[Review Buku] Si Anak Pelangi karya Tere Liye

“Jurus tak terkalahkan itu jelas bukan jurus Memapah Gunung atau Memecah Bukit. Bukan jurus yang punya nama-nama hebat itu. Bukan pula jurus yang melibatkan pukulan dan tendangan. Jurus tak terkalahkan itu adalah jujur dan sabar. Kalau jujur dan sabar, kalian akan menjadi ksatria tanpa tanding.” (halaman 16)

Continue reading “[Review Buku] Si Anak Pelangi karya Tere Liye”

[Review Buku] 1 CM Between You and Me Karya Kim Eun Ju

Hal yang pasti adalah tidak peduli berapa banyak orang di dunia ini yang menjadi ‘orang yang sangat penting (very important person)’, hanya pengalaman menjadi ‘orang yang sangat berharga (very precious person)’-lah yang akan menghangatkan hati setiap orang pada saat terakhir kehidupan ketika jantung berhenti berdetak. (halaman 300)

Continue reading “[Review Buku] 1 CM Between You and Me Karya Kim Eun Ju”

[Review Buku] The Power of Language Karya Shin Do Hyun dan Yoon Na Ra

Setitik pelita bisa mengalahkan kegelapan seribu tahun. Gua yang tak pernah tersentuh cahaya matahari pun langsung menjadi terang jika disinari oleh sebuah pelita. Kekuatan dari ucapan kita pun sama seperti kekuatan pelita ini. Sebuah kata yang tulus bisa mengobati luka kita dan orang lain. (halaman 6)

Judul                    : The Power of Language
Penulis                 : Shin Do Hyun & Yoon Na Ru
Penerjemah         : Hyancinta Louisa
Penerbit               : Penerbit Haru
Tahun Terbit       : Cetakan Keempat, September  2020
Jumlah halaman : 208 hlm; 19 cm
ISBN                      : 978-623-7351-34-4

Sinopsis:

Pernahkah kamu menyusun kata-kata yang indah dan membuat kalimat yang cantik, tetapi saat kamu pikirkan kembali, kalimat itu ternyata tidak memiliki makna?

Shin Do Hyun adalah seorang ahli ilmu humaniora. Ia kuliah di jurusan filsafat dan jurusan Bahasa Korea. Ia terus mempelajari ilmu filsafat sejak masa mudanya hingga sekarang, ia juga senang membaca literatur klasik dari Barat dan Timur. Ia percaya bahwa belajar untuk mengubah dunia harus dilakukan bersama dengan belajar untuk mengubah diri sendiri agar bisa membuat perubahan yang sesungguhnya. Langkah pertamanya untuk mewujudkan hal itu adalah mempelajari tutur kata dan bahasa, kemudian lahirlah Power of Language sebagai buah dari usahanya itu. Seperti arti dari “Mok-in”, nama pena yang diberikan gurunya yang sangat ia idolakan, ia ingin menjadi seperti pohon yang hidup sambil mencintai diri sendiri dan dunia dengan sederhana.

Yoon Na Ru, mengajar bahasa Korea dan pejaran menulis di sebuah SMA di Seoul. Ia dinobatkan menjadi penulis melalui karya esainya. Ia mulai mempelajari ilmu humaniora dimulai dari filsafat karena ia ingin menulis sebuah tulisan yang mengandung pemikiran yang dihasilkan oleh dirinya sendiri. Buku ini pun merupakan buah yang dihasilkan dalam proses tersebut. Ia bertekad untuk terus belajar agar ia bisa menulis tulisan-tulisan yang baru dan mendalam, yang tidak dibatasi oleh pandangan orang lain.

Lewat buku ini, penulisnya berharap bisa mengubah paradigma Anda semua tentang kata dan bahasa sehingga pada akhirnya bisa mengubah hidup Anda dan dunia tempat Anda tinggal.

“Seseorang yang tidak mengetahui nilai dari dirinya sendiri tidak akan bisa mengetahui nilai orang lain. Itulah sebabnya, kita harus belajar bahasa, mulai dengan belajar memahami dan mencintai diri kita sendiri. (halaman 26)

Baca juga: review buku Kimbab Family (Bukan) Kisah Drama Korea

Berikut ini kalimat-kalimat favorit saya dalam buku The Power of Language:

