain memang patut dipuji. (halaman 39)
  3. “Kalau tidak tahu apa yang akan kaukerjakan, pulang saja sana.” (halaman 43)
  4. “Ada orang yang tak tahu bagaimana cara berteman dan yang bisa dilakukannya hanya berbicara dengan nada menyombongkan diri. Sayangnya, justru dia tidak paham mengapa orang lain tidak menaruh perhatian dan yang bida dilakukannya hanya mengulang-ulang omongan itu. padahal hal itu justru semakin mempertajam jarak.” (Halaman 60)
  5. Berbaur dengan masyarakat local bukan sesuatu yang bisa dilakukan setengah-setengah. Dengan modal kepercayaan yang diraihnya dari masyarakat, akan lebih mudah bagi Yoshino dan kawan-kawan untuk menyampaikan informasi pemerintah yang selama ini kurang terjangkau oleh penduduk. Jelas, sebagai orang asing Yoshino harus membangun interaksi dari nol. Selama setahun lebih perusahaan milik Yoshino dan rekan-rekannya terus membina hal itu. (halaman 108)
  6. Manusia tidak hanya mendompleng ketenaran, tapi juga mencari arti dalam berbagai hal demi menciptakan kisahnya sendiri. (halaman 132)
  7.  “Kalau kau menelan begitu saja semua informasi di sana, kau akan mudah dibodohi.” (halaman 177)
  8. Yang namanya ibu-ibu, hari ini akrab, keesokan harinya saling menggunjingkan temannya dengan orang lain, dan lusanya mereka sudah kembali berteman seperti tidak terjadi apa-apa. Susah memutuskan siapa yang bersalah kalau mereka bertengkar. (halaman 181)
  9. “Menolak bukan berarti berlagak kuat.” (halaman 203)
  10. “…. Di setiap tempat pasti ada saja yang berpikiran buruk tentang kita.” (halaman 208)
  11. Karena itulah, kehadiran seorang yang professional yang bisa mengucapkan kata “baik-baik saja” itu sangat menolong. (halaman 231)
  12. Selama ini tak pernah ada yang memujiku berbakat, dan aku sendiri tidak yakin bisa berhadapan langsung dengan orang lain secara wajar, tapi saat bertugas aku selalu menanamkan pikiran bahwa aku ‘bisa’, dan ternyata itu sangat membantu orang-orang berinteraksi. (halaman 247)
  13. Bekerja dengan alam memang sulit, apalagi jika mereka tinggal di pulau yang lingkupnya terbatas. Mereka takkan bisa hidup tanpa saling menolong. (halaman 253)
  14. Arata-lah teman yang bisa menganggap kabut dan laut sebagai sesuatu yang indah, juga teman yang yang selalu tertarik pada informasi dan kebudayaan dengan membaca buku. (halaman 282)
  15. “Sebagai seorang anak, bertualang bersama teman pasti merupakan pengalaman seru dan menegangkan.” (halaman 310)
  16. “Orang tua biasanya lebih bisa bersikap lunak pada cucu mereka.” (halaman 323)
  17. “Kalau kau ingin melakukan hal-hal yang disukai, sebaiknya banyak-banyak juga melakukan hal-hal yang disukai. (halaman 329)

Baca juga review buku literatur Jepang:

Baca juga:

Happy reading!  

With Love, 

8 thoughts on “[Review Buku] Pulau Sae Karya Mizuki Tsujimura

      1. Maaf. Ini soal blog mba, saya dengar dari teman blog yaitu mba Sondang Saragih, katanya blog mba pernah eror ya? Benar apa enggak ya?

        Yang pas habis ganti domain, terus followernya berkurang begitu.

        Nah, di sini saya juga ngalamin itu mba. Habis ganti domain follower blog hilang jadi 0

        Lalu, setelah itu, teman2 blog saya follow saya lagi. Tapi, keesokan harinya, follower saya tetap 0 seolah gak ada yg follow blog saya. Kemudian mereka ulang follow lagi. Dan tetap seperti itu. Berulang2 sampai sekarang, follower saya gak ada.

        Apa mba punya solusinya 🙏🙏

        Like

      2. Iya, Mbak.
        waktu itu saya ditolong oleh saudara saya untuk memulihkan blog. Hanya saja detailnya seperti apa, saya tidak tahu karena dikerjakan langsung oleh saudara saya. Mohon maaf tidak bisa bantu, Mbak. 🙏

        Semoga blognya bisa pulih kembali Mbak. 😇

        Like

Leave a Reply to Ai 📚🪴 Cancel reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s