[Review Buku] Letterbox 110 Karya Lee Do Woo

“Seharusnya kita mewujudkan keinginan kita di kehidupan yang sekarang” (halaman 259)

Continue reading “[Review Buku] Letterbox 110 Karya Lee Do Woo”

Review Buku LUMPU [unedited version] Karya Tere Liye

“Tapi kekuatan terbesar kalian bukan teknik pukulan berdentum, menghilang, tameng transparan, petir, kinetik atau yang lain. MELAINKAN PERSAHABATAN. Kejadian barusan di benda terbang. Percakapan kalian, sungguh spesial, Nak. Kalian saling mencemaskan satu sama lain, turut merasakan rasa sakit dan senang, bersedia berkorban untuk yang lain. Aku belum pernah melihat kualitas itu dari para petualang dunia pararel. (Salah satu kutipan dalam buku LUMPU, karya Tere Liye).

Saya senang sekali, liburan akhir tahun 2020 ini, Bang Tere Liye kembali mengeluarkan buku terbarunya berjudul LUMPU. Saya mendapatkan info dari akun Bang Tere di Instagram @tereliyewriter bahwa buku Lumpu unedited version akan rilis tanggal 28 Desember 2020. Sungguh penutup akhir tahun yang menyenangkan untuk saya si penggemar Serial Bumi yang sangat menantikan kehadiran buku ini.

Setelah mengikuti petualangan Miss Selena di masa remajanya dalam buku  Selena hingga buku Nebula tentang petualangan orang tuanya Raib, kemudian lanjut petualangan Nou dan si Putih dalam buku Si Putih, sungguh saya rindu tiga sekawan Raib, Seli dan Ali yang hanya muncul sebagai cameo dalam ketiga buku tersebut. Hanya sebentar munculnya, membuat saya rindu berat dengan ketiga sahabat karib ini. 

Beruntung di Continue reading “Review Buku LUMPU [unedited version] Karya Tere Liye”

[Review Buku] The Traveling Cat Chronicles Karya Arikawa Hiro

Terima kasih atas kerja kerasmu sampai sekarang. Dedikasimu dalam menolongku tidak akan pernah kulupakan seumur hidupku.—Nana  (halaman 15)

“Nana kan penurut, jadi kau bisa tetap jadi anak baik kan sesudah ini?”—Satoru (halaman 323) Continue reading “[Review Buku] The Traveling Cat Chronicles Karya Arikawa Hiro”

[Review Buku] I See You Like A Flower karya Na Tae Joo

Judul                    : I See You Like A Flower
Penulis                 : Na Tae Joo
Penerjemah         : Hyacinta Louisa
Penerbit               : Penerbit Haru
Tahun Terbit       : Cetakan kedua, Juni 2020
Jumlah halaman: 164 hlm; 19 cm
ISBN                     : 978-623-7351-39-9

Buku puisi ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan diterbitkan oleh Penerbit Haru pada Mei 2020. Ditulis oleh  Na Tae Joo. Penulis lahir di Korea Selatan pada  1945. Beliau memenangkan Kontes Sastra Seoul Newspaper pada 1971, lalu menerbitkan buku kumpulan puisi pertamanya yang berjudul Under the Bamboo Forest. Sampai saat ini, Na Tae Joo terus menerbitkan buku kumpulan puisi, kumpulan prosa, dan kumpulan cerita anak-anak. Beliau juga mendapatkan penghargaan di Korea Selatan seperti Chungcheongnam-do Chultural Award. Hyundai Buddhist Literature Award, Korean Poet Association Award, dan lain-lain. Puisi-puisinya yang pernah digunakan sebagai referensi dalam drama “School 2013″, “Encounter”, dan “Beautiful World, Wonderful Life

Saya pertama kali tahu buku ini, karena lagi nyari referensi bacaan literatur Korea, dan Continue reading “[Review Buku] I See You Like A Flower karya Na Tae Joo”

