Belajar Menjadi Dewasa

Ada gak yah rumus untuk menghitung tingkat kedewasaan seseorang?
apakah umur menjadi jaminan bahwa seseorang bisa dikatakan dewasa? misal umur 25 pasti udah dewasa. Lantas idealnya umur berapa sih dikatakan telah dewasa? Kadang saya berputar-putar memikirkan jawaban ini, karna saya ingin tahu apakah saya telah pantas dikatakan dewasa atau belum? Hmmmm mungkin gak sih, bahwa kedewasaan itu sebenarnya bukan dilihat dari umur, tapiiii dilihat dari bagaimana cara kita menyikapi hidup, bagaimana cara kita menyikapi masalah, bagaimana kita bertanggung  jawab atas keputusan dan pilihan hidup kita?

Menurut saya, umur tidak menjamin kedewasaaan seseorang. Misalnya, seseorang dikatakan dewasa ketika umurnya menginjak angka 20. Kenyataannya, kadang saya melihat umur di atas 25 pun masih bersifat kekanak-kanakan, atau bahkan saya menemukan orang yang umurnya di bawah 20 ternyata pikirannya dewasa. Memang sich jika dilihat umur, untuk usia 20 tahun ke atas itu dikatakan orang dewasa, tapiii itu baru secara umur loch, bukan dewasa secara pikiran dan sikap, yang namanya menjadi orang dewasa secara pikiran dan sikap itu butuh proses, dan sekali lagi bagi saya tingkat kedewasaan dan kematangan seseorang dalam menyikapi hidupnya tidak diukur oleh umur tapi dilihat dari bagaimana ia bertanggung jawab atas hidupnya. Sejauhmana ia memandang hidup. Saya sendiri meski usia saya sudah dewasa, tapi saya sadari bahwa menjadi dewasa dalam berfikir dan bertindak merupakan sebuah proses panjang yang sebetulnya bisa dipelajari kalau kita punya kemauan, namun pastinya butuh waktu. Memang tidak mudah, butuh kesabaran untuk menjalaninya. Ternyata, gak harus menunggu umur sampai tua untuk bisa berfikir dewasa. Walaupun belum sepenuhnya saya bisa dewasa dalam segala hal, tapi paling tidak saya sedang belajar menggapai tangga kedewasaan. Ya walaupun it’s not easy….tapi jika hal tersebut membawa dampak positif bagi hidup saya, kenapa tidak dicoba untuk terus saya pelajari.

Continue reading “Belajar Menjadi Dewasa”

Aku Belajar Dari Hal-Hal Kecil

Dalam hidup ini, aku bertemu dengan rasa manis, rasa asam, rasa pahit, rasa asin.  Semua rasa yang kutemui dan kurasakan tersebut telah mengajarkanku tentang arti kehidupan.  Ketika hidup tak sesuai dengan apa yang aku harapkan & kuinginkan  Maka aku belajar untuk menerima kenyataan dan yakin bahwa Allah SWT akan selalu memberikan yang terbaik untukku sesuai dengan kebutuhanku.  Ketika aku dihadapkan pada orang-orang yang mengkritik aku, meng-underestime aku, mencemooh aku, menyakiti aku….. Aku akan belajar untuk bersyukur, karena Allah telah mengingatkan aku melalui mereka agar aku selalu introspeksi diri serta memperbaiki diri.  Sebab secara tak langsung mereka yang mengkritik itu memperhatikan aku dengan cara mereka agar aku bisa menjadi diriku pribadi yang lebih baik.  Ketika orang-orang menilai aku dengan cara penilaian mereka yang memang tidak sesuai dengan diri aku.  Maka aku belajar untuk menghargai penilaian mereka tentangku.  Karena sesungguhnya jika penilaian mereka salah tentangku, itu karena mereka belum tahu siapa aku.  Hidup ini terlalu singkat, dan karena terlalu singkat itulah…. Continue reading “Aku Belajar Dari Hal-Hal Kecil”