[Resensi Buku] SI ANAK BADAI Karya Tere Liye

KEBERANIAN “GENG SI ANAK BADAI”  MEMPERTAHANKAN

KAMPUNG HALAMANNYA

Penulis multitalenta Tere Liye, seolah tidak pernah kehabisan ide cerita, kini kembali hadir dengan buku barunya yang berjudul Si Anak Badai, yang sudah terbit Agustus 2019. Cepat sekali ya, pikir saya.  Hanya berselang delapan bulan setelah buku Si Anak Cahaya di bulan Desember 2018. Buku ini merupakan buku ke enam dari Serial Anak Nusantara.  Salah satu serial favorit saya.   Serial ini merupakan bacaan yang  target pembacanya untuk semua umur, baik anak-anak, remaja, maupun orang tua. Saya sangat senang dengan kehadiran Serial Anak Nusantara, seolah sedang bernostalgia dengan masa kecil, bahkan seperti sedang  diajak untuk menyelami kesederhanaan hidup khas anak-anak yang tetap ceria, juga bahagia, meski hidupnya sangat sederhana bahkan tidak mengenal gadget.  Cerita ini kemungkinan  ber-setting tahun 1990-an dimana belum tersentuh era digital dan perkembangan teknologi secanggih sekarang .  Serial ini bisa menjadi referensi bacaan keluarga masa kini. Buku keenam sangat berbeda dari lima buku sebelumnya.  Buku ini berdiri sendiri dan tidak ada kaitan dengan ke lima buku yang sudah  terbit duluan, yaitu: Si Anak PemberaniSi Anak SpesialSi Anak PintarSi Anak Kuat dan Si Anak Cahaya.  Tidak berkutat pada cerita keluarga Mamak Nurmas dan anak-anaknya (Eliana, Pukat, Burlian, Amelia) lagi, tetapi menceritakan keluarga lain dengan latar belakang baru di sebuah muara bernama Manowa.  Sehingga hal ini terlihat sangat bervariasi, sesuai dengan konsep serialnya yang bertemakan “Anak Nusantara.” Kelihatannya, serial ini akan jauh lebih berkembang banyak. Jika sebelumnya bertemakan serial Anak-Anak Mamak yang saya pikir akan bercerita tentang karakter-karakter di keluarga Mamak Nurmas, dengan adanya recover sejak Desember 2018 pada buku-buku sebelumnya, dan kehadiran Si Anak Badai dengan cerita baru, membuat saya sebagai pembaca semakin penasaran akan kelanjutan kisah serial Continue reading “[Resensi Buku] SI ANAK BADAI Karya Tere Liye”

[Review Buku] ANAK RANTAU Karya A. Fuadi

Judul Buku    : ANAK RANTAU
Penulis           : A. Fuadi
Penerbit         : PT. Falcon Interactive
Tahun Terbit :  Cetakan pertama, Mei 2019
Halaman        : 370 halaman

“Novel ini paket lengkap spesial.  Ada cerita tentang keluarga yang mengharukan, persahabatan, lingkungan hidup, bahkan juga tentang penjelasan pemberontakan besar di masa lalu lewat sudut pandang yang berbeda.  Bacalah.  Kalian akan merasakan petualangan seru.” —Tere Liye, penulis

“Anak Rantau mengajak kita menjenguk ulang makna keluarga, persahabatan, akar budaya.  Bak hidangan Minang yang gurih dan bikin menagih, karya A. Fuadi ini elok dibaca dan renyah dinikmati.”  —Dee Lestari, penulis

“Lebih berwarna dari Negeri 5 Menara.  Melalui karya terbarunya ini, Fuadi menunjukkan sebuah upaya untuk terus memperluas batas kemampuan dan imajinasinya sebagai seorang pencerita.” —Okky Madasari, penulis

Buku yang saya baca ini merupakan cover terbaru dari buku Anak Rantau yang terbit tahun 2017.  Buku ini mendapat penghargaan sebagai Fiksi Terbaik Islamic Book Award 2019.  Berbeda dari buku trilogi Negeri 5 Menara yang sudah saya baca.  Kalau buku-buku sebelumnya karya Ahmad Fuadi ini seakan diajak melalang buana ke berbagai tempat, namun lewat buku ini saya seakan diajak pulang ke kampung halaman setelah merantau di Ibukota, bagaimana menyesuaikan diri dengan kehidupan di kampung dengan adat dan budaya Minang, kisah tentang persahabatan juga hubungan keluarga yang mengharukan, dan dikemas dengan apik.

Dalam buku ini,  mengisahkan karakter utamanya Hepi, pemilik nama lengkap Donwori bihepi yang dipaksa pulang oleh ayahnya ke Tanjung Duren di Sumatera Barat, ia dititipkan kepada Continue reading “[Review Buku] ANAK RANTAU Karya A. Fuadi”

[Review Buku] Ghost Fleet Karya P.W. Singer & August Cole

Judul Buku         : GHOST FLEET
Penulis                : P.W. Singer & August Cole
Penerbit           : Mizan (PT. Mizan Pustaka).  Penerjemah : Reinitha Amalia Lasmana dan Maria Lubis
Tahun Terbit       : Cetakan II Maret 2019
Jumlah Halaman : 544 halaman

Sinopsis:

Ghost Fleet, sebuah kisah tentang armada hantu dan Perang Dunia Ketiga yang diramalkan  akan segera terjadi.  Pasukan marinir bertempur dalam dahsyatnya pertempuran Pearl Harbour modern: para pilot pewasat tempur  yang berusaha mengalhkan drone-drone antiradar; hingga para peretas remaja yang mencoba saling meretas sistem pertahanan antarnegara.  Bahkan, miliader Silicon Valley pun ikut mobilisasi cyber-war dan seorang pembunuh berantai yang membawa dendam pribadinya.

Siapakah yang akan menjadi pemenangnya?  Seperti apa bentuk dunia setelah perang paripurna ini?  Pada akhirnya, pemenang bergantung pada siapa yang lebih cakap mengambil pelajaran dari masa lampau dan ahli memanfaatkan senjata masa depan.  Jangan sepelekan, kisah di novel ini mungkin saja jadi realitas masa depanmu.

Ghost Fleet, debut novel karya dua pakar keamanan nasional ternama di Amerika ini menjadi perbincangan dunia karena didasarkan pada riset mutakhir.