[Review Buku] Berani Tidak Disukai karya Ichiro Kishimi dan Fumitake Koga

Hidup ini terdiri dari serangkaian momen, tanpa masa lalu dan masa depan. Kau berusaha memberikan jalan keluar bagi dirimu sendiri dengan berfokus pada masa lalu dan masa depan. Apa yang terjadi di masa lalu sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan dirimu yang ada di sini saat ini, dan apa yang mungkin terjadi di masa depan bukanlah hal yang perlu dipikirkan di sini pada saat ini. Kalau hidup sungguh-sungguh di sini pada masa kini, kau takkah mempedulikan hal-hal tersebut. (halaman 300) Continue reading “[Review Buku] Berani Tidak Disukai karya Ichiro Kishimi dan Fumitake Koga”

[Review Buku] Siapa yang Datang ke Pemakamanku Saat Aku Mati Nanti? karya Kim Sang-hyun

Ketika promo buku ini, hati saya langsung tergelitik untuk ikuta Pre Order. Tak hanya satu buku ini, melainkan buku-buku karya penulis Korea Selatan lainnya (nanti kalau sudah selesai saya baca, Insha Allah akan saya ulas). 

Yang menarik dari buku ini:

  • Ibarat kamu  sedang kepanasan, gerah banget, kemudian hadirlah udara sejuk. Bukankah itu sangat menyenangkan? Meskipun judulnya terlihat ‘dark’ atau gelap, tetapi saat membaca demi lembar, ternyata buku ini penuh kehangatan.
  • Ada banyak kata penyemangat yang menghangatkan hati pembacanya “Semua fakta dan kebohongan yang ada disekelilingmu itu tidaklah penting, karena pada dasarnya, manusia memang hanya bisa melihat apa yang ingin mereka lihat. Jadi, kuharap kamu tidak menyerah pada pandangan miring orang lain. Jika kamu tidak bisa menunjukkan sosok terbaik dirimu kepada semua orang, jangan jadikan itu beban pikiran. Sosok dirimu saat ini, tidak dibuat berdasarkan pandangan, penilaian, atau pun kecurigaan orang lain. Kamu dibentuk dari sakit dan air mata yang mengalir karena usaha kerasmu untuk tetap bertahan. Tidak penting bagaimana orang lain berpikir tentangmu. Aku ingin menyampaikan, hiduplah sebagai dirimu.” (halaman 44). Kalimat yang disampaikan penulisnya ini sangat terasa personal, dan menyentuh sisi psikologis.  Saya benar-benar kehilangan kata-kata pas  baca bagian ini, kayak semacam ternyata ada loh orang yang bisa memahami tanpa menghakimi, dan buku ini mengajak pembacanya untuk bisa lebih mengenal dan menyukai diri sendiri. Tanpa menghakimi, tanpa menggurui. Nice book 🙂
  • Buku ini tidak tebal, tapi setiap lembarnya membuat saya enggan beranjak karena tidak ingin membaca cepat-cepat. Ingin berpikir sekaligus merenungi dan mencoba menelaah apa yang disampaikan penulisnya. Buku yang penuh kehangatan untuk menemani perjalanan  memulihkan batin.
  • Meskipun ini buku terjemahan, tapi sangat nyaman dibacanya. Terima kasih kepada penerjemah buku ini 🙂
  • Saya suka banget di bagian hujan musim semi, saat penulis menerima pesan dari ibunya “TERIMA KASIH TELAH TUMBUH TANPA BANYAK MENGELUH. Aku bahkan tidak perlu mengkhawatirkan kesungguhanmu. Hujan musim semi akan segera tiba. Makanlah dengan teratur.” (halaman 56)  Kalimat ini menurut  yang sangat mengharukan, menyentuh ke dalam relung hatiku yang terdalam.  Kalau kamu sedang dalam kesulitan, dan membaca pesan yang sangat indah ini, akan terasa sangat berarti sekali. Pesan yang hangat dan sangat sederhana, tetapi memiliki makna yang sangat dalam sekali -_-
  • Buku ini akan menenangkan, terutama untuk kamu yang sedang belajar kuat menjalani hidup 🙂 Kamu akan diajak untuk merenungkan pertanyaan sederhana soal kematian. 
  • Buku yang sangat bergizi dan menghangatkan hati, serta akan membuat kamu semakin kuat menata hati dan meyakinkan diri untuk terus belajar menerima dan menyukai hingga mencintai diri sendiri 🙂
  • saya suka dengan bonus yang saya peroleh saat pre order kali ini, karena ada TANTANGAN BERBUAT BAIK  🙂 🙂 benar-benar kreatif, dan tentu saja ini akan sangat berguna untuk saya sebagai reminder untuk terus belajar menjadi orang baik.