  1. Tujuan dari pengembangan diri bukanlah untuk menjadi orang yang baik. Tujuan pertama dari pengembangan diri adalah memahami ‘aku’. Kita harus memahami diri kita sendiri dengan lebih dalam baru bisa mencintai diri kita sendiri. (halaman 19)
  2. Pada akhirnya, kita harus bisa melihat diri sendiri melalui mata kita, bukan orang lain. (halaman 20)
  3. Kita harus melihat diri kita sendiri dan dunia dengan menggunakan sudut pandang kita sendiri, bukan sudut pandang milik orang lain. Namun, kita juga harus bisa mengakui bahwa sudut pandang kita bukanlah suatu sudut pandang yang selalu sempurna (halaman 54)
  4. Sebuah percakapan yang baik tidak akan bisa dihasilkan hanya dengan berbekal  keinginan kita untuk melakukan percakapan yang baik dengan seseorang. Kita harus mengetahui tentang lawan bicara kita, kita harus bisa membaca apa yang diinginka oleh lawan bicara kita, terkadang kita juga harus memberi saran yang bijak agar lawan bicara kita juga bisa menyelesaikan masalah yang dihadapinya dengan baik, karena, untuk menghasilkan sebuah percakapan yang baik, kita harus meningkatkan kecerdasan dan menambah ilmu. (halaman 60)
  5. Semua yang lahir suatu saat nanti pasti akan mati. Ini adalah siklus kehidupan yang tidak bisa kita tolak. Maka dari itu, momen saat ini adalah sesuatu yang sangat berharga dan berarti. (halaman 63)
  6. Para cendikiawan memandang bahwa kehidupan yang hanya diisi dengan makan dan tidur tidak ada artinya. Mereka berpikir bahwa setelah dilahirkan di dunia ini, mereka harus meninggalkan sesuatu yang bermakna. Maka dari itu, mereka mencari cara untuk melakukan hal itu melalui membaca buku. (halaman 66)
  7. Kita harus membaca satu buku sebanyak tiga kali. Pertama kita membaca tulisannya. Kedua, kita membaca penulisnya. Dan yang terakhir, kita membaca diri kita sendiri sebagai pembaca buku tersebut. Setiap penulis memijakkan kaki mereka ke fondasi sosial dan historis pada masanya masing-masing. Maka dari itulah kita harus membaca sang penulis. Sama halnya dengan mengapa mita harus membaca diri kita sendiri sebagai pembaca. Membaca buku berarti sebuah kelahiran yang baru. Membaca buku adalah pelarian tanpa akhir yang diisi dengan kematian penulis dan keliharan baru pembacanya. (halaman 67)
  8. Begitu juga dengan bahasa. Jika ingin mengubah diri kita sendiri, kita harus bisa melihat dan menafsirkan bahasa kita, baik bahasa yang terucap maupun bahasa batin. (halaman 70)
  9. Jika ingin mengambil sesuatu, kita harus memberikan sesuatu terlebih dahulu. Ini adalah prinsip. Kita harus memberikan telinga kita agar bisa mengambil kata-kata orang lain dan mendapatkan hatinya. (halaman 102)
  10. Menyimak lebih unggul daripada berbicara, orang yang bisa merebut hati bukanlah orang yang pandai berbicara tapi pandai menyimak. (halaman 102)
  11. Jika sambil mendengarkan kita terus memikirkan apa yang harus kita katakana selanjutnya, itu bukanlah mendengarkan, melainkan hanya ‘berpura-pura’ mendengarkan. Jika hal ini terjadi, kita hanya bisa mendengarkan kata-kata yang keluar tanpa mengerti maksud sebenarnya dari ucapan tersebut, bahkan kata-kata yang kita dengar pun mungkin tak bisa kita pahami. (halaman 104)
  12. Sekali lagi, menyimak bukanlah sekedar mendengarkan. Menyimak berarti mengarahkan telinga dan hati kita. Bukan menunjukkan ketidakpedulian. (halaman 108)
  13. Luka yang tercipta karena sepatah kata rupanya lebih dalam dari yang kita kira. (halaman 111)
  14. Meskipun pujian mendorong semangat kita, tidak ada hal yang membuat kita sakit sekaligus berkembang seperti kritik. (halaman 112)
  15. Orang yang mengkritik kita adalah orang yang menunjukkan kelemahan kita dan membantu kita untuk mengembangkan diri.an 112)
  16. Ucapan yang baik sebaiknya kita terima, sementara niat yang buruk abaikan saja.
  17. Ketika kita harus memberi saran karena diminta pun kita harus menyampaikan saran itu dengan lembut, jangan sampai perasaan orang tersebut terluka. Dengan lembut dan berhati-hati, seperti angina musim semi di bulan Maret yang mencairkan salju yang telah menumpuk. (halaman 146)
  18. Kita sebaiknya rendah hati bukan karena harus menjadi rendah hati, tapi karena tidak ada pilihan lain selain menjadi rendah hati. (halaman 148)
  19. Dengan sepatah kata, kita bisa melunasi hutang seribu tahun, sekaligus bisa memberi luka yang membekas selamanya. Bahasa dan kata adalah jembatan yang menghubungkan kita dengan orang lain, juga menghubungkan kita dengan dunia. (halaman 168)
  20. Mari kita jaga bentuk dan kesopanan dalam tutur kata kita. Dengan begitu, orang-orang akan lebih memperhatikan apa yang kita ucapkan. Sebaliknya, ketika kita mendengarkan ucapan orang lain, tidak perlu terlalu fokus kepada bentuk kata dan kesopanan dalam kata-katanya. Dengan begitu, kita tidak akan melukai hati orang lain dan kita juga tidak akan mudah terluka akibat kata-kata orang lain. (halaman 172)

[Review Buku] I’ll Go To You When The Weather is Nice karya Lee Do Woo

“Aku pikir, ada dua sikap yang diambil oleh orang yang sedang sakit. Pertama, orang yang ingin dihibur dan merasa berterima kasih saat ada yang mau merawatnya. Sebaliknya yang kedua, dia ingin sendirian dan bersembunyi dari orang disekitarnya ketika dirinya merasakan sakit. Orang yang kedua itu bahkan tidak suka jika ada yang ingin bertemu atau bahkan hanya sekedar melihatnya.” (halaman 146) Continue reading “[Review Buku] I’ll Go To You When The Weather is Nice karya Lee Do Woo”

Buku Serial Aksi Karya Tere Liye

Setelah sukses dengan Serial Bumi yang hingga tahun 2020 masih on going dan sudah memasuki buku yang ke sembilan. Menyusul Serial Anak-Anak Mamak yang sejak Desember 2018 berubah nama serialnya karena meskipun buku-bukunya bagus, secara penjualan tidak sepopuler serial bumi. Tapi menurut saja, sejak retitle dan recover kemudian nama serialnya berubah menjadi Serial Anak Nusantara, sepertinya jadi jauh lebih populer. Berdasarkan Continue reading “Buku Serial Aksi Karya Tere Liye”