[Review Buku] Hidup Damai Tanpa Berpikir Berlebihan karya Tsuneko Nakamura dan Hiromi Okuda

Buah kehidupan tidak bisa didapatkan dalam waktu singkat. Tiap-tiap orang memiliki hal yang seharusnya dihargai dalam setiap momen hidupnya. (halaman 138) Continue reading “[Review Buku] Hidup Damai Tanpa Berpikir Berlebihan karya Tsuneko Nakamura dan Hiromi Okuda”

[Review Buku] The Power of Language Karya Shin Do Hyun dan Yoon Na Ra

Setitik pelita bisa mengalahkan kegelapan seribu tahun. Gua yang tak pernah tersentuh cahaya matahari pun langsung menjadi terang jika disinari oleh sebuah pelita. Kekuatan dari ucapan kita pun sama seperti kekuatan pelita ini. Sebuah kata yang tulus bisa mengobati luka kita dan orang lain. (halaman 6)

Judul                    : The Power of Language
Penulis                 : Shin Do Hyun & Yoon Na Ru
Penerjemah         : Hyancinta Louisa
Penerbit               : Penerbit Haru
Tahun Terbit       : Cetakan Keempat, September  2020
Jumlah halaman : 208 hlm; 19 cm
ISBN                      : 978-623-7351-34-4

Sinopsis:

Pernahkah kamu menyusun kata-kata yang indah dan membuat kalimat yang cantik, tetapi saat kamu pikirkan kembali, kalimat itu ternyata tidak memiliki makna?

Shin Do Hyun adalah seorang ahli ilmu humaniora. Ia kuliah di jurusan filsafat dan jurusan Bahasa Korea. Ia terus mempelajari ilmu filsafat sejak masa mudanya hingga sekarang, ia juga senang membaca literatur klasik dari Barat dan Timur. Ia percaya bahwa belajar untuk mengubah dunia harus dilakukan bersama dengan belajar untuk mengubah diri sendiri agar bisa membuat perubahan yang sesungguhnya. Langkah pertamanya untuk mewujudkan hal itu adalah mempelajari tutur kata dan bahasa, kemudian lahirlah Power of Language sebagai buah dari usahanya itu. Seperti arti dari “Mok-in”, nama pena yang diberikan gurunya yang sangat ia idolakan, ia ingin menjadi seperti pohon yang hidup sambil mencintai diri sendiri dan dunia dengan sederhana.

Yoon Na Ru, mengajar bahasa Korea dan pejaran menulis di sebuah SMA di Seoul. Ia dinobatkan menjadi penulis melalui karya esainya. Ia mulai mempelajari ilmu humaniora dimulai dari filsafat karena ia ingin menulis sebuah tulisan yang mengandung pemikiran yang dihasilkan oleh dirinya sendiri. Buku ini pun merupakan buah yang dihasilkan dalam proses tersebut. Ia bertekad untuk terus belajar agar ia bisa menulis tulisan-tulisan yang baru dan mendalam, yang tidak dibatasi oleh pandangan orang lain.

Lewat buku ini, penulisnya berharap bisa mengubah paradigma Anda semua tentang kata dan bahasa sehingga pada akhirnya bisa mengubah hidup Anda dan dunia tempat Anda tinggal.

“Seseorang yang tidak mengetahui nilai dari dirinya sendiri tidak akan bisa mengetahui nilai orang lain. Itulah sebabnya, kita harus belajar bahasa, mulai dengan belajar memahami dan mencintai diri kita sendiri. (halaman 26)

Baca juga: review buku Kimbab Family (Bukan) Kisah Drama Korea

Berikut ini kalimat-kalimat favorit saya dalam buku The Power of Language:

