[Review Buku] The Power of Language Karya Shin Do Hyun dan Yoon Na Ra

Setitik pelita bisa mengalahkan kegelapan seribu tahun. Gua yang tak pernah tersentuh cahaya matahari pun langsung menjadi terang jika disinari oleh sebuah pelita. Kekuatan dari ucapan kita pun sama seperti kekuatan pelita ini. Sebuah kata yang tulus bisa mengobati luka kita dan orang lain. (halaman 6)

Judul                    : The Power of Language
Penulis                 : Shin Do Hyun & Yoon Na Ru
Penerjemah         : Hyancinta Louisa
Penerbit               : Penerbit Haru
Tahun Terbit       : Cetakan Keempat, September  2020
Jumlah halaman : 208 hlm; 19 cm
ISBN                      : 978-623-7351-34-4

Sinopsis:

Pernahkah kamu menyusun kata-kata yang indah dan membuat kalimat yang cantik, tetapi saat kamu pikirkan kembali, kalimat itu ternyata tidak memiliki makna?

Shin Do Hyun adalah seorang ahli ilmu humaniora. Ia kuliah di jurusan filsafat dan jurusan Bahasa Korea. Ia terus mempelajari ilmu filsafat sejak masa mudanya hingga sekarang, ia juga senang membaca literatur klasik dari Barat dan Timur. Ia percaya bahwa belajar untuk mengubah dunia harus dilakukan bersama dengan belajar untuk mengubah diri sendiri agar bisa membuat perubahan yang sesungguhnya. Langkah pertamanya untuk mewujudkan hal itu adalah mempelajari tutur kata dan bahasa, kemudian lahirlah Power of Language sebagai buah dari usahanya itu. Seperti arti dari “Mok-in”, nama pena yang diberikan gurunya yang sangat ia idolakan, ia ingin menjadi seperti pohon yang hidup sambil mencintai diri sendiri dan dunia dengan sederhana.

Yoon Na Ru, mengajar bahasa Korea dan pejaran menulis di sebuah SMA di Seoul. Ia dinobatkan menjadi penulis melalui karya esainya. Ia mulai mempelajari ilmu humaniora dimulai dari filsafat karena ia ingin menulis sebuah tulisan yang mengandung pemikiran yang dihasilkan oleh dirinya sendiri. Buku ini pun merupakan buah yang dihasilkan dalam proses tersebut. Ia bertekad untuk terus belajar agar ia bisa menulis tulisan-tulisan yang baru dan mendalam, yang tidak dibatasi oleh pandangan orang lain.

Lewat buku ini, penulisnya berharap bisa mengubah paradigma Anda semua tentang kata dan bahasa sehingga pada akhirnya bisa mengubah hidup Anda dan dunia tempat Anda tinggal.

“Seseorang yang tidak mengetahui nilai dari dirinya sendiri tidak akan bisa mengetahui nilai orang lain. Itulah sebabnya, kita harus belajar bahasa, mulai dengan belajar memahami dan mencintai diri kita sendiri. (halaman 26)

Baca juga: review buku Kimbab Family (Bukan) Kisah Drama Korea

Berikut ini kalimat-kalimat favorit saya dalam buku The Power of Language:

  1. Tujuan dari pengembangan diri bukanlah untuk menjadi orang yang baik. Tujuan pertama dari pengembangan diri adalah memahami ‘aku’. Kita harus memahami diri kita sendiri dengan lebih dalam baru bisa mencintai diri kita sendiri. (halaman 19)
  2. Pada akhirnya, kita harus bisa melihat diri sendiri melalui mata kita, bukan orang lain. (halaman 20)
  3. Kita harus melihat diri kita sendiri dan dunia dengan menggunakan sudut pandang kita sendiri, bukan sudut pandang milik orang lain. Namun, kita juga harus bisa mengakui bahwa sudut pandang kita bukanlah suatu sudut pandang yang selalu sempurna (halaman 54)
  4. Sebuah percakapan yang baik tidak akan bisa dihasilkan hanya dengan berbekal  keinginan kita untuk melakukan percakapan yang baik dengan seseorang. Kita harus mengetahui tentang lawan bicara kita, kita harus bisa membaca apa yang diinginka oleh lawan bicara kita, terkadang kita juga harus memberi saran yang bijak agar lawan bicara kita juga bisa menyelesaikan masalah yang dihadapinya dengan baik, karena, untuk menghasilkan sebuah percakapan yang baik, kita harus meningkatkan kecerdasan dan menambah ilmu. (halaman 60)
  5. Semua yang lahir suatu saat nanti pasti akan mati. Ini adalah siklus kehidupan yang tidak bisa kita tolak. Maka dari itu, momen saat ini adalah sesuatu yang sangat berharga dan berarti. (halaman 63)
  6. Para cendikiawan memandang bahwa kehidupan yang hanya diisi dengan makan dan tidur tidak ada artinya. Mereka berpikir bahwa setelah dilahirkan di dunia ini, mereka harus meninggalkan sesuatu yang bermakna. Maka dari itu, mereka mencari cara untuk melakukan hal itu melalui membaca buku. (halaman 66)
  7. Kita harus membaca satu buku sebanyak tiga kali. Pertama kita membaca tulisannya. Kedua, kita membaca penulisnya. Dan yang terakhir, kita membaca diri kita sendiri sebagai pembaca buku tersebut. Setiap penulis memijakkan kaki mereka ke fondasi sosial dan historis pada masanya masing-masing. Maka dari itulah kita harus membaca sang penulis. Sama halnya dengan mengapa mita harus membaca diri kita sendiri sebagai pembaca. Membaca buku berarti sebuah kelahiran yang baru. Membaca buku adalah pelarian tanpa akhir yang diisi dengan kematian penulis dan keliharan baru pembacanya. (halaman 67)
  8. Begitu juga dengan bahasa. Jika ingin mengubah diri kita sendiri, kita harus bisa melihat dan menafsirkan bahasa kita, baik bahasa yang terucap maupun bahasa batin. (halaman 70)
  9. Jika ingin mengambil sesuatu, kita harus memberikan sesuatu terlebih dahulu. Ini adalah prinsip. Kita harus memberikan telinga kita agar bisa mengambil kata-kata orang lain dan mendapatkan hatinya. (halaman 102)
  10. Menyimak lebih unggul daripada berbicara, orang yang bisa merebut hati bukanlah orang yang pandai berbicara tapi pandai menyimak. (halaman 102)
  11. Jika sambil mendengarkan kita terus memikirkan apa yang harus kita katakana selanjutnya, itu bukanlah mendengarkan, melainkan hanya ‘berpura-pura’ mendengarkan. Jika hal ini terjadi, kita hanya bisa mendengarkan kata-kata yang keluar tanpa mengerti maksud sebenarnya dari ucapan tersebut, bahkan kata-kata yang kita dengar pun mungkin tak bisa kita pahami. (halaman 104)
  12. Sekali lagi, menyimak bukanlah sekedar mendengarkan. Menyimak berarti mengarahkan telinga dan hati kita. Bukan menunjukkan ketidakpedulian. (halaman 108)
  13. Luka yang tercipta karena sepatah kata rupanya lebih dalam dari yang kita kira. (halaman 111)
  14. Meskipun pujian mendorong semangat kita, tidak ada hal yang membuat kita sakit sekaligus berkembang seperti kritik. (halaman 112)
  15. Orang yang mengkritik kita adalah orang yang menunjukkan kelemahan kita dan membantu kita untuk mengembangkan diri.an 112)
  16. Ucapan yang baik sebaiknya kita terima, sementara niat yang buruk abaikan saja.
  17. Ketika kita harus memberi saran karena diminta pun kita harus menyampaikan saran itu dengan lembut, jangan sampai perasaan orang tersebut terluka. Dengan lembut dan berhati-hati, seperti angina musim semi di bulan Maret yang mencairkan salju yang telah menumpuk. (halaman 146)
  18. Kita sebaiknya rendah hati bukan karena harus menjadi rendah hati, tapi karena tidak ada pilihan lain selain menjadi rendah hati. (halaman 148)
  19. Dengan sepatah kata, kita bisa melunasi hutang seribu tahun, sekaligus bisa memberi luka yang membekas selamanya. Bahasa dan kata adalah jembatan yang menghubungkan kita dengan orang lain, juga menghubungkan kita dengan dunia. (halaman 168)
  20. Mari kita jaga bentuk dan kesopanan dalam tutur kata kita. Dengan begitu, orang-orang akan lebih memperhatikan apa yang kita ucapkan. Sebaliknya, ketika kita mendengarkan ucapan orang lain, tidak perlu terlalu fokus kepada bentuk kata dan kesopanan dalam kata-katanya. Dengan begitu, kita tidak akan melukai hati orang lain dan kita juga tidak akan mudah terluka akibat kata-kata orang lain. (halaman 172)