Ghost Fleet adalah sebuah novel techno-thiller yang dirilis pada 30 Juni tahun 2015 karya P.W. Singer & August Cole.  Dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh penerbit Mizan, cetakan pertamanya terbit pada bulan Desember 2018.  Novel ini berlatar belakang masa depan, dalam buku tersebut menggambarkan sebuah skenario dimana Tiongkok dapat meluncurkan Continue reading “[Review Buku] Ghost Fleet Karya P.W. Singer & August Cole”

Tetralogi 4 Musim (Four Seasons) Karya Ilana Tan

💚🧡💙💛

Meskipun buku ini sudah cukup lama, namun saya baru tertarik membaca setelah melihat cover-nya yang sekarang (bukan cover pertama).  Tahun lalu tetralogi ini sudah masuk dalam daftar bacaan yang ingin saya baca.  Namun baru di awal tahun 2019, akhirnya saya membaca karya Ilana Tan.  Empat buah novelnya yang dijuluki sebagai tetralogi four seasons atau tetralogi empat musim itu terdiri dari: Summer in Seoul (2006), Autumn in Paris (2007), Winter in Tokyo (2008), dan Spring in London (2010). 

Baca: review buku Bait-Bait Multazam

Buku-buku tersebut tidak bersambung, hanya saja ada beberapa karakter muncul di buku lain.  Misalnya di buku Winter in Tokyo, Keiko punya Saudara kembar bernama Naomi, sementara Naomi merupakan karakter utama di buku Spring in London.  Atau misalnya Shandy di buku Summer in Seoul ternyata sepupuan dengan Tara Dupont di buku Autumn in Paris.  Mau mulai dari buku mana pun, atau membacanya tidak berurut dari buku kesatu sampai keempat, tidak masalah.  

Saya mulai membaca bukunya  yang berjudul  Autumn In Paris, tidak disangka buku ini karena ceritanya sangat sedih, sukses menciptakan butiran kristal jatuh membasahi wajah 😂 bukan cerita yang happy ending, tapi sad ending, hanya saja entah kenapa saya justru penasaran ingin membaca buku tetralogi ini.  Selesai membaca keempat bukunya, selain cover dan judulnya yang menarik hati saya untuk membacanya.  Saya suka dengan tetralogi empat musim ini.  Genre romance tapi sang penulis berhasil mengemasnya dengan menarik.  Berbeda dari novel romance ringan lainnya.  Dari judul saja sangat menarik.  Setting yang digunakan juga sangat berhubungan dengan judul membuat saya seakan merasakan suasana ketika berada di musim : summer, autumn, winter hingga spring.  Keempat novel ini setting-nya di empat negara berbeda, dan dua benua berbeda (Asia dan Eropa), dimana kesamaannya masing-masing negara tersebut (Korea Selatan, Perancis, Jepang dan Inggris), merupakan negara beriklim sub tropis yang memiliki empat musim dalam setahun. 

Baca: review buku Tentang Kamu

Ceritanya memang mudah ditebak, pertemuan, saling jatuh cinta, konflik, serta happy ending (hanya novel kedua saja yang sad ending).  Meskipun bukan fiksi yang berat,  entah kenapa saya tetap asik menyelesaikan masing-masing buku dan menikmatinya.  Kalau kamu suka genre romance yang ringan tapi tetap asik dan tidak membosankan karena selama membacanya mungkin akan membuat tersenyum, gemas, sedih, buku ini bisa menemani kamu 😊Keempat novelnya sarat dengan kata-kata romantis, kejadian yang digambarkan secara romantis, pengorbanan, kesetiaan, yang mungkin kalau hal-hal tersebut terjadi pada diri kita akan membuat kepala kita menggelembung saking gr-nya, bikin baper juga!😝

Keempat tokoh pria pada keempat novel tersebut diceritakan sebagai tokoh yang romantis. Baik dari perbuatan, maupun perkataan, semua tokoh pria diceritakan sopan dalam memperlakukan wanita dan tentunya setia. Walaupun ada perbedaan, tapi hanya sedikit. Tidak hanya pria yang romantis, para tokoh wanita diceritakan mempunyai pemikiran yang sama.  Bedanya hanya tindakan dan pikiran. Jika para tokoh pria bertindak romantis, tokoh wanita berpikir romantis. Persamaan lainnya, para tokoh wanita diceritakan memiliki masa lalu yang kelam. Hanya pada novel kedua: Autumn in Paris saja yang diceritakan si tokoh pria yang mempunyai masa lalu.  Jadi, Ilana Tan ini bermain-main dengan masa lalu yang membuat para tokohnya menjadi trauma, rendah diri, atau menjadi sosok misterius.  Dan yang lebih menarik lagi, ternyata sosok Ilana Tan sebagai penulis dari tetralogi ini juga misterius lho.  Karena tidak ada keterangan tentang latar belakang penulisnya.

Baca : review buku Berhenti di Kamu

Karakter pria favorit saya Tatsuya (seorang arsitek di buku kedua Autumn in Paris)… tokoh pria paling romantis kata-katanya dibanding yang lain…  bikin baper  🙄😁 Sementara karakter wanita favorit saya Ishida Keiko, soalnya dia suka baca buku, sama seperti saya 📚📖 😁 Dari keempat buku tersebut, urutan favorit saya mulai dari Winter In Tokyo, Autumn in Paris, Spring in London sama Summer in Seoul. Dan yang paling sedih tentu saja Autumn 🍂🍁 🍂 🍁in Paris! 😂

Baca juga : Buku Serial Bumi karya Tere Liye Serial Anak Nusantara dan Serial Anak-Anak Mamak

Ini dia review keempat buku tetralogi 4 musim: 

BUKU PERTAMA:  SUMMER IN SEOUL 

Judul Buku          : Summer In Korea
Penulis                 : Ilana Tan
Penerbit               : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit         : 2006.  Cetakan ke-30, April 2018
Jumlah Halaman  : 280 Halaman 

Sinopsis:

Jung Tae-Woo—penyanyi muda terkenal Seoul yang muncul kembali setelah empat tahun menghindari dunia showbiz. ‘Aku hanya ingin memintamu berfoto denganku sebagai pacarku,’ kata Jung Tae-Woo pada gadis di hadapannya. Sandy alias Han Soon-Hee—gadis blasteran Indonesia-Korea yang sudah mengenali Jung Tae-Woo sejak awal, namun sedikit pun tidak terkesan. Sandy mengangkat wajahnya dan menatap laki-laki itu, lalu berkata, ‘Baiklah, asalkan wajahku tidak terlihat.  Awalnya Jung Tae-Woo tidak curiga kenapa Sandy langsung menerima tawarannya. Sementara Sandy hanya bisa berharap ia tidak akan menyesali keputusannya terlibat dengan Jung Tae-Woo. Hari-hari musim panas sebagai ‘kekasih’ Jung Tae-Woo dimulai. Perubahan rasa itu pun ada. Namun keduanya tidak menyadari keberadaan kisah empat tahun lalu sedang mengejar mereka. 