Apa pun itu, jika pada akhirnya semua akan menjadi kenangan, aku ingin meninggalkan kenangan yang indah. Saat ini pun suatu saat akan jadi kenangan, dan aku percaya kenangan itu akan mengagumkan. (halaman 37)

Baca juga: review buku Kimbab Family (Bukan) Kisah Drama Korea

Tentang Penulis: Kim Sang-hyun sudah menerbitkan lima buah buku, dan buku ini adalah buku pertama yang diterbitkan dalam bahasa Indonesia. Ia juga mengelola sebuah kedai kopi bernama Gongmyeong Café dan sebuah penerbit independen bernama Feelm.

Berikut ini beberapa kalimat favorit saya:

  1. Kadang aku merasa tidak nyaman dan tidak bahagia dengan keberadaan orang lain, padahal biasanya aku tidak bisa hidup tanpa orang lain. Aku jadi berpikir jangan-jangan meski kita saling membutuhkan, kita juga adalah beban bagi satu sama lain. (halaman 20)
  2. Aku ingin kamu bisa terus bertemu hal baru, menemukan warna hidupmu sendiri tanpa membandingkan diri dengan orang lain. Aku harap, kamu tidak menyesal membuka hati untuk orang-orang baru.” (halaman 23)
  3. Namun, kebaikan adalah kebaikan dan gampangan adalah perkara yang berbeda. Yang jadi masalah bukan aku yang terlihat gampangan karena baik, tetapi orang yang menggampangkan kebaikan. Perbedaannya memang tipis. Akan tetapi, memisahkan dua perkara itu membuat pikiran dan hatiku lebih tenang. (halaman 25-26)
  4. Pada hari-hari yang sulit, aku menganggap diriku sebagai air yang mengalir. Saat air mengalir dari gunung ke lautan, kita akan bertemu dengan ikan, juga batu besar, lalu bergabung dengan aliran air lainnya. Itu sebuah proses harus kita lalui. (halaman 29)
  5. Aku ingin hidup tanpa menyesali pilihanku yang salah. Aku percaya ada alasan untuk itu. sesederhana itu. Karena memang tidak semuanya bisa berjalan sesuai rencana. Semuanya terjadi begitu saja. Sampai kapan pun, kehidupan ini tidak akan pernah sejalan dengan apa yang kita pikirkan, juga tidak sesuai dengn rencana yang kita persiapkan. (halaman 32)
  6.  Masing-masing orang punya peran dan batasan yang jelas mana yang bisa dilakukan dan mana yang tidak bisa. Karena itu, aku ingin selalu mengakui dan menghormati sepenuhnya ruang lingkup dan peran pihak lain; menyadari bahwa aku tidak hidup sendirian; menyadari apa yang bisa aku lakukan untuk menjaga nilai sosial—tidak hanya dalam kebersamaan, tetapi juga dalam kesadaran bahwa orang lain adalah orang lain; berusaha mengenali dan  memahami perbedaan; menghargai keberagaman orang-orang yang berbeda denganku. Dengan demikian, saat kematian tiba, aku bisa merasakan kehangatan hati karena semasa hidup aku telah berusaha keras menghormati kebersamaan itu. (halaman 40)
  7. Aku harus selalu ingat, bahwa apa yang kupikirkan bisa saja salah. Aku tidak boleh membeda-bedakan orang yang satu dengan orang yang lainnya dalam hubunganku dengan mereka. aku harus memiliki keberanian untuk tetap membiarkan telinga dan pikiranku terbuka setiap saat. Aku juga harus merekomendasikan sesuatu  yang baik terlebih dahulu. Dengan demikian, saat seseorang mengingatku, orang itu bisa merasakan kehangatan hatiku dan tahu bahwa aku ini orang yang baik. (halaman 40)