  1. Tujuan dari pengembangan diri bukanlah untuk menjadi orang yang baik. Tujuan pertama dari pengembangan diri adalah memahami ‘aku’. Kita harus memahami diri kita sendiri dengan lebih dalam baru bisa mencintai diri kita sendiri. (halaman 19)
  2. Pada akhirnya, kita harus bisa melihat diri sendiri melalui mata kita, bukan orang lain. (halaman 20)
  3. Kita harus melihat diri kita sendiri dan dunia dengan menggunakan sudut pandang kita sendiri, bukan sudut pandang milik orang lain. Namun, kita juga harus bisa mengakui bahwa sudut pandang kita bukanlah suatu sudut pandang yang selalu sempurna (halaman 54)
  4. Sebuah percakapan yang baik tidak akan bisa dihasilkan hanya dengan berbekal  keinginan kita untuk melakukan percakapan yang baik dengan seseorang. Kita harus mengetahui tentang lawan bicara kita, kita harus bisa membaca apa yang diinginka oleh lawan bicara kita, terkadang kita juga harus memberi saran yang bijak agar lawan bicara kita juga bisa menyelesaikan masalah yang dihadapinya dengan baik, karena, untuk menghasilkan sebuah percakapan yang baik, kita harus meningkatkan kecerdasan dan menambah ilmu. (halaman 60)
  5. Semua yang lahir suatu saat nanti pasti akan mati. Ini adalah siklus kehidupan yang tidak bisa kita tolak. Maka dari itu, momen saat ini adalah sesuatu yang sangat berharga dan berarti. (halaman 63)
  6. Para cendikiawan memandang bahwa kehidupan yang hanya diisi dengan makan dan tidur tidak ada artinya. Mereka berpikir bahwa setelah dilahirkan di dunia ini, mereka harus meninggalkan sesuatu yang bermakna. Maka dari itu, mereka mencari cara untuk melakukan hal itu melalui membaca buku. (halaman 66)
  7. Kita harus membaca satu buku sebanyak tiga kali. Pertama kita membaca tulisannya. Kedua, kita membaca penulisnya. Dan yang terakhir, kita membaca diri kita sendiri sebagai pembaca buku tersebut. Setiap penulis memijakkan kaki mereka ke fondasi sosial dan historis pada masanya masing-masing. Maka dari itulah kita harus membaca sang penulis. Sama halnya dengan mengapa mita harus membaca diri kita sendiri sebagai pembaca. Membaca buku berarti sebuah kelahiran yang baru. Membaca buku adalah pelarian tanpa akhir yang diisi dengan kematian penulis dan keliharan baru pembacanya. (halaman 67)
  8. Begitu juga dengan bahasa. Jika ingin mengubah diri kita sendiri, kita harus bisa melihat dan menafsirkan bahasa kita, baik bahasa yang terucap maupun bahasa batin. (halaman 70)
  9. Jika ingin mengambil sesuatu, kita harus memberikan sesuatu terlebih dahulu. Ini adalah prinsip. Kita harus memberikan telinga kita agar bisa mengambil kata-kata orang lain dan mendapatkan hatinya. (halaman 102)
  10. Menyimak lebih unggul daripada berbicara, orang yang bisa merebut hati bukanlah orang yang pandai berbicara tapi pandai menyimak. (halaman 102)
  11. Jika sambil mendengarkan kita terus memikirkan apa yang harus kita katakana selanjutnya, itu bukanlah mendengarkan, melainkan hanya ‘berpura-pura’ mendengarkan. Jika hal ini terjadi, kita hanya bisa mendengarkan kata-kata yang keluar tanpa mengerti maksud sebenarnya dari ucapan tersebut, bahkan kata-kata yang kita dengar pun mungkin tak bisa kita pahami. (halaman 104)
  12. Sekali lagi, menyimak bukanlah sekedar mendengarkan. Menyimak berarti mengarahkan telinga dan hati kita. Bukan menunjukkan ketidakpedulian. (halaman 108)
  13. Luka yang tercipta karena sepatah kata rupanya lebih dalam dari yang kita kira. (halaman 111)
  14. Meskipun pujian mendorong semangat kita, tidak ada hal yang membuat kita sakit sekaligus berkembang seperti kritik. (halaman 112)
  15. Orang yang mengkritik kita adalah orang yang menunjukkan kelemahan kita dan membantu kita untuk mengembangkan diri.an 112)
  16. Ucapan yang baik sebaiknya kita terima, sementara niat yang buruk abaikan saja.
  17. Ketika kita harus memberi saran karena diminta pun kita harus menyampaikan saran itu dengan lembut, jangan sampai perasaan orang tersebut terluka. Dengan lembut dan berhati-hati, seperti angina musim semi di bulan Maret yang mencairkan salju yang telah menumpuk. (halaman 146)
  18. Kita sebaiknya rendah hati bukan karena harus menjadi rendah hati, tapi karena tidak ada pilihan lain selain menjadi rendah hati. (halaman 148)
  19. Dengan sepatah kata, kita bisa melunasi hutang seribu tahun, sekaligus bisa memberi luka yang membekas selamanya. Bahasa dan kata adalah jembatan yang menghubungkan kita dengan orang lain, juga menghubungkan kita dengan dunia. (halaman 168)
  20. Mari kita jaga bentuk dan kesopanan dalam tutur kata kita. Dengan begitu, orang-orang akan lebih memperhatikan apa yang kita ucapkan. Sebaliknya, ketika kita mendengarkan ucapan orang lain, tidak perlu terlalu fokus kepada bentuk kata dan kesopanan dalam kata-katanya. Dengan begitu, kita tidak akan melukai hati orang lain dan kita juga tidak akan mudah terluka akibat kata-kata orang lain. (halaman 172)

[Review Buku] Siapa yang Datang ke Pemakamanku Saat Aku Mati Nanti? karya Kim Sang-hyun

Ketika promo buku ini, hati saya langsung tergelitik untuk ikuta Pre Order. Tak hanya satu buku ini, melainkan buku-buku karya penulis Korea Selatan lainnya (nanti kalau sudah selesai saya baca, Insha Allah akan saya ulas). 