Ngomong-ngomong pas baca buku ini, entah kenapa karakter Sandy, Jung Tae Woo, Kang Young-Mi, dan Park Hyun-Shik, mengingatkan saya pada film Chicago Typewriter (walaupun temanya sangat berbeda) 😂😂.  Jung Tae Woo mengingatkan saya pada Han Se Ju, Shandy mengingatkan saya pada Jeon Seol, Kang Young -Mi mengingatkan saya pada sahabat Jeon Seol, dan Park Hyun-Shik mengingatkan saya sama Bosnya Han Se Ju, terus saya kebayang rumah Han Se Ju pas Sandy nginap di rumah Jung Tae Woo.  Hahaha 🤣 ampuuun nih!  Maklum pengetahuan saya akan korea mungkin hanya sebatas film favorit saya tersebut.  Secara keseluruhan, ide ceritanya menarik kok!  Tidak perlu seperti saya yang sepanjang membaca membayangkan drama.  Karena buku ini beda dengan drama. Yang pasti masih sekitar menguak masa lalu karakter utama,  hingga kedua tokoh utama setelah bisa menerima kisah masa lalu, berakhir dengan happy ending! 

Baca juga : Menikmati Musim Panas di Sydney

Berikut ini beberapa kalimat favorit saya dalam buku Summer in Seoul:

  1. Konon ketika seseorang dalam keadaan hidup dan mati, ia akan bisa melihat potongan-potongan kejadiaan dalam hidupnya, seperti menonton film yang tidak jelas alur ceritanya.  Benarkah begitu?  —Sandy (Halaman 7)
  2. Kadang-kadang orang jenius memang sukit dibuat senang.  —Sandy kepada Mister Kim (Halaman 37) 
  3. Padahal kita baru bertemu kemarin, kenapa rasanya seolah sudah lama sekali aku tidak melihatmu.  —Jung Tae Woo kepada Shandy
  4. “Katanya aku harus mengawasi makanmu karena kau sering lupa makan kalau sudah sibuk bekerja.  Katanya aku harus banyak bersabar menghadapimu, apalagi kalau kau sedang uring-uringan.  Katanya sebenarnya kau anak yang baik dan tidak akan membuatku kecewa.  Ibumu juga bilang ingin bertemu denganku dan memintamu membawaku ke Amerika untuk menemuinya.” —Sandy kepada Jung Tae Woo (Halaman 105)
  5. “Sudah lama aku tidak melihatmu, tidak mendengar suaramu, rasanya aneh sekali.  Sepertinya semua yang kulakukan tidak ada yang benar.  Lalu aku berpikir, mungkin kalau aku meneleponmu dan mendengar suaramu, aku akan merasa lebih baik.  Sekarang setelah mendengar suaramu, aku memang merasa lebih baik, tapi timbul masalah lain.  Aku jadi semakin ingin melihatmu.   —Jung Tae Woo kepada Shandy
  6. “Terima kasih.” “Karena menyukaiku.” “Untuk segalanya.  Terima kasih.” —Sandy kepada Jung Tae Woo (Halaman 201)
  7. “Aku bisa melupakan semuanya, tapi aku tidak akan kembali kepada orang yang sudah meninggalkanku.” —Sandy kepada Lee Jeong-Su (Halaman 206)
  8. “Kalau suatu saat nanti kau rindu padaku, kau mau memberitahuku?” …. “Supaya aku bisa langsung berlari menemuimu.” —Jung Tae Woo kepada Sandy (Halaman 209)
  9. “Baiklah, aku akan memberitahumu kalau suatu saat nanti aku rindu padamu.  Tapi kau tidak berlarimenemuiku, nanti kau capek.” —Sandy kepada Jung Tae Woo (Halaman 220)
  10. ….Karena dalam hidup ini, ada seseorang yang sangat berharga baginya.  Karena dalam hidup ini, ia ingin selalu bisa melihat dan bersama orang itu.” —Jung Tae Woo (Halaman 255)
  11. “Dalam bisbol ada sembilan pemain.  Kurang satu saja tidak bisa.  Sembilan artinya lengkap.  Kenapa aku menyimpan nomor Sandy di nomor sembilan?  Itu karena kalau dia ada, aku baru merasa benar, merasa lengkap.  Dia nomor sembilanku.” —Jung Tae Woo kepada Park Hyun-Shik (Halaman 276)

BUKU KEDUA: AUTUMN 🍂 IN PARIS

Judul Buku          : Autumn 🍂 In Paris
Penulis                : Ilana Tan
Penerbit              : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit        : 2007.  Cetakan ke-31, November 2017
Jumlah Halaman : 264 Halaman 

Sinopsis:

Tara Dupont menyukai Paris dan musim gugur. Ia mengira sudah memiliki segalanya dalam hidup sampai ia bertemu Tatsuya Fujisawa yang susah ditebak dan selalu membangkitkan rasa penasarannya sejak awal.

Tatsuya Fujisawa benci Paris dan musim gugur. Ia datang ke Paris untuk mencari orang yang menghancurkan hidupnya. Namun ia tidak menduga akan terpesona pada Tara Dupont, gadis yang cerewet tapi bisa menenangkan jiwa dan pikirannya, juga mengubah dunianya.Tara maupun Tatsuya sama sekali tidak menyadari benang yang menghubungkan mereka dengan masa lalu, adanya rahasia yang menghancurkan segala harapan, perasaan, dan keyakinan. Ketika kebenaran terungkap, tersingkap pula arti putus asa, arti tak berdaya. Kenyataan juga begitu menyakitkan hingga mendorong salah satu dari mereka ingin mengakhiri hidup.

Inginnya, setiap cerita itu berakhir bahagia.  Tapi tidak dengan Autumn in Paris.  Saya sampai dua kali baca buku ini, rasanya tetap sama, sedih! Saya juga tidak berharap akan happy ending, karena dua karakter utamanya memang tidak mungkin bisa bersatu, meski rasa cinta di antara keduanya sangat besar.  Karena apa? Tentu saja bukan karena beda keyakinan, beda status sosial, beda umur, beda budaya, tidak direstui orang tua. Bukan, bukan itu tema yang diangkat di novel ini. Tapi…. sudahlah, kamu baca sendiri, dan siapin tissue 😭 Walaupun sad ending, saya tetap menikmati buku ini.  Menurut saya yang unik dari cerita ini, mengingatkan saya akan acara di radio 📻 yang khusus temanya misal tentang membaca surat curhat dari pendengar radio.  Seperti Tara Dupont yang berprofesi sebagai penyair radio, dan Tatsuya menulis  surat lewat email dan dikirim ke radio tempat Tara bekerja, dimana kisah cintanya Tatsuya dibacakan oleh rekan kerja Tara, yaitu Elise. Bagian ini, manis banget!  Namun juga akan ada bagian yang emosional dan menyentuh 😂😂 Elise Lavoie lebih senior dari Tara dan siaran utama yang ditanganinya adalah Je me Souviens (Aku mengenang…) yaitu acara yang membacakan surat-surat dari para pendengar, sementara Tara membawakan program lagu-lagi poluler dan tangga lagu mingguan.  Ok saya tidak mau spoiler!  Silahkan baca bukunya 😊