  8. Aku lelah menjawab semua pertanyaan yang jawabannya adalah apa yang orang lain ingin dengar. Bahkan lebih menyenangkan untuk tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. (halaman 46)
  9. Aku tidak ingin melukai orang-orang yang selalu mendukungku. Aku ingin jadi lebih kuat, agar bisa membantu mereka bertahan hidup. Aku juga tidak akan meragukan diriku sendiri sampai akhir hidupku. Aku ingin percaya pada apa yang kulakukan dan yang akan kulakukan. Aku ingin terus yakin bahwa pada akhirnya yang akan selalu berpihak padaku adalah diriku sendiri. (halaman 50)
  10. Aku ingin hidup sebaik-baiknya dengan hati penuh kehangatan. (halaman 87)
  11. Di mana pun kamu berada, keyakinan, pikiran, dan gagasanmu bisa saja berbeda dengan orang lain. Akan tetapi, jangan pernah mencoba menanamkan atau memaksakan pendapatmu itu kepada orang lain. Intinya, milikilah pikiran terbuka, luas, dan dalam untuk menerima perbedaan. (halaman 97)
  12. Semoga kamu bisa membawa kebahagiaan ke dalam hidupmu menggunakan warnamu sendiri. (halaman 101)
  13. Hiduplah dengan seni, karena semua seniman berjuang. (halaman 107)
  14. Aku sudah memutuskan untuk hanya memperhatikan orang yang masih berada di sisiku meski aku melakukan kesalahan, dan mengabaikan mereka yang meninggalkanku. Aku juga tidak akan melupakan teman-temanku yang berharga, yang menerangiku saat berada pada masa-masa paling sulit. Aku akan berusaha menyinari mereka dengan cahaya yang lebih terang dan memperlakukan mereka dengan lebih baik lagi. Jika mereka berjalan melalui kegelapan yang dingin, aku akan menjadi cahaya yang paling terang dalam kegelapan dan akan memberikan semua kegangatan yang kumiliki agar mereka tidak kedinginan. (halaman 118)
  15. Jangan pernah berusaha untuk mengubah seseorang dan jangan kecewa saat seseorang tidak berubah. (halaman 146)
  16. Aku ingin jadi seseorang yang bisa mengoleskan salep ke luka memar dalam hati. Aku tidak akan meremehkan perasaan seseorang. Aku ingin selamanya diingat sebagai orang baik yang selalu bisa diandalkan. Semoga ada semakin banyak hal untuk dirayakan. (halaman 157)

[Review Buku] SUTERU GIJUTSU Seni Membuang Barang karya Nagisa Tatsumi

Pegang prinsip yang sangat sederhana ini: simpan barang yang Anda pergunakan dan buang yang tidak dipergunakan. Barang yang bermanfaat adalah barang yang dipergunakan. Menyimpan barang karena dibuang sayang dapat diibaratkan seperti sebuah siksaan. Bebaskan diri dari perasaan “dibuang sayang” dan dengan begitu Anda akan mulai melihat nilai sejati dari barang-barang. (halaman xiii)

Continue reading “[Review Buku] SUTERU GIJUTSU Seni Membuang Barang karya Nagisa Tatsumi”