[Review Buku] Pulang – Pergi Karya Tere Liye

“Gunakan kemampuan kalian sebaik mungkin. Aku percaya dengan kalian. Di mobil ini, kalian bukan hanya pembunuh bayaran, mantan marinir, putri keluarga penguasa shadow economy, konsultan keuangan, atau remaja pendiam. Kalian temanku. Bahkan lebih dari itu, kalian adalah keluargaku selama lebih dari 48 jam terakhir. Kita melewati lima negara bersama-sama, maka kita akan menuntaskan masalah ini juga bersama-sama. Saling percaya.”—Bujang (halaman 301) Continue reading “[Review Buku] Pulang – Pergi Karya Tere Liye”

[Review Buku] Bising Karya Kurniawan Gunadi

Kita pasti bisa melewatinya meski proses yang akan kita tempuh nanti tidaklah mudah. Paling tidak, kita percaya kepada diri sendiri. Tunjukkan bahwa kita layak memenangkan semua kebisingan ini. tunjukkan bahwa apa yang mereka katakan tentang kita, tidaklah berarti apa-apa. (halaman 143-144)

Continue reading “[Review Buku] Bising Karya Kurniawan Gunadi”

Review Buku LUMPU [unedited version] Karya Tere Liye

“Tapi kekuatan terbesar kalian bukan teknik pukulan berdentum, menghilang, tameng transparan, petir, kinetik atau yang lain. MELAINKAN PERSAHABATAN. Kejadian barusan di benda terbang. Percakapan kalian, sungguh spesial, Nak. Kalian saling mencemaskan satu sama lain, turut merasakan rasa sakit dan senang, bersedia berkorban untuk yang lain. Aku belum pernah melihat kualitas itu dari para petualang dunia pararel. (Salah satu kutipan dalam buku LUMPU, karya Tere Liye).

Saya senang sekali, liburan akhir tahun 2020 ini, Bang Tere Liye kembali mengeluarkan buku terbarunya berjudul LUMPU. Saya mendapatkan info dari akun Bang Tere di Instagram @tereliyewriter bahwa buku Lumpu unedited version akan rilis tanggal 28 Desember 2020. Sungguh penutup akhir tahun yang menyenangkan untuk saya si penggemar Serial Bumi yang sangat menantikan kehadiran buku ini.

Setelah mengikuti petualangan Miss Selena di masa remajanya dalam buku  Selena hingga buku Nebula tentang petualangan orang tuanya Raib, kemudian lanjut petualangan Nou dan si Putih dalam buku Si Putih, sungguh saya rindu tiga sekawan Raib, Seli dan Ali yang hanya muncul sebagai cameo dalam ketiga buku tersebut. Hanya sebentar munculnya, membuat saya rindu berat dengan ketiga sahabat karib ini. 

Beruntung di Continue reading “Review Buku LUMPU [unedited version] Karya Tere Liye”

[Review Buku] Cintaku Antara Jakarta & Kuala Lumpur karya Tere Liye

Ibu dulu pernah bilang, cinta itu soal pertanda. Ia datang begitu saja. Memberikan tanda-tandanya, (halaman 39/375)

Sudah lama sekali saya mengincar buku fisik Cintaku Antara Jakarta & Kuala Lumpur, tapi belum pernah menemukan buku ori-nya di marketplace. Boleh dibilang buku ini sudah masuk kategori langka, karena ini merupakan buku yang ditulis di awal karier kepenulisan Tere Liye, belasan tahun lalu. Beruntung sekali, sekarang buku ini sudah di publish oleh Tere Liye di Google Play Book, sehingga saya pun bisa menikmatinya. Terus terang saya penasaran sekali dengan karya pertama dari penulis multitalenta ini. 

Untuk versi cetaknya, setelah saya cek di Continue reading “[Review Buku] Cintaku Antara Jakarta & Kuala Lumpur karya Tere Liye”

[Review Buku] The Traveling Cat Chronicles Karya Arikawa Hiro

Terima kasih atas kerja kerasmu sampai sekarang. Dedikasimu dalam menolongku tidak akan pernah kulupakan seumur hidupku.—Nana  (halaman 15)

“Nana kan penurut, jadi kau bisa tetap jadi anak baik kan sesudah ini?”—Satoru (halaman 323) Continue reading “[Review Buku] The Traveling Cat Chronicles Karya Arikawa Hiro”