Baca juga : Pengalaman LOST IN PARIS

Berikut ini beberapa kalimat favorit saya dalam buku Autumn 🍁🍁🍁in Paris : 🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍁🍁🍁🍁🍁

  1. Ia agak menyesali sikap gegabahnya.  Marah-marah sendiri sebelum tahu apa yang terjadi sebenarnya. (Halaman 18)
  2. Seandainya ada harapan sekecil apa pun untuk mengubah keadaan, ia bersedia menggantungkan hidupnya pada harapan itu.
  3. “Bukankah itu salah satu alasanmu membeli telepon? Untuk menelopon? —Tara Dupont kepada Sebastien Girandeau (Halaman 15)
  4. Ia tidak boleh penasaran karena rasa penasaran itu akan terus menggerogotinya seperti lubang di gigi yang membuat seluruh badan ikut sakit. (Halaman 23)
  5. “Aku bersedia mencoba makanan apa pun.  Aku bukan orang yang pemilih soal makanan.” —Tatsuya kepada Sebastian (Halaman 23)
  6. “Gadis itu…. posisi duduknya … kaca jendela besar …. sinar matahari menyinarinya…. Aku terpesona melihat kombinasi semua itu.  Dengan sinar matahari dari luar, gadis itu menajdi agak kabur, gelap, dan memberikan kesan misterius.  ___Tatsuya Fujisawa di acara “Je me souviens” (Halaman 28)
  7. “Kupikir aku tidak akan bertemu gadis itu lagi, tapi aku mulai menyadari bahwa hidup penuh kejutan.” ___Tatsuya Fujisawa di acara “Je me souviens” (Halaman 28)
  8. “Terima kasih, tapi tidak perlu. Aku bisa sendiri.” —Tara kepada Hugo (Halaman 31)
  9. Tapi harus kuakui, ada sesuatu dari gadis itu yang membuatku tertarik.  Halaman 31
  10. Banyak orang lebih suka melihat kota Paris dari puncak Eiffel, tapi menurutku pemandangan dari puncak Arc de Triomphe adalah yang terbaik.” —Tara Dupont kepada Tatsuya Fujisawa (Halaman 54)
  11. “Aku paling suka merasakan angin musim gugur di wajahku.  Membuat ujung hidung dan kedua pipiku terasa dingin.” —Tara Dupont kepada Tatsuya Fujisawa (Halaman 58)
  12. Ia tidak mau disuruh menebak isi pikiran wanita.  Terlalu rumit dan ia tahu takkan berhasil menebak dengan benar. (Halaman 69)
  13. Ia tidak suka terang-tentangan terhadap pria.  Selama ini ia sudah berusaha menunjukkan perasaannya.  (Halaman 70)
  14. Keberadaan gadis itu membuatnya santai, seperti sekarang.  Juga membuat perasaannya senang. Gadis itu seperti obat penenang. (Halaman 81)
  15. Senjata utama untuk menghadapi orang-orang adalah senyum yang manis dan sopan. (Halaman 37)
  16. Mengobrol dengannya serasa mengobrol dengan teman lama.  Mereka tidak pernah kehabisan bahan obrolan.  (Halaman 41)
  17. “Kalau boleh jujur, dulunya aku sama sekali tidak suka Paris.  Aku juga benci musim gugur.  Tetapi akhir-akhir ini aku merasakan sesuatu yang aneh sedang terjadi. Paris berubah menjadi kota yang indah tepat di depan mataku dan musim gugur juga mulai terasa menyenangkan.  —Tatsuya Fujisawa di acara “Je me souviens” (Halaman 83)
  18. “Aku tidak mengeluh.  Setidaknya sedikit pengorbananku itu membuatnya senang.” (Halaman 86)
  19. Tentu saja aku tahu.  Karena aku sering memperhatikannya.  Tanpa sadar aku jadi mengenal semua kebiasaannya. —Tatsuya Fujisawa di acara “Je me souviens” (Halaman 86)
  20. Karena itulah sekarang aku memelukmu.  Mengisi ulang tenagaku.  —Tatsuya Fujisawa kepada Tara Dupont (Halaman 144
  21. Aneh sekali… Kenapa hanya dengan melihat gadis itu saja bisa merasa gembira? (halaman 146)
  22. “Aku memberimu jam saku itu supaya kau lebih memperhatikan waktu.  Jangan kerja terus-terusan.  Kau harus ingat ada waktunya untuk istirahat.” Tara kepada Tatsuya (Halaman 166)
  23. “Aku sangat senang bisa mengenalmu.” “Terima kasih” Tatsuya kepada Tara (Halaman 228)
  24. “Aku tidak pernah menyesal mengenalmu.  Percayalah padaku.  —Tatsuya Fujisawa kepada Tara Dupont (Halaman 229)
  25. Saat ia meninggalkan Paris, hatinya tidak akan sakit.  Ia yakin itu.  Karena pada saat itu, hatinya juga akan mati.  Tidak akan merasakan apa-apa lagi. (Halaman 231)
  26. “Apakah ada yang tahu bagaimana rasanya mencintai seseorang yang tidak boleh dicintai?” Aku tahu. ___Tatsuya Fujisawa di acara “Je me souviens” (Halaman 233)
  27. Aku dan segala yang kuinginkan dalam hidup.  Tatsuya Fujisawa (Halaman 253)
  28. Selama dia bahagia, aku juga akan bahagia.  Sesederhana itu.  Tatsuya Fujisawa kepada Sebastian.  (Halaman 264)

Baca juga : Menikmati Musim Gugur di Jepang

BUKU KETIGA:  WINTER ❄️ IN TOKYO

Judul Buku          : Winter in Tokyo
Penulis                : Ilana Tan
Penerbit              : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit        : 2008.  Cetakan ke-32, Juli 2018
Jumlah Halaman : 320 Halaman 

Sinopsis: 

Tetangga baruku, Nishimura Kazuto, datang ke Tokyo untuk mencari suasana baru. Itulah katanya, tapi menurutku alasannya lebih dari itu. Dia orang yang baik, menyenangkan dan bisa diandalkan. Perlahan-lahan—mungkin sejak Malam Natal itu—aku mulai memandangnya dengan cara yang berbeda.Dan sejak itu pula rasanya sulit membayangkan hidup tanpa dia. —Keiko tentang Kazuto

Sejak awal aku sudah merasa ada sesuatu yang menarik dari Ishida Keiko. Segalanya terasa menyenangkan bila dia ada.  Segalanya terasa baik bila dia ada. Saat ini di dalam hatinya masih ada seseorang yang ditunggunya. Cinta pertamanya. Kuharap diabisa berhenti memikirkan orang itu dan mulai melihatku. Karena hidup tanpa dirinya sama sekali bukan hidup. —Kazuto tentang Keiko

Mereka pertama kali bertemu di awal musim dingin di Tokyo.  Selama sebulan bersama, perasaan baru pun mulai terbentuk. Lalu segalanya berubah ketika suatu hari salah seorang dari mereka terbangun dan sama sekali tidak mengingat semua yang terjadi selama sebulan terakhir, termasuk orang yang tadinya sudah menjadi bagian penting dalam hidupnya….