Yang menarik dari buku ini:

  • Ibarat kamu  sedang kepanasan, gerah banget, kemudian hadirlah udara sejuk. Bukankah itu sangat menyenangkan? Meskipun judulnya terlihat ‘dark’ atau gelap, tetapi saat membaca demi lembar, ternyata buku ini penuh kehangatan.
  • Ada banyak kata penyemangat yang menghangatkan hati pembacanya “Semua fakta dan kebohongan yang ada disekelilingmu itu tidaklah penting, karena pada dasarnya, manusia memang hanya bisa melihat apa yang ingin mereka lihat. Jadi, kuharap kamu tidak menyerah pada pandangan miring orang lain. Jika kamu tidak bisa menunjukkan sosok terbaik dirimu kepada semua orang, jangan jadikan itu beban pikiran. Sosok dirimu saat ini, tidak dibuat berdasarkan pandangan, penilaian, atau pun kecurigaan orang lain. Kamu dibentuk dari sakit dan air mata yang mengalir karena usaha kerasmu untuk tetap bertahan. Tidak penting bagaimana orang lain berpikir tentangmu. Aku ingin menyampaikan, hiduplah sebagai dirimu.” (halaman 44). Kalimat yang disampaikan penulisnya ini sangat terasa personal, dan menyentuh sisi psikologis.  Saya benar-benar kehilangan kata-kata pas  baca bagian ini, kayak semacam ternyata ada loh orang yang bisa memahami tanpa menghakimi, dan buku ini mengajak pembacanya untuk bisa lebih mengenal dan menyukai diri sendiri. Tanpa menghakimi, tanpa menggurui. Nice book 🙂
  • Buku ini tidak tebal, tapi setiap lembarnya membuat saya enggan beranjak karena tidak ingin membaca cepat-cepat. Ingin berpikir sekaligus merenungi dan mencoba menelaah apa yang disampaikan penulisnya. Buku yang penuh kehangatan untuk menemani perjalanan  memulihkan batin.
  • Meskipun ini buku terjemahan, tapi sangat nyaman dibacanya. Terima kasih kepada penerjemah buku ini 🙂
  • Saya suka banget di bagian hujan musim semi, saat penulis menerima pesan dari ibunya “TERIMA KASIH TELAH TUMBUH TANPA BANYAK MENGELUH. Aku bahkan tidak perlu mengkhawatirkan kesungguhanmu. Hujan musim semi akan segera tiba. Makanlah dengan teratur.” (halaman 56)  Kalimat ini menurut  yang sangat mengharukan, menyentuh ke dalam relung hatiku yang terdalam.  Kalau kamu sedang dalam kesulitan, dan membaca pesan yang sangat indah ini, akan terasa sangat berarti sekali. Pesan yang hangat dan sangat sederhana, tetapi memiliki makna yang sangat dalam sekali -_-
  • Buku ini akan menenangkan, terutama untuk kamu yang sedang belajar kuat menjalani hidup 🙂 Kamu akan diajak untuk merenungkan pertanyaan sederhana soal kematian. 
  • Buku yang sangat bergizi dan menghangatkan hati, serta akan membuat kamu semakin kuat menata hati dan meyakinkan diri untuk terus belajar menerima dan menyukai hingga mencintai diri sendiri 🙂
  • saya suka dengan bonus yang saya peroleh saat pre order kali ini, karena ada TANTANGAN BERBUAT BAIK  🙂 🙂 benar-benar kreatif, dan tentu saja ini akan sangat berguna untuk saya sebagai reminder untuk terus belajar menjadi orang baik.

Apa pun itu, jika pada akhirnya semua akan menjadi kenangan, aku ingin meninggalkan kenangan yang indah. Saat ini pun suatu saat akan jadi kenangan, dan aku percaya kenangan itu akan mengagumkan. (halaman 37)

Baca juga: review buku Kimbab Family (Bukan) Kisah Drama Korea

Tentang Penulis: Kim Sang-hyun sudah menerbitkan lima buah buku, dan buku ini adalah buku pertama yang diterbitkan dalam bahasa Indonesia. Ia juga mengelola sebuah kedai kopi bernama Gongmyeong Café dan sebuah penerbit independen bernama Feelm.