Seru sekali baca novel ini.  Saya juga sudah nonton filmnya di tahun 2017 (cuma waktu itu belum tertarik baca novelnya 😂), tapi suka banget sama filmnya, romantis bahkan sampai nonton dua kali 😄 buku  ini merupakan buku paling tebal diantara keempat buku yang lainnya.  Dan ceritanya tentang Keiko sama Kazuto ini, mmmm menyenangkan, dan buku ini jadi terfavorit saya dari tetralogi novel empat musim.  Berikut ini trailer film-nya, sumber:YouTube

Baca juga : Menikmati Musim Dingin yang Terasa hangat di Kota Barcelona

Berikut ini beberapa kalimat favorit saya dari buku winter in Tokyo:

  1. Sejak kecil ia memang gemar membaca buku dan impiannya adalah bekerja di perpustakaan, tempat ia bisa membaca buku sepuas hatinya, tanpa gangguan, dan tanpa perlu mengeluarkan uang.  (Halaman 10).
  2. Sejak kecil daya imajinasinya memang hebat karena terlalu banyak membaca buku.  Mungkin seharusnya ia menjadi penulis buku fantasi.  (halaman 14)
  3. Tiba-tiba saja ia sadar ia takkan bisa mendapat ketenangan yang diinginkannya.  Tetapi entah kenapa ia merasa hidupnya takkan pernah sama lagi.  (Halaman 21)
  4. Pernah mendengar istilah steet photography? Itu keahlianku.  (Halaman 44)
  5. “Orang yang membutuhkan perubahan suasana biasanya ingin melupakan sesuatu.  Bukankah begitu?” Keiko pada Kazuto (halaman 63)
  6. Kenapa harus takut gelap kalau ada banyak hal indah yang hanya bisa dilihat sewaktu gelap?  Kazuto pada Keiko (Halaman 68)
  7. Keiko sangat suka suasana sepi perpustakaan.  Begitu damai.  (halaman 94)
  8. Untuk orang yang berkata ada banyak hal indah akan terlihat sewaktu gelap.  Dari tetangga yang paling manis sedunia.  (Halaman 117)
  9. Ibunya memang serbatahu, selalu begitu.  Ia tidak pernah bisa menyembunyikan apa pun dari mata ibunya yang tajam.  (Halaman 148)
  10. Kalau begitu aku tidak akan mencampuri urusan pribadinya.  Bagaimana pun juga dia mempunyai kehidupan sendiri.  Dia berhak ke mana saja sesuka hatinya.  Mau pulang atau tidak, aku tidak mungkin ikut campur.  (Halaman 165)
  11. Ia tahu Kazuto hanya akan memotret sesuatu yang membangkitkan minatnya.  Kazuto fotografer yang teliti, sedikit eksentrik, ia tidak akan mau membuang-buang waktu untuk memotret sesuatu yang masih dirasanya meragukan.  Karena itulah semua hasil jepretannya menakjubkan.  (Halaman 190)
  12. Aneh sekali ia mendapati dirinya tidak ingin membuat gadis itu kecewa.
  13. Senyum gadis itu memiliki pengaruh terhadap dirinya.  Membuat perasaannya membaik.  Membuatnya merasa gembira.  Membuatnya merasa seolah-olah bisa menghadapi dunia. 
  14. “Aku tidak tahu kenapa dan bagaimana,tapi aku yakin dengan yang aku rasakan.  Sejak bertemu denganmu di acara reuni itu, aku merasa kau adalah seseorang yang penting dalam hidupku. Kazuto pada Keiko
  15. Seharusnya ia tahu. Seharusnya ia sadar.  Mimpi tidak akan bertahan lama.  Ia boleh saja hidup dalam mimpi tetapi cepat atau lambat kenyataan akan mendesak masuk. Dan ketika kenyataan mendesak masuk dan berhadapan denganmu, kau hanya bisa menerima.
  16. “Kau tidak akan memotret seperti itu kalau kau tidak menyukainya.” Yuri kepada Kazuto
  17. Aku akan tetap di sini bersamamu. Apakah kau mau menerimaku?  Kazuto kepada Keiko
  18. “Saat itu aku ada dibelakangmu.  Aku bisa melihatmu. Aku selalu melihatmu.” Kazuto kepada Keiko
  19. “Apa yang harus kulakukan supaya kau bisa melihatku?” Kazuto kepada Keiko
  20. “Zaman sekarang ini semuanya harus serba langsung.  To the point. “—Sato Tomoyuki kepada Nishimura Kazuto
  21. “Aku menyukaimu, Ishida Keiko. Tidak.  Kurasa yang benar adalah aku mencintaimu.” Kazuto kepada Keiko
  22. “Kau tidak pernah memamerkan diri,”…. Malah kau salah satu orang paling rendah hati yang pernah kukenal.”  Keiko kepada Kazuto (Halaman 306)
  23. “Terima kasih karena sudah memberiku kesempatan.  Terima kasih karena sudah ada di sini bersamaku.” Kazuto kepada Keiko (Halaman 306)

Baca juga : Hello London

BUKU KEEMPAT SPRING IN LONDON

Judul Buku          : Spring in London
Penulis                : Ilana Tan
Penerbit              : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit        : 2010.  Cetakan ke-24, April 2018
Jumlah Halaman : 240 halaman 

Sinopsis:

Gadis itu tidak menyukainya. Kenapa?Astaga, ia—Danny Jo—adalah orang yang baik. Sungguh! Ia selalu bersikap ramah, sopan dan menyenangkan. Lalu kenapa Naomi Ishida menjauhinya seperti wabah penyakit? Bagaimana mereka bisa bekerja sama dalam pembuatan video musik ini kalau gadis itu mengacuhkannya setiap saat? Kesalahan apa yang sudah dia lakukan?Bagaimanapun juga Danny bukan orang yang gampang menyerah. Ia akan mencoba mendekati Naomi untuk mencari tahu alasan gadis itu memusuhinya.

Tetapi ada dua hal yang tidak diperhitungkan Danny. Yang pertama adalah kemungkinan ia akan jatuh cinta pada Naomi Ishida yang dingin, misterius, dan penuh rahasia itu. Dan yang kedua adalah kemungkinan ia akan menguak rahasia gelap yang bisa menghancurkan mereka berdua dan orang-orang yang mereka sayangi.

Karakter di buku ini, Naomi seorang model asal Tokyo (kakaknya Keiko), dan sudah tiga tahun menetap dan bekerja di London.  Danny Jo seorang artis terkenal di Korea dan wajahnya sering muncul di berbagai Iklan TV.  Mereka bertemu di London dalam sebuah projek membuat video musik untuk Jung Tae Woo, artis Korea, sahabat baiknya Danny.  Setelah selesai pembuatan video musik, kemudian mereka menjadi dekat, hingga akhirnya Danny tahu rahasia masa lalu Naomi. 

Baca juga: I left my heart in London dan review buku Tentang Kamu

Beberapa kalimat favorit saya dalam buku Spring In London ❤️:

  1. Seorang model memang seharusnya kurus, tetapi seorang model tidak ssharusnya mati kelaparan.  (Halaman 21)
  2. “Hanya untuk memastikan aku baik-baik saja.  Memastikan kau tiba di rumah dengan selamat.” Danny kepada Keiko (Halaman 35)
  3. Ia tidak pernah memberitahu siapa-siapa, tetapi kesibukan adalah pelindungnya.  Kesibukan bisa mengalihkan perhatiannya.  Kesibukan bisa membuatnya tidak memikirkan hal-hal yang tidak ingin dipikirkannya. —Keiko  (Halaman 38)
  4. Ia suka memasak, dan ia meyakini kata-kata ibunya sejak ia masih kecil, bahwa sarapan adalah makanan paling penting dalam sehari.— Christopher Scott (Halaman 59)
  5. Mungkin kau pernah terluka karena seorang laki-laki.  Atau mungkin alasannya sama sekali berbeda.  Entahlah.  Hanya kau yang tahu.  Tapi kau harus tahu bahwa tidak semua laki-laki itu sama.  Rasanya tidak adil memusuhi semua laki-laki hanya karena kesalahan satu orang.  (Halaman 62)
  6. Sebenarnya inilah salah satu hal yang sangat ingin dilakukan Naomi, tetapi ia belum pernah mendapatkan kesempatan melakukannya.  Berjalan-jalan santai di taman kota, atau duduk di salah satu bangku panjang yang sering dilihatnya di sana dan tidak melakukan apa-apa.  Hanya duduk di bawah sinar matahari dan menikmati hari.  Tanpa melakukan apa-apa. Naomi (Halaman 69)
  7. Matanya melahap pemandangan indah di sekelilingnya.  Suasana taman yang tenang menyejukkan jiwanya, membuat hatinya terasa ringan melayang, membuat seulas senyum tersunging di bibirnya tanpa sadar.  Aku suka di sini.  —Keiko (Halaman 70)
  8. “Ini salah satu tempat yang selalu kukunjungi setiap kali aku datang ke London.  “Taman ini selalu indah di musim apa pun.  Musim semi, musim panas , musim gugur, musim dingin, sebut saja.  Tapi aku paling suka taman ini dimusim semi, ketika bunga-bunga mulai bermekaran. —Danny kepada Naomi (Halaman 70)
  9. Ia tidak tahu sejak kapan, ia tidak tahu kenapa, dan juga tidak tahu bagaimana, tetapi ia tahu Naomi Ishida dnagat berpengaruh pada ketenangan jiwanya.  (Halaman 141)
  10. “Tapi sekarang aku sudah merasa jauh lebih baik.  Karena aku sudah mendengar suaramu.” Danny kepada Naomi (Halaman141)
  11. “Aku tidak akan menuntut banyak.  Aku juga tidak akan membebanimu.  Aku hanya memintamu menunggu sampai aku menyelesaikan masalahku.  Sampai saat itu tiba, jangan pergi ke mana-mana.  Tetaplah bersamaku.  Danny kepada Naomi.  (Halaman 196)
  12. “Laki-laki yang normal, tampan, dan baik sulit didapatkan, kau tahu?” —Christopher Scott kepada Naomi Ishida 
  13. Sudah waktunya ia memberanikan diri dan menghadapi masa lalunya.  Ia harus berdamai dengan masa lalunya sebelum ia bisa memikirkan hal lain.  (Halaman 202)
  14. Sekarang waktunya kak menghadapi apa yang ada di dalam hatimu.  Keiko kepada Naomi (Halaman 217)
  15. Aku bukan kakakku.  Aku tidak akan pernah menyakitimu.  Apakah kau percaya padaku? Kuharap kau bisa.  Kalau bukan sekarang, mungkin suatu hari nanti.  Danny kepada Naomi.  (Halaman 217)
  16. Tapi kau tidak akan tahu sebelum mencobanya, bukan?  Kalau keadaan memang sudah berubah, bukankah lebih baik kau mengetahuinya dengan pasti daripada bertanya-tanya selama sisa hidupmu?  Keiko kepada Naomi (Halaman 218)
  17. Tetapi Keiko memang jenis orang yang berpikir rasional.  Mungkin itu ada hubungannya dengan kegemaran Keiko membaca buku.  Naomi tahu apa yang dikatakan Keiko itu benar.  (Halaman 217)
  18. “Karena aku merindukanmu.”  “Karena aku membutuhkanmu.”  “Karena kurasa kau sudah cukup lama berpikir dan sekarang saatnya kau kembali padaku.  Karena aku ingin kau tahu bahwa perasaanku sekarang masih sama seperti dulu.  Dan karena  aku ingin tahu apakah kau sudah percaya padaku, walaupun hanya sedikit.  “Dan di atas segalanya, lanjut Danny  “Aku ingin aku percaya padaku ketika kukatakan bahwa aku mencintaimu.”  Danny kepada Naomi . (Halaman 233)
  19. Ia merasa benar.  Ia merasa mulai sekarang ia akan baik-baik saja.  Mulai sekarang segalanya akan baik -baik saja. (Halaman 235)
  20. “Dan… Terima kasih karena sudah menungguku.”  Naomi kepada Danny (Halaman 235)
  21. “Tenang saja.  Chris bukan bukan orang yang memgkhianati sahabat sendiri.  Dia tidak akan merampas milik sahabatnya.  Dia sendiri yang berkata begitu.  Jadi selama kau tetap bersamaku, maka kau akan aman.” Naomi kepada Danny (Halaman 238).