Berikut ini beberapa kalimat favorit saya:

  1. Kadang aku merasa tidak nyaman dan tidak bahagia dengan keberadaan orang lain, padahal biasanya aku tidak bisa hidup tanpa orang lain. Aku jadi berpikir jangan-jangan meski kita saling membutuhkan, kita juga adalah beban bagi satu sama lain. (halaman 20)
  2. Aku ingin kamu bisa terus bertemu hal baru, menemukan warna hidupmu sendiri tanpa membandingkan diri dengan orang lain. Aku harap, kamu tidak menyesal membuka hati untuk orang-orang baru.” (halaman 23)
  3. Namun, kebaikan adalah kebaikan dan gampangan adalah perkara yang berbeda. Yang jadi masalah bukan aku yang terlihat gampangan karena baik, tetapi orang yang menggampangkan kebaikan. Perbedaannya memang tipis. Akan tetapi, memisahkan dua perkara itu membuat pikiran dan hatiku lebih tenang. (halaman 25-26)
  4. Pada hari-hari yang sulit, aku menganggap diriku sebagai air yang mengalir. Saat air mengalir dari gunung ke lautan, kita akan bertemu dengan ikan, juga batu besar, lalu bergabung dengan aliran air lainnya. Itu sebuah proses harus kita lalui. (halaman 29)
  5. Aku ingin hidup tanpa menyesali pilihanku yang salah. Aku percaya ada alasan untuk itu. sesederhana itu. Karena memang tidak semuanya bisa berjalan sesuai rencana. Semuanya terjadi begitu saja. Sampai kapan pun, kehidupan ini tidak akan pernah sejalan dengan apa yang kita pikirkan, juga tidak sesuai dengn rencana yang kita persiapkan. (halaman 32)
  6.  Masing-masing orang punya peran dan batasan yang jelas mana yang bisa dilakukan dan mana yang tidak bisa. Karena itu, aku ingin selalu mengakui dan menghormati sepenuhnya ruang lingkup dan peran pihak lain; menyadari bahwa aku tidak hidup sendirian; menyadari apa yang bisa aku lakukan untuk menjaga nilai sosial—tidak hanya dalam kebersamaan, tetapi juga dalam kesadaran bahwa orang lain adalah orang lain; berusaha mengenali dan  memahami perbedaan; menghargai keberagaman orang-orang yang berbeda denganku. Dengan demikian, saat kematian tiba, aku bisa merasakan kehangatan hati karena semasa hidup aku telah berusaha keras menghormati kebersamaan itu. (halaman 40)
  7. Aku harus selalu ingat, bahwa apa yang kupikirkan bisa saja salah. Aku tidak boleh membeda-bedakan orang yang satu dengan orang yang lainnya dalam hubunganku dengan mereka. aku harus memiliki keberanian untuk tetap membiarkan telinga dan pikiranku terbuka setiap saat. Aku juga harus merekomendasikan sesuatu  yang baik terlebih dahulu. Dengan demikian, saat seseorang mengingatku, orang itu bisa merasakan kehangatan hatiku dan tahu bahwa aku ini orang yang baik. (halaman 40)
  8. Aku lelah menjawab semua pertanyaan yang jawabannya adalah apa yang orang lain ingin dengar. Bahkan lebih menyenangkan untuk tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. (halaman 46)
  9. Aku tidak ingin melukai orang-orang yang selalu mendukungku. Aku ingin jadi lebih kuat, agar bisa membantu mereka bertahan hidup. Aku juga tidak akan meragukan diriku sendiri sampai akhir hidupku. Aku ingin percaya pada apa yang kulakukan dan yang akan kulakukan. Aku ingin terus yakin bahwa pada akhirnya yang akan selalu berpihak padaku adalah diriku sendiri. (halaman 50)
  10. Aku ingin hidup sebaik-baiknya dengan hati penuh kehangatan. (halaman 87)
  11. Di mana pun kamu berada, keyakinan, pikiran, dan gagasanmu bisa saja berbeda dengan orang lain. Akan tetapi, jangan pernah mencoba menanamkan atau memaksakan pendapatmu itu kepada orang lain. Intinya, milikilah pikiran terbuka, luas, dan dalam untuk menerima perbedaan. (halaman 97)
  12. Semoga kamu bisa membawa kebahagiaan ke dalam hidupmu menggunakan warnamu sendiri. (halaman 101)
  13. Hiduplah dengan seni, karena semua seniman berjuang. (halaman 107)
  14. Aku sudah memutuskan untuk hanya memperhatikan orang yang masih berada di sisiku meski aku melakukan kesalahan, dan mengabaikan mereka yang meninggalkanku. Aku juga tidak akan melupakan teman-temanku yang berharga, yang menerangiku saat berada pada masa-masa paling sulit. Aku akan berusaha menyinari mereka dengan cahaya yang lebih terang dan memperlakukan mereka dengan lebih baik lagi. Jika mereka berjalan melalui kegelapan yang dingin, aku akan menjadi cahaya yang paling terang dalam kegelapan dan akan memberikan semua kegangatan yang kumiliki agar mereka tidak kedinginan. (halaman 118)
  15. Jangan pernah berusaha untuk mengubah seseorang dan jangan kecewa saat seseorang tidak berubah. (halaman 146)
  16. Aku ingin jadi seseorang yang bisa mengoleskan salep ke luka memar dalam hati. Aku tidak akan meremehkan perasaan seseorang. Aku ingin selamanya diingat sebagai orang baik yang selalu bisa diandalkan. Semoga ada semakin banyak hal untuk dirayakan. (halaman 157)