Ada satu hal kuat yang membuat saya baru mengoleksi buku-buku ini, saya suka buku yang ada unsur traveling-nya.  Dan dilihat dari judulnya saja sudah keliatan menarik, terus cover yang sekarang ini lebih menggoda saya untuk membeli bukunya 😂.  Ditambah alhamdulillah tiga kota diantaranya sudah saya kunjungi: Tokyo, London, Paris, tinggal Seoul yang belum. Semoga kelak saya bisa berkunjung ke kota tersebut dengan my partner in my life (Aamiin-kan saja, ya 😁😇). Dipikir-pikir, tak apa isi novelnya ringan, karena ternyata saya punya kenangan di kota-kota yang menjadi setting dalam buku ini.  Kalau dari keempat buku ini yang sad ending di buku Autumn in Paris, maka berdasarkan pengalaman saat pertama ke Paris, saya juga punya kenangan yang boleh dibilang sedih tapi seru untuk dikenang dan akan jadi pengalaman berharga, eh tapi ini bukan tentang kisah cinta seperti Tara dan Tatsuya 😆, tapi tentang pengalaman Lost in Paris bersama adik sepupu 🙈😎

Kesimpulannya, saya suka tetralogi empat musim karya Ilana Tan.  Saya senang bisa mengoleksi bukunya 💝💝💗💗 dan saya juga ingin datang keempat kota tersebut, sesuai musim yang menjadi judulnya (namanya juga impian, barangkali bisa datang lagi setelah baca buku-buku ini, bareng travelmate. Aamiin kan saja 😇).  Biasa, efek baca buku yang ada unsur traveling, selesai saya baca dan review,langsung masukin ke daftar impian sambil ngayal bareng kamu. Iya, kamu! 😅😋😋

Baca juga : persiapan traveling di musim dingin

Recommended book 📚 

Happy reading! 📚📖😊

With Love, ❤️

[Review Buku]: Autumn In Paris Karya Ilana Tan

BUKU KEDUA: AUTUMN 🍂 IN PARIS

Judul Buku          : Autumn 🍂 In Paris
Penulis                 : Ilana Tan
Penerbit               : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit       : 2007.  Cetakan ke-31, November 2017
Jumlah Halaman : 264 Halaman

Sinopsis:

Tara Dupont menyukai Paris dan musim gugur. Ia mengira sudah memiliki segalanya dalam hidup sampai ia bertemu Tatsuya Fujisawa yang susah ditebak dan selalu membangkitkan rasa penasarannya sejak awal.

Tatsuya Fujisawa benci Paris dan musim gugur. Ia datang ke Paris untuk mencari orang yang menghancurkan hidupnya. Namun ia tidak menduga akan terpesona pada Tara Dupont, gadis yang cerewet tapi bisa menenangkan jiwa dan pikirannya, juga mengubah dunianya.Tara maupun Tatsuya sama sekali tidak menyadari benang yang menghubungkan mereka dengan masa lalu, adanya rahasia yang menghancurkan segala harapan, perasaan, dan keyakinan. Ketika kebenaran terungkap, tersingkap pula arti putus asa, arti tak berdaya. Kenyataan juga begitu menyakitkan hingga mendorong salah satu dari mereka ingin mengakhiri hidup.

Inginnya, setiap cerita itu berakhir bahagia.  Tapi tidak dengan Autumn in Paris.  Saya sampai dua kali baca buku ini, rasanya tetap sama, sedih! Saya juga tidak berharap akan happy ending, karena dua karakter utamanya memang tidak mungkin bisa bersatu, meski rasa cinta di antara keduanya sangat besar.  Karena apa? Tentu saja bukan karena beda keyakinan, beda status sosial, beda umur, beda budaya, tidak direstui orang tua. Bukan, bukan itu tema yang diangkat di novel ini. Tapi…. sudahlah, kamu baca sendiri, dan siapin tissue 😭

Baca : review buku Berhenti di Kamu

Walaupun sad ending, saya tetap menikmati buku ini.  Menurut saya yang unik dari cerita ini, mengingatkan saya akan acara di radio 📻 yang khusus temanya misal tentang membaca surat curhat dari pendengar radio.  Seperti Tara Dupont yang berprofesi sebagai penyair radio, dan Tatsuya menulis  surat lewat email dan dikirim ke radio tempat Tara bekerja, dimana kisah cintanya Tatsuya dibacakan oleh rekan kerja Tara, yaitu Elise. Bagian ini, manis banget!  Namun juga akan ada bagian yang emosional dan menyentuh 😂😂 Elise Lavoie lebih senior dari Tara dan siaran utama yang ditanganinya adalah Je me Souviens (Aku mengenang…) yaitu acara yang membacakan surat-surat dari para pendengar, sementara Tara membawakan program lagu-lagi poluler dan tangga lagu mingguan.  Ok saya tidak mau spoiler!  Silahkan baca bukunya 😊

Baca juga : Pengalaman LOST IN PARIS

Berikut ini beberapa kalimat favorit saya dalam buku Autumn 🍁🍁🍁in Paris : 🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍁🍁🍁🍁🍁

  1. Ia agak menyesali sikap gegabahnya.  Marah-marah sendiri sebelum tahu apa yang terjadi sebenarnya. (Halaman 18)
  2. Seandainya ada harapan sekecil apa pun untuk mengubah keadaan, ia bersedia menggantungkan hidupnya pada harapan itu.
  3. “Bukankah itu salah satu alasanmu membeli telepon? Untuk menelopon? —Tara Dupont kepada Sebastien Girandeau (Halaman 15)
  4. Ia tidak boleh penasaran karena rasa penasaran itu akan terus menggerogotinya seperti lubang di gigi yang membuat seluruh badan ikut sakit. (Halaman 23)
  5. “Aku bersedia mencoba makanan apa pun.  Aku bukan orang yang pemilih soal makanan.” —Tatsuya kepada Sebastian (Halaman 23)
  6. “Gadis itu…. posisi duduknya … kaca jendela besar …. sinar matahari menyinarinya…. Aku terpesona melihat kombinasi semua itu.  Dengan sinar matahari dari luar, gadis itu menajdi agak kabur, gelap, dan memberikan kesan misterius.  ___Tatsuya Fujisawa di acara “Je me souviens” (Halaman 28)
  7. “Kupikir aku tidak akan bertemu gadis itu lagi, tapi aku mulai menyadari bahwa hidup penuh kejutan.” ___Tatsuya Fujisawa di acara “Je me souviens” (Halaman 28)
  8. “Terima kasih, tapi tidak perlu. Aku bisa sendiri.” —Tara kepada Hugo (Halaman 31)
  9. Tapi harus kuakui, ada sesuatu dari gadis itu yang membuatku tertarik.  Halaman 31
  10. Banyak orang lebih suka melihat kota Paris dari puncak Eiffel, tapi menurutku pemandangan dari puncak Arc de Triomphe adalah yang terbaik.” —Tara Dupont kepada Tatsuya Fujisawa (Halaman 54)
  11. “Aku paling suka merasakan angin musim gugur di wajahku.  Membuat ujung hidung dan kedua pipiku terasa dingin.” —Tara Dupont kepada Tatsuya Fujisawa (Halaman 58)
  12. Ia tidak mau disuruh menebak isi pikiran wanita.  Terlalu rumit dan ia tahu takkan berhasil menebak dengan benar. (Halaman 69)
  13. Ia tidak suka terang-tentangan terhadap pria.  Selama ini ia sudah berusaha menunjukkan perasaannya.  (Halaman 70)
  14. Keberadaan gadis itu membuatnya santai, seperti sekarang.  Juga membuat perasaannya senang. Gadis itu seperti obat penenang. (Halaman 81)
  15. Senjata utama untuk menghadapi orang-orang adalah senyum yang manis dan sopan. (Halaman 37)
  16. Mengobrol dengannya serasa mengobrol dengan teman lama.  Mereka tidak pernah kehabisan bahan obrolan.  (Halaman 41)
  17. “Kalau boleh jujur, dulunya aku sama sekali tidak suka Paris.  Aku juga benci musim gugur.  Tetapi akhir-akhir ini aku merasakan sesuatu yang aneh sedang terjadi. Paris berubah menjadi kota yang indah tepat di depan mataku dan musim gugur juga mulai terasa menyenangkan.  —Tatsuya Fujisawa di acara “Je me souviens” (Halaman 83)
  18. “Aku tidak mengeluh.  Setidaknya sedikit pengorbananku itu membuatnya senang.” (Halaman 86)
  19. Tentu saja aku tahu.  Karena aku sering memperhatikannya.  Tanpa sadar aku jadi mengenal semua kebiasaannya. —Tatsuya Fujisawa di acara “Je me souviens” (Halaman 86)
  20. Karena itulah sekarang aku memelukmu.  Mengisi ulang tenagaku.  —Tatsuya Fujisawa kepada Tara Dupont (Halaman 144
  21. Aneh sekali… Kenapa hanya dengan melihat gadis itu saja bisa merasa gembira? (halaman 146)
  22. “Aku memberimu jam saku itu supaya kau lebih memperhatikan waktu.  Jangan kerja terus-terusan.  Kau harus ingat ada waktunya untuk istirahat.” Tara kepada Tatsuya (Halaman 166)
  23. “Aku sangat senang bisa mengenalmu.” “Terima kasih” Tatsuya kepada Tara (Halaman 228)
  24. “Aku tidak pernah menyesal mengenalmu.  Percayalah padaku.  —Tatsuya Fujisawa kepada Tara Dupont (Halaman 229)
  25. Saat ia meninggalkan Paris, hatinya tidak akan sakit.  Ia yakin itu.  Karena pada saat itu, hatinya juga akan mati.  Tidak akan merasakan apa-apa lagi. (Halaman 231)
  26. “Apakah ada yang tahu bagaimana rasanya mencintai seseorang yang tidak boleh dicintai?” Aku tahu. ___Tatsuya Fujisawa di acara “Je me souviens” (Halaman 233)
  27. Aku dan segala yang kuinginkan dalam hidup.  Tatsuya Fujisawa (Halaman 253)
  28. Selama dia bahagia, aku juga akan bahagia.  Sesederhana itu.  Tatsuya Fujisawa kepada Sebastian.  (Halaman 264)

Baca juga : Buku Serial bumiSerial Anak Nusantara dan Serial Anak-Anak Mamak

Recommended book 📚

Happy reading! 📚📖😊

With Love, ❤️

[Review Buku] : Berhenti Di Kamu Karya dr. Gia Pratama, Kisah Inspiratif Perjalanan Mendapatkan Jodoh

Judul Buku          : #BERHENTIDIKAMU
Penulis                : dr. Gia Pratama
Penerbit              : Mizania
Tahun Terbit        : Desember 2018
Jumlah Halaman : 284 halaman

“Apapun kondisi kita, di langit ketujuh atau di palung terdalam, kita semua berhak dicintai, oleh pasangan yang tepat.”

Sinopsis:

“Tuhan, semoga Engkau setuju bahwa saya sudah cukup usia untuk mengemban tanggung jawab lebih.Bukan hanya tanggung jawab kepada diri saya saja, tapi juga kepada seseorang yang Engkau percayai kepada saya hatinya … entah siapa dia.

Berikan petunjuk kepada siapa hati ini harus menjaga …. Saya siap menjaganya … dia yang entah ada di mana saat ini, yang akan kau titipkan untuk menjadi istri saya ….” Aku sempat menjadi manusia yang kecewa dengan takdir.Tentang sesuatu yang kuinginkan, tentang dia yang selama ini memenuhi relung hati.Kepergiannya menghancurkan semua harapan.

Tapi, dunia berputar dengan cepat saat aku sadar, jika menerima takdir ini adalah hal yang paling benar.Dan saat itu pula aku menemukan ketenangan jiwa, poros yang sebenarnya Tuhan telah gariskan untukku.Rasa sakit yang harus kudapatkan, menempa hati menjadi pemilik hak cintanya.  Dan saat itu juga aku dipertemukan dengan belahan jiwa yang sesungguhnya.

Di akhir tahun 2018, ada satu lagi buku romance inspiratif  karya dokter Gia, siap-siap bikin pembacanya, seperti saya, jadi baper! 😁 Buku yang akan beredar di toko buku seluruh Indonesia mulai 8 Desember 2018 ini, jadi salah satu buku rekomendasi saya, yang must read!  Saya ikutan PreOrder (edisi ttd dan original soundtrack), alhamdulillah bisa membaca buku ini sebelum hadir di tobuk. Buat kamu penggemar genre romance, bersiaplah, buku ini akan memberi kejutan yang berbeda dari kebanyakan genre yang sama yang sudah beredar. Buku ini ada soundtrack-nya, dan  liriknya itu indah sekali ❤️ silahkan cek di YouTube : Gia Story.  Enjoy! 😉
Baca review buku PERIKARDIA Karya dr. Gia Pratama 

SUBSCRIBE AISAIDLUV

Buku autobiografi yang ditulis oleh dokter Gia ini, menurut saya termasuk buku fenomenal karena dalam waktu 9 hari masa Pre Order, sudah dipesan oleh ribuan orang.  Kamu yakin,

Continue reading “[Review Buku] : Berhenti Di Kamu Karya dr. Gia Pratama, Kisah Inspiratif Perjalanan Mendapatkan Jodoh”