[Review Buku] SUTERU GIJUTSU Seni Membuang Barang karya Nagisa Tatsumi

Pegang prinsip yang sangat sederhana ini: simpan barang yang Anda pergunakan dan buang yang tidak dipergunakan. Barang yang bermanfaat adalah barang yang dipergunakan. Menyimpan barang karena dibuang sayang dapat diibaratkan seperti sebuah siksaan. Bebaskan diri dari perasaan “dibuang sayang” dan dengan begitu Anda akan mulai melihat nilai sejati dari barang-barang. (halaman xiii)

Continue reading “[Review Buku] SUTERU GIJUTSU Seni Membuang Barang karya Nagisa Tatsumi”

[Review Buku] Terobsesi Bungkus, Lupa akan Isi Karya Audrey Yu Jia Hui

Sebab, sekali lagi, setiap insan manusia diciptakan unik dan dilengkapi dengan potensi untuk berkontribusi bagi kebaikan masyarakat. Jika kita menggunakan waktu dan energi untuk saling menggali serta belajar dari potensi dan keunikan masing-masing, tanpa terobsesi pada “bungkus” sesama, betapa indahnya hal ini bagi masyarakat dan bangsa negara! (halaman 56) Continue reading “[Review Buku] Terobsesi Bungkus, Lupa akan Isi Karya Audrey Yu Jia Hui”

[Review Buku] Patah Hati di Tanah Suci karya Tasaro GK

Sementara aku akan mengajakmu dalam perjalanan yang tak akan aku lupakan hingga napas terakhir nanti. Sewaktu berbagai keajaiban mengantarku ke dua Kota Suci. Aku ingin Bapak merasakannya, mengalaminya, menikmatinya. Bertawaflah bersamaku, Bapakku. (halaman 330)

Continue reading “[Review Buku] Patah Hati di Tanah Suci karya Tasaro GK”

[Review Buku]: Belahan Jantungku Karya Andiesn Aisyah & R. Kenyasentana

Justru sekarang tantangannya makin berat. Kehidupan personal dan sosial semakin blur. Bayangkan, hanya dengan mengikuti seseorang lewat media sosial, kita sudah merasa sudah mengenal dia seutuhnya. Padahal, kan, banyak sisi orang tersebut yang tidak ditonjolkan di  media sosial. Hal yang seharusnya personal, sekarang sudah jadi urusan semua orang. Harusnya, kan, kalau nggak kenal sama orang, kita lebih sopan, ya, sama orang tersebut? Yang kejadian sekarang malah: sudah nggak kenal, tapi lebih kasar—Najeela Shihab. (halaman 197)

Continue reading “[Review Buku]: Belahan Jantungku Karya Andiesn Aisyah & R. Kenyasentana”

[Review Buku] Sungguh Kau Boleh Pergi Karya Tere Liye

Judul Buku            : Sungguh, Kau Boleh Pergi
Penulis                    : Tere Liye
Tahun Terbit          : 25 Nopember 2019. Cetakan I
Penerbit                  : Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman  : 96 halaman
ISBN                        : 9786020636160

Sinopsis:

Apalagi urusan perasaan. Cinta bisa berganti benci. Percaya memudar berganti kusam ragu. Pun komitmen menipis berubah jadi lupa.

Tapi aku di sini. Meyakini bahwa. Continue reading “[Review Buku] Sungguh Kau Boleh Pergi Karya Tere Liye”